He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Resiko)


Oh jadi ini semua salah ku gitu ?


"Aku hanya ingin bilang, kamu egois dan aku juga egois" - Sheren


Aku dan Vian lagi lagi saling diam satu sama lain. Emang benar kan ? Dia egois dan aku juga egois. Sama² tidak mau mengalah. Mengalah sama kehendak dan kemauan sendiri.


Alhasil aku tidak tidur sekamar dengannya, aku keluar dari kamar tersebut dan pergi kekamar yang sebelumnya aku pernah tidur.


"Mau kemana ?"


Ya dia yang bertanya.


"Tak da, aku hanya nyaman jika malam ini aku tidur dikamar ini" Jawabku sambil memegang gagang pintu kamar tersebut tanpa melihat sosok yang sedang bicara padaku itu.


"Terserah"


Aku diam, entah kenapa tak sanggup menekan gagang pintu itu.


Suaranya...


Kembali seperti semula. Terdengar dingin, cuek, kejam. Aku seperti tak sanggup mendengarkan suara itu lagi. Aku bahkan sangat ingin tidak mendengarkan suara itu lagi.


Tapi apa dayaku ? Dia mungkin lagi badmood atau memang ingin kembali seperti semula ? Siapa yang tau kan ? Haha.


Aku masuk kekamar tersebut. Dan jangan tanya apakah aku bisa tidur atau tidak. Jawabannya simple, aku tidak bisa tidur.


Begitu banyak sekali hal² yang tak terduga terjadi saat ini dan hari ini. Contoh saja, siapa perempuan yang aku beli air mineral tadi ? Kenapa, bisa ada orang yang ingin meracuniku ?


Apakah dia termasuk fans Vian ? Ahhh gak mungkin lah, kan teman Vian yang tau nikah cuma Devanno.


Aku melakukan hal² yang sangat tidak ada kerjaan. Aku hanya mengambil selembar kertas dan sedikit demi sedikit melukis wajah pria yang aku cintai sampai mati nanti.


Aku yakin, aku bisa mencintainya sampai mati.


Jujur, aku masih ada lah sedikit bakat melukis. Dan ya. Tapi udah lama tidak diasah, ya kemungkinan bisa melukis itu sudah minim.


Tak terasa aku telarut dalam lukisan ku itu.


.


.


.


Cahaya pagi menyingsing menyilaukan wajahku dari setiap celah jendela yang diselimuti gorden itu.


'Eunggh, pukul berapa ini ?'


Aku mencarikan ponsel karna dikamar ini tidak terdapat jam. Aku melihat sekitar pukul 06.30 pagi.


Aku sedikit termenung dan duduk ditepi ranjang tempat tidur kamar tersebut. Yaaa aslinya malam tadi aku terlelap dimeja karna mungkin terlalu fokus melukis haha.


Badanku terasa sedikit sakit, salah tidur mungkin ya. Aku menggosok gosok perlahan mataku yang sedikit gatal. Tapi ada satu hal yang mengganjal tapi apa ?


"Ahhh, sekarang pukul 06.30 masih pagi banget lagi... uhh" ucapku sambil meringkuk kembali diatas kasur itu memeluk bantal kesayanganku.


'06.30?'


Aku tiba² MEMIKIRKAN angka itu.


-


-


WTF!!!! 06.30??!!!


GILAA!!! AKU BISA TERLAMBAT KEKANTOR.


Aku bergegas bangun dan keluar dari kamaar tersebut, bergegas ke kamar mandi.


'Sheren gila gila gila gila. Bisa² kau tidak terima pas dinterview bodoh. Masa iya hari pertama telat. Bodoh kau sheren'


Arhghhhh aku ini kebo ya ? Masa iya tidurnya bangun pukul segini sih. Gila.


Aku bergegas kesana kemari, mengambil baju pergi kedapur, bergegas sana kemari. Ketika semua sudah siap.


Aku baru sadar...


Apartemen kok terasa sangat sepi ?


Ouhhh seperti Vian sudah pergi duluan.


Aku mengukirkan sedikit senyumku, dan tetap satu kata yang selalu aku lontarkan di diriku sendiri.


'Miris'


Hidupku semiris ini ya. Aku keluar dari apartemen dan bergegas menuju taksi yang sudah aku pesan tadi yang sudah menunggu ku sekarang.


"Pak kita ke perusahaan JOHN NEW ya"


"Oke mbak"


Aku pun melihat lihat jam yang ada di tanganku, argh ini sudah terlalu telat. Sudah pukul 07.10 aku terlambat 10 menit oh tuhan.


Aku memandang kiri dan kanan melihat situasi diluar, syukurlah tidak ada macet. "Ok pak, makasih ya pak"


Aku membayar uang kebapak tersebut, dan keluar secepat mungkin. Aku berlari menuju ke perusahaan, tak lupa memakai baju yang layak agar tidak dipandang rendah sama karyawan yang sombong disini.


"Hallo mbak, ruang interview dimana ya ?" Tanyaku kebagian penjagaan disana.


"Mbak baru kan ya ? Kenapa baru datang mbak ? Ini udah siang banget loh. Biasanya orang interview datengnya sekitar pukul 06.30 udah ada disini. Soalnya untuk interview terakhir itu diinterview sama CEO disini"


'Ohh gitu ya hehe' gumamku dalam hati


Aku tiba² seketika tersenyum mendengarkan nya, merasa bahwa aku disini 100% akan lulus dan sangat mudah untuk lulus. Coba kalian diposisiku, CEO utama suami sendiri. Kalau yang interview tangan kanan CEO yang pasti itu adalah Devanno.


Wkwkwk seneng banget deh.


"Kenapa mbak tersenyum ? Gak mudah loh mbak. Semoga sukses ya mbak. Ini udah sampai diruangannya. Kalau ketemu sama perempuan rambutnya pendek matanya tajem, harap hati² biasanya dialah penghalang calon pekerja disini buat masuk. Biasanya dia yang mempersulitkan kalian"


Aku terkejut rupanya dikantor ini masih ada orang baik seperti mbak ini. Dia mengernyitkan matanya kearah ku. Aku tersenyum. Sebelum dia menjauh, aku mau tau siapa nama dia


"Ehhh kamu, namamu siapa ??"


Dia menoleh "A N N A, double N ya!" Ucapnya sambil menekan huruf N. Aku tersenyum dan memberikan tanda 'Oke' menggunakan Jariku (👌)


*tokkk tokk tokkk*


Aku mengetuk pintu itu tiga kali. "Masuk" Suara disebalik pintu itu. Huh suaranya menyeramkan.


"Ma..maaf kan saya. Saya terlambat. Maaf maaf" ucapku sambil menundukkan kepala berkali-kali.


"Kau kira kau siapa hah ?! Belum juga jadi karyawan disini tapi sudah telat!" Bentak perempuan itu kepadaku.


Aku melihatnya, ya ciri² nya persis sekali dengan yang diucapkan Anna. Rambut pendek dan matanya yang tajam alias memiliki hawa yang menyeram kan.


"Berani kau menatap ku?!" Ucapnya


"Ti..tidak. maaf" jawabku sambil menundukkan kepala lagi.


Dia mengambil berkas yang ada ditanganku secara paksa. Dia membukanya, dan membacanya


"Nama Sheren Alka. Tujuan kerja Mengambil interview sebagai Sekretaris CEO utama... Kau serius ? Hahaha" Dia tertawa bahkan bukan hanya dia. Seisi orang yang ada di ruangan ini tertawa.


Wah mereka meremehkanku.


"Emangnya ada yang salah?" Tanyaku.


Oke aku mulai memberanikan diri untuk menegakkan kepalaku dan membalas mereka. Mereka mulai menginjakku.


'Bekerja diperusahaan ku itu sulit. Apalagi ketika interview. Aku tidak bisa membantumu'


Aku mengingat kata² yang dilontarkan Vian. Ya terlihat sulit tapi aku bisa Melewati ini semua.


"Kau tau ? Orang yang ikut seperti mu itu lihat! Lihat mereka! Mereka cantik² dan elegan. Tidak sepertimu! Menjadi Sekretaris bukan hanya melayani hal kantor, tapi juga melayani hal pribadi CEO! KAU PAHAM ?!"


*DEG*


Yang benar saja ? Apakah juga melayani.. 'itu' ? Wah aku istrinya saja tidak pernah.


"Jadi maumu apa sekarang ?" Tanyaku tegas.


"Ohh kau bertanya ya... kalau begitu. Ambilkan berkas² tumpukan yang ada dilantai satu. Sekarang."


Hell.. dia bukan sedang membabuku kan ? Aku segera pergi dari situ, dan mengambil berkas yang dia mau.


Wah banyak Juga.


'Sheren! Fighting!'


.


.


.


Aku sudah selesai melakukan yang dia mau. Aku penasaran apakah aku lulus atau tidak. Firasatku bilang sih sepertinya tidak lulus ya. Aku pun duduk di sederetan calon² yang sama denganku.


Tapi tiba²


"Uppss sorry, wah bajumu basah. Apakah panas ? Baju mu pasti murahan banget ya ? Sampai² ngebayang gitu. Hhhh" Ucap perempuan bejat itu.


"Apa yang kau lakukan?!!!!!" Aku marah. Aku terlalu sabar menghadapi ini. Oke, aku akui. Aku tidak sanggup menghadapinya.


"Eitss, ingat. Kau masih dibawahku. Ohya, kamu pasti berharap untuk lulus ya ? Tapi sayang nih. Kamu gak lulus. Kamu gak punya skill, dan gak cantik. Cuihh"


Aku merasa sangat direndahkan disini. Aku menggeram kesal ingin sekali menampar mukanya yang sok cantik itu. Padahal muka udah kayak warteg kerupuk.


"Siapa bilang dia gak lulus ?"


Suara disebalik pintu luar sana. Aku menoleh, dan ya dia lagi.


Lagi lagi menolongku....


.


.


.


***


"Sebuah pengharapan itu tidak lah salah, tapi yang salah adalah bagaimana kau menyikapi hal yang kau harapkan. jangan berlebihan." — Sheren Alka


[TBC]