He Is CEO My Husband

He Is CEO My Husband
(Who?)


YANG BENAR SAJA! BENAR² BAU KU 😭


Vian aku terharu.


Aku terus melangkahi kaki ku keruangan ini, mencari tau lebih dalam lagi. Aku melihat sofa² yang tidak ada debu sedikitpun. Ruangan yang sangat tertata rapi dan indah.


'Wah disini sangat bersih'


Aku menatap pintu ruangan dari tempat berdiriku ini. Aku seketika mengingat kenangan yang sedikit tak menyenangkan. Ah bukan sedikit, tidak bisa dibilang sedikit. karna masalah itu membuat ku sangat depresi.


Lagi lagi satu kata yang ada dipikiranku 'miris' sangat miris. Aku mengukir senyuman lagi, berharap sesuatu yang baik akan datang segera.


Aku memikirkan kejadian dimana suamiku sendiri tertawa sangat bahagia dengan perempuan lain. Ya perempuan yang dia cintai. Aku sebagai istrinya saja belum pernah membuat dirinya tertawa terlepas dan seikhlas waktu itu.


Aku melanjutkan langkahku menuju ke tempat dimana sang BOSS ternama dan terkenal duduk. Aku memegang dan sedikit mengelus name tag yang terbuat dari kaca itu dengan tangan ku.


"Vian Johnbert, nama yang bagus sayang"


Aku bergumam sendiri dan mengukir senyuman, betapa tampannya pria itu. Siapa yang tidak mau hidup dengannya.


Ganteng, tampan, tajir, kaya, ternama dan mempunyai sikap sangat dingin. Aku sampai sekarang masih bingung, kenapa begitu banyak perempuan menyukai pria yang dingin. Padahal pria dingin itu sangat sangat menyusahkan dan menyebalkan.


Coba kalian bayangkan, hanya kita yang banyak mengoceh tapi dia ? Dia tidak. Intinya aku gak begitu suka sama pria dingin alias cuek. Tapi apalah kata takdir, aku yang tidak suka pria itu tapi suamiku sendiri yang seperti itu.


Aku melihat sekeliling, ada satu objek yang membuat aku penasaran. Rak buku, ya rak buku. Aku menghampiri rak buku itu dan banyaaakk sekali buku-buku tentang pembisnisan, dll.


Aku terlena dengan ruang Vian ini, sampai-sampai aku lupa tujuan sebenarnya aku kesini adalah bekerja.


"Apa yang sedang kau lakukan Sheren ?"


Aku terdiam.


Sumber suara itu membelakangi ku, aku sangat kenal ini suara siapa. Ini suara Vian. Dingin, sangat dingin.


"Emmm... Ma..maaf." ucapku terbata bata, dan bergegas untuk berjalan kearahnya dan membungkuk kan setengah tubuhku, menyimbolkan tanda hormat antara Sekretaris dan boss.


"Maa...maaf.. saya tidak sopan. Saya lancang telah memasuki ruangan Tuan Vian dengan sesuka hati. Tolong terima permintaan maaf saya Tuan."


Sekujur tubuhku dibaluti keringat dingin, entah kenapa aku disini sangat takut. Hawa ruangan ini yang tadinya hangat menjadi menegangkan.


"Kau tau kan tujuan mu kesini untuk apa ?" Tanya Vian.


"Untuk bekerja, menjadi sekretaris Tuan Vian yang cerdas dan berwibawa" Kataku spontan.


"Jika kau tau, lakukan kewajiban mu sekarang! Jangan main masuk keruangan! Aku sangat tidak suka orang yang tidak ada sopan sama sekali"


Sebentar... Dia barusan membentak ku kan ? Apa aku yang salah dengar ? Tolong siapapun jelaskan kepadaku bahwa Vian saat ini hanya bercanda.


Aku sangat tidak kuat untuk dibentak. Rasanya sekujur tubuhku tak bisa bergerak pada saat aku dibentak.


Hey Vian, aku istrimu. Teganya kau dengan ku seperti ini.


'ohya aku lupa.. dikantor atau diluar aku kan bukan siapa siapanya'


"Mau apa lagi ? Kenapa tidak bergerak dari sana ?!" bentak dia lagi


Aku berusaha untuk melangkahi kakiku dengan tegap, aku tidak boleh terlihat lemah. Tapi usaha itu nihil, makin ku melangkah jauh semakin kelihatan bahwa kakiku sangat gemetar.


Aku takut ? Ya aku takut. Sangat takut. Setiap manusia pasti memiliki hal yang paling dia takuti. Dan sebuah bentakan adalah hal yang juga sangat aku takuti.


Aku tau, wanita mana sih yang suka dibentak ? Aku yakin seratus persen, bahwa semua wanita dibumi ini sangat tidak suka dibentak.


Padahal kedua orang tua ku tidak pernah sama sekali membentak ku. Palingan hanya menasehati.


.


.


.


Aku sekarang berada ditempat dimana tadi aku memiliki hawa yang tidak enak. Perasaan tidak enak. Tumpukan berkas yang aku lihat itu adalah untuk ku. Menumpuk, sangat banyak.


Berbagai macam jadwal dinegara ini itu, pergi kesana kesini, rapat disana disini. Gila gila, sesibuk inikah CEO ?


Tapi aku rasa lebih sibuk sekretaris, karna sekretaris tugasnya adalah mempersiapkan semua jadwal yang harus didatangi CEO. Wah, sangat melelahkan.


Tak sadar, terlalu fokus mengerjakan berkas sana sini. Hari sudah larut malam.


Dengan keadaan sangat kucel, belum makan sejak datang dari sini, belum juga istirahat.


'Hey sheren, Nanti kalau drop nyusahin orang. Hobi bangey ya bikin orang kesel kamu. Cepat tinggalkan berkas-berkas itu. Pergi keluar cari makan. Nanti baru dilanjutkan lagi' Gumamku dalam hati.


Aku malam ini lembur, jangan tanyakan kemana pergi Vian. Dari kejadian dia membentak ku, aku tidak melihat dia sama sekali. Gila, apakah aku harus lembur di perusahaan yang besar ini ? Suasananya sangat gelap.


Aku meninggalkan tempat kerjaku. Dan mulai menyelusuri lift yang ada dilantai kerjaku. Kaliam tau ? Suasana disini sangat mengerikan. Sumpah seumur hidup baru merasakan gimana rasanya Sunyi. Sunyi tanpa penghuni. Disini hanya ada aku seorang diri.


Aku cepat-cepat masuk kelift. Perasaan campur aduk mulai terasa. Pikiran negatif sangat mengacaukan memori diotak. Takut tiba-tiba keluar dari lift ada yang mengikuti. Hih.


Jujur saja, aku sangat lemah keadaan gelap-gelap begini. Yang aku takutan tak lain tak bukan, aku takut hantu.


Akhirnya aku sampai dilantai satu, dasar tempat hubungan antara lantai ini kelantai lainnya.


Aku keluar dari lift dan mengadahkan seluruh pendangan ku di lantai satu. Disini tidak begitu gelap, tapi lampu utama dimatikan. Jadi hanya lampu remang-remang yang dihidupkan.


Entah dasar aku yang ketakutan, aku seketika lupa dimana pintu keluarnya.


'Yatuhan, disini sangat menakutkan. Tolong aku'


Aku sangat ketakutan, ada satu sudut ruangan yang sangat ingin aku perhatikan. Karna perasaan ku ingin sekali melihat disana.


Makin ku tatap, makin ku perhatikan.


"A..aa ... A... Apaaa ituuuuuu ?!!!! VIANNNNNNN!!!!!!!!!!!"


Aku terduduk lemas dilantai yang penuh dengan injakan kaki-kaki orang. Aku melihat ada sosok. Tidak begitu jelas. Aku menutupi mataku dengan telapak tanganku.


"Hikss...hikss... Viann.. kau dimana ?? Aku tak sanggup lagi..."


Sekitar dua menit masih diposisi yang sama. Tiba-tiba tubuhku menghangat dan seperti ada sandaran ditubuhku dan dikepalaku.


Ada yang memeluk ku, tapi aku takut ini hanya halusinasi.


"Jangan takut, ada aku. Tenanglah. Aku bukan halusinasi yang seperti kau pikirkan"


***


"Tak perlu menipu diri sendiri, jika cinta akuilah. Jika sayang buktikanlah. Semua hal sesimple itu. Jangan menjadi munafik, itu terlalu mengerikan baby" - Sheren Alka


[TBC]