GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG

GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG
Pecah


Park Hyatt hotel


Tokyo


Ketika sinar matahari mengenai setiap lapisan kulit milik Karla, di mana sinar matahari yang menyeruak masuk melalui jendela kaca juga menghantam pada bagian sisi wajah kirinya hingga menimbulkan silau yang cukup berlebihan membuat gadis tersebut seketika terganggu karena rasa hangatnya.


Karla mencoba untuk menggeliat dan berusaha menggerakkan tubuhnya beberapa waktu, menghindari silaunya cahaya matahari yang menerpa wajahnya tersebut namun anehnya dia merasa sesuatu yang sakit di bagian bawah intinya.


gadis itu seketika berdesis karena rasa nyeri dan sakit yang menghantamnya menjadi satu dibawah intinya.


"Sssttthhh Ahhh"


seolah-olah dibawa sana ada satu yang terkoyak dan menyakiti dirinya, sangat sakit dan membuat nya merasa tidak nyaman.


aneh, benar-benar aneh, seakan-akan ada sesuatu yang menghajar bagian inti nya dan tubuh perempuan tersebut juga terasa begitu berat dan seolah-olah habis lari marathon mengelilingi lapangan bola selama puluhan kali.


percayalah rasanya sangat hebat sekali, begitu melelahkan dan juga sangat sakit, tubuhnya terasa pegal di mana-mana bahkan kedua pahanya terasa tidak bisa digerakkan dengan sempurna saking pegalnya.


Karla berusaha untuk membuka bola matanya dan mengabaikan silaunya matahari yang menerpa dirinya, ini yang dia pedulikan adalah rasa sakit yang tiba-tiba menghantam di bagian bawah intinya.


Ada apa?!.


perempuan itu mencoba untuk memijat-mijat kepalanya beberapa waktu, percayalah rasa sakit di kepala yang sangat luar biasa.


dia ingat semalam sepertinya dia minum, tapi beberapa kali dia pernah minum rasanya tidak sesakit ini, seolah-olah ada satu efek aneh yang menerjang dirinya dan seluruh anggota tubuhnya saat ini.


perempuan tersebut mencoba untuk membiasakan bola matanya sembari tangan kanannya terus membiarkan semar-semari indahnya memijat keningnya, karena menatap karang langit-langi kamar yang dia tempati tersebut, sejenak perempuan itu mencoba meneliti bagian langit kamar di mana dia tidur saat ini.


dia mengharapkan telinga dan berpikir ini sepertinya bukan kamar hotel di mana dia menginap, perempuan itu pikir apa mungkin dia berada di kamar hotel teman baiknya.


untuk beberapa waktu dia masih belum menyadari keadaan berusaha untuk menetralisir perasaannya dan juga masih berusaha untuk menahan sakit di bawah sana.


Karla mencoba untuk kembali menggerakkan tubuhnya, demi apapun dia yakin tubuhnya benar-benar terasa begitu sakit saat ini, saat dia mencoba untuk menggerakkan kaki kanannya lagi dia merasa bagian intinya terasa nyeri dan sakit, pada suatu ketidaknyamanan yang menghantam dirinya saat ini, dan dia pikir apakah ada yang salah dengan tubuhnya dan juga bagian intinya saat ini.


Gadis tersebut sejenak langsung mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu, tidak tahu kenapa tapi dia tiba-tiba menyimpan satu kecurigaan terhadap dirinya sendiri, perempuan itu secara perlahan mengencangkan pegangannya pada selimut yang menutupi tubuhnya, Karla kini berusaha untuk melirik ke arah bawah nya, sembari menetralisir kesadarannya atas rasa bangun tidur yang masih begitu berat di kepalanya, sejenak gadis itu diam untuk beberapa waktu dan detik berikutnya dia mencoba untuk menyibak selimutnya.


dengan perasaan takut dia mencoba untuk mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut tersebut, dan percayalah jutaan pemikiran menghantam dirinya seolah-olah ada satu ketakutan luar biasa yang tidak bisa dia jabarkan saat ini.


perempuan itu meminjamkan sejenak bola matanya kemudian dia kembali membuka bola matanya dan dengan cepat merata tubuhnya yang berada di balik selimut mendominasi berwarna putih tersebut.


Ada apa ini?!.


gadis itu mengurutkan keningnya sembari menatap tubuhnya yang telah dia sibak selimut tadi.


No.


Karla panik, kini dia sadar jika dia sama sekali tidak menggunakan sehelai benangpun saat ini, tubuhnya benar-benar dalam keadaan polos seperti bayi yang baru saja dilahirkan di muka bumi ini.


Wajah perempuan tersebut seketika memucat dan di detik berikutnya Karla berusaha untuk mengingat apa yang terjadi pada dirinya, seolah-olah kepingan demi kepingan masa semalam menghantam dirinya satu persatu, satu demi satu puzzle yang pecah dan berserakan terhubung di dalam ingatannya.


pesta ulang tahun, keceriaan yang membahana, canda tawa bersama, minuman yang dia minum, peringatan dari temannya, kepala pusing yang menghantam dirinya secara tiba-tiba, dia bergerak untuk pulang dengan cara dibantu temannya melalui pintu belakang, mencoba menghindari diri dari laki-laki ba..jingan Casanova yang mungkin mengincarnya, kemudian dia berusaha untuk menghubungi kakak sepupunya yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri, dirinya yang berjalan terseok-seok dan.......pulang bersama Lucas, kamar hotel.


bagian ingatan-ingatan tersebut mulai tersusun satu persatu di dalam kepalanya, wajah karena langsung berubah pucat dan memerah, kemudian tiba-tiba di atas kepalanya dan juga ingatannya menari-nari berbagai macam kata-kata dan kalimat yang terjadi di antara dirinya dan Lucas sang kakak sepupunya.


"Please Karla berhentilah, aku bisa kehilangan akal waras Ku"


"Bantu aku kak, please aku tidak bisa menahan nya"


"Karla berhentilah"


"Kak... puaskan aku, please... sentuh aku..."


tiba-tiba saja percakapan tersebut terngiang-ngiang di atas kepalanya secara tiba-tiba.


di tengah pikiran kacau yang menghantam dirinya tiba-tiba saja dia merasa ada pergerakan di sisi kanannya, gadis itu seketika langsung menoleh secara perlahan dengan ekspresi yang begitu tegang serta takut.


seolah-olah ada ketakutan yang bergelayut didalam dirinya saat ini, ada hati dan juga bisikan di kepalanya yang berkata,


Tidak Karla....kau tidak mungkin melewati malam panas pertama mu dan menyerahkan kehidupanmu pada kakak sepupu laki-lakimu.


dia benar-benar tidak berani untuk menoleh ke arah sisi kanannya tapi pergerakan yang terjadi di sisi kanannya semakin lama semakin bergerak dengan lincah kemudian dia mendengar suara deheman di balik nafas seorang laki-laki ya tiba-tiba berpindah tepat di samping telinga kanannya.


gadis itu memaksakan diri untuk melihat dan memperhatikan sosok orang yang ada di samping kanannya tersebut.


bayangkan bagaimana ekspresi karena saat ini ketika dia melihat seseorang yang sangat tidak asing di tengah berusaha untuk membuka bola matanya secara perlahan menghadap dirinya.


semua benar-benar seperti apa yang diprediksi oleh dirinya, Karla tampak panik, bahunya seketika gemetaran dan gadis tersebut Merasa bola matanya memerah dan di detik berikutnya seketika tangis Karla pecah.