GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG

GAIRAH DAN HASRAT TERLARANG
Tidak mungkin terus menyembunyikan nya


Anka benar-benar serba salah, pada akhirnya memilih untuk pergi dari sana, berkata damai pada Frans jika dia mengejar Karla.


"Maafkan karena berpikiran yang tidak-tidak"


Anka menyentuh tengkuknya cepat, merasa begitu malu.


"Ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"


Airin bertanya sambil menaikkan ujung alisnya, menatap kearah Frans dan Anka secara bergantian.


"Bukan apa-apa"


Mana berani Anka menjawab jika dia mencurigai Karla mengambil kamar dengan seorang laki-laki, bisa-bisa Airin bercerita pada Lucas dan habislah dia di cecar oleh manusia satu itu.


Lucas tidak akan mengampuni nya karena menuduh sepupu kesayangannya tersebut atas dasar hal yang tidak sesuai kenyataan.


"Aku akan kembali ke mansion kak Lucas"


Dia pada akhirnya memilih untuk kabur, merasa cukup malu dengan keadaan, tidak lagi ingin memperpanjang semuanya, dia pikir dia terlalu berlebihan.


"Hati-hati dijalan"


Airin melambaikan tangannya dengan cepat dibalas Anka pula dengan cepat.


Begitu Anka bergerak kabur, sejenak Frans dan Airin saling menoleh.


"Naiklah keatas dan bicara dengan Lucas, biarkan mereka pindah setelah menyelesaikan sesi makan malam nya, Anka belakangan mulai curiga dengan tindak-tanduk mereka"


Ucap Frans kemudian.


Airin hanya menghela nafasnya pelan.


"aku pikir hubungan ini terlalu rumit, mereka tidak mungkin terus-menerus bersembunyi"


Gadis tersebut protes, sebenarnya cukup takut jika satu hari kakaknya dan Karla akan ketahuan oleh salah satu keluarga mereka, dia tahu hubungan percintaan dan pernikahan kedua orang itu jelas tidak sehat, terlalu bertentangan dengan keluarga mereka meskipun dia tahu sepupu antar ibu diizinkan untuk menikah tapi dalam keluarga Alexander hal tersebut jelas tidak diperbolehkan.


"ini hanya Anka bagaimana jika itu adalah mommy? kakak tahu sendiri bagaimana kerasnya mommy pada anak-anak nya termasuk pada kak Lucas"


ucap Airin lagi.


"jangan khawatir soal apapun, semua akan berjalan dengan lancar selama kita tidak banyak bicara"


"aku akan kembali menyusul Anka, jangan pernah khawatirkan soal apapun, semua pasti baik-baik saja"


setelah berkata seperti itu tangan kanan laki-laki tersebut menepuk-nepuk puncak kepala Airin.


"Naiklah ke atas diberitahukan pada Lucas"


lanjut laki-laki tersebut lagi.


gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, membiarkan Frans pergi meninggalkan dirinya kau berjanji saat masuk ke dalam hotel tersebut dan bergerak menuju ke lantai atas.


******


Disisi lain.


Di tempat yang sama.


Dalam jarak pandang terhalang kaca.


Bola mata seorang laki-laki yang duduk dengan tenang di pinggiran hotel lantai atas yang menghadap langsung ke arah jalanan dalam jarak pandang terhalang kaca menatap ke arah Frans dan juga gadis yang ada di sampingnya.


seorang laki-laki lainnya tampak berdiri tepat di samping laki-laki yang pernah duduk tersebut, membiarkan sang tuannya terus menatap ke arah bawah sana untuk beberapa waktu.


Seolah-olah tahu apa yang dipikirkan tuan nya laki-laki tersebut memilih diam tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya, gimana bisa dilihat jemari-jemari kanan milik tuhanmu terus bergerak mengatur-ngetuk pinggiran meja.


"Putri bungsu Alexander?"


laki-laki tersebut kini bertanya tanpa menoleh karena laki-laki yang ada di sisi kirinya, bola matanya tidak melepaskan pandangannya pada gadis yang kini bergerak masuk ke dalam hotel tersebut.


"seperti yang anda ketahui, itu adalah putri bungsu Alexander"


saat laki-laki di sisi kiri nya tersebut menjawab, laki-laki itu menggenggam erat telapak tangan kanan nya.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"


tiba-tiba laki-laki yang duduk tersebut bicara dengan cepat.


"setidaknya dia harus menebus kisah tragis di masa lalu, kau paling tahu bagaimana caranya agar gadis itu masuk ke dalam genggamanku, aku ingin tahu bagaimana perasaan istri Alexander saat kehilangan putrinya seperti kejadian belasan tahun yang lalu"


setelah berkata seperti itu laki-laki tersebut langsung berdiri dari posisi duduknya, meninggalkan laki-laki yang berdiri tadi dalam kebimbangan nya.