
Mansion utama keluarga Karla
kamar Karla.
Gadis tersebut berulang kali memaksa bola matanya untuk terpejam, tidak ingin mendengarkan soal apapun dan mengabaikan ketukan pintu sejak tadi yang membangunkan dirinya agar keluar dari kamar nya karena matahari jelas telah menampilkan sinar nya sejak beberapa jam yang lalu.
Karla mengabaikan semua orang dan sama sekali tidak ingin terbangun dari posisi tidurnya, bukan karena dia masih mengantuk atau bahkan karena dia ingin menenggelamkan kembali dirinya ke alam mimpi, dia hanya tidak ingin bangun karena tidak ada alasan untuk nya bangun saat ini.
"Baby bangunlah, kamu tahu malam ini Lucas akan kembali ke Paris, apa kamu tidak ingin bertemu dengan nya dan menghabiskan waktu bersama seperti biasanya atau membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa ke sana?"
Bisa dia dengar teriakan nyaring mama nya, wanita tersebut mengetuk pintu berkali-kali sejak 2 jam tadi, berteriak setengah putus asa karena tidak berhasil membangunkan dirinya.
"Ada apa dengan anak itu? coba lihat? kemarin mereka bertengkar, sejenak akur, lalu bertengkar lagi sekarang akur lagi, itu sangat aneh bukan?"
Bisa dia dengar ocehan samar-samar di luar sana, suara mama nya terdengar mulai mengeluh atas tingkah laku nya dengan Lucas.
"Mereka sudah dewasa, biarkan saja, mungkin Karla sedang marah karena Lucas membuat nya kesal seperti biasanya, tapi karena kali ini Karla merasa bukan lagi anak-anak jadi dia pikir permainan Lucas sudah melampaui batasan nya"
Suara papa nya ikut terdengar didepan sana.
"No.. Karla marah saat Lucas menyeret nya pulang ke Indonesia ketika di Jepang, siapa yang harus kita salahkan? Karla tiba-tiba kabur dan pergi tanpa izin, Lucas hanya mendengar permintaan ku untuk membawa nya pulang, tapi dia malah marah hingga hari ini, itu sangat keterlaluan"
"Wilona... jangan semakin menekan nya, dia hanya merasa kesal dengan keadaan"
"Kamu selalu membela nya Mack"
sahut menyahut terus terdengar dari depan sana, Karla mencoba untuk menutup kedua telinganya, dia enggan mendengar perdebatan kedua orang tuanya, perempuan itu pikir seandainya dia mengatakan hal yang sebenarnya bayangkan apa yang akan terjadi kepada mereka, mungkin ini akan menjadi akhir daripada seluruh hubungan mereka.
ditambah lagi Karla masih kecewa dengan kejadian malam itu, di balik mereka minum atau tidak minum dari orang-orang yang menjebak mereka, dia baru tahu jika Lucas memang sudah jatuh cinta padanya dan memiliki rencana untuk menikahinya dengan cara yang tidak dia mengerti.
dia terlalu naif dan polos, tidak pernah tahu jika perlakuan laki-laki tersebut bukan cara kakak kepada adik perempuannya, tapi cara laki-laki kepada perempuan yang disukainya.
pelukan hangat, ciuman manis, canda tawa mereka, aksi tidur bersama saling berpelukan dan lain sebagainya itu Karla anggap jika laki-laki itu benar-benar menyayanginya sebagai seorang adik, tapi mana pernah dia sangka jika Lucas tidak pernah menganggapnya seperti itu, laki-laki itu menganggapnya dari sudut yang jelas berbeda, memperlakukan dirinya layaknya seorang kekasih.
dan dia benar-benar tertipu selama ini.
perempuan itu kembali mencoba menenggelamkan dirinya ke dalam bantal mendominasi berwarna putih yang ada di hadapannya, dia memutuskan untuk tidak bangun hari ini, mengabaikan kepergian Lucas malam ini dan dia tidak ingin peduli kemana laki-laki itu ingin pergi.
Saat ini isi kepalanya tengah tidak menjadi sinkronisasi, dia tidak bisa berpikir dengan jernih sama sekali, sudah tiga hari seperti ini Dan dia bahkan tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa.
pergi menyambut uluran tangan Lucas atau tetap bertahan dengan status yang tidak jelas, yang satu hari dia tidak tahu laki-laki mana yang akan menerimanya karena dia bukan lagi seorang perawan.
dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya dan dia merasa begitu lelah saat ini, ini karena semalaman dia sama sekali tidak dapat terlelap dan berusaha memejamkan bola matanya sesuai kemauannya, pikirannya berkelana entah ke mana, dan ini membuatnya benar-benar tidak nyaman.
Dugggggg.
Dugggggg.
"Karla...."
lagi gedoran pintu ditambah teriakan seseorang mengejutkan dirinya, Perempuan tersebut terpaksa membuka bola matanya saat mendengar suara tidak asing didepan sana.
Dengan enggan perempuan itu bangun dari posisinya kemudian berjalan menuju ke arah pintu ke kamar lantas membuka pintu tersebut begitu saja.
Hayat muncul sambil mengembang kan senyuman nya, menampilkan barisan paper bag ditangan nya.
"Aku membawakan sesuatu untuk mu"
Sahabat nya itu berkata dengan cepat, masuk ke kamar mendekati meja nakas, meletakkan barisan paper bag tersebut dengan cepat keatas nakas.
"Kenapa pagi-pagi sekali datangnya?"
Karla mengerutkan keningnya.
"Aku akan pergi ke Paris malam ini, jadi sebelum pergi ada baiknya mampir dan memberitahukan nya pada mu"
saat gadis tersebut berucap seperti itu seketika membuat Karla terkejut, perempuan itu langsung membuka bola matanya dengan sempurna.
"Ya?"
dia bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Aku dengar Lucas juga akan pergi? aku akan bertemu dengan nya dipesawat kalau memang kami satu penerbangan dan Luna juga pergi malam ini"
dan lagi-lagi Karla langsung membulatkan bola matanya.
"aku dengar Luna meminta daddy nya untuk melakukan perjodohan dengan Lucas, apakah itu benar? aku kemari karena ingin bergosip dengan mu soal Perempuan itu"
Lanjut Hayat sekali lagi dengan penuh antusias, Karla seketika mematung di tempatnya.