Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 95


Belva berusaha mengejar mobil Gilang. Tapi Gilang mengendarai mobilnya dengan begitu cepat. Baru berapa menit saja mobil Gilang sudah tidak terlihat lagi. Ditambah lagi dengan jalanan Jakarta yang sedang macet.


Sebenarnya Belva tidak perlu mengejarnya karena tujuan Gilang sudah pasti kantornya. Tapi pagi ini Gilang ada meeting. Dan Belva harus bertemu dengan Gilang sebelum meeting dimulai.


Belva tak bisa membiarkan lelaki itu marah dalam waktu yang lama. Apalagi hanya karena kesalahpahaman seperti tadi. Rugi sekali waktu mereka jika dihabiskan untuk marahan hanya karena masalah sepele.


Sesampainya didepan kantor Gilang, Belva meninggalkan mobilnya begitu saja tanpa memarkirkannya dengan rapi.


Siapa yang akan berani memarahi Belva jika dia parkir sembarangan di kantor suaminya sendiri?


Belva menaiki lift menuju lantai sepuluh tempat ruang meeting berada. Belva merasa lift tersebut berjalan begitu lambat karena tak kunjung sampai.


Setelah pintu lift terbuka di lantai sepuluh, Belva segera keluar dan berlari menuju ruang meeting.


"Maaf, Bu Belva," tegur Juan yang tiba-tiba sudah muncul di belakangnya.


"Kenapa?"


"Pak Gilang melarang siapapun masuk ke dalam kecuali yang diijinkan beliau," ucap Juan membuat kedua mata Belva melotot.


"Kamu tau, kan, kalau aku istrinya?"


Juan mengangguk dan menundukkan kepalanya. "Maaf, Bu. Ini perintah Pak Gilang."


"Apa dia juga bilang kalau aku datang aku nggak boleh masuk?"


"Iya, Bu. Maaf. Saya juga nggak boleh masuk kalau beliau nggak telepon dan meminta saya untuk masuk, Bu." Juan menjawabnya dengan perasaan takut.


Yang dia tau, istri bos-nya itu belum pernah bicara sekeras ini padanya. Dia selalu terlihat lembut di depannya ataupun di depan Gilang dan siapapun itu.


Pasti ada masalah yang terjadi, pikir Juan.


"Berapa orang di dalam?"


"Pak Gilang dan tiga orang rekan bisnisnya, Bu."


"Apa ada perempuannya?"


"Ada, Bu."


"Sudah menikah?"


"Setau saya belum."


"Perempuannya cuma satu. Laki-lakinya tiga. Di dalam meeting beneran apa ngapain, Ju?"


"Meeting, kok, Bu. Meeting tersebut membahas proyek besar yang akan Pak Gilang kerjakan."


Tadinya Belva ingin meminta maaf dan menjelaskan apa yang tujuannya menelepon Rey. Lagipula Rey itu saudara Belva sendiri. Aneh sekali Gilang bisa cemburu.


Tapi sekarang, tau Gilang tidak mengijinkan siapapun bahkan istrinya sendiri untuk masuk ke ruangannya, Belva sendiri yang merasa kesal.


Apalagi di dalam ada perempuan yang belum menikah. Ikut meeting proyek besar pasti dia juga pintar. Wanita karir yang cantik. Ah, mendadak Belva insecure.


Tanpa mengucap sepatah katapun lagi pada Juan, Belva pergi begitu saja meninggalkan kantor Gilang dengan kekesalan yang menggunung di hatinya.


"Beraninya Mas Gilang ngusir aku secara nggak langsung. Kayaknya dia udah tau kalau aku mau ngikutin dia. Awas aja nanti." Belva menggerutu kesal.


Sepanjang perjalanan wajahnya terus tertekuk. Hanya saat bertemu dengan anaknya bibirnya bisa tersenyum. Setelahnya, dia sibuk menyusun rencana untuk memberi pelajaran pada Gilang.


***


"Belva... Mas mau masuk. Kenapa Pak Eko bilang Mas nggak boleh masuk?"


Belva tersenyum sinis. "Itu, kan, yang Mas lakuin ke aku tadi? Aku nggak boleh masuk buat ketemu sama kamu."


"Tadi Mas meeting, Bel."


"Biasanya juga nggak peduli mau meeting apa enggak. Kalau aku pengen ketemu juga disuruh masuk aja. Kenapa? Karena di dalam ada cewek cantiknya? Biar puas lihatin cewek cantiknya tanpa ada aku gitu?"


"Kenapa gitu, sih, mikirnya? Nggak ada niatan buat kayak gitu. Bukannya kamu yang malah teleponan sama laki-laki lain?"


"Hey, Bambang! Dia sepupuku. Saudara aku. Pantaskah kamu cemburu, Mas?"


"Bagaimanapun juga dia pernah cinta sama kamu, Bel."


"Tapi aku enggak. Mas Gilang yang berlebihan. Tujuan aku telepon dia bukan buat kangen-kangenan. Kalau Mas bisa tau aku teleponan sama Rey, harusnya Mas dengar apa yang aku bicarakan dengan Rey. Udahlah. Emang kamunya aja yang cari gara-gara biar bisa puas lihatin cewek lain dengan alasan meeting."


"Kok, malah jadi kamu yang marah, sih, Bel? Udah, deh, bukain pintunya. Ini udah malam. Mas mau istirahat."


"Bukan urusan aku. Aku nggak akan ijinin Pak Eko buat bukain pintu buat kamu."


"Bel..."


Belva segera mematikan telepon dari Gilang sebelum Gilang melanjutkan ucapannya.


Mungkin Belva sedang kangen bertengkar dengan Gilang. Harusnya seperti ini Belva tidak perlu meminta Pak Eko untuk mengunci pintu gerbang dan tidak memberikan Gilang ijin untuk masuk.


***


Selama ini Belva selalu tidur dengan Gilang ada di sampingnya. Kecuali jika Gilang tengah pergi karena urusan pekerjaannya. Kadang dari Bandung meskipun sudah malam Gilang nekat pulang hanya karena ingin menemani Belva tidur.


Belva yang tak biasa tidur tanpanya sering meneleponnya tengah malam jika Gilang tengah pergi ke luar kota atau ke luar negeri.


"Mas Gilang tidur di mana, ya?" gumam Belva.


Kaki jenjangnya menginjakkan lantai yang begitu dingin. Dia berjalan ke arah jendela dan melihat keluar.


Mobil Gilang tidak ada di halaman maupun di depan gerbang. Membuat Belva semakin bertanya di mana Gilang bermalam.


Ingin menelpon, tapi gengsi rasanya.


Belva yang marah, Belva yang melarang Gilang untuk masuk, masa Belva juga yang harus bertanya dimana Gilang sekarang? Gengsi.


Belva mengambil handphonenya. Barangkali ada pesan atau panggilan yang masuk dari Gilang.


Tapi nihil. Yang ada hanya pesan dari Mikha yang mengirimkan sebuah foto. Dan di bawahnya ada sebuah pesan.


[ Check-in lagi, Bel? Lagi program hamil lagi apa gimana? Rajin amat check-in begini.]


Di dalam foto tersebut, dari belakang memang jelas sekali itu Gilang. Tapi perempuan di sampingnya itu bukan dirinya meskipun dari belakang memang sangat mirip dengannya sampai-sampai Mikha saja mengira bahwa itu dirinya.


Dada Belva mendadak bergemuruh. Ternyata Gilang bermalam dengan seorang perempuan di kamar hotel.


Lelaki itu ternyata tidak berubah. Dia kembali berulah dengan bermain perempuan.


***


Belva segera membersihkan dirinya. Dia akan menyusul Gilang ke hotel sekarang juga. Tak peduli jika waktu masih jam setengah empat pagi.


Rasanya ingin memergoki langsung apa yang dilakukan Gilang semalam dengan perempuan itu.


"Bu, mau kemana pagi-pagi begini?"


"Tolong buka gerbangnya, Pak. Saya ada urusan."


Eko tak banyak bertanya lagi. Dia melakukan perintah Belva tanpa bertanya apapun lagi pada Belva.


Beruntung jalanan masih sepi. Sehingga hanya dalam waktu dua puluh menit saja, Belva sudah sampai di hotel sesuai dengan foto yang Mikha kirimkan tadi.


"Saya mau tau kamar atas nama Gilang."


"Maaf, ibu. Kami tidak bisa memberikan informasi data mengenai pengunjung kami."


"Saya istrinya."


"Sekali lagi maaf, ibu."


Belva menghembuskan napasnya dengan kesal. Pikirannya sudah tidak karuan lagi rasanya.


"Saya curiga suami saya selingkuh. Kalau kamu menghalangi saya untuk masuk, berarti kamu dan hotel ini mendukung perselingkuhan dan perzinahan. Dosa besar tau nggak?"


"Tapi ini sudah peraturan hotel, Bu. Saya hanya mengikuti prosedur pekerjaan saya."


"Tulis nomor rekening kamu sekarang juga!"


"Ibu mau menyuap saya? Maaf, Bu, saya tidak bisa."


"Saya rasa kamu akan diam setelah mendapatkannnya. Tulis cepat!"


"Ada cctv di sini, Bu. Saya nggak berani."


"Saya yang bertanggungjawab. Kalau kamu dipecat dari sini, saya bisa kasih kamu pekerjaan dengan gaji tiga kali lipat."


Perempuan dengan name tage Aina itu pun segera menuliskan nomor rekeningnya di sebuah kertas dan memberikannya pada Belva.


Tak lama kemudian, angka satu dengan nol sebanyak tujuh buah berjejer sudah masuk ke rekening Aina. Aina terkejut sampai dia membelalakkan kedua matanya.


"Kamar nomor berapa?"


Untuk sesaat Aina mencari nama Gilang di komputernya. "Kamar nomor tiga ratus enam, Bu. Lantai tiga."


"Oke."


***


Jantung Belva berdebar kencang saat berjalan menuju kamar dimana tempat Gilang bermalam.


Adzan subuh sudah berkumandang. Harusnya hatinya akan lebih tenang andai dia sholat terlebih dahulu.


Tapi rasa penasarannya tidak akan mungkin membuatnya khusyuk mengingat Gilang.


Kunci cadangan kamar tersebut sudah ada di tangan Belva. Tangan Belva bergetar saat menempelkan kunci kamar yang berbentuk kartu tersebut.


Belva membelalakkan kedua matanya melihat dengan siapa Gilang tidur semalam. Bisa-bisanya...


🌻🌻🌻