Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 70


Kedua mata Belva kembali memandang seseorang yang sudah lama dia cari. Terakhir bertemu saat di minimarket beberapa Minggu yang lalu.


Belva berharap mereka kembali dipertemukan, di manapun nanti.


Dan doa Belva terkabul. Belva kembali melihat seseorang itu di bandara Soekarno Hatta beberapa saat setelah Belva dan Gilang landing sepulang dari Bali.


Belva berusaha mengejar wanita itu. Berusaha mempercepat langkahnya meskipun dalam keadaan hamil. Sebelumnya, dia ijin kepada Gilang akan pergi ke kamar mandi.


"Mbak!" Tentu tidak ada yang menoleh ke arah Belva. Tidak ada yang merasa dipanggil oleh Belva.


Adapun yang menolah, mereka bukan orang yang dimaksud Belva.


"Mbak yang pakai dress merah."


Barulah orang yang dimaksud Belva menoleh. Belva yang menghentikan langkahnya karena napasnya mulai tersengal pun tersenyum lebar melihat orang yang dimaksud berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Akhirnya Mbak berhenti juga."


Wanita itu menatap Belva penuh tanya. Sepertinya dia tidak pernah melihat Belva, kecuali dari foto pernikahannya dengan Gilang dan foto-foto yang lainnya. Ya, dia tentu mengenal Gilang.


Beberapa hari yang lalu dia dan Gilang bertemu di bandara Denpasar. Bahkan mereka sempat berbicara sebentar.


"Memangnya tampang gue kayak mbak-mbak, ya?"


Belva tersenyum canggung. "Maaf. Kakak kalau begitu. Kakak masih ingat sama aku?"


Wanita itu mengerutkan keningnya. Mengingat apakah sebelumnya mereka pernah bertemu sampai Belva bertanya seperti itu.


"Sorry. Kita pernah ketemu?"


"Ah, aku maklum kalau kakak lupa sama aku. Waktu itu kakak sedang mabuk soalnya."


"Maaf?" Wanita itu semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Belva.


"Sekitar setahun yang lalu, kita bertemu di sebuah tempat hiburan malam di Jakarta. Kakak bilang ngapain anak kecil seperti aku datang ke sana. Aku bilang aku sedang patah hati karena orang yang aku sukai bertunangan dengan orang lain. Terus kakak kasih saran buat aku untuk check in ke hotel, dan berakting seolah-olah aku telah dinodai oleh lelaki yang nggak aku kenali agar orang yang akh cintai itu menikahi aku. Thanks, Kak. Sarannya berhasil. Aku udah nyari kakak sejak lama. Akhirnya kita ketemu lagi di sini."


Wanita di hadapan Belva itu berusaha mengingat apa yang diucapkan oleh Belva. Sayang, dia tidak mengingatnya sama sekali. Karena setiap datang ke sana dia pasti mabuk dan tak mengingat dengan jelas setiap kejadian yang terjadi saat dia tengah mabuk.


"Maksud Lo, Lo berhasil dinikahi sama lelaki yang Lo sukai gitu?" Feelingnya, lelaki itu adalah Gilang.


Belva mengangguk antusias. "Yes. Dan ini hasilnya," ucapnya sambil mengusap perutnya yang sudah membesar. "Ya meskipun kemarin sempat marah sedikit saat aku jujur kalau tidak pernah ada kejadian buruk di malam itu," lanjut Belva.


Wanita berbaju merah itu pun mengangguk paham. "Selamat, deh, kalau gitu," ucapnya.


"Nama kakak siapa? Boleh aku minta nomor handphone kakak?"


"Nama gue Amira."


Belva tersenyum lebar. "Kak Amira mau nggak datang ke acara_"


"Sayang, Mas cari kamu kemana-mana. Katanya ke toilet Mas cari malah di sini." Gilang datang menghentikan obrolannya bersama Amira.


Gilang belum sadar bahwa ada Amira di sana saking paniknya kehilangan Belva sebentar.


"Aku tadi cari Kak Amira ini."


Gilang memandang Amira. Matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Amira berbicara dengan Belva.


"Ada urusan apa, Sayang?" tanya Gilang. Sikapnya seolah-olah tidak mengenal Amira.


Belva tersenyum malu. "Dia yang waktu itu kasih saran buat aku menjebak Mas Gilang malam itu."


Gilang menghembuskan napas panjang. Ternyata Amira yang memberikan saran tersebut pada si polos Belva.


Tentu sarannya tidak jauh-jauh dari hal tersebut. Dunia Amira memang seperti itu adanya.


"Oh. Urusannya sudah selesai? Kita harus segera pulang, Sayang. Kamu harus banyak beristirahat."


Amira hanya mengangguk tanpa berucap apapun.


Melangkahkan kaki mendahului Amira. Gilang merasa dia harus bertindak dengan cepat menyelesaikan masalahnya.


Belva sudah mengenal Amira. Kemungkinan mereka akan bertemu lagi. Cepat atau lambat. Dan pasti Belva dan Amira akan banyak mengobrol nantinya.


Gilang tidak ingin Belva mendengar sepatah katapun tentang masalahnya dari Amira. Lebih baik dia selesaikan dengan cepat sehingga ketika Belva harus diberitahu, Belva tahu dari Gilang secara langsung. Bukan dari orang lain.


🌻🌻🌻


"Dia gagal menikah dengan Pak Hengky karena tengah hamil anak Lo. Yang dia pikirkan hanya Lo. Setiap hari hanya bisa berharap Lo mendatanginya."


"Kenapa dia nggak hubungin gue?"


"Dia nggak berani lagi buat ganggu Lo lagi, Lang."


"Tapi dia hamil anak gue."


Amira menganggukkan kepalanya. "Tenang aja, dia rawat anak Lo dengan baik, kok."


"Terus sekarang mereka ada di mana?"


"Anak Lo sama gue. Gue rawat dia dari bayi karena Viona koma sesaat setelah melahirkan. Sampai sekarang, dia belum sadar juga. Yang disebut hanya nama Lo. Tapi respon dia nol saat dia diperiksa sesaat setelah menyebut nama Lo. Anak Lo cewek. Cantik banget. Sebagian besar wajahnya mewarisi wajah Lo, Lang."


"Terus Lo kasih makan anak gue dari hasil Lo kerja malam?"


Amira menggelengkan kepalanya. "Gue emang lon*e, Lang. Gaya hidup gue berasal dari uang hasil jual diri. Tapi semenjak gue harus menghidupi Regina, gue jadi karyawan di sebuah perusahaan ternama. Gaji gue dari perusahaan tersebut gue pakai buat besarin Regina."


"Namanya Regina?"


Amira menganggukkan kepalanya. "Viona yang kasih nama sebelum dia koma. Nama gabungan dari nama Lo dan Viona. Regina sekarang ada sama ibu gue. Setiap hari yang rawat ibu gue. Sudah seperti cucunya sendiri. Biaya rumah sakit Viona ditanggung oleh Pak Hengky. Ceritanya dia menyesal memutuskan hubungan dengan Viona. Sebab itu dia yang merawat Viona meskipun dalam keadaan koma dan yang disebut nama Lo. Gue yakin itu berasal dari alam bawah sadarnya."


Gilang menghembuskan napas panjang mengingat percakapannya dengan Amira kemarin. Hal yang mengganggu pikirannya selama di Bali.


Kini dia sudah berdiri di hadapan tubuh Viona yang kurus dan tidak sadarkan diri.


Jika dihitung, Viona sudah koma hampir empat tahun lamanya.


"Yang Lo rasain apa, Vi, sampai Lo nggak bangun selama itu?"


"Harusnya waktu itu Lo cari gue dan bilang kalau Lo hamil."


Maksudnya, Gilang akan menikahinya begitu? Kalau waktu itu Gilang menikah dengan Viona, pasti juga tidak akan ada Belva di hidup Gilang.


Bukan maksud Gilang menyesali pernikahannya dengan Belva. Tidak sama sekali. Setidaknya saat itu dia bisa bertanggung jawab atas kehamilan Viona meskipun tidak dengan menikahinya. Pasti masalah sekarang juga tidak akan serumit ini jadinya.


Gilang masih memikirkan bagaimana caranya membicarakan hal ini kepada Belva.


Di sisi lain, Gilang ingin segera mengambil Regina. Gilang tidak ingin melihat Amira yang berpakaian terbuka untuk mencari uang. Semakin besar, pasti Regina akan paham tentang pekerjaan Amira.


Dan Gilang tidak ingin otak polos Regina diracuni oleh semua itu.


***


"Mas Gilang baru pulang?"


Gilang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Banyak pekerjaan yang harus Mas selesaikan, Sayang. Apalagi sebentar lagi Mas akan cuti," ucap Gilang berbohong.


Sepulang dari kantor, dia mampir ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat keadaan Viona sampai dia pulang selarut ini.


Gilang tentu merasa bersalah karena telah berbohong kepada Belva.


Setelah kebohongannya kali ini, pasti akan ada kebohongan yang lainnya jika Gilang tidak segera mengatakan hal yang sebenarnya kepada Belva.


🌻🌻🌻