Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 54


Sudah berada di Jakarta. Tapi Belva tak ingin menghubungi satu pun keluarga Gilang untuk memberitahukan keberadaannya sekarang.


Bukan dia membenci mereka. Tidak. Mereka tidak bersalah dalam hal ini.


Tapi jika beberapa hari ke depan dia akan bertemu dengan salah satu dari mereka tanpa sengaja, Belva pun tidak akan menghindar.


Hal ini sudah dia siapkan sejak Belva memutuskan untuk pergi ke Jakarta menyusul kedua sahabatnya.


Datang ke kota lelaki yang telah melukis luka di hatinya. Delapan puluh persen mungkin tidak akan bertemu karena Jakarta itu luas.


Tapi masih ada dua puluh persen, dan Allah mampu merubahnya enjadi seratus persen.


Dan apa yang dipikirkan Belva pun ternyata menjadi kenyataan. Di saat Belva tengah berbelanja di salah satu mall ternama, Belva di sapa oleh Mikha.


Kedua mata Mikha berbinar saat melihat Belva. Mungkin lega yang dia rasakan. Lega setelah melihat Belva dalam keadaan baik-baik aja.


Berbeda dengan Mikha yang terlihat senang melihat Belva, Belva justru terlihat begitu canggung.


"Udah puas, Bel, perginya? Udah puas bikin khawatir semua orang?"


Ada nada kecewa di setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Mikha.


Mikha kemudian memeluk Belva sebentar dan berkata, "Mama drop karena mikirin kamu dan Gilang. Apalagi kamu nggak ada kabar selama ini."


Belva terkejut, tentu saja. Merasa bersalah karena telah membuat kesehatan Mama mertuanya menurun karena memikirkan dirinya.


"Mau, ya, ketemu Mama?" tawar Mikha.


Belva menggelengkan kepalanya. "Aku nitip salam aja untuk Mama, Kak. Kakak boleh bilang kalau aku baik-baik saja."


"Kenapa? Kamu takut ketemu Gilang? Jangan jahat, Bel. Mama itu orangnya baik. Sekali sayang sama anak menantunya, dia akan menyayangi seperti anaknya sendiri. Aku yang sudah membuktikannya, Bel. Urusan kamu dan Gilang, sekarang bukan lagi urusan Mama dan Papa karena mereka yakin kalian bisa menyelesaikannya. Tapi saat ini Mama cuma pengen ketemu sama kamu. Nyapa calon cucunya juga mungkin."


Mendengar kata calon cucu, Belva menunduk mengingat ucapan Gilang bahwa dia tidak mengakui bahwa anak yang dikandung Belva adalah anaknya.


"Gilang saja tidak mengakui ini anaknya, Kak."


"Tapi itu memang anak Gilang, kan? Kamu yang paling tau akan semuanya. Nggak usah peduli sama Gilang. Lagipula Mama dan Papa saja tidak percaya kalau itu bukan anaknya Gilang. Aku mohon, Bel. Temui Mama sebentar. Aku yakin Mama bisa sehat setelah bertemu dengan kamu."


Belva justru meneteskan air matanya mendengar permohonan Mikha.


Begitu sayang keluarga Gilang pada dirinya. Kepada semua orang pun pasti sama baiknya. Hanya Belva memiliki status lebih dekat dengan mereka. Tapi Belva masih tak habis pikir kenapa Gilang bisa sejahat itu menjadi manusia.


"Video call aja boleh?" Belva mencoba bernegosiasi.


Demi Tuhan, Belva masih belum siap jika harus bertemu dengan kedua mertuanya. Takut kalau tiba-tiba Gilang pulang dan melihat ada dirinya di rumah kedua mertuanya.


Walaupun sedikit terpaksa dengan keputusan Belva, akhirnya Mikha pun mengangguk mengiyakan.


***


"Belva... Mama kangen sama kamu. Kamu baik-baik aja, kan? Sehat, sayang? Kemana aja sampai nggak ada kabar? Mama khawatir sekali sama kamu, Sayang." Yunita terlihat menangis saat melakukan panggilan video dengan Belva.


"Tanyanya satu-satu, Ma. Belva-nya bingung mau jawab yang mana dulu," sela Mikha yang menemani Yunita.


Setelah bertemu dengan Belva, Mikha segera menuju kediaman mertuanya untuk mengatakan pada Yunita bahwa Belva sudah ditemukan.


Belva tersenyum tipis. "Aku baik, Ma. Maaf kalau aku pergi tanpa kabar. Maaf sudah membuat semua orang khawatir."


Yunita menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak salah, Sayang. Jangan minta maaf. Justru Mama yang mau meminta maaf atas semua yang dilakukan oleh Gilang ke kamu."


"Mama juga nggak perlu minta maaf. Ini semua bukan salah Mama, kok."


"Tapi kamu sehat, Bel? Calon cucu Mama apa kabar?"


Kedua mata Belva memanas. Air matanya hampir terjatuh jika Belva tak berusaha menahannya. "Baik, Ma. Dia sangat baik."


"Nggak rewel, kan? Nggak bikin mabok setiap hari, kan?"


Belva tertawa kecil. "Enggak, Ma. Dia bantu aku healing kemarin. Diajak jalan-jalan seneng banget."


"Sehat, ya, Bel. Mama sebenarnya pengen banget ketemu kamu. Apa Mama datang ke hotel kamu aja?"


"Boleh, Ma. Aku nginap di hotel Azalea kamar nomor 703."


(Nama hotel fiktif)


"Mama datang besok pagi, ya. Kamu mau dibawakan apa, Sayang?"


"Apa aja, Ma."


"Ya sudah. Istirahat, ya, Sayang. Sampai jumpa besok."


"Iya, Ma. Mama juga istirahat. Jaga kesehatan, ya, Ma."


Tepat pukul delapan lewat sepuluh menit, Belva dan Yunita memutus sambungan video call mereka.


Belva bersiap untuk tidur. Sebelumnya, Belva melakukan serangkaian ritual sebelum tidur. Cuci tangan dan kaki. Mencuci wajah dan memakai skincare yang aman untuk ibu hamil.


Rania dan Eliza ada di kamar mereka. Tadinya, mereka ingin mengobrol dulu sebelum tidur. Tapi tau Belva sedang teleponan dengan Mama mertuanya, Rania dan Eliza undur diri dan istirahat di kamar mereka.


Pintu kamar Belva diketuk saat Belva menaikkan selimut ke atas tubuhnya.


"Siapa?" tanya Belva dalam keheningan. "Rania sama Eliza kali, ya," gumamnya.


Belva beranjak dari tempat tidurnya. Memakai outer kimono yang dia lepaskan tadi sebelum tidur.


"Kalian belum ti_" ucapan Belva terhenti melihat pria yang ada di hadapannya.


Pria yang selama ini mengisi hati dan hidupnya. Dia juga yang telah menggoreskan luka terdalam di hatinya.


Sudah lama dia tidak bertemu lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


Rindu? Ada.


Tapi kecewa dan sakit hatinya lebih mendominasi.


"Sayang."


Belva tak menjawab. Belva justru berusaha kembali menutup pintu kamarnya meskipun Gilang pun menahannya sekuat tenaga. "Pergi dari sini!" usirnya pada Gilang.


"Kita bicara dulu, Sayang. Mas mau bicara."


"Nggak ada yang perlu dibicarakan. Pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi!"


"Bagaimana mungkin Mas mau pergi dari kamu. Mas sayang dan cinta sama kamu, Bel. Apalagi kamu sedang hamil anak kita."


"Dia anakku. Bukan anak kita."


"Stop dorong-dorong pintu, Sayang. Tenaga kamu nggak cukup kuat untuk melawan Mas."


Benar apa yang diucapkan Gilang. Tenaga Belva tetap kalah dengan tenaga Gilang sehingga Gilang berhasil membuat Belva menyerah.


Pintu terbuka. Secepat mungkin Gilang masuk ke dalam kamar karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Pintu kembali tertutup.


Gilang berusaha mendekati Belva untuk memeluknya. Tapi Belva terus menjauh dan terus menepis tangan Gilang saat Gilang menyentuh lengannya.


"Jangan sentuh aku!"


Gilang menghembuskan napas berat. "Oke. Tapi kita bicara dulu, ya. Ada banyak hal yang ingin Mas bicarakan."


Belva menggelengkan kepalanya. "Tapi buat aku, diantara kita udah nggak ada yang perlu dibicarakan."


"Terus mau kamu apa kalau nggak mau bicara?"


"Aku mau kita bercerai."


"Kamu yakin dengan keputusan kamu, Sayang?"


Belva mengangguk yakin. Tanpa ragu dia menganggukkan kepalanya saat Gilang menanyakan akan keyakinannya meminta cerai.


Belva terdiam saat Gilang mendekatkan wajahnya. Hembusan napasnya menerpa wajah Belva terasa begitu hangat. Kedua mata Belva terpejam.


Belva akui, dia merindukan aroma tubuh Gilang. Mungkin anaknya pun juga merindukan ayahnya.


Tapi pikiran dan hatinya selalu berusaha menepisnya. Melatih anaknya untuk terbiasa tanpa kehadiran sosok ayah.


Tapi malam ini, Gilang menghancurkan pertahanannya selama ini.


"Kamu memejamkan mata. Mencoba menikmati semuanya, ya?"


Kedua kata Belva sontak terbuka. Ternyata Gilang hanya mendekatkan wajahnya, tidak untuk mencium Belva.


Belva sudah terlalu percaya diri untuk hal itu. Sekaligus menyiapkan penolakan jika Gilang benar-benar melakukannya. Menampar pipi Gilang lagi mungkin jika Gilang nekat menciumnya.


Ingin tapi gengsi. Mungkin itu yang Belva rasakan.


"Pergi dari sini!" Belva mendorong tubuh Gilang agar menjauh dari dirinya.


Tapi Gilang justru meraih tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukannya. Gilang memeluk Belva dengan erat. Tak peduli dengan penolakan yang Belva lakukan.


🌻🌻🌻


Minggu harusnya tidur kan? makanya partnya nggak nyambung. maapin yaa... ♥️♥️♥️