
Entah terlalu nyaman, atau memang terlalu disibukkan dengan rumah tangganya dengan mengurus dua anak sekaligus.
Belva lupa kalau dia dulu pernah berkeinginan untuk kuliah kembali setelah melahirkan.
Tapi manusia hanya bisa berencana. Selebihnya Allah yang bekerja menentukan semuanya.
Adanya pengasuh untuk Zurra dan Gina tak sepenuhnya membuat Belva melepaskan anak-anaknya begitu saja. Dalam artian semua keperluan dan kebutuhan anak-anaknya, pengasuhnya yang melayani.
Belva terlatih untuk sering memasak. Perlahan masakannya terasa nikmat dan cocok sekali di lidah Gilang dan anak-anaknya.
Satu pencapaian yang luar biasa di penghujung usia dua puluh satu tahun. Yang pada saat belum menikah membedakan air mendidih atau belum saja belum bisa, kini Belva begitu mahir kalau soal dapur.
Malam Minggu, sesekali Gilang mengajak Belva pergi berdua. Quality time.
Mereka sudah jarang sekali menghabiskan waktu hanya berdua saja.
Selain karena Gilang sendiri sibuk bekerja, Belva sendiri merasa tidak tenang jika pergi tanpa membawa anak-anak mereka.
"Sesekali, sayang. Lagipula Zurra, kan, minum ASI juga udah nggak langsung dari kamu. Amanlah ditinggal pergi," ucap Gilang dalam rangka membujuk Belva.
"Memangnya kamu nggak bosan di rumah? Nggak suntuk gitu di rumah aja? Mas nggak mau, ya, kalau kamu malah jarang pergi jarang menyenangkan diri sendiri begini. Mas nggak menuntut kamu untuk terus ada dua puluh empat jam untuk di rumah, mengurus rumah dan anak-anak."
Belva mengangguk paham. Di saat banyak wanita di luar sana yang mengharapkan quality time untuk dirinya sendiri namun masih tidak bisa, Gilang justru memintanya untuk sering-sering memanjakan diri sendiri.
Dan Belva sangat bersyukur akan hal tersebut. Gilang mempersilahkan tanpa harus Belva menuntut atau meminta kebebasan.
"Udah jangan banyak mikir, Sayang! Siap-siap sana!"
Belva menurut. Dia segera membersihkan dirinya.
Di saat Belva sudah siap, Gilang terpaku melihat penampilan Belva-nya. Istrinya yang baru berusia dua puluh satu tahun itu tak terlihat bahwa dia sudah pernah melahirkan seorang anak.
Bahkan meskipun Gina tidak lahir dari rahimnya, statusnya adalah ibu anak dua.
Wajah dan tubuh Belva memang terlihat sesuai dengan usianya. Tapi yang tidak mengetahui bahwa Belva adalah istri dari Gilang, mereka pasti mengira Belva masih gadis.
Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya onderdil dalam Belva sudah Gilang obrak-abrik setiap malam.
"Kenapa, Sayang? Ada yang salah sama penampilan aku?"
Sungguh, panggilan mesra Belva membuat Gilang ingin membawa Belva ke atas ranjang sekarang juga.
Gilang ingin mencumbu bibir manis yang telah memanggilnya sayang itu.
"Nggak punya celana panjang, Sayang? Paha mulusmu itu hanya boleh di lihat sama Mas."
Belva menggelengkan kepalanya. "No. Aku mau pakai ini. Sesuai dengan yang Mas Gilang katakan tadi, aku bebas. Dan untuk kali ini aja aku mau bebas."
Gilang menghela napas pasrah. "Oke. Senyaman kamu aja, Sayang. Tapi jangan salahkan Mas kalau malam ini kita menginap di hotel sebagai hukuman buat kamu."
"No problem! Anak-anak aman sama Mama Yunita."
"Mama ke sini?" Gilang tak tahu menahu soal Yunita yang akan datang.
"Yes. Aku nggak akan tenang ninggalin anak-anak cuma sama susnya aja."
Gilang mengangguk setuju. Keduanya lantas pergi berdua. Sebelumnya mereka sudah berpamitan kepada Yunita dan juga anak-anak mereka.
Serta mengatakan bahwa kemungkinan mereka tidak akan pulang malam ini.
"Have fun, ya, kalian. Semoga jadi adik baru buat mereka," ucap Yunita mengiringi langkah Belva dan Gilang.
***
Sekalipun itu tas mahal, sepatu, baju atau yang lainnya.
Ada beberapa tas dan sepatu yang menjadi incaran Belva sejak lama. Tapi saat itu barang tersebut belum sampai ke Indonesia.
Tapi ternyata Belva ketinggalan informasi. Barang-barang yang diinginkannya itu sudah sampai di Indonesia, dan di Jakarta sejak dua Minggu yang lalu. Untung saja Belva tidak kehabisan.
Sebenarnya bisa saja Belva membelinya melalui jastip. Atau jasa penitipan. Orang-orang bisa memakai jasa tersebut untuk membeli baranh8di dalam maupun luar negeri tanpa mengeluarkan tenaga.
"Udah, sayang? Cuma segitu aja?"
"Mas, ini aja aku udah nggak enak ngabisin duit segini banyak dalam waktu satu jam aja."
"Belum ada dua milyar, Sayang. Ayo, beli lagi yang lain. Mana yang Mama Zurra mau?"
Belva menggelengkan kepalanya. "Udah, Mas. Ini satu koma delapan cuma dapat lima barang doang. Kapan-kapan lagi, deh. Mas Gilang cari duit lagi aja dulu yang banyak."
Gilang tertawa keras mendengarnya. "Sayang, kamu sudah tau berapa saldo rekening Mas. Yang kamu habisin malam ini hanya nol koma sekian persen dari uang yang Mas miliki."
"Iya aja, deh," balas Belva mengalah. Bicara soal kekayaan Gilang, Belva tidak perlu meragukan lagi. Itu yang ada di saldo rekening Gilang sendiri.
Belum lagi saldo rekening Belva yang diisi oleh Gilang setiap bulannya. Uang belanja rumah tangga dan uang belanja untuknya sendiri berbeda.
Dan setiap bulannya, ratusan juta yang dikirimkan Gilang ke rekening Belva.
***
Gilang dan Belva sudah berada di sebuah mall besar yang ada di Jakarta.
Saat memasuki mall tersebut, tak terhitung lagi berapa banyak lelaki yang memandang kagum ke arah Belva.
Gilang sudah hafal mata-mata tersebut tengah mengagumi kecantikan Belva serta keindahan bentuk tubuh serta warna kulit Belva yang putih bersih.
Sebenarnya Gilang tak nyaman. Tidak rela miliknya dipandangi seperti itu. Rasanya ingin mengarungi Belva saja dan membawanya kembali masuk ke dalam mobil.
Tangan Gilang dengan posesif merangkul pinggang Belva. Menunjukkan kepada mata-mata kurang ajar yang melihat Belva bahwa Belva adalah miliknya.
"Apa, sih, Mas?" protes Belva yang merasa risih dengan tangan Gilang yang ada di pinggangnya.
Tidak masalah jika berada di rumah atau di kamar. Tapi ini di tempat umum dan banyak orang yang melihatnya. Belva malu.
"Biar semua orang tau kalau kamu milik Mas."
"Emang penting buat mereka?"
"Kamu nggak nyadar banyak cowok-cowok yang ngeliatin kamu sejak kamu masuk ke mall ini tadi?"
Belva mengendikkan bahunya. "Aku, sih, cuek."
"Kamu cuek. Mas enggak bisa. Mereka lihatin kamu kayak orang kelaparan tau."
"Itu, kan, mereka, Mas. Aku enggak liatin mereka, kok."
"Jawab terus omongan Mas. Mas cium di sini baru tau rasa kamu."
Mendengar ancaman Gilang, Belva langsung terdiam. Lebih baik dia diam daripada Gilang berbuat aneh-aneh yang membuat mereka menjadi pusat perhatian nantinya.
Kalau Belva tidak salah ingat, tadi Gilang yang mengajaknya pergi kemanapun Belva mau. Tapi sekarang justru dia yang marah-marah gara-gara para cowok memperhatikan sepanjang gerak Belva.
Namanya juga di tempat umum. Pasti banyak yang memperhatikan. Kalau tidak mau diperhatikan banyak orang, lebih baik jangan keluar rumah.
🌻🌻🌻