Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 73


Jatuh cinta pada pandangan pertama.


Mungkin itu yang dirasakan Gilang saat ini ketika melihat Regina. Benar kata Amira, sebagian besar wajah regina mewarisi wajah Gilang. Tidak perlu lagi Gilang meragukan darah siapa yang mengalir di dalam tubuh Regina.


Gadis kecil berwajah polos itu menatap Gilang penuh kebingungan. Mungkin dia bertanya-tanya, siapa lelaki di hadapannya, yang baru pertama kali dia temui?


"Aunty, siapa dia?" tanya Regina pada Amira.


"It's your Daddy, Gina. Ini ayah kamu."


"Ayah?"


Amira mengangguk dan tersenyum. "Berarti sekarang aku punya ayah dan ibu, ya, aunty?"


Meskipun dengan cara bicara yang masih belepotan, tapi Gilang sudah paham dengan apa yang diucapkan oleh Regina.


"Ayah, boleh Gina minta gendong?" tanya gadis kecil itu dengan tatapan mata yanng begitu polosnya.


Siapapun pasti paham dengan hati Regina yang pasti merasakan bahagia ketika dia bertemu dengan sosok ayah.


Selama ini dia hanya bisa melihat teman-teman bermainnya memeluk ayah ibunya secara lengkap. Mungkin dalam hati Regina, kini dia juga bisa merasakannya.


Tanpa membuat Gina menunggu jawaban dari Gilang, Gilang langsung meraih tubuh anak itu dan membawanya ke dalam gendongan.


Ikatan darah diantara mereka tak bisa diragukan lagi. Gilang rasa tak perlu melakukan test apapun untuk membuktikan apakah Gina anaknya atau bukan.


Kemiripan wajah diantara mereka sudah bisa membuat orang yang melihatnya meyakini bahwa mereka itu bapak dan anak.


"Hai, manis."


"My name is Gina, ayah."


Gilang nampak kaget mendengar Gina berbicara dengan bahasa Inggris. Kedua matanya menatap Amira penuh tanya.


"Ibuku yang ngajarin," ucap Amira seolah tau apa yang ada di kepala Gilang.


"Terimakasih sudah menjaga dan mendidiknya dengan baik."


"Ibuku yang melakukannya. Gue nggak yakin kalau gue yang pegang Gina, Gina bisa tumbuh sepintar ini."


"Boleh gue bawa dia?"


Amira menganggukkan kepalanya. "Tapi untuk sementara, pulangkan Gina ke gue dulu. Gue tau kalian butuh ruang untuk menyelesaikan masalah ini."


Gilang mengangguk menyetujui.


***


Belva terpaku pada sosok kecil yang digandeng tangannya oleh Gilang. Wajahnya mirip sekali dengan Gilang. Tanpa bertanya siapa anak itu, tentu Belva sudah tau bahwa anak itu adalah anak Gilang bersama Viona.


Hati Belva cemburu. Bukankah anak yang dikandungnya adalah anak yang seharusnya pertama kali digandeng oleh Gilang?


Rasanya Belva tidak terima ada anak lain yang mirip dengan Gilang yang tidak lahir dari rahimnya.


Akan Belva terima semuanya jika keberadaan anak itu berasal dari ikatan pernikahan yang sah di mata hukum dan agama.


Tapi anak itu adalah hasil zina kedua orangtuanya yang terlalu liar dalam menjalin hubungan.


Tak ingin terlalu lama memandang gadis kecil tersebut, Belva memalingkan wajah. "Kenapa kamu bawa anak itu ke sini?"


"Mas ingin mengenalkan dia kepadamu, Sayang."


"Aku nggak mau mengenalnya."


"Ayah, siapa dia?"


Hati Belva semakin sakit mendengar anak itu memanggil Gilang dengan sebutan ayah.


Sungguh, dia tidak membenci anak itu. Tapi dia benci dengan kedua orangtuanya beserta kelakuannya di masa lalu.


"Dia istri ayah, Gina."


Siapa namanya? Gina? Gilang dan Viona begitu? Ah, hati Belva sudah tak karuan lagi rasanya.


Wanita itu sengaja menamai anak mereka dengan gabungan nama mereka.


"Apa itu istri?"


"Suatu saat kamu akan tau, Sayang."


"Boleh kita ketemu ibu saja, Yah? Gina nggak mau di sini."


Belva tertawa sinis. "Baguslah kalau dia tidak mau di sini. Bawa dia bertemu ibunya saja. Jangan ada di sini. Sekalian kamu kalau mau kangen-kangenan juga boleh."


"Bel..."


"Apa, Mas? Jangan bilang kalau aku harus jadi ibu sambung juga buat dia!"


"Kalau gitu kita ambil jalan tengahnya."


"Maksud kamu apa?"


"Kamu pilih aku atau dia!"


"Kalian bukan pilihan, Sayang. Kamu bisa mengerti posisi aku kali ini? Tolonglah, Bel!"


Tawa sinis Belva kembali berderai. Si kecil Gina semakin tidak paham dengan perdebatan yang terjadi antara orang dewasa yang ada di hadapannya.


"Jadi aku yang salah karena nggak mau mengerti posisi kamu?"


"Bukan begitu, Sayang. Tapi_"


"Ada apa ini? Siapa anak ini?" Kedatangan Yunita menghentikan perdebatan Belva dan Gilang.


Keduanya langsung terdiam. Apalagi saat Yunita menatap lekat Gina yang berdiri di samping Gilang.


"Siapa anak ini, Lang? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan kamu?"


See? Yunita yang baru saja melihatnya pun langsung mengatakan kalau Gina mirip sekali dengan Gilang.


"Jangan bilang ini anak kamu dengan perempuan lain, Lang? Siapa perempuan itu? Viona?"


Yunita merasa kesal melihat Gilang yang hanya diam saja tak menjawab semua pertanyaannya.


"Kenapa diam aja, sih? Tinggal jawab dia anak siapa!"


Mendengar Yunita yang membentak Gilang, Gina beringsut berlindung di belakang Gilang dengan memegang erat kaki Gilang.


Gina ketakutan melihat para orang dewasa di hadapannya yang terlihat sangat marah.


"Iya, Ma. Dia anakku dengan Viona," jawab Gilang yang membuat Yunita terduduk lemas.


"Ya Allah, Lang. Apa lagi ini?"


***


"Saya akan bawa Belva pulang ke Surabaya," ucap Darmawan dengan tegas.


Gilang menggelengkan kepalanya menolak pernyataan Darmawan. "Enggak, Pa. Belva istri saya. Saya yang lebih berhak atas Belva sekarang."


"Kamu pikir saya akan membiarkan anak saya hidup seperti ini dengan kamu, Lang? Tidak akan saya ulangi untuk kesekian kalinya."


"Biarkan Belva tetap di sini bersama saya, Pa. Saya akan menyelesaikan masalah ini. Saya_"


"Selama kamu menyelesaikan masalah kamu, biarkan aku pulang ke Surabaya, Mas." Belva menyela ucapan Gilang.


Sekali lagi Gilang menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Mas butuh kamu di sini, Sayang. Kamu sumber kekuatan Mas untuk menyelesaikan masalah ini. Kita ketemu sama Viona, dan kita tunjukkan bahwa kita saling mencintai sehingga dia tidak bisa mengganggu Mas lagi."


"Lalu bagaimana dengan anak itu?" Anton bersuara.


"Anak itu juga cucu Papa dan Mama. Tapi Gilang juga tidak akan membawanya ke dalam keluarga ini jika tidak ada yang menghendakinya."


"Hal itu bisa dimanfaatkan Viona untuk terus menganggu kamu, Lang. Kamu nggak mikir sampai sana?" Yunita menimpali.


"Ada banyak cara untuk membuat Viona berhenti menganggu aku, Ma. Termasuk dengan Belva tetap berada di sampingku."


🌻🌻🌻


Sikap Belva masih dingin pada Gilang. Belva masih butuh waktu untuk menerima semuanya.


"Bukankah kamu lebih berhak atas Gilang? Perjuangkan milik kamu, Bel. Jangan lemah. Jangan gampang bilang pisah. Kamu berhak bahagia bersama orang yang kamu cintai. Ujian untuk menjadi lebih baik memang banyak sekali, Bel. Itu yang Gilang rasakan. Dan aku yakin dia butuh kamu untuk tetap di sampingnya untuk terus mendukungnya." Ucapan Eliza masih terngiang saat Belva menceritakan hal ini pada sahabatnya itu.


Memang seharusnya tidak perlu diceritakan pada siapapun. Tapi Belva merasa dia harus mendapatkan solusi dari orang lain yang dekat dengannya.


Dan Eliza-lah satu-satunya orang yang memberi dukungan untuk tetap berada di samping Gilang.


Sedangkan kedua orang justru akan membawanya pulang ke Surabaya dan memisahkannya dari Gilang, tentu saja.


"Temui wanita itu bersama Gilang. Tunjukkan kalau kalian begitu mencintai, dan wanita itu tidak akan mudah masuk ke kehidupan kalian meskipun ada anak diantara Gilang dan wanita itu," ucap Eliza setelahnya.


Belva menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Eliza.


Dia harus memperjuangkan apa yang menjadi miliknya. Berusaha menerima kenyataan bahwa apa yang terjadi terkadang tidak sesuai dengan harapan.


"Kita temui wanita itu. Katakan di hadapan wanita itu bahwa kamu tidak akan mengijinkan dia untuk kembali masuk ke dalam hidupmu." Belva berucap tanpa memandang Gilang yang duduk di tepi ranjang.


"Kamu yakin, Sayang?"


Belva mengangguk tanpa bersuara kembali. Kakinya beranjak dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi. Membersihkan dirinya dan berdandan secantik mungkin.


Agar wanita itu sadar diri bahwa Gilang telah memiliki seorang bidadari yang lebih cantik dari dirinya.


🌻🌻🌻