
Pukul sebelas malam, Gilang tak bisa lagi membiarkan istrinya berada di tengah-tengah pesta yang entah akan selesai jam berapa nanti.
Semua tamu masih asyik berjoget dangdut dengan penyanyi yang sudah dibayar untuk menghibur para tamu.
Sebagian sudah pulang, sebagian lagi sudah pulang.
Gilang tak peduli selama masih ada keluarga yang ada di sana. Yang terpenting adalah membawa Belva masuk ke dalam kamar dan membiarkan Belva untuk beristirahat.
Tubuhnya sudah banyak bekerja hari ini. Apalagi dengan kehamilan yang memasuki bulan ke enam.
"Di sana itu masih ada keluarga, rekan bisnis, teman-teman aku, teman Mas Gilang. Masa kita malah ke kamar, sih, Mas?"
"Kamu mau menemani mereka sampai pagi, Sayang? Sudahlah. Lagipula mereka paham kalau kamu tengah hamil, Sayang. Tubuh kamu terlalu lelah hari ini."
Belva mengerucutkan bibirnya sembari melepas beberapa aksesoris yang ada di kepalanya. Mengurai rambutnya lalu menyisirnya pelan.
Gaun yang dipakainya lalu dilepaskan begitu saja di hadapan Gilang. Lalu dengan santainya dia kembali duduk di depan meja rias untuk menghapus riasan di wajahnya.
Kepala Gilang terasa cenat-cenut melihat penampilan Belva kali ini. Nyaris tanpa busana. Hanya sehelai kain segitiga yang menutup bagian inti dari Belva.
"Mas Gilang kenapa?" tanya Belva dengan polos. Entah hanya berpura-pura atau memang dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Gilang mendekati Belva. Memeluk Belva dari belakang lalu mengusap jengkal demi jengkal tubuhnya. Saat itu barulah Belva tertawa keras. "Mas Gilang mau?"
"Kenapa pakai ditawarin segala, sih, Sayang? Mana mungkin Mas akan menolak? Tapi hari ini kamu sudah begitu lelah, Sayang. Mas tidak ingin menambah kelelahan kamu. Kasian juga si baby kalau kamu terlalu lelah."
"Hey, baby juga mau dijengukin papanya," ucap Belva pelan. Menahan tangan Gilang yang hampir beranjak dari tubuhnya.
Mendengarnya, Gilang segera memutar tempat duduk Belva hingga kini keduanya saling berhadapan.
Gilang jongkok di hadapan Belva hingga wajahnya bersejajar dengan perut Belva yang sudah membesar. Membuat Belva terlihat sangat seksi dengan perut besarnya itu.
Aura ibu hamil memang tiada duanya.
"Hey, baby. Bobok, ya. Nggak usah minta dijengukin Papa pula kamu, Nak. Kamu dan Mama sangat lelah hari ini," ucap Gilang berbicara dengan anaknya yang masih ada di dalam perut Belva.
Belva tertawa kecil. "No, Papa. Aku kangen sama Papa." Belva yang menjawab. Merubah suaranya dengan meniru suara anak kecil.
Gilang semakin pening dibuatnya. Dia yakin tak cukup hanya sekali saja jika benar-benar melakukannya. Tubuh Belva membuatnya candu. Gilang tak pernah bisa berhenti ketika menyentuh Belva nanti.
"Gitu aja masih mikir, Mas? Ayolah, ku tahu kamu udah nggak tahan, kan, Mas?" Belva mengigit bibir bawahnya dengan penuh godaan.
Gilang hilang akal. Tak peduli lagi dengan apapun juga. Keinginannya kali ini hanya memasuki Belva sepuasnya.
Semoga setelah ini Belva baik-baik saja dan tidak terjadi apapun pada janinnya di dalam sana.
"I'm sorry, baby. Mamamu sangat menggoda. Papa nggak tahan lagi," ucap Gilang sebelum Gilang mempercepat gerakannya. Membuat Belva tak henti-hentinya mende*ah dengan menyebut nama Gilang berkali-kali.
Menyebut nama saja tanpa embel-embel "mas". Begitu sudah membuat Gilang merasa terpacu sehingga ingin menyentuh Belva lagi dan lagi.
***
Subuh telah terlewati. Tapi kedua insan itu masih berkelana di alam mimpi. Adzan tak terdengar di telinga mereka. Kelelahan yang bertubi-tubi yang mereka rasakan membuat mereka begitu lelap tertidur.
Pukul sepuluh pagi Belva dan Gilang masih tertidur. Para orangtua membiarkan mereka tanpa berniat untuk mengganggu. Pastilah mereka paham akan kelelahan yang Belva dan Gilang rasakan.
Belva terpaksa membuka kedua matanya saat merasakan kantung kemihnya terasa penuh.
Belva pikir dia masih harus menyesuaikan cahaya lampu. Tapi ternyata sudah berasal dari matahari pencahayaan di kamarnya.
"Jam berapa, sih?" gumamnya pelan sembari mengecek handphonenya.
"Hah, jam sepuluh? Yang bener aja."
Kedua kaki Belva turun dari atas ranjang. Lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela untuk membuka tirai yang menutupinya.
Tak peduli bahwa tak ada sehelai kain pun yang melekat di tubuhnya saat ini.
Sudah siang rupanya.
"Mas Gilang!!!"
"Apa, sih, Sayang?" tanya Gilang masih dengan suara seraknya.
"Udah siang. Udah jam sepuluh pagi sekarang."
"Ya udah, sih, Yang. Mau subuh juga udah nggak bisa."
"Aku lapar!" ucap Belva yang langsung membuat Gilang membuka matanya dengan sempurna.
Gilang baru ingat bahwa terakhir Belva makan kemarin sebelum acara dimulai. Harusnya sekarang sudah makan lagi karena wanita itu mudah sekali lapar semenjak kehamilannya memasuki trimester kedua.
"Oke. Mau makan apa, Sayang?" Dengan sigap Gilang memegang handphonenya untuk memesan makanan melalui online.
"Aku mau makan nasi liwet solo."
Gilang menatap Belva dengan lekat. "Jangan bilang kalau kita harus ke solo juga, Sayang," ucap Gilang mulai ketar-ketir.
"Memang nggak harus ke solo. Siapa bilang aku mau yang di solo?"
Mendengarnya, Gilang bisa bernapas lega. Setidaknya dia tidak harus pergi ke solo dalam keadaan lelah seperti ini. "Alhamdulillah. Yuk mandi. Habis itu kita cari tempat yang jual nasi liwet solo di sekitar sini."
"Eh, no, ya! Aku nggak mau sama yang ada di sekitar sini."
"Terus?"
"Aku mau nasi liwet solo yang di jual di Bali."
"Belvaaa..." Gilang menghembuskan napas panjang. "Nggak usah aneh-aneh, ya, Sayang. Makannya yang di sini aja nggak usah kemana-mana."
"Mas Gilang nggak punya duit buat bayarin kita pergi ke Bali? Kalau nggak punya, aku ada, kok, Mas."
Ucapan Belva membuat Gilang menepuk keningnya dengan keras. "Bukan masalah uangnya, Sayang. Kalau cuma Bali aja ada. Mau keliling dunia juga ada. Cuma masalahnya kita itu capek. Kamu perlu istirahat yang banyak setelah kemarin berlelah-lelah seperti itu."
Belva menggelengkan kepalanya. "Aku merasa nggak perlu untuk beristirahat, Mas Sayang. Sekarang Mas Gilang mau ngantar atau enggak? Kalau nggak mau aku mau berangkat sendiri aja."
"Fine! Kita ke Bali sekarang juga."
"Nggak mau. Mas Gilang terpaksa kayaknya."
Sekali lagi Gilang hanya bisa menghembuskan napas panjang. "Ikhlas, kok. Mas ikhlas, Sayang. Beneran."
"Kalau ikhlas itu nggak perlu diomongin. Kayak di surat Al ikhlas yang nggak ada kata ikhlas di dalamnya."
"Terus darimana kamu tau kalau Mas ikhlas apa enggak?"
"Dari cara bicara Mas Gilang, dong. Itu tadi udah kelihatan banget kalau nggak ikhlas."
"Terus kamu maunya gimana, Sayang?"
"Ah, nggak tau, ah, Mas Gilang mah gitu. Ngeselin banget. Udah nggak pengen makan sekarang. Mas Gilang nyebelin." Belva menggerutu sepanjang mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
🌻🌻🌻
Yang namanya kebahagiaan, tak semua orang menyukai kebahagiaan yang dimiliki oleh orang lain.
Termasuk dengan bahagia yang dimiliki Belva dan Gilang, pasti ada saja yang tidak bahagia melihat mereka bahagia. Rey salah satunya.
Dan masih banyak yang lainnya.
Wanita itu hanya duduk sambil memandang potret bahagia Gilang dan Belva yang diunggah disosial media.
Tak hanya satu media yang meliputnya. Bahkan sekelas saluran tv nasional pun menayangkan betapa megahnya pernikahan insan beda usia tersebut.
Bukan tidak suka. Bagi wanita itu, Gilang bukan siapa-siapanya. Tapi dia masih ada urusan sedikit dengan lelaki itu.
🌻🌻🌻