
"Mas, aku mau pulang ke Surabaya boleh?" tanya Belva ketika keduanya hendak tidur.
Zurra sudah nyaman tertidur di kamarnya. Gilang dan Belva juga bersiap untuk tidur dan mereka tengah melakukan kegiatan rutin mereka sebelum tidur. Yaitu pillow talk.
Obrolan ringan di atas tempat tidur sebelum mereka tidur. Membicarakan masa depan, menceritakan hari mereka. Dan masih banyak lagi.
Setelah memiliki anak, keduanya sudah jarang sekali ke Surabaya. Selain karena Papa Mama Belva jarang di rumah, mereka juga lebih sering ke Jakarta atau sekedar mampir setelah berpergian dari luar negeri maupun luar Jawa.
"Sendiri apa bawa Zurra juga? Gina juga harus sekolah, kan?"
"Aku cuma mau ketemu sama temen-temen aja, Mas. Paling cuma sehari semalam di sana. Nggak usah bawa Zurra boleh?"
Gilang menganggukkan kepalanya memberikan ijin pada Belva untuk pergi tanpa Zurra.
Dia membebaskan hal apapun yang dilakukan Belva asal Belva tau batasan.
"Asal jangan ketemu mantan, ya, Sayang."
"Yeee... Mas Gilang, kan, tau aku nggak punya mantan."
"Tapi yang suka sama kamu dulu banyak banget. Apalagi sekarang kamu makin cantik gini. Udah punya anak cantiknya nambah berkali-kali lipat."
Belva mencebikkan bibirnya mendengar gombalan yang diucapkan Gilang. Sebenarnya dia salah tingkah. Gilang sering mengatakan bahwa itu memang kenyataannya bukan hanya gombalan semata.
Tapi Belva tak ingin menunjukkan bahwa dia salah tingkah dipuji seperti itu oleh Gilang.
"Kapan kamu akan berangkat, Sayang?"
"Aku, sih, janjiannya sama mereka Kamis sore. Mungkin paginya berangkat. Kangen juga sama rumah Papa dan Mama."
For information, rumah mereka yang ada di Surabaya juga sudah dijual setahun yang lalu.
Rumah itu tak ada yang menempati karena Belva dan Gilang sudah menetap di Jakarta.
"Papa dan Mama kalau nggak salah lagi di Semarang, kan?"
Belva mengangguk membenarkan. "Kamis pagi mereka juga pulang dari sana katanya, Mas."
"Mas ikut, deh. Bawa Zurra sekalian aja enggak apa-apa."
"Gina gimana?"
"Dia, kan, sekolah, Sayang."
"Nanti dia iri Zurra diajak pergi dianya enggak."
"Nanti Mas yang ngomong sama dia."
"Beneran, ya."
Gilang mengangguk pasti.
"Terus kerjaan kamu gimana, Mas?"
"Kerjaan mah gampang, Sayang. Juan bisa mengatur semuanya."
Belva tak banyak berkomentar lagi. Dia lebih memilih merapatkan tubuhnya ke tubuh Gilang untuk mencari kehangatan.
Di luar sedang hujan deras karena bulan ini sudah memasuki musim hujan.
"Jangan banyak gerak, Sayang. Kamu tau Mas nggak bisa minta jatah malam ini."
Belva tertawa cekikikan mendengar Gilang yang menggerutu sambil memejamkan matanya.
Tiga hari yang lalu Belva kedatangan tamu bulanannya. Hal yang selalu Belva tunggu-tunggu kehadirannya di setiap bulan.
Meskipun dia sudah memakai alat KB, tapi kemungkinan kebobolan itu masih ada. Buktinya masih banyak orang-orang yang melakukan KB tapi mereka masih kebobolan.
"Kalau aku kuliah lagi boleh, Mas?"
Gilang kembali membuka matanya. Akhirnya hal yang dinantikan oleh Gilang kapan akan terucap dari bibir Belva kini terucap juga.
"Boleh. Tapi kuliahnya di Jakarta aja, Sayang. Jangan di Surabaya."
"Aku sudah memikirkan hal itu, Mas. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan kamu dan anak-anak di sini sedangkan aku di Surabaya? LDR jaman pengantin baru aja udah bikin aku tersiksa. Apalagi sekarang udah ada anak dan aku juga nggak bisa jauh-jauh dari Mas Gilang."
Kedua sudut bibir Gilang tertarik sempurna membuat sebuah senyuman. Bibirnya mengecup pipi Belva dengan lekat.
"Temen-temen aku udah mulai nyusun skripsi. Aku baru mau kuliah."
Belva menggelengkan kepalanya. "No! Aku nggak pernah menyesal dengan pilihan hidupku, Mas. Kalau aku memilih melanjutkan kuliah, mungkin aku belum memiliki Zurra sekarang."
"Terimakasih, ya, Sayang, udah mau hidup dengan lelaki sepertiku. Hamil, melahirkan, dan merawat anak-anakku."
"Aku juga terimakasih karena Mas Gilang selalu menjadi dan memberikan yang terbaik buat aku. Mas juga udah jadi ayah yang luar biasa untuk anak-anak. Aku beruntung punya Mas Gilang."
Gilang tersenyum lebar. Bibirnya kembali mengecup pipi dan juga kening Belva dengan lekat.
Pelukannya pada tubuh Belva dia eratkan lagi. Pelukan yang menenangkan. Sebagai obat lelah Gilang. Tempat Gilang untuk pulang.
***
Kadang orang berpikir, enak, ya, sudah punya anak tapi masih bisa pergi kemana-mana berdua?
Enak, ya, kalau mau pergi tidak direpotkan soal anak?
Enak, ya, kalau mau kemana-mana anak udah ada yang jaga?
Memang kelihatannya enak. Tapi sebagai seorang ibu, Belva juga merasa tidak tega meninggalkan anaknya pergi.
Tapi ada suatu kondisi dimana dia pun juga tidak bisa membawa anaknya pergi. Entah tentang jarak, cuaca, dan juga kesibukan yang akan Belva jalani nantinya.
Diajak ke Surabaya pun Belva juga akan lebih sering meninggalkan Zurra di rumah Darmawan karena tujuan Belva pergi memang untuk menemui teman-temannya.
Jadi lebih baik, di cuaca yang seperti ini, Zurra tidak keluar rumah lebih dahulu demi menjaga kesehatannya.
Setelah mendarat di bandara Juanda Surabaya, Belva dan Gilang lebih dulu pulang ke rumah Vita dan Darmawan.
Rumah masih sepi tanda kedua orangtua Belva belum pulang. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga.
"Mbak Belva dan Mas Gilang pulang?"
Belva tersenyum. "Iya, Mbok. Mama sama Papa belum sampai rumah, ya?"
Terdengar basa-basi memang karena Belva sendiri sudah tau bahwa kedua orangtuanya masih berada di perjalanan.
"Belum, Mbak. Mari masuk. Mau makan dulu, Mbak?"
"Aku langsung ke kamar dulu, ya, Mbok. Kangen soalnya."
"Baik, Mbak."
***
"Zurra kenapa nggak diajak, sih, Bel? Kalian pikir kami nggak kangen sama Zurra?"
Vita memprotes Gilang dan Belva yang pulang ke Surabaya tanpa mengajak Zurra.
"Lagian kalau kalian mau pergi-pergi, Mama sama Papa mau, kok, momong Zurra. Seneng malah."
"Maaf, Ma. Cuaca lagi nggak menentu begini aku nggak berani ngajak Zurra keluar rumah. Lagian Mama sama papa juga mau menginap di Jakarta, kan, Minggu depan?"
"Ya iya, sih. Tapi, kan, kalau kangen setiap waktu kangen sama cucu Mama."
"Udah, Ma. Nggak apa-apa." Darmawan meredam suara Vita. "Belva, kan, ibunya. Dia lebih tau yang terbaik buat anaknya. Imun anak, kan, belum sekuat orang dewasa yang bisa tahan dalam segala kondisi dan cuaca," lanjut Darmawan.
Sejak dulu memang Darmawan selalu bisa menjadi penengah antara Vita dan Belva ketika tengah mendebatkan hal-hal kecil mengarah ke hal yang tidak terlalu penting.
"Kata Mama kamu mau kuliah lagi, Bel?" tanya Darmawan mengalihkan topik.
"Iya, Pa. Tahun depan udah mau daftar di Jakarta."
"Yang penting serius, ya. Tahu batasan juga dalam bergaul karena kamu udah nggak sendiri lagi. Udah punya buntut pula."
Belva tersenyum. "Iya, Pa. Aku juga yakin kalau Mas Gilang tidak mungkin lepas gitu aja. Pasti, deh, nanti ada aja yang dia lakuin."
"Apa, sayang? Kamu curigaan, deh." Gilang menyahut.
"Pasti nanti ada bodyguard. Sopir juga. Jangan kira aku nggak tau, ya, Mas."
Gilang, Vita maupun Darmawan tertawa mendengar ucapan Belva.
Kedua orangtuanya pun paham dengan apa yang dirasakan Gilang. Mengingat usia Belva yang masih sangat muda dan tambah menggelora saja pesonanya setelah melahirkan anaknya.
🌻🌻🌻