
Sejak hari itu, Gilang tak betah lagi untuk berada di Jakarta. Raganya di Jakarta, tapi pikirannya berada di Surabaya.
Belva tak pernah lepas dari pikiran Gilang. Hanya dengan menyebut namanya saja, Gilang langsung teringat momen dimana mereka melebur menjadi satu.
Gilang rindu suara des**annya. Gilang rindu manjanya Belva. Gilang rindu menyentuh tubuh Belva. Gilang merindukan semua yang ada di dalam diri Belva.
Resiko long distance marriage. Kalau rindu hanya bisa membayangkan tanpa bisa menyentuhnya.
Keduanya harus bersabar sampai Belva lulus nanti agar bisa bersama setiap saat.
"Kakak aku datang bulan," ucap Belva saat keduanya tengah melakukan panggilan video call.
Sejak mereka honeymoon dadakan kemarin, mereka belum pernah bertemu lagi karena kesibukan Gilang di Jakarta. Untung saja Belva paham dan tidak pernah merajuk meminta Gilang untuk datang karena dia sendiri pun sibuk dengan kuliahnya.
"Perutnya nyeri lagi? Minta tolong budhe, ya. Kakak nggak bisa ngerawat kamu, Sayang," ujar Gilang penuh perhatian.
"Nyerinya udah nggak separah dulu, sih, Kak."
"Tumben? Bisanya sampai nangis guling-guling?"
"Nggak sampai segitunya juga, sih, Kak."
Gilang tertawa kecil. "Berarti kamu belum hamil, ya, Sayang? Nggak apa-apa, deh. Besok kalau udah selesai datang bulannya kita coba lagi, ya."
Kedua sudut bibir Belva tertarik, membentuk sebuah senyuman manis di bibirnya. "Kakak kapan ke sini? Nggak kangen aku, ya?"
"Jangan tanya hal itu, Sayang. Selama ini bukannya udah nggak terhitung lagi berapa kali kakak bilang kalau kakak kangen sama kamu? Andai bisa, kakak akan bawa kamu kemanapun kakak pergi."
"Terus kapan kakak ke sini?"
Gilang tersenyum penuh arti. "Nanti nunggu kamu selesai datang bulan dulu, ya. Kakak takut nggak bisa nahan kalau ke Surabaya sekarang."
"Kakak, ih. Ya udah, deh. Aku mau berangkat kuliah dulu, ya, Kak."
Terlihat Gilang menganggukkan kepalanya. "Hati-hati, ya, Sayang. Jaga mata, jaga hati. Jangan dekat-dekat sama cowok lain. Kamu punya kakak."
"Tenang aja, Kak Gilang Sayang. Besok sekalian aja dikasih tulisan di dahi. "Punya Gilang" begitu."
Lagi-lagi Gilang tergelak mendengar ucapan Belva. Anak itu selalu bisa menjawab apapun yang dikatakan Gilang sampai Gilang terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi.
***
Hamil dan memiliki anak dari Gilang. Mengandung benih Gilang. Tentu saja Belva mau.
Tapi jika untuk hamil dalam waktu dekat, Belva belum bisa.
Semua terasa sulit karena Gilang yang ingin dirinya segera hamil. Sedangkan Belva inginnya nanti dulu. Belva ingin fokus kuliah terlebih dahulu.
Akan ada banyak hal yang terkendala karena Belva hamil nantinya. Geraknya tak sebebas dulu. Kuliahnya bisa terganggu. Belum lagi harus cuti melahirkan. Belum nanti kalau dia harus bed rest kalau kehamilannya bermasalah.
Belva tahu hal tersebut dari anak Pak Bambang yang kuliah lalu menikah. Akhirnya kuliahnya harus berhenti sementara waktu karena kehamilannya bermasalah dan mengharuskan dia untuk istirahat total sampai melahirkan.
Belva tidak mau itu. Belva ingin fokus menjalani satu persatu. Kuliah, bisa tetap dia lakukan meskipun dengan status menikah.
Dan jika dia hamil, dia ingin ketika hamil nanti dia sudah lulus kuliah. Jadi dia bisa fokus dengan kehamilannya dan mengurus anak nantinya.
Padahal, apa yang Allah berikan pasti yang terbaik. Ketika Belva ditakdirkan hamil cepat, itu artinya dia mampu menjalaninya.
Belva berpikir keras. Bagaimana caranya agar dia tidak hamil. Untuk menghentikan hubungan suami istri, tentu tidak bisa karena Gilang dan Belva sama-sama menyukai aktivitas tersebut.
Lalu apa jadinya jika rumah tangga tanpa adanya hubungan suami istri? Kecuali jika mereka ldm dalam waktu dan jarak yang cukup lama dan jauh.
Di tengah lamunannya, handphone Belva berdering dengan nyaring. Saat Belva akan mengangkatnya, panggilan itu sudah lebih dulu berakhir. Dari nomor tak dikenal.
Tak berselang lama, masuk sebuah pesan dari nomor yang sebelumnya menelepon Belva.
[ Ini Belva? ]
[ Saya Indra. Mahasiswa hukum semester tujuh. ]
Belva membelalakkan matanya. Ada apa pula kakak tingkatnya menghubungi dirinya? Darimana juga dia mendapatkan nomor handphone Belva?
^^^[ Ada perlu apa, Kak?] ^^^
Belva mencoba untuk mencari tahu. Barangkali ada hal penting mengenai perkuliahan yang ingin dia sampaikan meskipun Belva rasa itu tidak mungkin.
[ Tidak ada apa-apa. Hanya ingin berkenalan saja.]
^^^[ Oh, iya, Kak.]^^^
[ Lagi ada dimana, Bel?]
Belva tak membalas lagi isi pesan dari Indra itu.
Semua demi menjaga hati Gilang. Meskipun Belva yakin Gilang tidak akan tahu hal ini, tapi jika Belva tetap melakukannya itu berarti sudah mengingkari janjinya pada Gilang untuk tidak dekat dengan lelaki lain.
Menyapa dengan senyuman saja Gilang bisa cemburu apalagi dengan berkirim pesan? Bisa ngamuk bapak-bapak satu itu, pikir Belva.
"Kebetulan sekali kita ketemu di sini, Bel."
Belva mendongak. Menatap penuh tanya lelaki yang berdiri di hadapannya, menyapanya seolah mereka sudah mengenal lama.
"Maaf. Siapa, ya?"
Lelaki itu tertawa kecil. "Baru juga berkirim pesan. Udah lupa aja."
"Oh. Kak Indra, ya?"
Indra menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Boleh aku duduk di sini? Sendirian aja, kan?"
"Ada teman aku, sih, lagi di kamar mandi. Tapi kalau Kak Indra mau duduk, silahkan!" Meskipun Belva tak ingin ada siapapun yang duduk di hadapannya kecuali Rania yang sedang setoran di kamar mandi. Mana mungkin Belva akan mengusir Indra. Kantin merupakan tempat umum, kan? Siapapun boleh berada di sana.
"Kita pernah bertemu selain di kampus," ucap Indra memulai obrolan.
"Oh, ya? Dimana?"
"Di acara reuni Papa kamu sekitar empat bulanan yang lalu."
Belva termenung sejenak. Mengingat kapan acara reuni itu diadakan. Dan apakah memang dia diajak oleh papanya.
Setelah beberapa saat berusaha untuk mengingat, akhirnya Belva pun ingat bahwa benar empat bulan yang lalu Belva diajak oleh Papa dan mamanya untuk menghadiri acara reuni akbar kampus tempat Darmawan dan Vita berkuliah dulu.
"Maaf, aku nggak ingat kalau ada Kak Indra juga," ucap Belva tak enak hati.
Indra tertawa kecil. "Nggak apa-apa. Dulu kamu juga kelihatan cuek. Nggak peduli sama sekitar. Selalu diam kalau tidak ada yang mengajak bicara atau bertanya suatu hal sama kamu."
"Sedetail itu kak Indra ingat aku?"
Lagi-lagi Indra tertawa kecil. "Siapa yang tidak kenal dengan Belva Inara? Anak semata wayang Pak Darmawan yang kecantiknya paripurna."
Dipuji oleh Indra, Belva hanya mengulas senyuman tipis di bibirnya. Pujian Gilang lebih sampai ke hatinya daripada pujian dari lelaki lain.
"Oh, iya, Bel. Maaf aku harus pergi sekarang. Senang bisa mengobrol sama kamu gini. Lain kali lagi, ya?"
Belva menganggukkan kepalanya dengan kaku. Besok belum tentu Belva mau mengobrol lagi dengan Indra.
Saat ini saja hatinya sudah ketar-ketir. Takut orang suruhan Gilang melihat Belva tengah berbincang dengan seorang laki-laki.
🌻♥️🌻
Dikit dulu, ya. besok lagi. sabar, mohon bersabar. 😁😁