
...~Happy Reading~...
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit. Kini mobil yang di kendarai abi Mike sudah tiba di rumah sakit. Dengan cepat, Yusuf turun dan menggendong istrinya masuk ke dalam agar segera mendapat penanganan.
Saat hendak memasuki ruang penanganan, Eleena sempat membuka matanya dengan begitu berat, namun ia mampu melihat jelas suami nya. Bisa ia lihat betapa kacau nya wajah Yusuf saat ini.
Rambut yang biasa terlihat rapi, kini sudah terlihat sangat acak acakan, matanya sembab dengan kemeja yang semakin berwarna gelap lantaran terkena noda darah dari Eleena.
‘Sejahat apapun kamu, tapi aku tidak pernah bisa membenci mu,’ gumam Eleena begitu lirih sambil meneteskan air mata dan terus menatap ke arah Yusuf.
Deg!
Membalas tatapan Eleena, membuat air mata Yusuf kembali menetes. Dada nya begitu sesak, saat ia harus melepaskan genggaman tangan nya pada Eleena. Dan saat ia mendengar perkataan Eleena yang sedikit kurang jelas, membuat nafas nya seolah ter cengat di tenggorokan, hingga membuat nya begitu sesak.
Sejahat itukah dirinya? Dirinya sudah berjanji akan membahagiakan Eleena, tapi kini justru luka yang begitu dalam yang ia berikan.
“Aaarrrrkkhhhhhhh!” jerit Yusuf dengan penuh penyesalan dan frustasi.
Bug!
Sekuat tenaga, Yusuf memukul dinding di depan nya dengan perasaan yang begitu kacau dan kalut. Untuk pertama kalinya, ia se marah itu pada dirinya sendiri.
Nafas nya memburu dengan begitu hebat, dengan air mata yang sejak tadi seolah enggan untuk berhenti. Sesakit itu menyakiti orang yang kita sayang. Dan kini, bukan hanya Eleena yang ia sakiti, mungkin saja calon anak nya sudah merasa terluka di dalam sana, karena ulah nya.
Wajar bila Eleena memaki nya, mengumpat nya dan mungkin akan membenci nya. Walaupun wanita itu sempat mengatakan tidak akan bisa membenci nya, tapi Yusuf sendiri yang akan membenci dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan anak dan istrinya.
“Jelaskan pada Abi, ada apa?” tanya abi Mike dengan raut wajah datar nya.
Ia merasa sudah cukup melihat anak nya yang terus menyalahkan dirinya sendiri sejak tadi. Ini bukan masalah se peleh, dan entah mengapa abi Mike merasa seolah seperti dejavu akan masa lalu nya.
Abi Mike merasa, pasti ada sesuatu yang terjadi antara Yusuf dan Eleena saat sebelum tiba di Pondok.
“Iya Yusuf, katakan sama Umma. Ada apa sebenarnya? Kalian bertengkar? Tapi kenapa? Bukankah hubungan kalian baik baik saja?” sambung umma Chila yang membuat air mata Yusuf semakin mengucur tak terkendali.
Brukk!
Tubuh Yusuf ambruk, laki laki muda itu duduk berlutut di depan kedua orang tua nya. Kepala nya menunduk sambil tangan nya yang terus terkepal erat menyalurkan emosi dalam dirinya.
“Maafkan Yusuf, Abi, Umma. Yusuf—“
“Duduk lah yang benar, katakan pada Umma. Jelaskan semuanya!” Umma Chila mengajak putra nya agar duduk di kursi yang ada tak jauh dari tempat nya.
Meskipun sulit untuknya berfikir positif, namun umma Chila masi berusaha mempercayai anak nya. Ia yakin bahwa Yusuf tidak akan menyakiti Eleena, dan umma Chila yakin bahwa ini hanya kesalahpahaman biasa.
Sedangkan abi Mike, laki laki itu sudah memiliki firasat yang kurang baik. Ia sedang berusaha mengontrol dirinya agar tidak sampai mengeluarkan emosi berlebih.
Sekuat hati ia membesarkan Yusuf dan memberikan yang terbaik, mengajarkan banyak hal agar kelak anaknya bisa menjadi pribadi yang lebih baik darinya.
Cukup dirinya yang melakukan kesalahan besar dulu, ia berharap bahwa putra nya tidak akan mengulang takdir yang sama seperti dirinya. Namun, entah mengapa tiba tiba sekelebat bayangan muncul dalam benak abi Mike.
Bayangan tentang pembicaraan yang menjurus perdebatan antara dirinya dan mendiang besan nya yang tak lain adalah pak Brata, kini melintas dalam benak nya.
‘Semoga bukan karena itu,’ gumam abi Mike dalam hati sambil menarik napas nya panjang.
...~To be continue.......