Eleena Sora

Eleena Sora
Di tinggal


...~Happy Reading~...


Hari demi hari berganti dengan begitu cepat. Kini, usia kandungan Eleena sudah memasuki bulan kelima. Dimana perut nya yang sudah mulai terlihat sedikit besar. Namun, karena ia selalu memakai pakaian besar jadilah ia tidak terlihat seperti orang hamil.


Hari ini, Yusuf akan pergi ke Pondok, karena di sana tengah ada acara para santri. Sedangkan Eleena tidak bisa ikut, karena kandungan nya yang cukup rawan untuk melakukan perjalanan jauh.


Awal nya, Yusuf ragu untuk pergi dan ingin membatalkan kepergian nya. Namun, Eleena meyakinkan bahwa dirinya akan baik baik saja. Selain itu, siang nanti, Mayra juga akan datang ke Jakarta. Jadilah, Eleena tidak apa jika di tinggalkan oleh Yusuf.


“Gapapa Mas, lagian juga ada Mama di rumah,” ucap Eleena sambil merapikan kemeja yang di kenakan oleh suami nya, “Yang seharusnya bilang hati hati itu aku. Kamu bawa mobil tanpa supir, jangan kenceng kenceng bawa mobil nya yah.”


“Insyaallah, setelah acara selesai, aku akan segera pulang,” Yusuf menghela napas nya berat, rasanya begitu sulit untuk nya meninggalkan sang istri.


Namun, dirinya juga sudah cukup lama tidak berkunjung ke Pondok. Selama ini hanya orang tuanya yang selalu datang ke Jakarta, dan kini karena akan ada acara maka dari itu Yusuf memutuskan untuk pergi.


“Yusuf, kamu jadi pergi?” tanya mama Rasti saat melihat Yusuf dan Eleena sudah keluar kamar.


“Iya Ma, Yusuf nitip Sora ya Ma,” ujar nya begitu sopan kepada sang ibu mertua.


"Tentu, Mama pasti akan jagain Ele," jawab mama Rasti tersenyum.


Selama beberapa bulan bu Rasti dan Catherine tinggal di rumah pak Brata. Keduanya terlihat baik dan tidak membuat ulah.


Walau terkadang, ada perdebatan dan saling sindir halus antara Catherine dan Eleena. Namun, wanita itu selalu bisa mengatasi nya dan ia tidak merasa kahwatir karena Catherine tidak se bar- bar yang Eleena pikirkan sejak awal.


Dan menurut Eleena, sikap Catherine masih berada dalam tahap biasa dan wajar. Tidak terlihat tanda atau apapun yang membuat Catherine terlihat jahat.


"Ya udah, kamu hati hati ya Mas?"


Yusuf menganggukkan kepala nya, lalu mencium kening Eleena dengan begitu lembut.


"Aku pergi dulu, assalamu'alaikum,"


"Walaikumsalam."


Tiba? Darimana kah gadis itu? Ini masih pagi, pikir Eleena. Dan juga, yang di gunakan oleh Catherine adalah mobil nya.


Menarik napas panjang sambil mengepalkan tangan nya erat, Eleena berjalan menghampiri kakak tiri nya, “Bukankah sudah aku bilang jangan pakai mobil ini!”


“Aku hanya meminjam nya sebentar!” kata Catherine begitu santai saat turun dari mobil.


“Ada begitu banyak mobil di garasi. Kamu bisa memakai yang mana kamu suka, tapi tidak dengan yang ini!” ucap Eleena dengan begitu tegas, ia segera merampas kunci mobil nya dan pergi begitu saja.


"Lebay!" gumam Catherine berdecak lalu mengikuti Eleena ke dalam.


“Mamaaaa!” Wanita itu berteriak saat memasuki rumah nya, “Maaaa!”


“Mama di dapur El!” jawab mama Rasti dan segeralah Eleena menghampiri nya, “Ada apa?”


“Bukankah Ele udah bilang sama Mama. Kalau dia gak boleh pakai mobil Ele yang itu, kenapa mama biarin dia pakai mobil Ele! Ele udah bilang, itu mobil kesayangan Ele, itu kado terakhir dari Papa. Kenapa Mama malah—“


“Sayang, sstst tenang dulu. Tarik napas, jangan begini, nanti perut kamu sakit lagi, duduk dulu Sayang!” mama Rasti langsung menggenggam tangan putri nya dan mengajak nya untuk duduk agar lebih tenang.


Eleena sering mengalami kepanikan berlebih. Dan itu sangat berpengaruh terhadap kandungan nya. Maka dari itu, mama Rasti benar benar menjaga emosi Eleena agar tidak membahayakan calon cucu nya.


“Mama minta maaf, nanti Mama yang akan menegur Catherine, agar dia tidak mengulangi nya lagi. Maaf ya Nak,” ujar mama Rasti sambil mengusap bahu Eleena agar lebih tenang.


“Apa sih lebay banget, Cuma gara gara mobil doang.” Celetuk Catherine tiba tiba duduk di depan Eleena dan menatap nya sinis.


“Catreine!” tegur mama rasti langsung menatap anak sulung nya.


“Baru mobil yang ku pinjem, bukan suami kamu!” imbuh Catherine seketika membuat emosi Eleena kembali naik hingga membuat nafas nya memburu dengan begitu hebat.


“Catherine, tutup mulut kamu!” bentak mama Rasti langsung merengkuh tubuh Eleena berharap anak nya itu tidak terpancing emosi oleh Catherine dan justru akan membahayakan kandungan nya lagi.


...~To be continue ......