Eleena Sora

Eleena Sora
Bantuan Jerry


...~Happy Reading~...


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, kini akhirnya Eleena sudah tiba di Bandung. Ia segera memberikan alamat tujuan nya kepada Jerry agar mengantarkan nya ke sana.


Mereka tidak hanya berdua, karena Jerry menghargai Eleena yang sudah ber suami. Meskipun Jery masih belajar agama, tapi ia tahu jarak dan batasan pada lawan jenis. Maka dari itu, ia juga mengajak salah satu teman nya yang memang juga kebetulan akan pergi ke Bandung.


Akan tetapi, teman Jerry hanya bisa mengantarkan sampai kota Bandung saja. Menuju perjalanan ke alamat tujuan Eleena, terpaksa mereka hanya berdua.


Kendati begitu, Jerry tetap menjaga karak dengan Eleena. Ia duduk di bangku kemudi, sedangkan Eleena di belakang.


Tidak apa bagi Jerry, jika dirinya di jadikan supir. Asal keselamatan sahabat nya terjamin. Setidaknya ia bisa merasa tenang, daripada Eleena harus menyetir seorang diri ke Bandung dalam keadaan hamil besar dan emosi yang tidak stabil.


“Ini rumah siapa?” tanya Jerry mengerutkan dahi nya saat sudah tiba di tempat tujuan nya.


Awal nya, Jerry berfikir bahwa Eleena akan ke Pondok milik mertua nya, atau mungkin ke rumah barunya dan Yusuf. Tapi ternyata ia salah, entah rumah siapa yang di kunjungi Eleena saat ini.


Bangunan rumah yang tidak begitu besar, namun juga tidak begitu kecil. Dengan pagar pendek dan halaman yang tidak begitu luas. Tapi mampu membuat air mata Eleena kembali mengalir deras.


“El ... “


“Aku turun dulu Jer, tolong tunggu aku disini,” ujar Eleena berusaha tersenyum di balik kesedihan nya.


Menarik napas berat dan panjang, Eleena berjalan memasuki rumah itu sambil terus mengusap perut besar nya. Berulang kali, ia berusaha untuk tetap tersenyum walau rasa sesak memenuhi lubuk hati nya.


Ting tong .... Ting ... tong ..


Eleena memencet bel rumah itu dengan perasaan tak menentu. Ia sudah menyiapkan diri, untuk hal yang akan terjadi. Tapi, ia berharap, bahwa apa yang ia pikirkan salah, ia masih berharap bahwa ini hanya perasaan nya saja.


“Auuwhh! SShhtt,” Lagi, lagi Eleena merasakan kram pada perut bagian bawah nya. Ia harus berpegangan dengan dinding agar tubuh nya tidak tumbang.


Hingga beberapa saat, pintu terbuka seketika membuat tawa getir menghiasi wajah Eleena.


Benar, dugaan nya benar. Penghuni rumah itu, tak lain dan tak bukan adalah ibu kandung nya, mama Rasti.


Terlihat betapa terkejut nya wanita itu dengan kedatangan Eleena. Bukan hanya mama Rasti, terlihat tiga orang lain nya yang langsung menghampiri pintu saat mendengar suara mama Rasti menyebut nama nya.


Wanita itu langsung tertawa tanpa suara di sertai lelehan air mata yang sangat sulit untuk berhenti membasahi wajah nya.


“Sayang ... Kamu kenapa bisa disini? Kamu—“


“Jangan mendekat!” ucap Eleena berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri.


Ya, laki laki itu adalah Yusuf. Mengapa suami nya bisa ada di sana? Sebuah pertanyaan besar dalam benak Eleena.


Beberapa lembar foto yang ia temui dalam brangkas lemari pak Brata. Adalah foto foto dimana Yusuf dan Catherine sedang bersama. Kapan? Entahlah Eleena tidak tahu kapan foto itu di ambil.


Tapi satu hal yang Eleena tahu, bahwa sebelum Catherine tinggal di rumah nya, Yusuf dan wanita itu sudah saling mengenal. Karena foto itu berada di dalam brangkas ayah nya, yang sudah pasti di ambil sebelum pak Brata meninggal.


“Kamu yang bernama Bagus?” tanya Eleena pada sosok laki laki muda yang berada tepat di samping Catherine dan mama Rasti, “Hallo, assalamualaikum.” Imbuh nya dan kini air matanya semakin deras menetes.


“Sora, aku akan menjelaskan semuanya. Kita—“


“Ku bilang jangan mendekatt!” teriak Eleena yang langsung menepis kasar tangan suami nya.


Kini, hatinya benar benar hancur. Tidak ada lagi tempat untuk nya bersandar. Semua orang membohongi nya, tidak ada yang tulus pada nya. Dan tidak ada lagi yang bisa ia percaya.


“Eleena, dengerin Mama dulu. Jangan salah paham, kita masuk dulu ya?” Mama Rasti berusaha membujuk Eleena, namun wanita itu juga menolak dan langsung mendorong tubh wanita paruh baya itu hingga hampir terjatuh ke belakang.


“Jangan keterlaluan kamu!” bentak Catherine yang tidak terima saat ibu nya di sakiti oleh Eleena.


...~To be continue .......