
...~Happy Reading~...
Braakkk!
Catherine mendorong kursi nya ke belakang dengan begitu kencang, lalu menatap tajam pada Eleena dan juga ibunya.
“Bela aja terus Ma, emang dia kan anak kesayangan Mama. Sejak awal, mama emang gak pernah anggep Catherine anak Mama, makanya Mama selalu belain dia. Ckckckck!”
“Catherine!” sentak mama Rasti begitu marah pada putri sulung nya.
“Ini Cuma perkara mobil doang, dan mama udah tega bentak Catherine. Se sayang itu mama sama dia, apa karena dia anak kandung mama, dan Catherine bukan, jadinya kaya gini! Iya Ma!” seru nya dengan mata berkaca kaca.
“Ini bukan tentang mobil. Tapi tentang sopan santun, itu bukan milik kamu. Dan tidak seharusnya kamu memakai nya tanpa izin dari pemilik. Terkecuali tidak ada mobil lain di sana, kamu bisa menggunakan nya saat keadaan urgent. Tapi masalah nya ada banyak mobil di garasi, dan aku tidak melarang kamu memakai nya, asal jangan sentuh milik ku.”
“Kamu gak akan tahu bagaimana aku menyayangi mobil itu, karena itu mobil terakhir yang di belikan sama papa ku. Dan kamu gak akan pernah mengerti akan hal itu!” imbuh Eleena panjang lebar dengan suara yang tak kalah tinggi dari Catherine.
“Apa bedanya dengan Mama hah?” Catherine melangkahkan kaki nya untuk mendekat ke arah Eleena, “Mama juga milik ku. Dan kamu dengan tiba tiba mengambil nya, bahkan merebut semua kasih sayang nya dengan begitu singkat!”
“Catherine!” Tegur mama Rasti lagi saat Catherine semakin mendekat ke arah Eleena.
“Dia mama ku. Dia yang melahirkan ku, dan dia—“ ucapan Eleena terhenti karena langsung di potong oleh Catherine.
“Dia Cuma melahirkan kamu! Tapi dialah yang sudah jadi ibu ku! Dia bersama ku sejak lama, kamu—“ Catherine langsung menunjuk dada Eleena, “Kamu Cuma anak yang tidak di harapkan. Makanya Mama gak mau merawat kamu!"
Plaaakkk!
Untuk pertama kalinya, Catherine mendapatkan tamparan dari mama nya. Membuat air matanya seketika langsung mengalir begitu saja tanpa permisi.
Begitupun dengan Eleena yang langsung menutup mulut nya karena terkejut dan tidak menyangka.
“S—sayang ... Mama minta maaf, mama—“ Dengan tangan bergetar, mama rasti menyentuh wajah Catherine yang tertutup tangan.
“A—apa maksud kamu? Catreine, mama benar benar minta maaf, mama—“
“Lupakan!” ucap nya datar, ia segera menghapus air mata nya, lalu kembali menatap tajam pada Eleena, “Sudah puas?”
“Jangan harap ini gratis, karena semua yang ku dapatkan akan selalu ku kembalikan!” imbuh Catherine sebelum akhirnya ia pergi masuk ke dalam kamar nya yang berada di lantai dua.
Eleena terdiam, berusaha mencerna ucapan Catherine beberapa detik yang lalu sambil memeluk perut nya.
Sementara itu, mama rasti yang sudah menyesal karena menampar wajah Catherine langsung berlari dan mengejar nya, meninggalkan Eleena begitu saja di ruang makan.
“Sshhhtt kenapa sakit lagi?’ gumam nya pelan.
Eleena menggigit bibir bawah nya, lalu kembali mendudukkan diri di kursi makan untuk menetralkan perasaan nya. Memang benar, dirinya tidak boleh terlalu stres atau tertekan, maka dari itu ia harus bisa mengontrol emosi nya.
Dan perdebatan nya dengan Catherine tadi, sukses membuat perut nya kembali merasa kram.
“Non Ele, kenapa?” tanya mbok Ti yang baru saja pulang dari pasar dan melihat Eleena tengah meringis seolah menahan sakit nya.
“Gapapa mbok. Boleh minta tolong buatin Ele teh anget gak?” pinta nya pelan sambil sesekali masih meringis.
Mbok Ti hanya menganggukkan kepala nya, dan segera beranjak. Namun, baru beberapa langkah ia meninggalkan ruang makan, tiba tiba ...
Brukkk!
“Non Ele!” pekik nya dan langsung berlari saat melihat Eleena sudah terjatuh tak sadarkan diri di lantai.
...~To be continue ......