
Sampai di rumah dinas Raya menangis. Rindu,kecewa dan sedih ia rasakan. Rindu dengan keluarga kandungnya terasa sudah sedikit terobati. Kecewa karena ibunya hampir tak mengenalinya. Sedih karena Ayahnya telah tiada. apa penyebab ayah meninggal?? Sepertinya aku harus cari tau tentang hal ini.
Keesokan harinya...
Hari sudah mendekati siang. Namun tak ada pasien yang belum datang ke puskesmas. Syukurlah jika warga di sini mulai membaik kesehatannya. Tak seperti tugas pertama kali pasien datang seperti berkampanye. Banyak yang mereka keluhkan, mungkin karena mendekati musim kemarau ini penyakit seolah berganti musim juga.
Saat hampir Dzuhur Raya kedatangan pasien. Terlihat pak Kardi datang dengan tergopoh-gopoh. lalu pak Kardi berkata "Bu dokter,tolong anak saya dok. Istri saya mau melahirkan." kata pak Kardi terengah-engah. "lho..istri bapak di mana sekarang??" tanya Raya. "masih di rumah Bu, tadi ketubannya pecah. Saya takut mau membawanya kesini." jelas pak Kardi. Lalu dokter Raya bergegas mempersiapkan alat-alat yang dipergunakan untuk persalinan. Sebelum ia meninggalkan puskesmas dokter Raya berpesan pada asistennya untuk segera menutup puskesmas siang itu.
Sesampainya di rumah pak Kardi, Raya menghampiri istri pak Kardi yang sedang mengerang kesakitan. Air ketuban yang sudah terlanjur pecah membuat sang bayi belum ada reaksi mau keluar. Raya memberi pertolongan dengan menyuntikan obat perangsang agar bayi segera kontraksi. "Ayo Bu..terus coba untuk ngeden." ujar Raya.
Proses yang cukup lama, namun akhirnya sang bayi lahir dengan selamat. Kebahagian terpancar dari raut wajah keluarga itu. "Selamat..bayinya laki-laki. Boleh di adzani terlebih dahulu pak.." ucap Raya memberikan bayinya kepada pak Kardi. Setelah itu Raya mendata kelahiran sang anak supaya bisa di buatkan akta kelahiran "Nanti tinggal serahkan surat keterangan ini di kantor desa ya pak,supaya bisa segera di buatkan akta kelahiran." kata Raya seraya memberikan secarik kertas. "harus buat akta ya?" kata pak Kardi. "iya pak,supaya anak bapak tertulis resmi lahir dimana dan siapa orangtuanya." "ini ada vitamin dan obat yang wajib di minum ibu seusai melahirkan,di minum setelah makan ya Bu. Kalau ada yang di rasakan sakit pasca melahirkan tolong segera hubungi saya." kata Raya seraya menyodorkan beberapa pil yg terbungkus plastik. "baik Bu dokter,,terimakasih banyak. Tapi apakah sekarang istri saya sehat Bu dokter? wajahnya pucat sekali." kata pak Kardi ketakutan. " ibu hanya butuh istirahat dulu..supaya bisa sehat kembali" Tegas Raya.
"Hasil pemeriksaan hari ini ibu dan bayi sehat,tak ada masalah apapun. Untuk itu saya pamit pulang dulu" kata Raya sembari berkemas.
"nggeh Bu dokter,.terimakasih banyak." sahut keduanya.
Raya berjalan menelusuri jalan setapak. Sepi banget ya, tumben nggak ada yang lewat padahal ini baru menjelang sore,batin Raya. Raya melewati jalan menuju rumah Bu Ida. Dia melihat Lina sedang menyiram tanaman di depan rumah. "Eh..mbak Raya,dari mana kog jalan sendirian?"kata Lina. "Dari rumah pak Kardi Lin.. Istrinya baru saja melahirkan."
"ooh..kirain abis dari puskesmas kog sampe sore baru pulang. Nanti atau besok aku mau kerumah Bu Kardi sama ibu,mbak."Ujar Lina.
"Eh..bu dokter buat apa belajar beginian?ini kerjaan orang nganggur dok."kata nenek sari sambil tertawa. Baru kali ini melihat nenek tersenyum lepas,sudah 2 bulan disini tapi nggak pernah lihat keluarga ini bercanda gurau,batin Raya.
"Nek..Bu Ida mana? Kog ga kelihatan?" tanya Raya.
"dia sedang menjahit di dalam." jawab nenek.
"ibu memang senang menghabiskan waktu dengan menjahit,ada saja yang ibu buat." ucap Lina sambil menyuguhkan segelas teh panas. "di minum dulu mbak." ucap Lina. "terimakasih." kata Raya.
"pengen ngobrol sama Bu Ida nek,tapi takut kalau Bu Ida marah." ucap Raya sambil melirik Bu Ida.
"Dia sebenarnya baik,hanya saja keadaan yang membuatnya begini. Sudah kehilangan suami,masih pula kehilangan anaknya." ucap nenek sari
"memang ayah lina kenapa nek?" tanya dokter Raya.
Nenek sari menghela nafas panjang. Seperti mengingat kembali kejadian 20th yang lalu. peristiwa yang membuat keluarga Bu Ida hancur seketika. Dan akhirnya nenek sari berhenti menganyam dan menceritakan semuanya.