
Beberapa hari kemudian..
Pagi yang cerah. Saatnya Raya bertugas di puskesmas. Hari ini dia berangkat lebih pagi. Selain untuk mempersiapkan keperluannya di puskesmas dia ingin mengecek stok obat dan alat suntik yang harus tersedia. Namun saat ia berjalan menuju puskesmas dia berpapasan dengan pak Kardi. Pak Kardi pun menyapa Raya "Selamat pagi Bu dokter,pagi sekali kog sudah berangkat?"
"Nggeh pak.. Mau sekalian beres-beres. Mari pak." jawab Raya dengan tersenyum.
Ramahnya seorang dokter Raya membuat warga sekitar menyukainya. Selain cantik dan sabar dia juga supel dan pandai bergaul. Banyak ibu-ibu yang sering konsultasi dalam program kehamilan dan KB, hal ini yang membuat Raya semakin dekat dengan warga d desa ini.
Meski Raya bertugas di puskesmas, namun warga terkadang meminta Raya untuk datang ke rumahnya guna mengobati anggota keluarganya yang sakit,apalagi dalam keadaan darurat. Raya tak pernah mematok harga untuk biaya pengobatan karena Raya di tugaskan untuk membantu warga dalam hal medis. Raya melakukannya dengan ikhlas dan dengan senang hati.
Setiap hari Raya selalu kedatangan pasien. Mulai dari anak-anak dan orangtua. karena musim pancaroba ini membuat cuaca kurang mendukung untuk kesehatan. Warga banyak di serang demam dan batuk-pilek. Raya menangani pasiennya dengan sabar. Terutama dengan anak-anak kecil yang takut jarum suntik.
Dari sekian pasien yang datanglah seorang lelaki tua bersama istrinya. Tak asing bagi Raya. Dia Ki Reksa yang waktu itu tak ingin berjabat tangan dengannya. Nampak sekali dia kurang sehat. "Selamat pagi Ki,. apa yang terasa sakit?" kata Raya tersenyum ramah. "Kau tak lihat kah aku sedang tak enak badan? Kalau kau dokter kau pasti tau apa penyakit ku." ketus Ki Reksa. "Maaf Bu dokter,dari semalam suami saya mengeluh kepalanya pusing dan nyeri di bagian kaki." kata nyai Pambayun. "Mari saya periksa,silahkan berbaring sebentar ya sekalian saya cek tensi darahnya." ujar dokter Raya. Pemeriksaan bertahap di lakukan dokter Raya. Mulai dari cek detak jantung, cek tensi darah hingga pengambilan sampel darah pun di lakukan.
"Mohon maaf Ki, Sering pusing yang Ki Reksa rasakan dari tensi darah yang naik di angka 180. Tensi normal ada di angka 120-130. Dan nyeri di bagian kaki karena asam urat naik." Jelas dokter Raya. "Lalu bagaimana penyembuhannya dok?" kata nyai Pambayun.
"Ini saya kasih obat saja ya, harus di minum teratur. Sudah saya kasih resep berapa kali minum dalam sehari, Jangan sampai tertukar ya nyai." kata Raya.
"Pak,ingin sembuh ga sih?memang harus minum obat pak supaya cepat sembuh" tukas nyai Pambayun.
"Kau percaya dengan dokter ini?mana tau kau kalau dia ingin memb*nuhku?" ucap Ki Reksa.
"Ki.. Anda sakit secara medis sudah bisa ditentukan penyakit dan obatnya. Saya pun memberi dosis sedang. Cara minum obat pun sudah saya jelaskan tadi." Jelas dokter Raya.
"Dari dulu aku tak pernah percaya pengobatan apapun,apalagi kau cuma dokter. Kau sendiri saja yang minum." Ucap Ki Reksa pergi begitu saja.
"Maafkan suami saya Bu dokter,kami permisi." ucap nyai Pambayun.
"iya Bu..silahkan.." kata dokter Raya.
Raya hanya menatap kepergian mereka berdua sambil mengelus dada. Pengetahuan mereka memang kurang dalam medis. Tapi jangan menganggap enteng satu penyakit. Bisa fatal akibatnya,batin Raya.