Dokter Raya

Dokter Raya
Tas Anyaman


Panas matahari mulai terik. Hari pun mendekati sore. Dokter Raya,Bu lurah dan pak lurah berhenti di sebuah gubuk di dekat area persawahan. Sengaja Bu dokter mengajak Pak lurah dan istrinya untuk beristirahat sebentar setelah lelah berjalan.


"Setelah ini dokter mau tinggal dirumah saya atau tinggal di rumah yang sudah di sediakan desa dok?mengingat lokasinya cukup jauh dari puskesmas namun dekat dengan pemukiman warga." tanya Bu Lurah. "Sebaiknya saya tinggal ditempat yang di sediakan desa saja Bu. Kan sayang kalau kosong." jawab Raya.


"Kalau begitu saya akan menyuruh anak buah saya untuk segera mempersiapkan fasilitas rumah agar bisa di tempati. Sebenarnya sudah dibersihkan dok,hanya saja tinggal melengkapi air bersih untuk mandi dan minum". Kata pak Lurah.


"Terima kasih pak atas bantuannya". Kata Raya.


Angin semilir menyapa kawasan persawahan membuat hawa terasa sejuk. Sesekali Raya mengamati beberapa rumah di sekitar area persawahan itu. "Apa yang mereka kerjakan?kenapa terlihat sibuk sekali?" Batin Raya.


" Bu.. Rumah yang disana sedang apa ya?kog terlihat sibuk sekali?"tanya Raya.


"oohh..itu Rumah Bu Ida. Beliau sedang membuat tas anyaman. Sebagian warga sini selain bermata pencaharian sebagai petani mereka juga punya sampingan sebagai pengrajin. Ya salah satunya tas anyaman dari bambu/plastik" kata Bu lurah. "Bolehkah saya kesana Bu? Saya ingin melihatnya secara langsung." tanya Raya. "Mari saya antar dok. Sekalian arah jalan pulang." kata pak lurah dan Bu lurah.


Saat berkunjung di rumah Bu Ida ada beberapa ibu-ibu sedang sibuk menganyam menjalin menjadi tas ataupun wadah. Raya mengamati cara mereka menganyam. Benar-benar kreatif wanita disini,meskipun hidup di desa terpencil tak membuat mereka putus asa untuk mencari sampingan,pikir Raya. "Selamat datang dokter Raya,terima kasih sudah mau mampir ke gubuk kami" Sapa salah seorang gadis muda sekitar umur 18th. "Hai cantik,apakah kamu juga mengerjakan ini?"tanya Raya. "Iya dok,karena saya tidak punya pekerjaan. Jadi saya membantu ibu untuk menjalankan usaha kecil ini." Jawab Lina.


"nduk..mbokya Bu dokter di suruh masuk. Jangan di suruh berdiri aja." Ujar seorang nenek dari dalam rumah dan menghampiri Raya. "ayo Bu dokter..pinarak rumiyen ( mampir dulu)". "Silahkan duduk Bu, biar di buatkan teh dulu." kata Nenek Sari. "Terima kasih nek,Ndak usah repot-repot. kebetulan saya lewat sini makanya sekalian pengen tau apa yang ibu-ibu kerjakan".kata Raya.


"Nggeh Bu dokter,disini suka buat anyaman.kayak tas dan wadah bumbu dapur,". Kata Nenek sari. "Ohh..sudah lama ya nek?? kayaknya ibu-ibu disini sudah terampil sekali dalam menganyam" kata Raya. "iya Bu dokter,sejak Lina masih kecil" kata si nenek sendu. Raya sejak tadi sedikit mengamati rumah sederhana itu. Terasa tak asing baginya, namun dia masih bingung. Dia merasakan keluarga ini dingin sekali. Ada seorang ibu yang fokus menjahit sejak Raya masuk ke rumah itu. Jangankan memandang,menoleh pun tidak. Akhirnya Raya mencoba mendekati ibu itu dengan sedikit gusar. "selamat siang ibu, sedang membuat apa?sepertinya ibu pandai sekali dalam menjahit". Sapa Raya. ibu itu hanya diam saja tanpa memandang Raya sedikitpun. "Bu dokter..mari ikut saya" kata Lina. "maafkan ibu saya ya dok,memang ibu seperti itu. Terlalu diam dan dingin. kata nenek dulu ibu ramah,baik dan murah senyum. Namun sejak kami kehilangan kakak,ibu jadi lebih sering murung dan sedih.seperti yang dokter lihat sekarang ini" ungkap Lina sedih. Raya terdiam,dia seperti memikirkan sesuatu. Namun Raya tersenyum sambil berkata "saya ga papa kog,mungkin ibu Ida juga belum ingin mengenal orang baru. Jangan sedih ya Lina" ucap Raya sambil memeluk Lina. Ada rasa hangat dalam hati Lina saat Raya memeluknya.


"Dok..mari pulang.hari sudah sore."kata pak lurah. "ohh..iya pak"kata Raya." Lin,saya pamit dulu ya. Sudah sore dan saya juga mau persiapan untuk tempat tinggal saya"sambung Raya. "oohh nggeh Bu dokter,hati-hati dijalan" sahut Lina. Dan mereka pun berlalu.


Terasa penat hari ini. Baru hari pertama saja sudah membuatku harus berhadapan dengan berbagai macam sikap masing-masing orang, tapi setidaknya aku suka desa ini,desa dimana aku dilahirkan. Desa yang memberiku banyak kenangan tentang keluarga. Ayah..ibu.. Apa kalian merasa aku ada di dekatmu?? Gumam Raya.