Dokter Raya

Dokter Raya
Pindah tugas


"Ayah..Ibu.. Jangan pergi.." ucap Raya sedang mengigau. berkali-kali raya mengucapkan itu hingga dia terbangun dari mimpinya. "mengapa aku selalu bermimpi tentang Ayah dan ibu?Apakah ayah dan ibu baik-baik disana?".di lihat jam menunjukan pukul 04.15. Raya bergegas mandi dan sholat subuh. Selepas itu dia turun dari kamarnya dan tidak menemukan siapa-siapa disana. Masih sepi banget mama papa kog tumben belum keluar kamar,pikir Raya.


"Sayang.,kog udah cantik aja anak mama?".kata Bu Merry "eh mama.,aku kan harus siap-siap untuk tugasku kali ini.nanti aku berangkat jam 8 lho".ujar Raya


"apa ga sebaiknya ganti dokter lain saja nak?kenapa harus kamu kalo yang lainnya ada.papa khawatir kamu disana sendirian,udah gitu disana jauh dari fasilitas umum"kata pak Haris.


"Ma..pa.. Biarkan Raya menjalankan tugas Raya sebagai dokter ya.Raya tau ini berat buat papa mama tapi Raya minta doa restu supaya Raya mampu menjadi dokter yang amanah dan mampu mengubah pola pikir warga tentang pentingnya pola kesehatan.Raya janji bakalan pulang dengan selamat". "Baiklah nak,janji sama papa kamu pulang lagi kesini".ucap pak Haris. "Pa,.aku ga kemana mana kog,aku kan cuma jalanin tugas aja.pasti donk aku pulangnya kesini"kata Raya.


"Kalo keinginanmu begitu mama ga bisa larang kamu nak,mama selalu berdoa yang terbaik buatmu"ucap Bu Merry dengan mata berkaca-kaca. "Makasih ya pa..ma.. Orangtua terbaik yang selalu dukung aku"peluk Raya dengan terharunya.


"nanti papa antar kamu ke stasiun ya.,yuuk kita sarapan dulu".. "iya pa.."


Selesai sarapan segera mungkin Raya berkemas dan menata pakaiannya dan dimasukan dalam koper. Meski Raya hidup berkecukupan tapi Raya tidak pernah ingin merepotkan orang. Selalu di kerjakan sendiri apa yang memang dia perlukan. Fasilitas yang pak Haris dan Bu Merry berikan tak pernah membuatnya tinggi hati ataupun pamer sekalipun. Selain itu dia juga tak enggan membantu teman atau orang lain yang sedang kesusahan. Inilah jadi penyebab Raya begitu disayangi orangtua angkatnya. Dan untuk mutasi tugas sekalipun Raya harus berkali kali membujuk kedua orangtuanya itu supaya diizinkan.


"Sudah siap nak? Tak ada yang tertinggal kah keperluanmu?" tanya pak Haris di dalam mobil yang siap kemudi. "Sudah pa.."jawab Raya.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Raya sedikit melamun dan jarang mengeluarkan suara. Hingga akhirnya sampai juga distasiun. Sebelum turun dari mobil Raya tak lupa mencium tangan pak Haris sambil berkata "pa..doain Raya terus ya semoga urusan Raya di permudah". "Pasti nak.,papa selalu doain kamu.kalo ada apa-apa jangan lupa telpon papa ya" pinta pak Haris. Sambil menganggukan kepala Raya keluar dari mobil dan membawa kopernya menuju kursi tunggu penumpang.. Tak berselang lama kereta api yang di nanti telah tiba. Rayapun masuk gerbong kereta api menuju kursi nomor tiketnya. Bukan pertamakalinya dia naik kereta. Dulu waktu masih kuliah di Bandung Raya sering naik kereta api. Sebenarnya pak Haris membelikan mobil untuk Raya,namun Raya lebih suka naik kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Ia menggunakan mobil jika dia sedang ingin berlibur atau belanja.


Saat perjalanan dalam kereta ia terbayang masa kecilnya dulu. bagaimana tidak? Saat itu dia berumur 4th. Dia ikut ibunya pergi ke Semarang dengan naik kereta. Namun saat ibunya mengantri tiket dia lepas pengawasan dan berjalan jalan sampe gerbong ekspedisi yg siap mengangkut barang. Raya kecil masuk ke gerbong itu tanpa disadari kereta barang perlahan mulai berjalan. Raya kecil menangis dan berteriak tak henti-hentinya. Dia tak tau mau di bawa kemana. Pikirannya hanya takut dan sedih lepas dari ibunya dan hingga akhirnya dia pingsan. Saat tersadar yang dia lihat wajah Bu Merry. Sejak saat itu Bu Merry dan suaminya mengangkat Raya sebagai anaknya.


Terbuyar lamunan Raya ketika dia di sapa seorang ibu hamil yang tengah kesusahan berjalan menuju toilet kereta api. Namun ketika hendak mendekatinya tiba-tiba ibu itu jatuh pingsan. Raya segera menolongnya dengan menggosokkan minyak angin dan mengompresnya dengan air hangat. Suhu badannya dingin kemungkinan dia masuk angin,pikir Raya. Saat ibu itu tersadar Raya segera memberikan teh hangat yang dia pesan sebelumnya dari petugas kereta api.


"Apa yang ibuk rasakan? Gimana badannya Bu? kog keringat ibuk sampe begini?" tanya Raya. "Anda siapa?kenapa tiba-tiba saya duduk di sini?"kata ibuk itu. "ibuk tadi tiba-tiba pingsan didekat saya.ibuk sudah makan? Ini buk saya punya Roti keju,silahkan di makan",kata Raya.


"Terimakasih ya mbak,saya pergi dari rumah tanpa membawa apapun dari rumah. Jadi saya Ndak sempat makan apa-apa juga. Jadi ngerepotin mbak".jawab ibuk itu sambil tersenyum menerima makanan dari Raya. "Sama-sama buk,," begitu lahapnya si ibu hamil menyantap makanan dari Raya. Raya merasa iba dengan keadaan ibu itu. Perut membesar dengan daster kucel dan menggunakan hijab sederhana,wajah sembab dan penuh kesedihan. "Apa yang dia rasakan?hingga dia seperti ini?" Ah entahlah,ga perlu cari tau juga,semua orang punya urusannya masing-masing dan aku tak berhak tau apa yang menjadi masalahnya. Yang terpenting bagiku aku harus sampai pada desa tujuanku. Dimana aku diasuh nenek dan ibu ku setelah ditinggal pergi ayahku.


Ayah sudah pulangkah?waktu itu ayah pamit padaku mau kerja jauh. Tapi saat itu Aku bingung kenapa ayah pergi dengan keadaan tangan di borgol dan ayah di bawa naik mobil oleh beberapa orang berseragam polisi. Rindukah ayah denganku??apa saat bertemu denganku nanti ayah masih mengenaliku?


Lama perjalanan dari Jakarta-Madiun membuat Raya tak berhenti memikirkan masa kecilnya. hingga sampai akhirnya dia sampai di stasiun tujuan. Saat dia turunpun tak lupa membawa koper dan tas jinjingnya. Dalam hati dia berkata "tak banyak berubah dari tempat ini,setidaknya aku pulang untuk keluarga yang saat ini aku rindukan. Ayah..ibu.. adikku Lina.. Aku pulang untuk kalian."