
"ibu..tolonglah jangan seperti ini terus menerus. Dokter itu hanya ingin menyapa ibu,tapi kenapa ibu hanya diam saja?" tanya Lina pada Bu Ida. Bu Ida yang tengah menjahit tanpa menoleh lalu berkata "lalu ibu harus gimana?nyuruh dia tidur disini?lagian ibu juga ga kenal dia." ketus Bu Ida. "Apa itu yang ibu ajarkan sama Lina Bu? bersikap tidak sopan dengan orang yang mau menolong kita? Sudahlah Bu.. Yang pergi biarkan pergi. Masih ada Lina disini yang mau nemenin ibu." ucap Lina berkaca-kaca. Bu Ida menatap Lina dengan penuh kekecewaan, lalu dia pergi masuk ke kamar dan mengunci pintu.
"Bu...maafin Lina Bu,bukan maksud Lina menyinggung perasaan ibu.Lina pengen ibu kayak dulu lagi..Bu.." ucap Lina di depan kamar Bu Ida.
"Sudah..sudah.. Kamu sudah tau watak ibumu seperti itu,kenapa kamu masih nanyain itu terus. Biarkan ibumu tenang dulu Lin" bujuk nenek sari.
"Sampai kapan nek?? Aku juga anak ibu. Aku pun rindu dengan kakak. Yang bisa kulihat hanya fotonya waktu kecil,itupun sudah buram tak terlihat jelas. Aku punya ibu,tapi ibu sendiri seperti tidak menganggap ku."Isak Lina.
"Sabar Lin.,doakan saja semoga kakakmu bisa segera pulang." ucap nenek sari sendu.
Malam pun tiba,hanya suara jangkrik dan katak yang terdengar meramaikan suasana. Angin bertiup sesekali menambah hawa dingin desa Selo gunung. Saat hendak makan malam tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu rumah Bu Ida.
tok..tok..tok... "Cepat buka pintunya,atau ku dobrak pintu ini!!!" terdengar sangat kasar orang itu mengetuk pintu. Lina tergesa-gesa membukakan pintu,terlihat jelas Ki Reksa dan pak Kardi kaki tangan setianya menunggu di depan pintu. "mana ibumu??"tanya Ki Reksa angkuh. "sebentar pakde Lina panggil ibu dulu".jawab Lina.
"Ada apa kang??"kata Bu Ida. "2 hari lagi waktunya kamu membayar hutang, jika telat maka sawah itu akan ku ambil sebagai pelunas hutang suamimu." ancam Ki Reksa. "kang,sebenarnya berapa hutang mas Asep? harus berapa lama lagi saya membayarnya? Saya minta kejelasannya kang." tanya Bu Ida. "Hutang Asep terlalu banyak padaku dan belum tentu kau mampu membayarnya,kecuali jika sawah di seberang desa itu kau berikan padaku" tukas Ki Reksa. "kang..hutang juga ada hitungannya. Mas Asep pun dulu ga pernah bilang ke saya tentang hutangnya pada Kang Reksa,lantas kenapa setiap panen akang selalu minta uang pada saya dengan alasan banyak hutang?" tanya Bu Ida. "Alaaahh..tau apa kamu soal suamimu. Dari masih muda dia memang kurang ajar kan? Buktinya dia masuk penj*ra sebelum m*ti" kata Ki Reksa dengan nada tinggi. "kalau kau masih ingin sawah itu ada di tanganmu,kau harus membayar hutang suamimu 2 hari lagi. Dan aku sendiri yang akan kesini menagihnya" lanjut Ki Reksa sembari pergi tanpa permisi.
Bu Ida menatap kepergian Ki Reksa dengan pilu. Bagaimana tidak? Setiap panen dia harus membayar hutang suaminya kepada kakak iparnya itu. Bahkan Bu Ida sendiri tidak tahu berapa sebenarnya hutang suaminya yang sudah meninggal itu. Sedangkan sawah yang berada di sebrang desa itu adalah peninggalan almarhum satu-satunya. "pak.. Apa yang sebenarnya terjadi?? Kenapa tak ada pesan sebelum engkau pergi pak??" keluh Bu Ida sambil menangis di dalam kamar.
Lina yang dari tadi hanya terpaku menatap ibu dan pakde'nya bertengkar segera berlari menghampiri ibunya. "Bu.. Ibu yang sabar ya..hasil jualan anyaman kita insya Allah cukup untuk tambahan membayar hutang ke pakde" hibur Lina.
Bu Ida memeluk Lina. Anak satu-satunya yang sekarang menemaninya. Andai kau masih disini Airin,setidaknya ibu jauh lebih kuat daripada sekarang,Batin Bu ida sendu.