Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Api Yin Dao


"Lebih baik aku memeriksa cincin penyimpanan milik mereka, siapa tahu ada beberapa sumber daya yang bisa aku gunakan," ucap Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan tiga cincin ruang.


Wajahnya sedikit berubah melihat isi cincin ruangnya, karena ia masih asing dengan kebanyakan isi cincin ruang selain kristal jiwa serta pill Kultivasi. Namun itu hanya sementara, karena ingatan pengetahuan milik Kamandaka, Sena dan Ying Lian mengartikan semua isi didalam cincin ruang tersebut.


Swuuuuush!


Sekibasan tangan, Lasmana Pandya mengeluarkan puluhan batu langit. Kini ia menunjukan wajah yang bersemangat ketika ia telah mengetahui fungsi batu langit tersebut.


"Mungkin bagi Hong Xiao batu ini sudah tidak berguna, tapi tidak denganku!" Ucap Lasmana Pandya penuh percaya diri kemudian duduk bersila dan menyebarkan batu langit disekitarnya.


Swuuuuuush!


Mengibaskan sekali, Lasmana Pandya membuat segel ilusi untuk mengecoh para penjaga ataupun semua orang yang ada di markas tersebut.


Swoooooosh!


Kultivasi Dewa Pembunuh seketika menyerap secara gila energi yang terkandung didalam batu langit. Dantiannya kini kembali bergejolak saat Lasmana Pandya mengedarkan Kultivasi Dewa Pembunuhnya.


Tak terasa kini waktu beranjak pada malam hari, namun Lasmana Pandya masih menyerap batu langit tersebut. Sedangkan disisi lain, Yue Xong yang menyamar sebagai Bai sedang bercengkerama dengan Komandan Ao, serta Lie.


"Saudara Bai, sebenarnya kami heran dengan tingkah Jendral Xiao, karena seharusnya ia merasa sedih walaupun ia telah berhasil membunuh pembunuh anaknya sendiri," ucap Komandan Ao.


"Saudara, ingatlah apapun yang terjadi, entah kematian, ataupun takdir kita harus menerimanya. Apakah kalian pikir dengan kesedihan Jendral Xiao dapat menghidupkan kembali jasad anaknya?"


"Saudara Bai benar," ucap Komandan Ao, sedangkan Lie mengangguk paham dengan apa yang dijelaskan Bai..


***


"Apa apaan! Aku kira dengan menyerap puluhan batu langit yang katanya berharga bisa menaikan ranah kultivasi dibawah Glory tingkat lima...," Lasmana Pandya merubah wajahnya menjadi cemberut.


Namun karena didalam cincin ruang milik Jendral Xiao masih terdapat puluhan batu langit yang tersisa, Lasmana Pandya memutuskan untuk menyerap semuanya secara langsung.


***


Disisi lain, empat tetua diatas langit sangat tinggi menatap tenda yang didiami oleh Lasmana Pandya dengan tatapan penuh harap.


"Botong gila, kau mengatakan bocah itu yang akan mengalahkan Kaisar Yang Lin?" Tanya Zhi Tao.


"Zhi Tao bodoh tak punya kepala! Gunakan matamu dengan baik baik setelah itu kau boleh mengatakan aku gila jika memang penglihatanku buruk!" Ucap sedikit marah Zhou Botong.


Zhi Tao kemudian menajamkan penglihatannya. Seketika matanya yang sedikit bersinar keemasan tersentak kaget melihat adanya keanehan didalam tubuh Lasmana Pandya.


"Tubuh Keabadian!" Ucapnya.


"Nah itu maksudku, karena itu aku ingin kau menjaganya secara diam diam, aku sangat berharap dia segera menjadi kuat dan mampu mengalahkan Yang Lin, karena saat ini aku sungguh sangat kecewa dengannya," ucap Zhou Botong kemudian menggelengkan kepalanya.


"Pasti, pasti aku akan menjaganya, tapi..." Ucapnya kebingungan.


"Katakanlah," ucap Zhou Botong.


"Sepertinya bocah ini bukan berasal dari Negeri Tirai Bambu ini," ucap Zhi Tao.


"Tebakanmu memang benar, dia berasal dari tanah Jawa."


Zhi Tao terkejut mendengarnya. Kemudian ia mengorek telinganya, karena ia takut salah mendengar apa yang diucapkan oleh Zhou Botong.


"Zhi Tao busuk tak tahu diri! Apakah kamu mengira aku mengada ngada, sebelum dia tiba disini aku sudah mengenalnya terlebih dahulu!" Gerutu Zhou Botong.


"Baiklah baiklah," ucap Zhi Tao.


Ia sendiri tidak menyangka, tipe tubuh Keabadian yang katanya mitos akhirnya terlahir, namun ia tak terlalu berharap bahwa pemilik tubuh Keabadian berasal dari tanah Jawa yang terkenal miskin akan sumber dayanya.


****


Lasmana Pandya membuka matanya. Wajahnya terlihat sangat kecewa menatap debu debu batu langit yang energinya telah ia serap secara total.


"Sepertinya aku benar benar membutuhkan sumber daya yang lebih langka...," Ucapnya pelan.


Swuuuuuush!


Namun tiba tiba ia merasakan aura Yue Xong, Lie, dan Ao mendekat ketendanya, karena itu Lasmana Pandya segera menghilangkan segel ilusi yang telah ia pasang.


"Jendral lapor!" Ucap panik Komandan Ao.


Lasmana Pandya yang menyamar sebagai Hong Xiao keluar dari tendanya menatap ketiga komandan yang terlihat wajahnya pucat pasi.


"Komandan Ao apa yang terjadi," ucap Lasmana Pandya.


"Jendral ini sangat gawat! Dipuncak gunung yang berdekatan dengan kawah mengeluarkan kabut racun yang sangat mematikan, saat ini para prajurit yang berjaga telah tewas." Ucap Komandan Ao panik.


Lasmana Pandya menaikan kedua alisnya, namun setelah itu ia menatap Komandan Ao, Bei, serta Lie secara bergantian.


"Sekarang kalian buatlah segel perisai untuk melindungi markas ini dari kabut racun." Ucap Lasmana Pandya kemudian memiliki rencana.


"Baik Jendral." Ucap mereka kompak sambil memberikan hormat mereka.


Lasmana Pandya mengangguk, namun setelah itu ia akan segera melesat kearah puncak gunung Yin. Namun aksinya dihentikan oleh Ao dan Lie yang panik.


"Jendral, kabut itu sangat berbahaya!" Ucapnya membentak sekaligus memperingati.


Yue Xog wajahnya sedikit memerah melihat majikannya dibentak, namun setelah itu ia ttersadar bahwa ia kini sedang menyamar.


"Tenanglah, kalian tetap bersama. Aku tahu harus berbuat apa," ucap Lasmana Pandya.


Swuuuuush!


Sekali hentakan kaki, Lasmana Pandya melesat keatas langit puncak gunung Yin. Sedangkan Jendral Ao, dan Lei mematung karena Jendral Hong Xiao sangat berani mengambil keputusan.


"Bagaimana ini, aku takut..."


"Saudara lebih baik kita mengikuti perintah Jendral Xiao," ucap Yue Xong memotong yang akhirnya membuat Ao dan Lie menghela napas sejenak.


Sedangkan Lasmana Pandya yang merasa tubuhnya tertusuk ribuan jarum. Tiba tiba terjatuh dari terbangnya saat kabut racun menempel pada tubuhnya.


"Apa apaan ini!" Ucap Lasmana Pandya yang kini merasakan rasa panas disekujur tubuhnya.


"Arrrrrghh!" Lasmana Pandya memekik sambil memegangi tubuhnya sendiri.


Swuuuuuuush!


Namun tiba tiba, Geni Danyang keluar dari tubuhnya menyerap kabut racun tersebut secara cepat. Bahkan Lasmana Pandya kini tidak merasakan rasa sakit dan panas yang ia rasakan tadi.


"..." Terdiam tanpa mengatakan apapun, Lasmana Pandya mencoba memahami keluarnya Geni Danyang yang kini mulai membantunya.


Geni Danyang yang berbentuk seperti bola berukuran kepala manusia biasa kini melayang sambil berputar putar dan terus menyerap kabut racun tersebut secara ekstrem. Perubahan pada warna mulai terlihat, namun itu masih samar samar. Karena kejadian itu, mata Lasmana Pandya berbinar.


"Jika kabut ini racun, tapi terdapat rasa panas didalamnya. Maka..." Ia tidak melanjutkan ucapannya. Namun Geni Danyang langsung berada di depan Lasmana Pandya melindungi serangan kabut racun yang ada didepannya sambil menyerapnya.


"Sepertinya kau tidak sabaran," ucap Lasmana Pandya sambil menahan tawanya.


Geni Danyang hanya merespon dengan cara berputar putar mengelilingi tubuh Lasmana Pandya. Setelah itu, Lasmana Pandya yang merasakan Geni Danyangnya merasa sepemikiran dengannya kini melangkahkan kakinya memasuki kawah didepannya.


Sesampai dimulut kawah, mata Lasmana Pandya melotot melihat sebuah Api Hitam yang memancarkan aura gelap, dan mengeluarkan kabut racun yang pekat mengambang diatas lava dikawah tersebut.


"A-api Yin Dao!" Ucap terkejut Lasmana Pandya yang mengetahui jenis api tersebut karena pengetahuan yang muncul dipikirannya.