Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Kabar buruk


Setibanya di lembah Jun, Zhou Huan membiarkan anggota muridnya membuat kembali kediaman sesuka hati mereka. Disisi lain, Lasmana Pandya berpamitan pada ketiga seniornya untuk kembali ketanah Jawa untuk memberikan penawar kepada gurunya.


Tidak ada yang bisa menghentikan, akhirnya mereka membiarkan Lasmana Pandya pergi kembali ke tanah Jawa. Setibanya diluar lembah Jun.


"Guru aku akan segera kembali," ucap Lasmana Pandya senang kemudian membuat segel teleportasi menuju laut yang berbatasan dengan negerinya sendiri.


Setibanya.


Lasmana Pandya menaikan kedua alisnya melihat banyaknya kapal yang telah singgah di pesisir pantai.


"...." Hanya terdiam, kemudian Lasmana Pandya yang tidak ingin berpikir jauh melesat kearah tanah Jawa.


Ditengah perjalanannya yang tidak menggunakan kekuatan puncak. Di tengah lautan, munculnya pusaran air yang tiba tiba muncul menghentikan terbang Lasmana Pandya.


"Bocah akhirnya kita bertemu lagi," ucap sosok ikan buntel yang sudah tidak sabar siap menyerang dengan duri durinya.


Lasmana Pandya menatap siluman itu dengan santai.


"Kau masih belum kapok juga?" Tanya Lasmana Pandya.


Swuuuuuush!


Tanpa menjawab, siluman itu melesatkan duri duri tajamnya kearah Lasmana Pandya. Namun dengan mudah dengan mengangkat satu jarinya, duri duri itu menjadi abu tanpa siluman itu mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Lasmana Pandya.


"Suasana hatiku sedang baik, jadi lebih baik pergi dari pada kau membuat kacau suasanaku dan hal itu akan membuatmu terbunuh...," Ucap dingin Lasmana Pandya.


"Ciiiih! Sombong!"


Swuuuuuush!


Melesat sambil merubah fisiknya menjadi manusia, siluman buntel itu melesat kearah Lasmana Pandya dengan nafsu membunuh yang sangat tinggi. Melihat hal itu, Lasmana Pandya berdecak kesal atas kebodohan siluman ikan buntel.


Dhuuuuuuuuuaaar!


Dengan santainya, Lasmana Pandya mengangkat tangannya membuat tekanan tubuh siluman terasa sangat berat lalu kecebur dalam air.


Swuuuuush!


Sosok itu muncul dari dalam air kembali melesat, namun tentunya Lasmana Pandya segera menghilang lalu muncul dan melakukan totokan syaraf gerak membuat siluman itu diam mematung.


"Ka-kau jadi sekuat ini ...," Ucapnya sangat tidak menyangka.


"Mungkin kau sudah menyadarinya, tapi itu terlambat!"


Dhuuuuuuuuaar!


"Heeem, lumayan juga setidaknya aku dapat meningkatkan kekuatan tujuh saudara Yue." Gumam Lasmana Pandya meninggalkan tempat itu dan bergerak kearah tanah Jawa dengan kecepatan tak kasat mata.


Setelah kepergian Lasmana Pandya.


"Komandan, bagaimana tuan muda telah mati terbunuh oleh bocah itu," ucap salah satu prajurit laut yang kebingungan.


"Huhh! Kita tidak bisa melakukan apapun saat ini, lagian ini juga kebodohan buntel sialan itu, kabar ini kita simpan dahulu, jika putri telah menyelesaikan pelatihannya kita baru mengabari," Timpal siluman yang disebut komandan.


"Baik."


Lasmana Pandya yang tahu masalah kapan saja terjadi setelah membunuh adik dari putri duyung sengaja mempercepat terbangnya agar tidak ada yang dapat mengejarnya. Bukannya takut, tapi ia lebih memilih mementingkan kondisi gurunya. Karena itu, waktu yang seharusnya ditempuh sebulan kini terasa singkat, karena beberapa jam saja ia telah melihat pesisir tanah Jawa. Namun yang membuat wajahnya tegang melihat banyaknya asap membumbung tinggi diatas langit tiap area ditanah Jawa.


"A-apa yang telah terjadi," gumam Lasmana Pandya kemudian memilih untuk menggunakan gerbang teleportasi untuk tiba di lembah obat lebih cepat.


Swuuuuush! Setibanya.


"I-ini..." Ucap Lasmana Pandya melihatnya banyak mayat dari berbagai murid sekte yang sepertinya telah menyerang lembah obat.


Dari jubahnya, mereka tidak berasal dari tanah Jawa, tapi dari Negeri yang telah menghancurkan semua harapan miliknya sendiri.


Swuuuuush!


Tiba dikediaman utama milik Dewa Obat, Lasmana Pandya mematung melihat guru dan Dewa Obat telah tewas dengan luka pedang yang sama tepat dijantungnya. Beberapa saat, aura pembunuh yang sangat kental setelah membunuh banyaknya Kultivator menyebar membuat guncangan hebat tanah Jawa terjadi. Bahkan laut yang tadinya di lewati oleh Lasmana Pandya menimbulkan ombak besar, gunung gunung ditanah Jawa meletus hebat. Fenomena petir yang menari nari diatas langit pun meramaikan suasana keruh tersebut.


"A-aku akan membunuh siapapun yang telah menyentuh kalian..., Sekte Pedang Lang, Sekte Gurun Dao kalian akan menerima akibatnya." Ucap Lasmana Pandya menggema keseluruh tanah Jawa.


Setelah memberikan sumpahnya, Lasmana Pandya membuat kuburan untuk kedua orang yang menurutnya berjasa baginya. Memberikan penghormatan terakhir dan kembali memberikan sumpahnya, Lasmana Pandya menghilang lalu dengan sekedipan mata muncul tepat di Kerajaan Sangsakerta yang terlihat porak poranda. Wajahnya menegang, nyatanya kerajaannya kembali hancur.


Swuuuuuush!


"Yang Mulia!" Ucap para penduduk yang kini berkumpul dihalaman puncak kerajaan menatap sosok Bumi Arta yang telah tewas dengan siksaan goresan pedang disetiap tubuhnya.


Lasmana Pandya hanya mengangguk, namun sesaat itu ia segera muncul tepat dihadapan Bumi Arta dan merwngkulnya dengan erat.


"Arta..." Ucap Lasmana Pandya menatap para warga kerajaannya yang ternyata menjadi tak sebanyak awal ia membangun kerajaan Sangsakerta saat lalu.


Salah satu warga kemudian menghampiri Lasmana Pandya yang terlihat sangat sedih dan menceritakan hal yang telah terjadi.


Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia meminta maaf atas kelalaiannya yang tidak mengetahui penyerangan yang terjadi. Namun Lasmana Pandya tidak hanya diam saja, ia memberikan sumpahnya dengan darahnya sendiri.


"Aku Pandya, bersumpah akan mencari keadilan bagi penduduk tanah Jawa, dengan ini aku menyatakan akan menjadi seorang pembunuh berdarah dingin untuk membalas apa yang telah terjadi hari ini!" Teriak Lasmana Pandya .