
Dengan mata yang penuh berapi api, Lasmana Pandya menghela napas sejenak. Lalu setelah itu ia dan penduduk Kerajaannya kembali membangun kembali rumah rumah yang telah hancur. Melihat beberapa hanya manusia biasa, Lasmana Pandya yang memiliki sifat adil, dan bijaksana memperkerjakan mereka dengan tugas yang ringan.
Dua hari berlalu, keadaan Kerajaan Sangsakerta mulai membaik. Namun tetap saja untuk memperbaiki semua kerusakan, dengan sedikitnya orang yang tersisa paling lama ia membutuhkan waktu tiga bulan untuk memperbaikinya.
Malam harinya.
"Guru!"
"Nak kedatangan kami hanya untuk menyampaikan pesan terakhir kami, carilah dua sekte yang telah hilang di tanah Jawa ini, jika kau menemukannya, mungkin Yang Lin akan dapat kau kalahkan dengan mudah. Ingatlah mereka sangat berbahaya, karena mereka dapat mengendalikan pikiran, serta darah sesuka mereka," ucap Sena muncul dimimpi Lasmana Pandya.
Setelah kepergian mereka, Lasmana Pandya terbangun dari mimpinya. Wajahnya terlihat memancarkan mata kemerahan yang siapapun dapat mengerti perasaan yang dirasakan oleh Lasmana Pandya.
"Sepertinya aku harus pergi ke perpustakaan sejarah kerajaan," gumam Lasmana Pandya kemudian menuju perpustakaan kerajaan.
Tiga menit kemudian. Lasmana Pandya mencari sejarah lahirnya tanah Jawa. Namun sampai saat ini, ia masih belum menemukannya.
"Apakah ini hanya mimpi karena kerinduanku saja, atau kebenaran," gumam Lasmana Pandya yang telah berjam jam mencari buku yang ia cari namun tidak menemukannya.
Ditengah keputusasaannya mencari buku sejara tanah Jawa, Lasmana Pandya tak sengaja memegang satu buku berjudul babat Jawa.
Jgleeeeeeek!
Dibarengi dengan hal itu, tiba tiba dari balik rak buku muncul portal dimensi yang membuatnya menaikan kedua alisnya.
"Apakah sebelum ayah menjadi raja, raja dahulu memiliki kekuatan setinggi ini," gumam Lasmana Pandya kemudian memberanikan diri memasuki portal dimensi tersebut.
Swuuuuuush!
Tubuhnya lenyap dibarengi dengan hilangnya portal dimensi. Setibanya Lasmana Pandya tiba disebuah tempat kuno yang aneh, banyak ukiran ukiran tulisan kuno yang belum pernah ia baca atau ketahui sama sekali.
"Tempat apa ini," gumam Lasmana Pandya kemudian menghentakan kakinya untuk terbang keatas langit memeriksa keadaan tempat aneh tersebut.
Swuuuuuuung!
Pelindung muncul yang membuat gravitasi tekanan bertambah kuat menghempaskan tubuh Lasmana Pandya menabrak permukaan tanah.
"Sa-sangat kuat!" Ucap Lasmana Pandya kemudian mencoba mengedarkan kesadaran jiwanya, karena tidak mungkin tidak adanya orang selainnya jika ada yang memasang pelindung tersebut.
Karena sekian menit kesadaran jiwanya tidak merasakan apapun, Lasmana Pandya memilih untuk menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menuju tempat yang besar seperti istana didepannya sejauh lima puluh meter.
Satu menit kemudian.
"Kenapa aku masih belum tiba di istana itu, padahal aku melihatnya sangat dekat dengan keberadaan ku," gumam Lasmana Pandya kemudian terus melanjutkan ilmu meringankan tubuhnya, ia juga meningkatkan kecepatannya.
Lima menit berlalu.
"Ini apa apaan!" Ucap Lasmana Pandya kesal kemudian mencoba terbang untuk mempersempit waktu.
Lagi lagi muncul pelindung yang menghempaskan tubuh Lasmana Pandya. Hal itu membuat Lasmana Pandya begitu kesal.
Swuuuuuush!
Tubuhnya memancarkan api yang sangat panas, api itu tak lain Geni Danyang yang telah membakar habis tubuh Lasmana Pandya.
"Hancur!"
Swuuuuuush!
Lima bola api yang terbuat dari Geni Danyang muncul di belakang punggung Lasmana Pandya, setelah itu ledakan maha dahsyat terjadi ditempat tersebut. Yang dibarengi dengan hancurnya pelindung tempat kuno tersebut. Lasmana Pandya hanya bisa mematung.
"Setidaknya pemilik tempat ini memiliki kekuatan puncak," gumam Lasmana Pandya kagum dan menebak bahwa dahulu kala mungkin tanah Jawa layaknya negeri yang ditinggali oleh Yang Lie.
Karena hancurnya pelindung yang melindunginya, Lasmana Pandya akhirnya dapat terbang melesat kearah istana yang berdiri didepannya.
Swuuuuuush! Swuuuuuuush!
Namun tiba tiba, ia harus meningkatkan kewaspadaannya setelah melihat ratusan bola darah menerjang kearahnya.
Dhuuuuuuuuaar! Dhuuuuuar!
Lasmana Pandya menyambut bola darah menggunakan bola apinya. Hal itu membuat ledakan beruntun terjadi, karena ia menebak bahwa bola darah yang melesat kearahnya ulah seseorang, ia menyunggingkan senyum misteriusnya.
"Sepertinya aku dapat mencari petunjuk ditempat kuno ini,"
Swuuuuuush!
Lasmana Pandya kembali terbang kearah istana yang terlihat dekat namun nyatanya sangat jauh jika semakin ia kejar. Ledakan pun terus terjadi saat susulan serangan bola darah lainnya berhasil ia hindari dan menabrak tiang tiang kuno yang terdapat ditempat tersebut.
Satu jam kemudian, Lasmana Pandya dengan nafas terengah engah akhirnya tiba di depan istana yang ternyata sangatlah besar, istana itu juga memancarkan aura yang sangat mengerikan.
Tanpa ingin berlama lama, dan tentunya ia ingin memecahkan misteri tempat itu, Lasmana Pandya segera memasuki istana. Namun setibanya, ia mematung melihat luasnya istana tersebut namun tidak ada satupun manusia yang terlihat.
"Ini aneh," ucap Lasmana Pandya kemudian mengedarkan kesadaran jiwanya.
Namun hasilnya nihil, ia kini tidak menemukan apapun yang dapat ia rasakan. Swuuuuuush!
Akhirnya Lasmana Pandya yang tidak ingin membuang waktunya terbang melesat mencari sebuah petunjuk didalam istana tersebut.
Swuuuuuush!
"Bocah cilik ada apa kau kemari!" Ucap menggema suara kakek tua dari pojok ruangan membuat Lasmana Pandya meningkatkan kewaspadaannya.