
Tiba tiba.
Swuuuuush! Swuuuuush!
Puluhan pemuda melayang dihadapan mereka menatap Lasmana Pandya dan rombongannya dengan tajam.
"Siapa kalian," ucap mereka tenang tapi terlihat tidak ramah.
Kemunculan puluhan pemuda yang terlihat tidak ramah itu membuat Zhou Botong juga kesal.
"Apakah begini cara kalian menyambut tamu dari paman gurumu!" Ucap Zhou Botong meninggi.
Sontak suara Zhou Botong yang mereka kenali menjadi tatapan buruk bagi puluhan pemuda, yang saat ini mereka segera menatap kearah Zhou Botong lalu turun dari atas langit dan segera berlutut.
"Ampun paman guru! Kami tidak mengerti bahwa mereka rekan rekan anda," ucap mereka sedikit gemetaran.
"Hemmp!" Zhou Botong menggembungkan pipinya.
"Senior, sudahlah lagian mereka juga belum mengenal kita, pantas bagi mereka untuk curiga pada kami," ucap ramah Lasmana Pandya membuat para tahanan yang bersamanya mengangguk.
Swuuuuuung!
Disaat tengah pembicaraan, muncul sebuah portal diatas langit yang membuat puluhan murid itu berlutut kearah portal dimensi.
"Hormat pada guru besar!" Ucap mereka kompak.
Lasmana Pandya dengan tenang menatap kemunculan portal dibarengi dengan munculnya pria paruh baya yang mengenakan topeng emas.
"Bangunlah wahai muridku," ucap ramah sosok bertopeng yang kini menatap rombongan Lasmana Pandya dengan sikap tenangnya.
"Senior!" Ucap Lasmana Pandya menangkupkan tinjunya diikuti oleh semua dipihak Lasmana Pandya.
Sosok itu mengangguk, kemudian menatap Pertiwi.
"Dewi," sapa sosok bertopeng itu kemudian turun menghampiri Lasmana Pandya dan Pertiwi.
"Ternyata benar, kamu adalah penyelamatku," ucap Pertiwi hormat.
"Dewi itu sudah tugasku," ucap sosok bertopeng bernama Zhou Huan ramah.
Lasmana Pandya kemudian menjelaskan perihal rombongan yang ia bawa. Zhou Huan yang memang sejalan dengan Lasmana Pandya tentu membiarkan mereka menjadi anggota sektenya. Setelah beberapa saat membahas aturan sekte, para tahanan itu diarahkan untuk mencari tempat tinggal oleh puluhan murid. Kini tersisa Lasmana Pandya, Zhou Botong, Zhi Tao, Zhou Huan, dan Pertiwi.
"Kakak, lebih baik kita bicarakan ditempat yang aman," ucap Zhou Botong.
"Hehehe, baiklah," ucap Zhou Huan membuat segel tangan lalu muncul portal dimensi dihadapan mereka.
Zhou Botong segera memasuki portal dimensi diikuti oleh lainnya. Setelah itu, mereka tiba dipuncak gunung Lijin. Lasmana Pandya terkagum melihat kediaman yang sangat besar berdiri megah diatas puncak gunung.
"Bocah, kulihat kekuatanmu sama dengan kami," ucap Zhou Huan kemudian memasuki kediamannya.
"Senior ini semua hanya keberuntungan saja," ucap Lasmana Pandya merendah.
"Muridku, siapkan arak terbaik yang ada di sekte, jangan lupa beberapa daging bakar kerbau emas yang kemarin aku berikan," ucap Zhou Huan kemudian membiarkan tamunya duduk ditempat yang telah ada.
Setelah itu, Zhou Huan kembali menatap kearah Lasmana Pandya.
"Bocah, apa benar namamu Pandya?" Tanya Zhou Huan memastikan.
"Bocah aku telah mendengar namamu dari Zhou Botong, tadinya aku tidak percaya tapi melihat kekuatanmu saat ini aku baru bisa mempercayainya," ucap Zhou Huan.
Sedangkan Zhi Tao tiba tiba memegangi perutnya sendiri.
"Saudara perutku sakit, sepertinya aku harus ke kamar kecil," ucap Zhi Tao sambil tersenyum.
"Zhao Wei antarkan saudara Tao untuk pergi kekamar kecil," ucap Zhou Huan.
"Saudara itu tidak perlu, aku bisa sendiri," ucap Zhi Tao menolak ramah.
Zhou Huan hanya mengangguk tidak mempermasalahkannya. Setelah kepergian Zhi Tao, Lasmana Pandya menyegel ruangan tersebut. Hal itu membuat semua orang heran dengan tingkah Lasmana Pandya.
"Bocah apa ada yang aneh," ucap Zhou Botong heran.
"Senior sekalian, aku sedikit curiga dengan senior Zhi Tao," ucap Lasmana Pandya jujur.
"Bocah kau jangan memperkeruh suasana, dia Zhi Tao rekanku yang pernah membantuku memperebutkan Yang Lie, tapi sayangnya aku kalah dengan Yang Lin," ucap pelan Zhou Botong membantah.
Lasmana Pandya menggelengkan kepalanya, kemudian ia menatap para seniornya dengan serius.
"Apakah kalian sadar, sejak awal saat aku membebaskan tahanan, dan saat senior mengatakan bahwa kakak anda memiliki sekte tersembunyi? Bukankah dia terkejut? Meskipun hal itu tidak masuk hitungan dalam pekerjaan seorang mata mata, tapi apa ada seorang mata mata yang mengatakan dirinya sendiri?"
Semua orang terdiam.
"Dan lagi senior, bukankah dia pertama kali berada ditempat ini? Kenapa dia sangat percaya diri tahu tata letak kamar kecil di tempat ini?"
Semua orang mengangguk mengerti, Zhou Huan menatap Zhou Botong dengan serius.
"Zhou Botong, sepertinya benar apa yang dikatakan bocah ini," ucap Zhou Huan.
Sesaat setelah membahas Zhi Tao, Lasmana Pandya menanyakan keberadaan Lembah Racun kediaman milik Dewa Racun.
"Bocah apakah kau akan membunuhnya?" Tanya Zhou Botong.
"Senior, saat ini guruku memerlukan penawar untuk dirinya. Apakah aku harus membiarkan guruku sendiri mati dengan penyiksaan racun yang hanya dimiliki oleh Dewa racun?"
"Aku tahu kekacauan besar akan terjadi, kematian Cheng saja menurutku itu sudah membuat pukulan telak bagi kubu Yang Lin," ucap Zhou Botong membuat Zhou Huan yang mendengar pernyataan itu terkejut setengah mati.
"Haaa! Siapa yang telah membunuh Cheng?" Tanya Zhou Huan terkejut.
Semua mata teralih pada Lasmana Pandya.
"Bocah kau membunuhnya?" Tanya Zhou Huan.
"Benar senior," ucap Lasmana Pandya jujur.
"Kekacauan benar benar akan terjadi, kabar ini pasti akan meluas ketiap Kekaisaran Negeri ini," ucap Zhao Huan merenungkan kekacauan yang akan segera terjadi.
"Bocah apakah kamu sudah memikirkan rencana untuk membunuh Dewa Racun?" Tanya Zhou Botong.
"Senior aku akan tetap membunuhnya, meskipun jika aku kalah dengannya, aku akan melakukan apapun agar dia ikut mati denganku," ucap serius Lasmana Pandya.
"Jika begitu aku akan membantumu, karena bagaimanapun keberadaannya saat ini berada di wilayah kekuasaannya sendiri," ucap Zhou Botong serius.
"Senior itu tidak perlu, karena ini masalah pribadiku, tapi jika senior membantuku mencari keberadaan Lembah Racun maka aku tidak keberatan."