
"Sangat kuat! Bahkan aku sendiri tidak bisa bergerak sama sekali dihadapan kekuatan puncak!" Ucap dalam hati Lasmana Pandya yang tubuhnya membiarkan terhisap kearah Jendral Cheng.
Setibanya dihadapan Jendral Cheng, Jendral Cheng yang ingin menyiksa Lasmana Pandya tiba tiba mengkerutkan wajahnya.
"Kekuatan ini menolak untuk kutelusuri ingatannya," ucapnya heran.
"Bocah aku rasa kau bukanlah salah satu tahanan, bagaimana kau bisa memasuki tempat ini dan membuat kekacauan seenak jidatmu," ucap Jendral Cheng menatap tajam Lasmana Pandya digenggamannya.
"Apakah aku perlu memberitahumu," ucap Lasmana Pandya mencoba melepaskan kekuatannya. Namun tetap saja, semua usahanya sia sia.
Traaaaaack! Traaaaack!
Petir kecil berwarna hitam keemasan menari nari di tangan kanan Jendral Cheng. Jendral Cheng yang ingin mengetahui jawabannya berusaha mengintimidasi.
"Huh! Percuma saja kau mengancamku dengan menggunakan petir rendahanmu itu!" Ucap Lasmana Pandya.
"Baj*ngan kau meremehkan petirku!" Teriak Jendral Cheng melepaskan tinjunya kearah Lasmana Pandya.
Dhuuuuuuuuaaaar!
Ledakan yang maha dahsyat terjadi membuat Lasmana Pandya terpental sangat deras kearah permukaaan tanah.
"Tuan muda," para tahanan bergumam panik.
Debu yang berterbangan disekitar kawah bekas tabrakannya Lasmana Pandya dengan permukaan tanah terus menyebar. Lasmana Pandya yang terluka parah mencoba bangkit, namun hal itu sulit dilakukan olehnya. Hingga tiba tiba, tubuhnya menyerap sisa energi petir yang masih menempel ditubuhnya.
Energi petir itu terserap memasuki kedantiannya. Sehingga Lasmana Pandya merasa heran, lukanya kini mulai pulih namun tetap saja tubuhnya masih merasa nyeri. Satu menit kemudian debu menghilang, memunculkan sosok Lasmana Pandya yang telah berdiri tegak sambil memegangi dadanya sendiri.
"Hanya petir kecil, apakah menurutmu aku akan mati begitu saja!" Suara Lasmana Pandya menggelegar.
"Aaah!" Jendral Cheng menganga.
"Seharusnya dia meledak dengan pukulan lima puluh persen dari kekuatanku, ini...." Ucapnya tercekat.
Namun setelah itu, Jendral Cheng yang mungkin mengira ada kesalahan dalam tinjunya kembali memborbardir dengan mengggunakan elemen petirnya.
Dhuuuuuaar! Dhuuuuuaar!
Petir menggelegar diatas langit dan kemudian merobek celah dimensi alam buatan itu lalu meluncur deras kearah Lasmana Pandya. Tidak hanya satu, petir petir besar terus menggelegar dan meelesat kearah Lasmana Pandya secara beruntun.
Lasmana Pandya yang menemukan kelebihan didalam tubuhnya kemudian memejamkan matanya. Kini kematian dan hidupnya ia pasrahkan pada takdir. Satu sengatan petir, mampu membuatnya jatuh berlutut, rasa kebas seluruh tubuh.
Diatas langit, tentunya Jendral Cheng melototkan matanya melihat bocah itu dengan sengaja membiarkan tubuhnya terkena petir besar miliknya.
"Bo-bocah ini..." Ucap Jendral Cheng tidak menyangka.
Ledakan dahsyat terus bersyahut syahutan, bahkan kawah yang tadinya sebesar dua meter telah melebar hingga dua puluh meter. Para tahanan yang berada dekat dengan Lasmana Pandya memilih untuk menyingkir dari pada meledak menjadi kabut darah.
Hingga keseratus kali petir menyambar, Lasmana Pandya akhirnya terbiasa dengan perasaan kebas yang tidak mungkin bagi orang lain dapat bertahan sepertinya saat ini. Darah wangi menyebar kesegala penjuru dunia itu mengejutkan Jendral Cheng dan para prajuritnya.
"Tingkat puncak!" Ucap mereka kagum.
Senyum penuh kegembiraan Jendral Cheng perlihatkan. Karena Kultivator puncak tidak semuanya memiliki kualitas darah yang berada dipuncak. Maka dengan menyerap darah milik Lasmana Pandya, kualitas darah milik Jendral Cheng akan berada dipuncak.
"Hehehehe! Darahmu akan menjadi milikku!" Ucap Jendral Cheng kemudian mengumpulkan seluruh energinya kearah telapak tangannya.
Petir petir kecil menari nari disetiap sudut tangan, hingga kini menyebar ketubuhnya. Tadinya yang hanya menggunakan lima puluh persen kekuatannya. Ia meningkatkan hingga kekuatan puncaknya.
Sedangkan Lasmana Pandya yang merasakan tanda tanda akan naik tingkat menaikan kedua alisnya saat energi milik Jendral Cheng bertambah besar.
"Apakah aku mampu menerima serangan ini...," Ucapnya serius.
Traaaaaaaack! Swuuuuuuuuuush!
Petir kecil membentuk menjadi teratai berukuran kepalan tangan. Meskipun kecil, Lasmana Pandya tahu bahwa bentuknya tidaklah sebesar dahsyatnya ledakan yang akan terjadi. Karena itu, armor Geni Danyang bersinar lebih terang dari sebelumnya.
"Aauuuuuuu!"
Ditengah tengah lesatan teratai petir kearah Lasmana Pandya. Lolongan hewan iblis menggema dan langit bergetar dibarengi dengan robeknya celah dimensi dunia buatan tersebut.
"Bocah..." Ucap Pertiwi melesat dan hendak menerima lesatan teratai petir yang sangat cepat. Namun sayangnya kecepatannya tidak mampu tiba tepat memblokir teratai petir itu. Hingga ledakan yang maha dahsyat terjadi.
Dhuuuuuuuuaaaar!
Ledakan itu membuat pepohonan yang tumbuh musnah hanya dengan beberapa detik. Pertiwi yang menduga Lasmana Pandya tidak akan bisa menahan daya ledak jurus mengerikan itu mengeratkan rahangnya. Matanya memerah seperti wanita iblis yang telah murka.
"Jendral Cheng, waktu lalu aku tidak membunuhmu karena Yang Lin menolongmu, tapi saat ini bahkan Yang Lin datang, tidak ada satupun Kultivator puncak yang dapat menyelamatkanmu!"
Swuuuuuuung!
Muncul lingkaran dibelakang Pertiwi. Rambut hitamnya berubah menjadi putih, sosok Pertiwi yang cantik dan lembut kini terlihat seperti Dewi Kematian yang ingin mengambil nyawa seseorang.
"Pertiwi..." Ucap terkejut Jendral Cheng.
***
Disisi lain, Lasmana Pandya yang tiba tiba tak sadarkan diri saat teratai petir menyentuh tubuhnya kini berada di dunia aneh.
"Bocah! Apakah kau tidak mengindahkan kata kataku, kau kira aku tidak bisa menolongmu!" Ucap Iblis hati kesal dengan Lasmana Pandya.
"Oooh ternyata itu kau..." Ucap Lasmana Pandya tenang.
"Ehhh apakah aku sudah mati?" Tanya Lasmana Pandya lagi.
"Mati? Hahahaha bocah bodoh! Tentu belum, saat ini kita berada dialam Yin dan Yang," ucap Iblis Hati.
"Yin dan Yang?" Tanya heran Lasmana Pandya.
"Benar karena kau berhasil naik tingkat! Maka kau memiliki alam Yin dan Yang didalam tubuhmu!" Balas Iblis Hati.
Sebuah pikiran terlintas dipikirannya tentang alam Yin dan Yang. Sontak ingatan itu membuatnya ingin segera keluar didalam alam Yin dan Yang.
"Hei bocah kau ingin kemana!" Ucap kesal Iblis hati yang melihat Lasmana Pandya akan pergi.
"Kembali bertarung dan membunuhnya!" Ucap Lasmana Pandya melesat menuju celah cahaya emas yang tak lain jalan keluar menuju kesadarannya.
"Heeeemp! Bocah bodoh!"
Swuuuuuush!
Iblis hati melesat menyusul Lasmana Pandya dengan sangat cepat. Seetelah itu ia menarik kaki Lasmana Pandya dan melemparkannya ketempat semula.
"Kau..." Ucap Lasmana Pandya tercekat.
"Hei kau tidak perlu seperti itu, jika kau keluar saat ini kenaikan tingkatmu akan meledakan tubuhmu, karena kenaikan ini kamu harus melewati tantangan," ucap serius iblis hati.
"Jangan kau coba untuk mengendalikan tubuhku," ucap datar Lasmana Pandya.
"Baik aku akan percaya padamu saat ini, jelaskan padaku." Ucap ketus Lasmana Pandya.