
Dengan wajah lesu Celia langkahkan kaki nya secara perlahan, wajah nya cukup menunjukan bahwa perasaan buruk menghingapi perasaan nya di kala takdir tengah bermain.
Otak nya terasa ingin pecah buyar dan meledak, membuktikan bahwa ia benar-benar akan gila jika terus berpikir mengenai calon suami nya.
Tadi, Celia tak sengaja mendengar percakapan maid antar maid yang mengatakan bahwa, calon suami nya adalah gay, sungguh gila bukan?
Bahkan sudah menjadi rahasia umum bagi khalayak masyarakat.
Desas-desus mengatakan bahwa, Kendrick sering sekali keluar kencan bersama pria, apalagi dengan kasus yang mengatakan bahwa Kendrick sangat anti dengan wanita, bahkan tak pernah di kabarkan jika lelaki tersebut memiliki kekasih lawan jenis selama hidupnya.
Berterus terang saja, Celia merasa jika Kendrick memang masuk kedalam type nya, tampang lumayan, lekukan badan membentuk sempurna, pekerjaan sudah menjamin, anak tunggal dari keluarga kaya raya.
Namun memang di balik kesempurnaan harus ada kekurangan, apakah Celia harus memaklumi jika Kendrick memang gay?
Celia gila jika harus memaklumi ketidak-normalan seksual itu! Damn perfect!
Namun desas-desus isu tersebut, membuat Celia bimbang untuk melangkah maju, mundur, atau memilih jalan lain?
Celia menghentikan langkah nya, mata nya membulat sempurna saat ia mengingat, gay!?
Berdasarkan riset yang ia selalu lakukan, biasa nya gay memiliki tubuh membahana, dan mampu membuat rahim hangat, 'kata nya'
Dengan perlahan, Celia membuka pintu kamar menatap sekitar lantas ia menghela nafas kecil,"Eh? Di mana headphone ku?" Tanya Celia pada diri nya sendiri. Mengerutkan kening binggung.
Pandangan Celia jatuh pada headphone nya yang tengah berada di atas ranjang, segera saja Celia bergegas merangkak untuk mengambil headphone milik nya, bermaksud untuk mengabari seseorang.
Kaki jenjang Celia sedikit menekuk luruh, secara spontan Celia langsung terduduk keranjang dengan tangan yang masih mengotak-atik headphone dengan pandangan fokus.
Celia menekan tombol memanggil, ia sedikit mengerutkan kening nya ketika Celia rasa ada sesuatu yang kurang,"Ah... Ya, aku melupakan sesuatu." Ujar nya pelan.
Tubuh Celia merayap membuka laci yang berada di bawah nakas, ia menarik hingga ujung lalu di tatap nya dengan lama, hingga Celia sadar yang ia cari ternyata terpampang di pojok paling dalam.
Sontak tangan Celia segara mengambil benda pipih berwarna putih, yang tak lain headset bluetooth milik nya, kembali ke posisi semula dan pandangan nya kini jatuh pada headphone milik nya lagi, sedikit heran, mengapa orang yang ia telpon belum mengangkat panggilan nya.
Tak ingin berfikir terus menerus, akhirnya Celia segera mengeluarkan dua buah headset dengan warna putih, lalu ia menghidupkan headset bluetooth tak lupa sebelum itu Celia juga menghidupkan bluetooth headphone nya.
Terlihat panggilan terangkat, Celia tersenyum senang, ia mengerahkan tangan nya untuk memasang headset itu di kedua telinga nya.
"Celia ada apa?" Ucap seseorang perempuan dengan intonasi lembut. Dia adalah Disya Cronus Leorio, seorang wanita cantik yang bermartabat sebagai sahabat kecil Celia.
Helaan napas terdengar, "Apakah kita tidak bisa video call saja?" Jawab Celia dengan nada rendah, izinkan Celia berteriak bahwa ia sangat merindukan sahabat kecil nakal nya ini.
Di seberang sana, Disya terkekeh pelan, "Wajah ku belum pulih sepenuh nya." Jika berkata jujur Disya juga merindukan sahabat kecil nya itu, namun keadaan lah yang memaksa agar dia tak gegabah untuk menunjukkan wajah yang tengah rusak.
"Dua tahun sudah sangat lama! Apa kau tak merindukan kekasih mu itu?"
Disya berdecak kesal, "Aku sudah tidak mencintai nya, come on, dia sudah menganggap ku tiada." Ujar nya dengan nada bicara ketus, tak lupa mata yang tengah merotasi tak suka.
"Serius? Kau tak kasihan dengan lelaki itu yang menggila hebat karena kepergian mu?" Tanya Celia heran, menggelengkan kepala tak percaya.