
Malam hari yang sangat dingin namun terkesan indah, terlihat begitu gelap gulita tanpa ada penerangan sinar membelit mata.
Matahari telah terbenam jauh tak menampakan fajar kembali, sekarang giliran bulan lah yang memantulkan cahaya matahari untuk menghiasi dinding langit, serta menjadi teman malam.
Suasana begitu ricuh dengan suara musik yang begitu nyaman di dengar, tidak terlalu mengusik.
Banyak wanita mau pun pria bergoyang-goyang tak jelas namun mengikuti irama nada musik, ada pula beberapa orang yang hanya duduk manis menyaksikan serta menikmati suasana.
Entah bermaksud menjual diri, mencari kesenangan semata dengan, meminum-minuman yang memiliki alkohol kadar tinggi, atau malah menenangkan diri sendiri.
Maksud setiap orang mendatangi tempat penuh dosa tentu nya memiliki perbedaan sendiri.
Club malam dengan nama Grand Literally, bangunan megah dan mewah, di isi oleh kebanyakan para pendosa, lebih jelas nya lagi bangunan megah tersebut hanya mampu di isi oleh orang-orang mampu.
Bangunan dengan lima lantai dan setiap lantai memiliki harga yang bahkan tak masuk akal. Semakin tinggi lantai yang di pesan, maka semakin besar pula harga sewa nya.
Di lantai lima terdapat meja bundar dan di isi beberapa kursi, di tengah-tengah ada sebuah bir anggur dengan warna merah- keungguan dan tentu nya ada gelas yang menjadi wadah, melingkar pula.
"Aku akan kembali ke Negara Y." Ujar seorang dengan paras yang sangat tampan, lelaki itu mengetuk meja beberapa kali mengunakan jari telunjuk nya menandakan jika dia sedikit bosan.
Sedikit ciri-ciri, lelaki tampan itu bertubuh tinggi, lekukan badan nya mempesona dengan tinggi semampai, badan berotot, rambut hitam acak-acakan dan bola mata hitam serta berkulit putih cerah. Dia bernama, Bryan Reich Maria Hernandez.
"Ah? Apakah secepat itu?" Jawab seorang lelaki yang berada di samping kursi yang di duduki Bryan.
Dia bernama Dareen Kristian Fisnatoon Moore, lelaki yang tak kalah tampan dari Bryan. Dia adalah pengusaha muda yang sukses dalam dunia tambang.
"Pergi, kau hanya beban." Celetuk seorang lelaki berwajah cuek, nada bicara nya terdengar tegas, untuk kepribadian nya lelaki itu bersifat dingin, kesal jika ketenangan nya di ganggu. Dia bernama Louis Gibrani Michelle.
"Aku beban? Cih, bahkan aku menyumbangkan banyak uang untuk membangun infrastruktur Negara X!" Ujar Bryan dengan ekspresi kesal, mengacungkan jari tengah nya pada Louis.
"Kapan Kendrick dan Zico datang? Aku sudah tak sabar ingin minum." Dareen menimpali dengan suara sedikit serak, mata nya menatap kunang-kunang bir yang masih tersegel.
"Permisi tuan." Seorang wanita datang menghampiri meja yang di tempati Bryan, Louis, dan, Dareen, wanita itu tersenyum ramah, "Silakan melakukan pembayaran."
"Cih, kesini untuk menagih." Cibir Bryan menatap pelayan itu tak kalah sengit.
"BRYAN!" Tegas Louis memekik pelan. Dia segera mengambil kartu hitam lalu memberikan pada pelayan wanita itu.
"Baik-baik, ini aku berikan cek saj-" Sebelum Dareen menyelesaikannya ucapan nya terdengar jika wanita itu langsung menghentikan ucapan Dareen.
"Ah.. Maaf tuan-tuan, seperti nya meja ini sudah di bayar, sekira nya untuk lima orang, maaf jika saya menganggu, jika pun saya tau jika meja ini telah di beli maka saya tidak akan menganggu tuan-tuan, sekali lagi mohon maaf, selamat menikmati." Ujar nya mengembalikannya kartu Louis lalu memberikan bow dan segera pergi dari hadapan mereka.
Pelayan itu seperti nya gugup, merasa bersalah dengan kesalahan yang dia perbuat, untung saja teman pelayan nya datang memberikan dia label dan di sana lah dia paham bahwa meja itu telah di bayar.
"Siapa yang membayar?" Tanya Bryan heran.
Louis mengangkat bahu acuh, menandakan jika dia juga tak tau siapa orang yang sudah membayar meja mereka. Siapa juga yang peduli?
"Mungkin saja Kendrick atau Zico?" Celetuk Dareen mengingat hanya Kendrick yang belum datang untuk berkumpul. Namun muncul keraguan saat ia menyebut nama Zico.
"Oh? Bukan Zico?" Tanya Bryan pada Dareen.
"Ck, bisa saja, tapi dia hanya sekertaris pribadi Louis." Seru Dareen kembali mengingat jika lelaki yang di ketahui bernama Zico adalah seseorang yang memiliki berprofesi sebagai sekretaris pribadi Louis.
"Gaji nya dalam satu bulan, 100 juta dude, sangat mungkin jika dia yang membayar, lagi pula dia tidak semiskin itu." Ucap Bryan sembari menghela nafas kecil.
Tiba-tiba datang lah dua lelaki tampan, dia adalah Kendrick dan Zico.
Zico Wiliams Jefferson adalah lelaki dengan pewakan tinggi dan tubuh ideal, dia tentu nya dekat dengan Kendrick, Louis, Dareen, atau pun Bryan, bahkan mereka berlima menganggap jika mereka adalah keluarga. Zico sendiri adalah sekertaris pribadi dari Louis.
"Ahh lama sekali kau ini!" Ketus Bryan menatap Kendrick dan Zico sinis.
"Sorry, pekerjaan ku menumpuk banyak!" Ujar Kendrick sedikit tersenyum hambar, ia segera melangkahkan kaki nya untuk duduk di samping kanan kursi yang Louis duduki.
"Zico, kau datang? Ku kira tidak akan datang." Ucap Dareen menarik tangan Zico agar duduk di samping kursi nya.
"Tentu saja aku datang, lagi pula pekerjaan ku sudah selesai." Jawab Zico pelan, dia menurut untuk duduk di samping kursi Dareen.
Setelah Zico menyelesaikan ucapan nya, terlihat Louis mendogok menatap Zico,"Syukur lah, seperti nya Tuhan Memberkati, lalu apakah ada sesuatu sampai-sampai saham perusahaan Drajot'Crop menurun 0.2%?" Tanya Louis pada Zico.
Zico menghela nafas kasar, ia menatap balik Louis jujur dia paham maksud perkataan Louis yang mengarah pada pekerjaan yang lelaki itu berikan untuk nya.
"Ya, ada beberapa orang kurang ajar yang memainkan saham, akan tetapi tenang saja, para manusia tersebut sudah aku singkirkan." Jawab Zico seandainya.