
"Kalian mau ke mana?" tanya Andreas saat tiba di kediaman Dirga.
"Mau ke rumah sakit untuk periksa kandungan Kinara! Kamu mau ikut?" ajak Dirga membuat Andreas termangu.
Seolah ada sesuatu yang mencubit hatinya di kala mendengar ucapan Dirga. Dia teringat akan masa lalunya saat bersama Kinara dulu.
Dia tak pernah memperdulikan kehamilan Kinara. Bahkan, untuk mengajak wanita itu melakukan pemeriksaan kandungan pun tidak.
Rasa bersalah dan penyesalan kembali menghantam otak dan hatinya. Bagaimana bisa dia menjadi pria sekejam itu di masa lalu.
Andreas mengeratkan gendongan Vino. Pria tampan itu mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil anak yang sempat di abaikan nya dulu.
"Kamu mau ikut?" tanya Dirga sekali lagi membuat Andreas tersadar.
Pria tampan itu mengangguk kepalanya pelan. Dia ingin ke rumah sakit, setidaknya dia bisa melihat bagaimana kebahagiaan Dirga saat melihat calon bayinya dan Kinara tumbuh.
"Ya sudah, kalau gitu kita pergi sekarang!"
*
*
*
Di tempat lain,
"Kenapa gak beli mobil baru, sih? Mobil kamu ini udah out model nya. Sekarang gak model lagi mobil sedan yang beginian! Sekarang jamannya BMW, Lamborghini, Bugatti dan masih banyak lagi mobil bagus untuk anak-anak muda!"
Aluna menggerutu kesal dalam mobil Vero. Wanita cantik itu merasa kepanasan karena mobil Vero tak memiliki AC. Dia tak habis pikir bagaimana bisa orang setampan Vero naik mobil butut.
Vero yang mendengarnya pun memutar bola matanya malas. Pria tampan itu merasa sangat geram karena sedari tadi Aluna tak berhenti mengoceh.
"Aku heran, apa yang di makan mendiang ibu mu saat mengandung mu dulu? Bagaimana bisa kamu punya mulut yang sebelas dua belas dengan mulut bebek angsa. Dari tadi gak berhenti kamu mengoceh seperti bapak-bapak yang kurang jatah malam!" ujar Vero yang tak sanggup lagi memendam kekesalannya.
Mereka hampir tiba di rumah sakit. Perjalanan dari kampung menuju rumah sakit kota memakan waktu hampir dua jam, dan selama dua jam itu Aluna tak berhenti mengoceh dan mengeluhkan tentang mobilnya.
Andai saat ini dia miliki lakban maka dengan senang hati Vero melakban mulut Aluna agar wanita cantik itu tak berhenti mengoceh.
Bisa budeg telinga Vero bila Aluna Tek berhenti mengoceh.
"Jatah malam bapak-bapak? Apa maksud mu?" tanya Aluna tak mengerti menatap lekat wajah tampan Vero dari arah samping.
"Jatah malam! Masa kamu gak tahu? Padahal kamu ini janda loh, lebih berpengalaman!" Vero melirik ke arah Aluna sesekali
Wanita cantik itu benar-benar tak paham apa maksud dari jatah malam yang di katakan oleh Vero tadi.
Otak kecilnya tak mampu menangkap maksud dari perkataan ambigu itu.
"Auchh … kenapa kamu suka kali cubitin aku sih? Mana cubitan nya macam cubitan kepiting lagi!"
"Makanya cepat katakan apa maksud dari jatah malam bapak-bapak!" desak Aluna tak sabar.
"Okey, aku jawab! Donat kalau tengahnya di masukin batang tebu jadi apa?" tanya Vero serius seraya terus mengemudi.
"Jadi makanan," jawab Aluna ragu.
"Salah! Jadi anak!" balas Vero membuat mata Aluna terbelalak.
Wanita cantik itu baru paham maksud dari perkataan Vero.
Plak.
"Dasar mesyum!" teriak Aluna memukul kepala Vero kesal.
**Bersambung.
Kita iklan dulu ya ...
kali ini author punya rekomendasi cerita yang bagus dari author kece skysal. Ini author kasih spoiler nya🥰**
Judul : Makmum Pilihan Micheal Emerson
Penulis : SkySal
Cuplikan...
"Lora Micheal, jika Om boleh bertanya, apakah kamu memang ingin meminang Zenwa sejak dulu?" tanya Abi Hamka kemudian karena ia pun ingin tahu perasaan Micheal yang sebenarnya.
"Bukankah Rasulullah bersabda 'Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.' (HR Bukhari Nomor 5090, Muslim 1466). Aku melihat Zenwa memiliki ke 4 kriteria itu, jadi aku yakin dengan pilihanku dan itu sesuai ajaran Rasulullah." jawaban Micheal tak bisa lagi membuat Abi Hamka berkata-kata, sebagai seorang ayah, ia pun ingin pasangan yang baik untuk putrinya dan Micheal pun memiliki ke empat kriteria yang sesuai dengan anjuran Rasulullah.
"In Shaa Allah, Nak. Semoga Zenwa bisa menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak," tukas Abi Hamka yang membuat Micheal hanya bisa tersenyum tipis.
Sementara Zenwa, ia sudah bersiap menemui Micheal dan ia pun mendengar jawaban Micheal atas pertanyaan ayahnya, namun entah kenapa Zenwa tetap tidak puas dengan jawaban itu. Zenwa pun melangkah pelan mendekati sang ayah dan kemudian ia duduk di samping ayahnya.
Walaupun Zenwa sempat kesal karena Micheal tadi, Zenwa tetap merasa malu saat berhadapan langsung dengan Micheal dan ia pun menunduk dalam. Pakaian Zenwa pun sudah berganti, ia mengenakan gamis syar'i berwarna biru dengan hijab lebar yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Assalamualaikum, Zenwa." Micheal berucap dengan suara yang terasa berat.
"Waalaikum salam," jawab Zenwa dengan suara tegas namun tetap rendah.