
Kepoin novel terbaru author yuk
"Jangan melamun. Fokus pada acara pernikahan kita!" desis Xavier dingin di dekat telinga Alena.
Gadis itu tersadar dari lamunan panjang. Tadinya Alena sedang mengingat kejadian seminggu yang lalu. Di mana dia memergoki kekasihnya tidur bersama sahabatnya.
Namun, suara dingin Xavier; pria yang berstatus suami sah Alena menegur gadis itu. Alena menelan ludah kasar saat melihat wajah Xavier muram.
Suaminya memiliki wajah tampan blasteran Indonesia-Belanda. Xavier adalah pemuda sukses yang punya latar belakang bangsawan. Kehidupannya begitu sempurna, sebelum musibah besar menimpa Xavier.
Akibat kecelakaan tunggal, Xavier mengalami kelumpuhan sementara. Sudah setahun pria itu tak bisa berjalan. Dulu sikap Xavier sangatlah ramah dan hangat, akan tetapi, pasca kecelakaan. Sikap pria itu berubah total, dia sering mengamuk. Kejam dan dingin.
Xavier sengaja menikahi Alena agar gadis itu mau mengandung anaknya. Dia butuh pewaris agar harta Xavier tidak direbut oleh walinya.
"Saya tahu kalau saya tampan," cetus Xavier dingin membuat Alena menggerutu dalam hati.
"Narsis," sindir Alena pelan.
Pria itu langsung menatapnya tajam. Bulu kuduk Alena berdiri saat menyadari Xavier menatap tajam dirinya.
"Jaga tutur bahasamu. Kamu tidak lebih dari gadis perawan yang saya sewa jasanya untuk melahirkan keturunan buat saya. Andai kita tinggal di Belanda, mungkin saya tidak sudi menikah gadis kecil berdada rata sepertimu!" hina Xavier kejam dengan mulut pedasnya.
Alena mengepalkan tangannya erat. Sang ayah telah mewanti-wanti agar Alena sabar dan bisa mengontrol emosinya bila berhadapan dengan Xavier, karena mulut pria itu lebih tajam dari pada pedang. Lebih pedas dari pada cabe setan.
Oh Tuhan … lihatlah wajahnya yang sangat tampan tak tercela. Namun, mengapa lisannya sangat mudah mencela?
"Tuhan memang adil. Dia memberikan sebagian hamba-Nya wajah yang rupawan. Untuk menutupi mulut mereka yang terlampau busuk!" maki Alena tak kalah pedas.
Xavier melebarkan bola matanya. Seumur hidup baru kali ini ada orang yang berani membantah perintahnya. Terlebih lagi orang itu berani menghina dirinya.
Gadis kecil ini, entah punya berapa nyawa dia. Hingga berani membalas perkataan Xavier.
Tak tahu saja pria itu kalau Alena punya kesabaran yang setipis tisu. Dia bukan gadis lemah. Alena adalah gadis kaya yang dibesarkan dengan uang, kasih sayang, pujian dan pendidikan. Itulah sebabnya gadis itu tumbuh menjadi sosok pemberani, ambisius, egois dan baik.
Dia yang terbiasa dipuji oleh keluarganya. Tak suka dihina oleh Xavier.
"Benar, kamu adalah contohnya," sergah Xavier datar.
Alena mengerucutkan bibirnya. Dia mengepalkan tangannya erat lalu menatap tajam Xavier.
"Oh Tuhan … ingin sekali ku hancurkan wajahnya," pekik Alena dalam hati.
*
*
Acara resepsi pernikahan telah usai. Alena merasa lelah, tubuhnya pegal-pegal. Jujur saja saat memasuki kamar pengantin gadis itu tersipu melihat ranjang pengantin yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar lalu dibentuk love.
"Syukurlah dia belum masuk. Itu artinya aku bisa mandi sekarang," gumam Alena tersenyum cerah.
Segera dia membuka gaun pengantinnya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri.
Rambutnya juga basah. Xavier sengaja membersihkan diri di kamar lain agar Alena nyaman membersihkan diri.
"Huff … semoga saja malam ini aku berhasil memasukinya," gumam Xavier pelan.
Pria dingin itu selalu rapuh bila sedang sendiri. Wajah dingin, sorot mata yang tajam hanyalah topeng belaka. Dia bersikap demikian guna menutupi kesedihannya.
Xavier tidak ingin dinilai lemah oleh orang-orang.
"Aagh …!"
Xavier tersentak kaget saat mendengar suara jeritan wanita. Dia menoleh ke kanan dan ternyata Alena yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang menutupi aset pribadinya.
"Kamu ngapain di sini? Bu-bukannya tadi kamu di luar?" tanya Alena dengan suara terbata-bata.
Gadis mudah itu amatlah gugup mendapati Xavier berada di dalam kamar.
Raut wajah Xavier begitu sulit ditebak. Dia hanya menahan datar Alena.
"Kemarilah! Saya ingin mencicipi tubuhmu!" titah Xavier angkuh membuat Alena tersinggung.
"Tidak mau! Kamu kira aku gadis murahan, huh?!" sentak Alena lupa bila dirinya telah sah menjadi istri Xavier.
Raut wajah Xavier berubah suram.
"Mungkin kamu lupa. Kalau kita telah sah menjadi suami istri. Lalu, bila saya ingin mencicipi tubuhmu itu telah sah dan halal."
Xavier berkata dengan nada tegas dan dingin membuat Alena tersadar akan hubungan mereka berdua.
Namun, dia belum juga beranjak dari posisinya. Hal itu memancing amarah Xavier.
"Baiklah kalau kamu tidak mau. Saya akan mengurus surat perceraian kita malam ini juga. Keluargamu masih di bawah, jadi kamu bisa pulang dengan mereka. Dan satu hal yang harus kamu ingat! Saya juga akan menarik semua suntikan dana yang sudah saya berikan ke perusahaan ayah kamu, karena kamu telah menyalahi kontrak!" ancam Xavier tak main-main.
Pria itu mengambil gawainya dan langsung menghubungi seseorang.
"Kevin, tarik seluruh …."
Ucapan Xavier menggantung ketika melihat Alena sudah berdiri di hadapannya dengan tubuh polos.
"Tubuhku milikmu," cicit Alena pelan.
*
*
Yuhuu ... Xavier kejam bener ya guys 🤭🤭 tapi dia ganteng loh.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating lima yah kakak
Salem Aneuk Nanggroe Aceh