Anak Polisi

Anak Polisi
Polan kecil dan keluarga


polan adalah gadis kecil yang berusia 10 tahun ia merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara polan adalah anak yang pintar walaupun orang tuanya berkecukupan tapi ia sudah pintar mencari uang sendiri apa saja ia lakukan asal menghasilkan uang,katanya uang yang ia dapat untuk ditabung dan beli jajan,sepertinya polan memang memiliki jiwa marketing dalam dirinya.


Ibu polan adalah seorang guru SD dan ayahnya seorang polisi akan tetapi ayah dan ibu polan tidak tinggal satu kota mereka terpisah ayah polan bertugas dijakarta sedangkan ibunya bertugas di sumatera. Ayah polan selalu pulang ke sumatera dalam sebulan sekali terkadang ibu polan yang ke Jakarta mengulang suaminya, mereka selalu telponan setiap hari untuk bertanya kabar, pada suatu hari sekitar pukul 08.00 malam ibu polan jatuh sakit saat itu polan sendirian tinggal dirumah sedangkan abangnya masih kuliah tapi polan tidak bingung ia segera memanggil tetangga nya. Polan teriak dan mengetuk rumah tetangganya, dengan segera tetangga polan berlari untuk membantu ibu polan, saat dilihat ibunya sudah pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. sesampainya dirumah sakit ibunya segera ditangani oleh dokter dan perawat,tidak lama kemudian abangnya menyusul kerumah sakit. tak lama berselang ibunya sadar dari pingsannya polan segera memeluk ibunya dan mencium ibunya polan sangat menyayangi ibunya.


'Kringgg kringgggg ' telpon berbunyi


' halo' ayah


' gimana kabar ibu nak'


'alhamdulillah membaik ayah '


' ya sudah malam ini ayah usahakan berangkat'


jaga ibumu dulu ya nak yang kuat dan sabar'


'siap ayah'


Hati polan dan abangnya mulai lega melihat ibunya yang sudah kembali tersenyum


'abang khawatir takut ibu kenapa2 (sambil menangis)


polan kecil tidak menangis hanya bisa menyabarkan abangnya


'sudah bang ibu tidak kenapa2 ibu kita baik- baik saja'


sambil terpasang infus dan oksigen


ibunya mulai bersuara


' anakku ibu tidak apa apa ibu hanya kelelahan '


setelah hasil labor ibunya keluar dari dokter yang menAnganinya, ternyata ibu polan menderita penyakit malaria dan darah tinggi.


kakak perempuan polan yang kedua dan ketiga belum sampai dirumah sakit karen mereka tinggal di kabupaten diujung sumatera karena mereka juga memiliki rumah disana, rumah pertama kali punya polan dan ayahnya pada saat baru menikah.


3 jam perjalanan kakak perempuan polan sampai dikota dan segera menyusul kerumah sakit


mereka menangis melihat ibunya segera memeluk ibu polan. karena rasa sayang yang mendalam terhadap orang tua nya merek takut sekali ibu mereka kenapa kenapa.


abang polan berusia 25 tahun bernama Romi dan kakak keduanya bernama eka dan yang ketiga meri, mereka selalu kompak dalam hal apapun meskipun terkadang sering ada perselisihan.


Polan kecil mengambil wudhu dan melakukan sholat hajat kata dia untuk minta sama Tuhan agar penyakit ibunya segera diangkat.


Pagi datang ayah polan sampai di Sumatera dan segera menyusul kerumah sakit begitu senang nya hati ibu polan melihat keluarganya berkumpul semua


' ayah ini yang ibu mau kita bisa berkumpul bersama jangan ada yang terpisah lagi'


'insyallah kita segera berkumpul ya ibu, karena kan sebentar lagi ayah akan pensiun ibu sehat sehat ya'


'iya ayah insyallah ibu sehat selalu'


bercanda dan bercerita lah polan bersama kakaknya , polan pun ikut senang karena keluarga nya bersama biasanya hanya polan dan ibunya saja apa apa selalu berdua.


satu minggu telah lewat ibu polan kembali ke rumah dengan keadaan yang sehat dan segar kembali akan tetapi ada hati yang sedih dari polan dan ibunya karena ayah dan kakak nya harus kembali ketempat yang sedikit jauh dari mereka


polan termenung mengantarkan ayahnya kedalam mobil menuju bandara


didalam hati polan berkata mengapa aku merasa ayah hanya sebentar bersamaku aku ingin ayah tinggal lebih lama lagi.


'nak jaga ibu Baik baik ya ' ayah pergi kerja dulu nanti ulang tahun polan ayah kembali '


'iya ayah jangan lupa kasih kabar kalau ayah sudah sampai dijakarta '


'dadadada dadadada dadadada ayahh'


ayah polanpun melambaikan tangan berpamit untuk menjalankan tugas lagi kekota jakarta


Brakkkkk brakkkkk brakkkk


'hah suara apa itu'


polan terkejut melihat poto keluarga nya terjatuh dengan tiba tiba padahal tidak ada angin tidak ada hujan


polan segera berlari dan mengambil poto keluarganya dan membuang semua kaca kaca sisa yang berjatuhan


'polan polan'


suara ibu nya memanggil dari kamar


' iya ibu tunggu sebentar'


'suara apa itu nak?


'oh itu poto keluarga kita terjatuh bu'


'ya sudah kamu bersihkan saja '


polan selalu menemani ibunya dan mengurus ibunya, didepan rumah polan begitu banyak buah rambutan dan jambu monyet semuanya udah mulai berbuah masak dan sangat boleh dipanen polan segera mengambilnya dan ia kumpulkan ia bawa kesekolah dan dijual nya keteman2 disekolah nya..saat pulang sekolah polan berlari dengan semangat, ibu ibu lihat ini (menyeru ibunya)


'aku ada uang ini untuk ibu semua '


ibu polan yang masih belum masuk kerja kaget melihat uang polan yang cukup banyak jika dilihat dari usianya.


'uang dari mana ini polan!?


' polan menjual jambu monyet dan rambutan didepan rumah kita ibu'


(tertawa ibu nya sambil memeluk polan)


'iya sayang dimana kamu belajar jualan '


' ibu polan melihat banyak diluar sana anak anak yatim dan piatu yang berjualan mencari nafkah demi kehidupannya, apa salahnya polan mencoba'


bangga nya ibu polan melihat anaknya berusia 8 tahun tapi sudah bisa belajar mencari uang sendiri.


malam itu polan menonton televisi dia melihat ayah nya di televisi diberita kriminal karena yang ia lihat ayah nya menangkap penjahat


polan segera menelpon ayahnya


dengan senang hati ayah polan mengangkat telpon dan cerita ke polan alangkah bahagia nya polan saat ayahnya mengatakan kalau ayahnya akan segera pindah tugas ke sumatera bisa bersama kembali berkumpul dengan polan.


duk duk duk


polan berlari ke lantai dua


sambil teriakkkk


'bang abang romi, abang tahu gak ayah mau pindah ke sumatera yeyeye yeyeey' (sambil menari nari dan berloncat- loncat)


' iya tahu biasa aja kali pol' (jawab abang polan)


berlari turun ke lantai bawah menuju kamar ibunya


'ibuuu ibuuuu ayah mau pindah ke sumatera kita akan sama sama berkumpul dengan ayah lagi polann senang banget bu'


masih menari nari bahagia nya polan tak terbayarkan oleh apapun karena baginya berkumpul dengan keluarganya adalah segala nya


polan segera menelpon kakak perempuannya,


'kakak dengar gak suaraku? (tanya polan)


'iya kakak dengar ' ada apa dek?


'ayah mau pindah ke sumatera jadi kita bisa bersama sama lagi' yuhuuu polan bahagia banget lho kakak


'iya dek sayang' semoga kita selalu bersama ya'


suara guntur dilangit mulaii bergemuruh


cuaca berubah menjadi gelap sepertinya sore itu akan hujan badai , polan tinggal sendirian dirumah ibunya belum pulang dari bekerja abangnya masih kuliah, tetapi polan berusaha untuk melawan rasa takutnya karena hujan badai itu, tak lama berselang hujan turun dengan petir yang besar polan berdiam didalam kamar dan menggunakan selimut sebenarnya ia takut tapi ia lawan rasa takutnya, karena ia mengingat pesan ayahnya yang selalu mengatakan 'nak jangan takut dengan apapun kecuali dengan Tuhanmu rasa takut itu hanya ada pada dirimu sendiri semua harus dilawan'


Sekitar satu jam berselang hujan berhenti dan geledek pun juga berhenti beberapa menit kemudian ibu dan abangnya polan kembali kerumah


'polan polan buka pintu, ini ibu (klanson mobil ibunya berbunyi')


'iya ibu'


polan keluar dari selimut nya segera membuka pintu untuk menyambut kedatangan abang dan ibunya, polan segera memeluk ibunya


'polan takut ibu, tapi nggk jadi'(sambil tertawa)


'apa masa sih takut? preman kok takut (sedikit mencibir adiknya).


'uhhhh abang ini aku tuh gak takut dengan apapun kecuali tuhan'


'nah bagus gitu donk' (sambil tertawa)


polan seorang anak polisi dia sangat paham dengan lalu lintas karena selain diajarkan oleh gurunya disekolah ayahnya juga mengajarkan dia untuk paham arti arti rambu lalu lintas.


beberapa bulan berlalu ayah polan sudah membuat berkas untuk pindah ke sumatera dan sudah di tanda tangani berkas nya tak sabar menunggu tiga hari kedatangan ayahnya, polan menyiapkan makanan untuk kedatangan ayahnya


begitu semangat nya polan menanti kedatangan ayah nya, ibu polan juga sudah menyiapkan kue kue kesukaan ayahnya


Waktu yang dinanti telah tiba ayah polan sudah menelpon dan siap untuk boarding dari jakarta ke sumatera . polan abang dan ibunya bersiap untuk menjemput ayahnya dibandara dengan penuh semangat polan bersiap dan membawa sals tangan yang ia rajut sendiri khusus untuk ia pakaikan ke leher ayahnya


sesampainya dibandara seperti biasa polan tetaplah anak kecil yang berusia 8 tahun yang masih manja masih suka mainan masih ingin dituruti kehendKnya


dibandara ia melihat ada mamang mamang yang menjual tas boneka berbie Ia meminta ibunya untuk membelikannya, saat ia meminta ibunya untuk membelikan nya tapi ibu polan tidak melihat penjual itu hanya polan yang melihatnya, ibu polan bingung dimana penjualnya


hmm dengan rasa kecewa polan merasa ibunya hanya berpura2 agar keinginan nya tak dituruti tapi polan hanya berdiam tidak memaksa ibunya


tapi ibunya berjanji akan membeli tas Berbie ditempat lain


setelah satu jam menunggu dibandara akhirnya pesawat ayah nya polan landing dibandara


'horeee horee ayah datang sambil meloncat loncat kegirangan '


'ayah ayah ayahhh ayah'


'ih seneng banget kamu ya dek ' (sahut bang romi nya polan)


'iya donks adex rindu sama ayah bang'


'iya habis ini kita akan barengan lagi'


melihat banyak orang yang turun dari pesawat, wajah ayah polan tak terlihat hingga orang terakhir yang memakai masker sambil melambaikan tangan nya polan mengira itu ayah nya ternyata bukan


'dimana ayah bu? polan tak melihatnya


'sabar sayang pasti ada', yok kita hitung sama sama satu, dua, tiga'


Dan ternyata benar keluar lah seorang lelaki paruh baya dengan baju dinas polisinya dengan tegapnya berjalan dan hormat dengan pramugari lalu melambaikan tangan dengan polan ibu dan abang nya, mereka menuju ruang tunggu, setelah bertemu polan digendong ayahnya dan ibunya mencium tangan ayah,juga abang nya begitu harmonisnya keluarga ini.


dalam perjalanan menuju rumah mereka polan banyak cerita dengan ayahnya ia bahagia karena ayahnya tinggal di kota yang sama dengannya,


'sekarang polan bisa kemana mana sama ayah '


'polan akan tunggu ayah pulang kerja agar kita bisa bermain bersama.


hampir menginjak usia 11 tahun ulang tahun polan akan segera tiba, ayah polan semangat sekali ingin merayakan ulang tahun polan kebetulan polan dan kakak perempuannya meri lahir di tanggal yang sama hanya berbeda tahun yaitu sembilan tahun jadi ayah polan ingin mereka mengadakan ulang tahun bersama, tetapi jarak dari tempat tinggal mereka dikota menuju rumah pertama ibunya yang ditunggu oleh kedua kakaknya sekitar dua jam perjalanan dan ayah polan ingin mengadakan acara ulang tahun mereka disana


ayah polan berangkat duluan bersama abang nya polan, karena ibu polan masih belum izin untuk berangkat,lusa baru mereka menyusul. Ternyata persiapan dari ayah polan tidak tanggung tanggung ayahnya mengundang artist ibu kota untuk acara kedua anaknya, dimana acara polan pada siang harinya dan malamnya acara kakak merinya


setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah, ibu polan bersiap untuk berangkat pula dengan dijemput oleh supir ayah polan menuju rumah pertama mereka masa muda.


Banyak tamu undangan ya datang termasuk bupati dikabupaten tempat tinggal lama mereka, kakak perempuan polan yang satunya bekerja di sebuah kantor pemerintahan dan yang satunya masih kuliah keperawatan semester akhir.


Kedua orang tua polan sangat lah terpandang dan disegani banyak orang yang mengenal keluarga mereka namun mereka tetap hidup sederhana dan sangat harmonis


ayah dan ibu polan selalu mengajarkan kebaikan kebaikan dengan anak anak mereka


polan berhias seperti pri pri sesuai keinginan nya dengan tema ratu bilqis dengan warna serba pink


karena sangat sayangnya ayah dan ibunya mereka mengikuti keinginan polan.


gembiranya hari itu bagi polan karena usia nya sudah 11 tahun ia merasa dirinya sedikit dewasa karena sudah kelas 6 SD, entah mengapa Tuhan membuat pikiran polan seperti orang dewasa penuh kesabaran dan selalu meminta izin jika menginginkan sesuatu tanpa paksaan


setelah acara selesai,pada malam hari nya polan dan keluarga berkumpul didepan televisi mereka bercerita bersama, ayah polan meminta kalau bisa anak anak perempuan nya berkumpul saja dikota dengan ibunya tetapi kedua kakak perempuan polan tidak mau karena mereka sudah betah di kabupaten dimana rezeki dan pergaulan mereka lebih banyak disana.


namun, ayah dan ibu polan tidak memaksa anak anak nya karena dikota mereka juga memiliki rumah besar yang dibangun untuk keluarga besar mereka pula.


waktu terus berlalu ,usia ayah polan sudah menginjak 52 tahun ayahnya diminta untuk mencalonkan diri sebagai kapolda di Sumatera sebenarnya ayah nya tidak ingin tapi karena banyak yang mendukung dan suport dari istriny (ibu polan) akhirnya ayahnya mau mencalonkan diri untuk menjadi seorang kapolda dikota itu...


dalam proses mencalonkan diri ayah polan jatuh sakit.


setelah diperiksa semua penyakitnya ayah polan memiliki penyakit yang komplikasi jantung, darah tinggi dan diabetes akan tetapi ayahnya tidak ingin istrinya (ibu polan) tahu kalau dirinya memiliki riwayat penyakit yang parah. yang tahu hanyalah polan dan abang nya karena mereka hanya pergi bertiga kedokter, ayah polan hanya tak ingin menjadi pikiran istrinya.


setelah sampai dirumah ibu polan bertanya


'darimana kalian'?


'kami habis belanja ibu'(jawab polan)


'oh' y udh makan dulu sini'


'ya bu kami cuci tangan dahulu '


ayah polan terbaring sedikit menahan rasa sakit di dadanya , saat ayah polan sedang tertidur sambil memegang dadanya, ibu polan bertanya


'kenapa dada ayah?


' gak papa bu'


'benar ya ayah jangan bohong'


'iya yah tak bohong kok'


Malam pun semakin larut kedua orang tua polan sudah tidur dengan pulasnya, malam itu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam polan naik ke lantai dua dan membuka pintu teras nya polan menikmati angin malam sendirian sambil melihat kearah jalan, polan melihat ada seorang perempuan menggendong anak kecil, polan tidak memanggilnya hanya melihat saja karena merasa kasian melihat anak kecil itu hanya digendong dengan kedua tangan ibunya polan bergegas mengambil selembar selimut didalam lemarinya untuk diberikan ke orang yang dia lihat. Saat polan turun kebawah dan membuka pintu rumahnya ia mencari wanita dan anak kecil yang digendong tadi, ternyata mereka tidak ada polan heran secepat itu menghilangnya sedangkan saat dilihat dari atas jalan mereka sangatlah lambat akhirnya polan menutup pintu rumahnya dan kembali ke kamar todurnya, sambil berdoa dan polanpun tertidur pulas malam itu.