After You Go

After You Go
14


" Kamu bener bener mau nikah Na ??! Pernikahan itu adalah ikatan sakral antara pria dan wanita . Kamu masih sangat muda untuk bisa memahaminya . Walau bapak dan ibu mendukung tapi tidak berarti kami tidak mengkhawatirkan kamu " ujar Lestari yang saat ini berada di kamar putrinya . Hari ini adalah hari pernikahan putrinya .


Hanya mengenakan gamis sederhana berwarna putih lengkap dengan kerudung warna serupa . Riasan wajah yang bahkan tidak mengundang MUA , polesan natural yang tidak berlebihan . Tapi cukup menjadikan putrinya menjadi seorang pengantin yang sangat cantik .


" Ya masa udah pakai gamis begini mau main layangan sih Bu ? Nana udah gede , jangan terlalu mengkhawatirkan apa yang sudah menjadi keputusan Nana . Seharusnya lbu ikut bahagia karena Nana akan menjadi seorang istri , yang artinya tidak akan pecicilan lagi ... Yang akan belajar untuk lebih bertanggung jawab ... Yang akan lebih dewasa kedepannya ! "


Lestari hanya mengangguk , tapi wanita itu tak bisa menyembunyikan air matanya . Rasanya baru kemarin ia menggendong putri semata wayangnya itu . Kini ia harus melepasnya saat usia Kanaya berusia masih sangat muda .


Ada terbersit di hatinya ingin melihat Kanaya menikah seperti pengantin wanita kebanyakan . Mengenakan kebaya dengan mengadakan pesta kecil dirumahnya . Tapi keadaan tidak memungkinkan , tidak mungkin mereka mengadakan pesta saat sahabat suaminya masih dirawat di luar negeri .


Naluri keibuannya mengatakan jika pernikahan putrinya sedikit aneh , dia tak merasakan kebahagiaan yang dirasakan putrinya . Lestari seperti melihat jika putrinya menikah bukan berdasarkan cinta , tapi ia juga berpikir tidak mungkin Nana gegabah tentang hal sepenting ini .


" Apa kau bahagia !? "


Sebuah suara bariton menjadikan dua wanita berbeda generasi menoleh bersamaan . Ramlan ternyata sudah berdiri di ambang pintu , menatap dua wanita yang paling berharga di hidupnya .


" Doa lbu dan Bapak yang akan membuat hidup Nana selalu bahagia , terimakasih sudah menjadikan Nana hadir di keluarga yang luar biasa ini . Maaf jika selama ini Nana sering mengeluh , kurang bersyukur walau Nana tahu kalian sudah memberi yang terbaik untuk Nana . Maaf jika secepat ini Nana memutuskan menikah padahal Nana belum bisa membahagiakan kalian . Bapak adalah panutan terbaik dan berkat lbu aku mengerti apa arti kasih sayang . Sampai kapan pun Kanaya Danurdara tetap akan menjadi putri kalian "


" Ya Allah Pak ... Anak kita sudah besar !! " ujar Lestari sesenggukan memeluk tubuh putrinya , sedang Ramlan hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya walau sebenarnya hatinya ikut terenyuh melihatnya .


Selama menjadi putrinya Nana jarang sekali mengeluh , bahkan karena keadaan ekonomi mereka Nana rela harus bekerja terlebih dulu sebelum meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi .


Nana memang menempuh jalur beasiswa agar bisa kuliah di Bandung tapi untuk biaya hidup ataupun kos ia tetap saja tak mau merepotkan kedua orang tuanya . Selagi ia bisa maka ia akan hidup mandiri kedepannya .


Tak lama terdengar suara mobil , dan mereka bertiga segera keluar karena mungkin Dimas sudah menjemput mereka . Tapi di pintu depan terlihat seorang pria parubaya mengenakan peci .


" Assalamualaikum , saya adalah supir Tuan Muda Dimas ! Beliau meminta saya menjemput lbu , Bapak dan Mbak Nana . Maaf tapi Tuan masih mengurus kekurangan berkas di Kantor Urusan Agama "


Akhirnya mereka segera berangkat dan tak berapa lama kemudian sampai di sebuah gedung besar di mana Dimas sudah menunggu mereka .


Sesaat Dimas tak bisa melepaskan pandangannya dari calon pengantinnya . Nana begitu berbeda hari ini . Jika biasanya terkesan tomboy tapi kali ini gadis itu terlihat sangat anggun dan cantik .


Dan akhirnya Dimas menggenggam tangan Ramlan karena pria itu sendiri yang akan menikahkan putri semata wayangnya . Ramlah tersenyum dengan melihat putrinya sekilas , kemudian menatap teduh calon menantunya .


" Anakku Dimas Arkatama ... apa kau benar benar siap menikahi putriku Kanaya Danurdara ? "


" lnsya Allah ... " jawab Dimas dengan suara bergetar , sungguh suasana seperti ini membuat dadanya penuh sesak . Seperti akan ada sebuah tanggung jawab besar yang akan di letakkan dipundaknya . Jantungnya tiba tiba terpacu dengan kencang menyadari jika janjinya kali ini bukan hanya disaksikan orang orang disekitarnya . Tapi janjinya akan didengar oleh Sang Pencipta ....


" Putriku mungkin jauh dari kata sempurna , tapi dia adalah segalanya bagiku . Jangan sekali kali kau dzolimi putriku , jangan menyakiti hatinya karena sakit hati putriku adalah luka untuk kami kedua orangtuanya . Bimbing dia , arahkan dia ke surgaNya Allah ! Jangan pernah biarkan dia berjalan menuju nerakanya Allah . Jadikan dia bidadarimu di surganya Allah kelak .... "


Dimas menghela nafasnya , tak terasa satu bulir airmata mengalir tanpa ijinnya . Pria muda itu membisu , suaranya seperti tersangkut di kerongkongan walau ia sudah berusaha keras menjawab pernyataan ayah dari calon istrinya .


" Apa kau sanggup ?? "


.......


" Saya sanggup ! " akhirnya Dimas bisa berkata dengan mantap , apapun akan ia lakukan untuk kesehatan papanya .


Dan kemudian proses ijab kabul berjalan tanpa hambatan , akhirnya Dimas resmi menjadi suami dari gadis yang hanya akan bersamanya selama seratus hari . Devan yang kebetulan menjadi salah satu saksi pernikahan mendekat ke arahnya .


" Gue masih nggak percaya elo bisa lakuin ini !! Kau lihat ... Istrimu bahkan tidak menangis sedikit pun . Dia bisa selalu tersenyum untuk memastikan agar orang orang tercintanya juga bahagia . Aku rasa kau akan menjadi orang paling bodoh jika kau benar benar melakukan perjanjian bodoh itu "


" Bukan urusanmu ... "