
"Dia...."
"Hentikan," potongku membuat Ali langsung menutup mulutnya.
Ali meletakan kopi miliknya ke depanku dan mengambil teh pesanan Naira untuknya. Semakin banyak variabel yang tidak bisa aku kendalikan. Jika hal seperti ini terus berlanjut, lambat laun aku yang akan kalah.
"Kamu akan menderita, Ara."
"Aku tahu."
"Orang-orang akan bergosip tentangmu. Abi-mu tidak akan membantumu karena ini berhubungan dengan anak kesayangannya."
Aku terdiam, tidak menyangka Ali bisa mengatakan kalimat seperti itu. Sekarang aku tahu jawaban dari pertanyaanku. Dia pasti sudah membaca dokumen tentang keluargaku. Aku rasa dia bahkan melakukan penggalian informasi lebih setelah tahu Kak Lunna bukan orang yang selama ini dia kira.
Sejauh mana dia tahu tentang keluargaku?
"Aku belum mengatakan apapun kepada abi-ku tetapi rencana perjodohan kita batal. Kamu berada di belakang hal ini, bukan?"
"Emosimu sangat mudah berganti," balasku membuat Ali tersenyum pahit. Dia sangat mudah menunjukan perasaannya dan juga sangat mudah menyembunyikan perasaannya. Hal yang akan membuat orang lain ragu dengen ketulusan yang dia berikan.
"Kak Lunna memiliki banyak kekuasaan di rumahmu. Dia ingin menyingkirkan kamu, kamu tahu itu bukan?"
"Apa pedulimu?" tanyaku menyelidik.
"...."
"Ada sesuatu yang kamu tahu tentangku, bukan?"
"Aku belum bisa memberi tahumu kecuali km memberikanku sesuatu."
Ting...
Bunyi notifikasi pesan masuk ke handphone-ku terdengar. Sebuah dokumen lengkap tentang Apoteker Liyanah masuk ke e-mail. Banyak dokumen tentang Down Syndrome yang Aisya kirimkan, membuatku semakin yakin hipotesis yang aku buat benar.
"Hubungi Aisya, sekretarisku, dia akan memberikan yang kamu butuhkan," ucapku begitu aku melihat sekretaris Aiden berjalan ke tempat duduk kami.
"Laki-laki itu akan membuatmu dibenci banyak orang dan dicap sebagai perebut, Ra," balas Ali begitu melihat sosok sekretaris Aiden semakin mendekat ke arah kami.
"Maaf Nona Ara, apakah Saya boleh bergabung dengan Anda?" izinnya membuat Ali langsung bergeser ke samping, menyediakan tempat untuknya duduk.
"Perkenalkan Saya Fahri, Sekretaris Tuan Aiden."
"Ara, dan dia Ali," balasku.
"Bukankah cukup terlambat untuk berkenalan sekarang?" sahut Ali membuat suasana canggung sembari mengembalikan black card yang sepertinya tidak dia gunakan.
Walaupun terlambat setidaknya sekarang aku tahu harus memanggil dia dengan nama apa. Hanya diam yang mengisi meja kami. Banyak hal yang ingin Fahri ucapkan tetapi dia tahan karena kehadiran Ali. Dan aku yakin, Ali juga tahu kehadirannya tidak diinginkan.
"Katakan apa yang ingin Anda katakan, abaikan Saya," ucap Ali yang langsung aku sambut dengan tatapan membunuh. Aku tidak ingin mengobrol apapun dengan Fahri karena bahasan yang akan dia bahas pasti seputar Aiden.
"Saya harap Nona Ara tidak salah paham," ucap Fahri membuat Ali tersedak.
"Salah paham akan apa?" sahut Ali setelah selesai membersihkan noda di pakaiannya.
"...."
"Bukankah hal yang wajar untuk Aiba bertemu dengan calon suaminya sendiri?" lanjut Ali.
Aku kagum dengan keberanian Ali membuat masalah di pertemuan pertama. Tatapan Fahri berubah menjadi tatapan seorang pemburu, membuatku langsung memberikan isyarat kepada Ali untuk diam. Aku tidak ingin pembicaraan ini menimbulkan perasaan benci satu sama lain.
"Untuk seseorang yang mencoba merebut istri dari adiknya, Saya rasa Anda tidak pantas mewakili Nona Ara."
Aku langsung memukul meja dengan tangan kananku sebelum Ali mencengkeram kerah baju Fahri. Perhatian mereka sekarang tertuju padaku. Fahri langsung membenarkan posisi duduknya sedangkan Ali membuang muka.
"Bukan hanya aku tetapi juga orang-orang disekitarku, kalian periksa?" tanyaku membuat Ali langsung menatapku.
" Apa Nona belum membaca dokumen yang Tuan Aiden berikan?"
"Yang Tuan Aiden-mu cintai adalah adikku bukan diriku. Apa yang kalian perbuatan membuatku tidak nyaman."
Fahri terdiam. Melihat ekspresi wajahnya, dia sangat ingin membalas ucapanku tetapi dia tahan. Dia tidak ingin membuat pandanganku kepada Aiden bertambah buruk.
Ali memberikan minuman milik Azhar kepada Fahri, membuatnya terkejut. Aku juga akan terkejut begitu lawan bicara yang hampir memukulku tiba-tiba berbuat baik. Fahri hanya mengangguk dan tidak menyentuh minumannya. Ali memberikan isyarat kepadaku agar meminum kopi di depanku.
"Aku juga akan mengambil kopi ini," ucap seseorang sembari menyingkirkan kopi di depanku.
Aiden, sekarang dia duduk di sampingku. Aku langsung melihat ke tempat Aiba berada. Azhar menatapku, memberikan tanda jika dia akan pulang dahulu bersama dengan Aiba dan ummi. Aku hanya mengangguk.
"Bisakah kita berbicara berdua?" tanya Aiden membuatku kembali tersadar akan kehadirannya.
"Duduklah," ucapku meminta Fahri kembali duduk. Fahri langsung menatap Aiden, meminta izin. Bahkan untuk duduk dia membutuhkan izin.
"Kamu tidak memberinya izin?" ucapnya sembari menatap Aiden. Aiden langsung mengangguk, membuat Fahri duduk kembali.
"Wahh, sepertinya menjadi sekretaris Anda sangat melelahkan," ungkap Ali. Aku rasa dia tidak bermaksud mengatakan hal itu, melihat ekspresi terkejut miliknya setelah mengatakan hal itu.
"Benarkah?" balas Aiden dengan dingin.
Suasana sangat canggung. Aku tidak bisa memecah kecanggungan ini. Fahri juga akan terus diam mengikuti irama Aiden dan Ali terperangkap dalam omongannya.
Bunyi nada panggil handphone-ku terdengar. Ketiga laki-laki itu langsung melihat ke arahku, membuat langsung mencari handphone milikku. Tanpa perlu melihat siapa yang menelpon, aku langsung mengangkatnya.
"Aku ada di cafe," ucapku begitu Aisya memanggilku.
"Aisya?" tanya Ali, lagi-lagi tatapan tajam terarah kepadanya.
Aku hanya mengangguk.
"Bisakah aku berbicara berdua denganmu?" tanya Aiden kali ini dengan penekanan.
"Bicarakan disini," balasku.
"Kamu ingin melihat emosi lain dariku, bukan?"
"Dia memang tidak ingin berbicara berdua dengan Anda. Sepertinya Anda harus berlatih membaca wajah orang lain," timpal Ali.
"Bukankah Anda yang seharusnya berlatih? Untuk lebih mempercayai mantan tunangan dibandingkan seseorang yang Anda cintai, bukankah karena Anda tidak membaca wajah mantan tunangan Anda hingga kehilangan wanita yang Anda cintai ke tangan adik Anda?" balas Aiden membuat Ali mengeraskan rahangnya.
"Nona Ara!" panggil Aisya terengah-engah. Dia cukup terkejut melihatku bersama dengan Aiden dan Ali, dan juga Fahri.
Prang..
Bunyi gelas berisi penuh kopi dan satu piring kecil berisi cake jatuh terdengar. Aku mengalihkan perhatian kepada Aiden yang menatap lelah kepadaku. Dia bukan seseorang yang dengan lembut berbicara denganku satu pekan yang lalu.
"Dimana kita berbicara?" tanyaku membuat Aiden langsung berdiri.
Aisya menahan tanganku, mencegahku pergi meninggalkannya. Aku melepaskan tangannya dan berjalan mengikuti Aiden.
"Berapa jam kamu tidak tidur?" tanyaku begitu Aiden duduk di bangku taman.
"...."
"Kamu mau tetap diam?" ucapku menyerah dengan keheningan diantara kami.
"Aku memang mencintai Aiba tetapi aku tidak akan bisa menikah dengannya."
"Jika kamu jujur...."
"Bukan karena penyakitku tetapi karena kenyamanan. Aku tidak menemukan kenyamanan di dalam dirinya."
"Itu karena kamu membatasi dirimu."
"Berbeda denganmu?"
"...."
"Apa aku tidak membatasi diriku denganmu? Kamu tahu dengan pasti jika aku juga membatasi diriku kepadamu."
"Kamu harus tidur, apa obat tidur yang aku resepkan tidak berefek?"
"Aku akan menuruti semua keinginanmu. Bahkan jika kamu memintaku untuk menceraikanmu setelah pernikahan, akan aku lakukan."
"Kamu gila?"
Aiden menggeleng. Dia menatap langit yang masih membiru. Dia seperti seseorang yang sedang mencari ketenangan dari birunya langit. Cukup lama kami terdiam hanya untuk melihat langit.
"Pekan depan aku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu," ucapnya sembari berdiri.
"...."
"Dan aku akan meminum obat tidur yang kamu resepkan untukku," lanjutnya diikuti langkah kaki meninggalkanku.
Dia tidak memberikan satupun kesempatan kepadaku untuk menolak. Jika perceraian masuk ke dalam pilihan apapun yang aku inginkan, aku rasa ada hal lain yang dia inginkan dariku. Hal yang tidak aku tahu dan mungkin hal yang akan menyakitiku.
...-----...