
“Bagaimana bisa Dokter Ali kembali?”
Aku mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan sahabatku, sabahat yang sudah bersama denganku selama hidupku. Aku terus berjalan lurus menuju ruangan tempatku biasa bekerja, tentu dengan diikuti langkah kecil milik sahabatku. Jenaira Damira Ilyas, nama sahabatku, dia menahan tanganku dengan tenaga kecil miliknya.
“Ra?!” rengeknya begitu tenaga kecil miliknya tidak bisa menghentikan langkah kakiku.
“Mungkin Dokter Ali berusaha menepati sumpah dokter yang sudah dia ucapkan,” jawabku akhirnya mengalah.
Naira terdiam selama beberapa detik, membuatku harus menarik tubuhnya ke tepi karena kami berdiri di tengah lorong dan menghalangi beberapa orang yang lewat. Detik berikutnya dia mencoba untuk membuka kembali mulutnya dan seperti tebakanku, dia langsung menutup kembali mulutnya. Aku tahu banyak hal yang mulai mengisi pikirannya dan aku juga tahu akan lebih baik jika dia tidak membuka mulutnya.
Aku kembali melangkahkan kakiku begitu memastikan Naira tidak memiliki pikiran yang aneh. Beberapa perawat yang berpapasan denganku menyapaku. Hubungan sosial seperti ini, aku benar-benar membencinya. Aku tahu sopan santun adalah hal terbaik yang orang tuaku ajarkan kepadaku tetapi seiring bertambahnya usia, sopan santun seperti ini perlahan membebaniku. Seseorang yang tidak pandai bergaul sepertiku, menghabiskan 90% tenaga setiap harinya karena sopan santun ini.
“Ra, tapi Ali..”
Ali, sudah lama aku tidak mendengarnya memangil nama itu tanpa embel-embel ‘dokter’. Aku menghembuskan nafasku, membuat Naira menundukkan kepalanya. Aku kira di kepalanya saat ini hanya ada sarapan tetapi bayang-bayang rapat masih ada di dalam kepalanya.
“Naira, kamu tidak kasihan dengan suamimu?” tanyaku dengan nada berat, menyerah dengan sopan santunku kepadanya.
“Bukan begitu, Dokter Ali bukan orang yang bisa mengubah kepercayaannya dengan mudah.”
“Dan karena itu dia tidak bisa menikahimu karena kepercayaannya kepada mantan tunangannya masih sangat besar?”
Aku menarik tangan Naira, membawanya masuk ke dalam ruang kerjaku. Aku tidak ingin melihat dia menangis di tengah lorong dan membuat orang-orang yang lalu lalang penasaran dengan apa yang terjadi. Aku melepas tanganku dan detik berikutnya Naira langsung menggunakan tangannya untuk mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
Sebuah sapu tangan terulur kepada Naira. Aku langsung menoleh ke arah sapu tangan itu dan mendapati seseorang yang tidak aku inginkan. Tepat saat aku akan mengambil sapu tangan yang mengambang di udara, wajah Naira sudah terangkat dan menatap laki-laki yang memberikan sapu tangan itu.
“Aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua,” ucapku membuat Naira mengurungkan niatnya mengambil sapu tangan yang masih mengambang di udara.
“Maafkan aku meninggalkanmu dengan sebuah harapan dan maafkan aku karena kembali saat harapan milikmu belum pudar sepenuhnya," ucap laki-laki itu dengan senyum pahit.
Tangis Naira pecah, membuatku langsung menutup pintu dan juga gorden. Aku tidak ingin menciptakan gosip yang berakhir dengan sebuah fitnah. Aku tahu aku yang memulai semua ini tetapi aku tidak menyangka laki-laki ini akan sangat egois.
“Haruskah aku memohon kepada suamimu untuk membiarkan kita bersama?”
Tanpa kusadari, aku memukul kepala Ali dengan buku tebal yang sedari tadi berada di tanganku. Dia bahkan tidak mengaduh kesakitan, dia hanya diam sembari terus menatap Naira dengan sendu. Aku benar-benar membenci laki-laki egois sepertinya.
“Kamu gila?!” tanyaku setengah berteriak penuh emosi.
“Ra..”
“Tidak, aku tidak akan meninggalkan kalian berdua. Aku tidak mau menanggung dosa karena membiarkan kalian berdua dan aku tidak ingin ada fitnah apapun,” potongku begitu melihat wajah Naira yang sangat merah dan dipenuhi air mata.
“Aku mau meminta tolong untuk mengurus izinku pulang lebih cepat hari ini.”
Benar, tidak mungkin seseorang seperti Naira yang cukup tahu agama akan melakukan hal gila dengan menyuruhku pergi dari ruangan. Sepertinya kepala dan prasangkaku yang saat ini bermasalah. Aku menghembuskan nafas sebelum akhirnya menyenderkan tubuhku ke dinding untuk menyaksikan pertunjukkan yang tidak pernah terpikirkan akan aku saksikan.
“Ali, bukan, Dokter Ali, aku memang masih memiliki harapan terhadapmu tetapi bukan harapan akan pernikahan ataupun hidup bersama. Harapanku terhadap Dokter adalah agar Dokter bisa menemukan kebahagiaan, kebahagiaan yang tidak dipaksakan, kebahagiaan yang diinginkan, dan kebahagiaan yang akan membuat Dokter bahagia. Aku memang mencintai Dokter, tapi itu dahulu, sekarang perasaan yang aku miliki hanya sebatas kasih sayang kepada seorang kakak. Dan tangis ini, tangis karena aku tidak ingin Dokter menyesali apapun yang telah terjadi.”
“Maafkan aku.”
“Tidak, Dokter tidak perlu meminta maaf. Dahulu, aku yang memaksa Dokter untuk mencintaiku dan keraguan yang Dokter berikan kepadaku adalah balasan untuk semua paksaan yang sudah aku berikan. Aku harap setelah ini tidak akan ada penyesalan apapun diantara kita. Dan aku harap Dokter bisa menemukan kembali sebuah kepercayaan. Aku pamit sekarang.”
Naira tersenyum lembut ke arahku sebelum membuka pintu. Aku sangat paham arti senyuman itu, senyuman kelegaan yang dipenuhi dengan rasa sakit. Kali terakhir aku melihat senyuman itu adalah di hari pernikahannya dan itu menjadi hari dimana untuk kali pertama dalam hidupku aku merasa kasihan kepada orang lain selain diriku.
“Kenapa kamu tidak memberi tahuku sebelum pernikahan Naira terjadi?” tanya Ali begitu tahu aku juga akan keluar dari ruangan. Aku membuka pintu, menciptakan celah sehingga orang di luar bisa tahu ada siapa dan sedang apa di ruangan ini.
“Apakah itu akan mengubah sesuatu?”
“Ra!!!” teriaknya dengan nada penuh amarah dan penyesalan.
“Kepercayaanmu kepada mantan tunanganmu yang membuat semua ini terjadi. Apa yang akan berbeda jika aku memberikan dokumen itu lebih cepat?”
“Setidaknya aku…”
“Tidak, kamu akan tetap mempercayainya. Kamu tidak akan mengubah apapun, Ali. Kamu kembali karena tahu siapa suami Naira. Kamu kembali karena kamu takut, adikmu dijadikan pelampiasan oleh Naira. Tetapi Ali, adikmu sendiri yang meminta pernikahan ini, bukan Naira. Dan adikmu sadar siapa yang selama ini ada di dalam hati Naira."
“…”
“Aku rasa setelah ini, Naira akan meminta pindah untuk ditugaskan ke rumah sakit lain,” ucapku sembari berdiri, berusaha untuk keluar ruangan.
“Kamu ingin aku merasakan rasa sakit seperti yang kamu rasakan?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu, membuat Ali menatapku bingung. Dia bahkan tidak tahu rasa sakit seperti apa yang aku rasakan dan aku juga tidak tahu rasa sakit seperti apa yang dia rasakan. Pola pikirnya yang dipenuhi emosi ini membuatku ingin memukul kepalanya sekali lagi untuk mengembalikan kerasionalannya.
“Apa kamu tahu rasa sakit seperti apa yang aku rasakan?” tanyaku membuat Ali terdiam.
“Rasa sakit yang membuatku buta akan kebahagiaan. Itu rasa sakit yang aku rasakan, apa kamu tahu bagaimana rasanya?” lanjutku sekali lagi membuat Ali hanya terdiam.
Tok..tok..
Suara langkah kaki memasuki ruanganku terdengar. Melihat bagaimana Ali langsung berdiri dari tempatnya duduk, aku bisa menduga siapa yang datang. Bahkan hanya dengan suara langkah kaki ini, aku juga sudah tahu siapa yang datang.
“Aku belum mengizinkan Paman masuk,” ucapku membuat Ali terkejut. Aku rasa dia lebih terkejut melihat reaksi dari laki-laki yang baru saja masuk itu hanya terdiam tidak mengeluarkan bisa di mulutnya seperti yang biasa ia keluarkan.
“Abi Nona masih di luar dan meminta saya…”
“Paman,” potongku langsung membuat laki-laki itu menutup mulutnya.
Aku berdiri dan menatap Ali, memintanya untuk segera keluar dari ruanganku. Tanpa perlu meminta untuk kedua kali, Ali sudah melangkahkan kakinya keluar. Sekilas, aku mendengar dia menyapa abi yang dibalas dengan nada penuh kelembutan milik abi, membuat amarah di dalam diriku terpicu. Nada yang bahkan tidak pernah aku dengar selama 5 tahun terakhir ini, harus aku dengar karena orang lain.
Tanpa menghiraukan Paman Salman yang merupakan sekretaris abi, aku berjalan menuju kursi kerjaku. Aku harus bisa menekan emosiku seperti yang sudah aku lakukan selama 5 tahun terakhir. Aku tidak boleh membiarkan emosi mengisi diriku. Aku…..
“Kembalilah ke rumah dan ke rumah sakit pusat.”
Aku masih tidak bisa menahannya.
“Rumah? Aku hanya punya satu rumah.”
“Berapa lama lagi Abi harus tahan dengan sikapmu?”
“Berapa lama lagi Ara harus tahan dengan sikap Abi?”
“Nona..”
“Salman, keluarlah. Aku ingin berbincang dengan anakku.”
“Lunna dan Haaris pulang hari ini.”
Bom waktu yang sudah aku pertahankan agar tidak meledak, akhirnya meledak setelah 5 tahun lamanya. Rasa sakit yang aku coba tunda akhirnya aku rasakan sepenuhnya. Kenyataan pahit yang tidak pernah aku terima akhirnya harus aku terima sekarang. Air mata yang aku tahan selama ini akhirnya mengalir dengan deras. Aku tidak pernah tahu bom waktu yang aku buat hasilnya sangat menyakitkan.
“Maafkan Abi dan Ummi-mu.”
“…”
“Ara, Abi dan Ummi akan memberikan apapun yang kamu mau.”
“Atas dasar apa? Rasa bersalah? Atau keadilan?”
“Ara..”
Tok..tok..
“Masuk.”
“Maaf, Dok. Sudah ada pasien yang menunggu, sudah menunggu selama 30 menit dan pasien VIP.”
“Saya akan segera ke ruang periksa.”
Aku harus berterima kasih kepada Perawat Nisa karena membantuku keluar dari neraka ini. Aku segera memakai jas dokterku, membuat abi menghembuskan nafasnya. Beliau menatapku dengan tatapan lelah miliknya, seolah memberi tahuku jika beliau akan terus berada di ruangan ini hingga pembicaraan kami menghasilkan sebuah keputusan.
“Saat Ara kembali, Ara tidak ingin mendengar apapun tentang hubungan masa lalu itu. Jika Ara mendengarnya, saat itu juga Ara akan pergi ke tempat dimana Abi tidak akan bisa menemukan Ara,” ucapku sebelum berjalan keluar dari ruangan. Paman Salman menatapku sebelum akhirnya memberikan sebuah senyum khas miliknya yang aku balas dengan wajah datar milikku.
“Beritanya sudah menyebar, Dok.”
Aku langsung menatap Perawat Nisa yang entah bagaimana bisa muncul tepat saat langkah kelimaku dari ruang kerja. Perawat Nisa berulang kali menoleh ke belakang untuk melihat Paman Salman dan mungkin abi yang meninggalkan ruanganku. Sekali lagi, di pagi ini ada orang lain yang menunggu jawabanku.
“Berita tentang aku akan kembali ke rumah sakit pusat?”
“Dan berita jika Dokter anak dari pemilik rumah sakit. Seharusnya Dokter tidak perlu menutupi semua itu, akan lebih mudah bagi Dokter saat berdebat dengan dokter lainnya perihal pengadaan obat. Jika Dokter tidak menyembunyikannya, tidak ada yang akan berani kepada Dokter.”
“Siapa sumbernya?”
“Ayah Dokter sendiri.”
“Sekarang pasien dimana?”
“Dok?!” panggilnya dengan nada rengekan, membuatku semakin lelah.
“Maaf, aku sudah menghabiskan tenagaku pagi ini. Aku harus menyimpan sopan santun ini untuk pasien.”
Perawat Nisa menghembuskan nafasnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya seperti sebelum-sebelumnya saat aku tidak ingin melakukan percakapan apapun. Dia adalah satu-satunya orang di rumah sakit ini yang tahu bagaimana kepribadian asliku. Dia tidak pernah mencoba mengajakku bicara, tidak pernah memaksaku untuk bergabung bersama orang lain, dan selalu menggantikanku saat berinteraksi dengan orang lain. Aku bersyukur memilikinya di rumah sakit ini dan berharap aku bisa membawanya ke rumah sakit pusat tanpa paksaan.
Sebuah sapu tangan disodorkan kepadaku. Perawat Nisa menunjuk mataku. Ah… masih ada sisa air mata.
“Pasien sudah ada di dalam ruangan.”
“Bagaimana bisa? Saat belum dipanggil?” tanyaku setelah menghapus sisa-sisa air mata dan memasukkan sapu tangan ke dalam saku jasku.
“Pasien VVVVVIP bukan hanya VIP, Dok. Dia sepertinya mengenal direktur dengan sangat baik. Saat diperiksa nanti, dia juga meminta hanya Dokter, dia, dan sekretarisnya yang berada di ruangan.”
“Pasin dan sekretarisnya apakah laki-laki?”
“Tenang, Dok. Dia juga meminta pintu ruangan sedikit dibuka. Jadi, Dokter bisa berteriak jika ada hal yang salah.”
Aku memberikan sebungkus coklat kit-kat kepada Perawat Nisa sebelum masuk ke dalam ruangan. Dua laki-laki yang tidak aku kenal sudah menyambutku dengan senyuman. Aku hanya menganggukkan kepalaku ke arah mereka tanpa sebuah senyuman, membuat mereka berdua saling berpandangan.
“Saya dengar Anda adalah psikiater yang paling berempati dengan pasiennya, saya tidak tahu jika Anda bahkan tidak membalas senyuman pasien Anda,” ucap laki-laki yang berdiri dengan nada menyindir, aku rasa laki-laki itulah sang sekretaris.
“Ah… darimana Anda mendengar jika saya adalah seorang psikiater yang paling berempati dengan pasiennya?” balasku, membuat laki-laki yang duduk tersenyum.
“Maafkan saya,” lanjutku dengan sebuah senyuman lebar menghiasi wajahku, membuat kedua laki-laki di hadapanku lagi-lagi saling berpandangan.
“Anda sangat mirip dengannya,” ucap laki-laki yang duduk dengan sangat pelan, seolah tidak ingin didengar olehku. Aku harus berpura-pura tidak mendengar ucapannya walaupun aku sedikit penasaran yang dimaksud ‘mirip dengannya’.
Aku membuka rekam medis yang bertuliskan ‘Aiden Athhar Hamza’, nama yang tidak asing untukku. Hanya ‘Hamza’ sebenarnya yang tidak asing karena itu adalah nama teman abi dan selebihnya sangat asing. Perlahan kubuka satu per satu rekam medis miliknya dan tanganku langsung terhenti di halaman kedua begitu mataku mendapati diagnosa penyakitnya.
“Bukankah pengobatan di Amerika lebih baik dibandingkan di Indonesia?” tanyaku memulai sesi konsultasi.
“…”
“Anda membutuhkan seorang pendengar, bukan?” tanyaku kembali setelah hanya keheningan yang mengisi ruangan selama 1 menit.
“Apa menurut Dokter, saya orang yang terbiasa melakukan **** bebas?”
“Tuan Muda,” panggil sang sekretaris dengan suara yang pelan, seolah memperingatkan tuan mudanya agar tidak mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, walaupun bagiku pertanyaannya cukup masuk akal.
“Jika saya adalah orang awam, saya tentu akan mengatakan ‘ya’ tetapi saya adalah seorang dokter. Saya tahu beberapa kemungkinan timbulnya penyakit ini walaupun sebagian besar tentunya karena **** bebas. Bagaimana Anda menanyakan hal ini, membuat saya yakin 100% Anda bukan orang yang melakukan **** bebas,” jawabku sebelum sang tuan muda memberikan tatapan untuk diam kepada sekretarisnya.
“Diagnosa itu, saya baru tahu satu pekan yang lalu. Selama ini, orang-orang terdekat saya hanya mengatakan saya memiliki imun tubuh yang lemah dan saya dengan bodohnya mempercayai hal itu. Orang yang sangat saya percaya menyembunyikan semua ini dengan dalih melindungi saya dan tanpa sadar apa yang dilakukannya justru menghancurkan saya perlahan demi perlahan. Saya pulang dari Amerika karena ingin melamar wanita yang selalu berada di hati saya dan tepat satu pekan sebelum saya berkunjung ke rumahnya, nama penyakit ini muncul, penyakit yang tidak mungkin bisa saya beritahukan kepadanya dan juga kepada kedua orang tuanya. Lebih dari itu, saya tidak akan pernah bisa bersama dengannya karena adanya penyakit ini.”
“Siapa yang ingin Anda salahkan?” tanyaku.
Laki-laki di depanku terdiam membisu. Dia menatapku terkejut, seolah aku tepat mengenai titik permasalahan di hatinya. Tidak ada jawaban darinya membuatku membuka laci meja dan mengeluarkan berbagai macam jenis coklat dan permen. Aku sudah tahu jawaban dari diamnya, dia terlalu baik untuk bisa menyalahkan orang lain, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri tetapi di dalam hatinya dia ingin orang lain atau mungkin orang tuanya untuk disalahkan karena menutupi penyakitnya.
“Tidak masalah menyalahkan seseorang jika memang apa yang kita lalui karena kesalahan seseorang. Tidak masalah untuk mengutuk atau bahkan membenci seseorang. Tetapi, apakah semua itu akan membuat hati kita lega?” tanyaku sembari memberikan satu bungkus besar coklat cadburry. Tidak lupa aku juga memberikan kepada sang sekretaris yang mengambil coklat dari tanganku dengan ragu.
“Karena itu tidak membuat hati saya lega,” lanjutku.
“…”
“Lima tahun lalu, laki-laki yang seharusnya menikah dengan saya justru menikah dengan kakak perempuan saya. Laki-laki yang membatalkan pernikahan tepat satu bulan sebelum acara itu menikah tepat di hari seharusnya kami menikah. Hal yang menyakitkan adalah orang tua saya yang sebelumnya mengutuk laki-laki itu berbalik menyanjungnya begitu anak perempuan lainnya menunjukkan kebahagiaan. Dan hal yang lebih menyakitkan adalah laki-laki itu membatalkan pernikahan karena saya tidak akan bisa hamil, dia tidak mau mendengarkan penjelasan lebih lanjut bahwa saya bisa hamil dengan program bayi tabung tetapi sekarang mereka akan melakukan program bayi tabung untuk mendapatkan keturunan setelah 5 tahun lamanya menikah. Sangat ironis bukan?” ucapku membuat kedua laki-laki itu diam membatu.
“Anda baik-baik saja?” tanyanya sembari mengulurkan sapu tangan yang aku tolak dengan sebuah gelengan. Aku tidak ingin berhutang apapun kepadanya.
“Dan tidak ada satupun orang di keluarga saya yang tahu alasan sebenarnya dibalik batalnya pernikahan saya. Saya membenci semua orang yang mendukung pernikahan kakak dan laki-laki itu. Saya menciptakan bom waktu yang menyakiti diri saya sendiri. Jadi, saya harap sebelum Anda menyalahkan ataupun membenci orang lain, pastikan hati Anda bukanlah hati yang mudah goyah karena satu kali saja Anda goyah maka hanya rasa sakit yang akan ada rasakan.”
Ada saat dimana orang asing menjadi tempat ternyaman untukku mencurahkan isi hatiku karena aku tahu aku tidak akan pernah bertemu dengan orang asing itu lagi. Saat-saat dimana orang asing tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya dan saat-saat dimana orang asing tidak akan menghakimiku di depanku adalah hal yang paling membuatku nyaman. Aku tidak akan menyesal membuka mulutku hari ini karena satu-satunya bom waktu yang aku buat sudah meledak dan tidak akan menyakitiku lagi.
...-----...