
"Apa yang ingin kamu pesan?" tanya Ali begitu kami duduk.
"Hot Americano," jawabku membuat semuanya menatapku heran.
"Di cuaca sepanas ini?" tanya Naira memastikan yang aku balas dengan anggukan.
Ali menarik tubuh Azhar untuk ikut dengannya memesan minum dan mungkin beberapa camilan. Aku mengambil kipas elektronik dari dalam tasku dan memegangnya di depan wajah Naira. Walaupun AC di cafe perlahan bisa mengurangi panas di tubuh kami, aku tahu Naira masih sangat kepanasan.
"Kamu tidak ingin bertanya apapun?" tanya Naira sembari mengambil kipas di tanganku.
"Banyak," balasku singkat.
"Tanyakan semua yang kamu mau tahu."
Aku terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya berpindah tempat duduk ke depan Naira. Aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat menjawab pertanyaan yang aku berikan. Dia sudah tahu jika aku masih belum bisa mempercayai hatinya. Dia tahu aku masih takut jika dia akan membiarkan Ali masuk kembali ke dalam hidupnya. Ketakutan yang seharusnya tidak aku miliki.
"Kenapa?"
"Suamiku, Gio, dia yang memintaku untuk pindah. Dia juga mengikutiku pindah kemari. Sekarang kami tinggal di rumah baru."
"Kenapa?"
"Kewajibanku sebagai seorang istri untuk menuruti suamiku."
"Kenapa?"
Naira menghembuskan nafasnya sembari meletakan kipas ke atas meja. Dia tahu dengan pasti jawaban yang aku inginkan. Dia juga tahu jawaban yang dia berikan hanya sebuah alasan untuk menutupi jawaban sebenarnya.
"Gio membiarkanku dan Dokter Ali berbicara..."
"Berdua?" potongku yang langsung dibalas gelengan oleh Naira.
"Aku dan Dokter Ali sudah menyelesaikan semua hubungan dan perasaan masa lalu kami. Aku tahu kekhawatiran yang kamu miliki karena aku juga sempat memiliki kekhawatiran itu tetapi aku jamin hanya Gio yang sekarang ada di dalam hatiku."
Aku ingin membalas kalimat yang baru dia ucapkan tetapi aku mengurungkannya. Jika dia sudah pernah memiliki kekhawatiran yang sama denganku, kekhawatiran itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Bukan karena dia tidak mencintai Gio melainkan karena dia pernah mencintai Ali. Kekhawatiran yang aku rasakan muncul karena perasaan masa lalu yang dia miliki. Dan dia, bagaimana mungkin kekhawatiran itu tidak muncul saat dia sendiri ragu dengan perasaan yang dia miliki saat ini?
Naira terus menatapku, menunggu respon ataupun pertanyaan berikutnya. Aku mengalihkan pandanganku sebentar ke luar, melihat lalu lalang kendaraan yang mengantar dan menjemput tamu hotel. Satu plat mobil mencuri perhatianku. Sepertinya Naira tidak tahu jika suaminya berada di hotel ini sepanjang hari menemaninya.
"Kamu yakin bisa mengatur perasaanmu?" tanyaku akhirnya.
"Tentu."
"Bahkan jika Gio menyerah kepadamu?"
Pertanyaanku membuat dia terdiam. Dia sama sekali tidak menduga aku akan menanyakan pertanyaan itu. Aku sangat tahu bagaimana perjuangan Gio untuk mendapatkan Naira. Aku juga tahu seberapa besar cinta yang Gio miliki untuk Naira. Tetapi, selama ini hanya Gio yang selalu memberikan. Naira sudah terbiasa menerima. Jika hal ini terus berlanjut, Naira akan secara tidak sadar menganggap tidak perlu memberikan apapun untuk Gio. Selama apa Gio bisa menerima semua perlakuan itu?
"Aku yang akan mempertahankan Gio," balas Naira setelah diam selama 1 menit. Aku kira dia akan memberikan jawaban panjang lebar.
"Jika Gio tidak ingin dipertahankan?"
"Ra!!" panggilnya penuh emosi.
"Aku hanya menanyakan kemungkinan yang bisa terjadi."
"Itu tidak akan terjadi."
"Kamu bisa menjaminnya?"
"..."
"Kamu bahkan tidak tahu jika akhirnya kamu akan menikah dengan adik laki-laki yang 'pernah' kamu cintai."
"Ada apa dengan kalimatmu yang begitu menusuk," balasnya sambil memanyunkan bibirnya.
Aku tahu jika aku memang lebih dewasa darinya. Dia memang lebih tua 4 tahun dariku tetapi aku tidak tahu perbedaan kedewasaan diantara kami cukup besar. Sekarang giliran aku yang menghembuskan nafas.
"Nay, apa kamu tahu jika kamu cinta pertama Gio?"
"Bukan kamu?" tanyanya bingung.
Aku menggeleng. Cerita masa lalu yang sangat ingin aku koreksi. Aku rasa janji anak SMA sudah tidak akan berlaku untuk kami.
"Gio jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu saat dia masih berada di Turki, saat kamu tiba-tiba melakukan video call denganku. Aku dan Gio memang sering menghabiskan waktu bersama karena kami sama-sama siswa pindahan yang berada di kelas akselerasi tetapi hubungan kami hanya sebatas teman belajar, tidak lebih. Dia mengenalmu jauh dari sebelum yang kamu tahu. Dan, dia juga mencintaimu jauh lebih lama dari yang kamu kira.
Dia orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya, sama denganku dan hal ini yang membuat kami tidak mungkin bisa bersama. Dia sangat menyukai kisah cinta antara Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah putri Rasulullah, cinta dalam diam dan dalam doa. Bahkan saat kamu mulai mengejar Ali, dia tidak peduli akan hal itu. Saat aku tanya, apakah dia menyerah dengan perasaan yang dia miliki untukmu, dia memberikan jawaban bahwa cinta dalam diamnya akan mati tetapi cinta dalam doanya akan terus ada. Apa kamu tahu perbedaan dari cinta dalam diam dan cinta dalam doa yang dia maksud?"
Naira hanya menggeleng. Ekspresinya saat ini menunjukan keterkejutan. Aku akan menantikan omelan dan pukulan ringan darinya setelah 2 hari karena menyembunyikan semua ini.
"Dia yang selalu membantumu Nay, saat buku PR-mu tertinggal dia yang mengumpulkan. Saat kamu kesulitan dalam kepanitiaan, dia yang membantu atau meminta tolong orang lain untuk membantumu. Dia juga yang selalu memberikan snack di lokermu. Hal-hal buruk yang terjadi kepadamu dan hal-hal baik yang tiba-tiba muncul untuk mengatasinya, semua itu karena dia. Aku yakin, kamu menyadari saat dimana kamu mulai menunjukan perasaanmu untuk Ali, saat itu juga hal-hal baik yang tiba-tiba muncul itu hilang. Semua itu karena cinta dalam diamnya, perhatian miliknya juga hilang. Tetapi, dia tetap mendoakanmu, dia tidak berdoa agar berjodoh denganmu. Dia justru mendoakanmu agar mendapatkan cinta terbaik yang bisa membahagiakanmu."
Air mata Naira menetes. Aku memberikan sapu tangan milikku kepadanya. Dia menggeleng, membuatku langsung mengusap air mata di pipinya.
Aku rasa sekarang pikirannya tentang cinta dan juga tentang Gio berubah. Selama ini, dia hanya melihat ke dalam dirinya sendiri. Dia tidak pernah melihat cinta yang Gio berikan. Dia sudah terbiasa menerima cinta itu. Kebiasaan yang akhirnya membutakannya. Aku hanya ingin dia benar-benar menghilangkan kekhawatiran miliknya tanpa meninggalkan satupun jejak. Kekhawatiran yang sebelumnya dia miliki masih meninggalkan jejak yang bisa membuatnya kembali. Saat ini, jejak itu akan hilang dengan pasti.
"Dan, saat gosip buruk tentangmu muncul di website universitas. Itu bukan aku, Nay. Itu adalah Gio yang menantang semua orang di grup penyiaran untuk menghapus gosip tentangmu."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Aku pergi," ucap Naira sembari berlari kecil keluar cafe. Dia bahkan meninggalkan barang-barang miliknya, membuatku yakin dalam waktu 1 hari omelan dan pukulan akan menantiku.
"Jangan lari!!" teriakku, membuat Naira langsung berjalan.
Tepat saat Naira keluar dari pintu lobby hotel, Gio juga keluar dari mobil. Naira langsung memeluk suaminya itu yang sedang kebingungan. Melihat bagaimana Gio mencoba menenangkan Naira, aku merasa bersalah dengan pertanyaan yang aku berikan. Tidak mungkin Gio akan menyerah.
Saat kami menempuh pendidikan spesialis, itu adalah saat-saat terpuruk yang membahagiakan dalam hidup kami. Aku beruntung melalui spesialisku tanpa drama dengan teman seangkatan. Berbeda denganku, Naira harus berurusan dengan 3 angkatan. Percakapan miliknya tentang Athina bocor ke publik, membuat Ali sangat marah karena saat itu tidak ada yang tahu tentang Athina. Lalu, Ali membeberkan semua isi chat Naira yang menjelek-jelekkan para perempuan yang mengejar Ali. Hal itu membuat Naira hidup penuh rasa bersalah dan caci maki dari banyak orang. Sejak saat itu juga Naira berubah menjadi sosok yang lebih pendiam dan berhenti mengejar Ali.
"Dimana Nay?" tanya Ali dengan terus menoleh ke kanan dan kiri mencari Naira.
"Pulang," balasku.
"Tasnya masih disini. Dia sakit? Kenapa kamu masih disini jika dia sakit?" tanyanya panik. Kepanikan yang tidak dia perlukan.
"Apa pedulimu?" balasku membuat Azhar meletakan tangannya ke atas bahuku.
Ali merapikan barang-barang Naira yang berantakan di atas meja ke dalam tas pink milik Naira. Dia berhenti tepat saat matanya melihat ke luar, melihat adiknya bersama dengan wanita yang mungkin sekarang mengisi hatinya. Azhar mengikuti arah pandangnya dan langsung mengambil alih tas Naira, membuat Ali langsung duduk.
"Kedua orang tuamu melakukan perjodohan alami kepada mereka," ucapku membuat Ali tertegun.
"Benarkah?" balasnya pahit.
"Sudah terlambat."
"Kak," panggil Azhar pelan lalu memberikan gelengan kepala. Sepertinya mereka baru saja berbagi rahasia, rahasia yang sudah bisa aku tebak.
"Kamu bodoh jika memisahkan mereka."
"Kak," panggil Azhar sekali lagi dengan penuh penekanan.
"Naira, dia hampir bunuh diri karena chat yang kamu sebarkan," ucapku membuat kedua laki-laki di depanku terkejut tidak percaya.
Aku mengalihkan pandangan ke tempat dimana Naira dan Gio masih bersama. Mereka sekarang saling tertawa. Tawa pertama milik Naira yang bebas tanpa adanya perasaan takut.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Lagi-lagi pertanyaan itu. Pertanyaan yang hanya akan membuat penyesalan semakin besar. Jika aku mau, aku bisa mengatakan bagaimana bodohnya dia karena tidak menyadari jika dia sudah mencintai Naira dari sebelum ini tetapi tidak aku katakan.
"Apa akan ada yang berubah?"
"Aku bisa mengatakan jika chat itu palsu. Aku tidak akan membuat dia menderita seperti saat itu."
"Saat kamu mencintai seseorang, hatimu akan menutup matamu untuk orang yang mencintaimu. Itu satu-satunya kesalahanmu."
"Gio, dia yang mengurus semuanya, bukan?" balasnya tidak memedulikan ucapanku.
Padahal aku sudah berusaha untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku harap dia bisa menata hatinya dengan baik. Perasaan miliknya untuk Athina dan perasaan miliknya untuk Naira, sisi mana yang akan bertahan lebih lama dan menimbulkan rasa sakit, hanya dia yang bisa memutuskan. Atau jika juga bisa memutuskan untuk tidak merasakan rasa sakit.
"Sebaiknya Kak Ali berbicara dengan Kak Gio," ucap Azhar yang langsung aku setujui. Masalahnya sekarang hanya ada di dua laki-laki itu. Jika mereka berdua sudah sama-sama mau melepaskan masa lalu maka tidak akan ada rasa sakit lagi yang muncul.
Brrrt..
Bunyi alat yang menandakan pesanan kami sudah siap. Aku berjalan ke tempat pengambilan pesanan, diikuti Azhar di sebelahku dan Ali di belakang yang tampak lesu. Ali langsung mengambil nampan berisi penuh pesanan kami, membuat tanganku yang hendak mengambil minumanku mengambang di udara.
"Ra, aku bertukar pandang dengan ummi-mu," ucap Ali dengan lemas. Dia lalu berjalan ke arah tempat dimana laki-laki yang aku coba hindari berada.
Azhar menarik lenganku. Dia tentu bisa berpikir rasional untuk mengajakku ke tempat dimana singa berada. Aku mengambil minumanku begitu berjalan di sebelah Ali yang tampak gugup.
"Sudah lama tidak bertemu dengan Ali," sambut ummi dengan penuh antusias. Melihat bagaimana Ali membalas dengan senyuman canggung, aku rasa dia baru bertemu dengan ummi beberapa pekan terakhir.
"Oh, Kak Ara disini. Aiba sedang membahas hal penting dengan Kak Aiden, apakah Kak Ara mau join?"
Senyum yang dipaksakan. Kalimat yang dipaksakan. Aku rasa saat ini dia sedang menggunakanku sebagai jaminan untuk bisa bersama dengan Aiden lebih lama.
"Ada yang harus aku bahas dengan Dokter Ali. Lain kali aku akan bergabung," jawabku diikuti tatapan penuh rasa ingin tahu ke arah Ali.
"Ahh.. benar, tentang dapat pengadaan obat," ucap Ali cepat ingin menghentikan tatapan-tatapan yang tertuju kepadanya.
"Bagaimana dengan Azhar?" tanya ummi membuat Azhar menggeleng.
"Kami ke sana dulu, Tante," ucap Ali canggung.
"Tunggu," perintah Aiden saat aku mulai berjalan menuju tempatku semula duduk.
Aiden berjalan mendekatiku. Aiba hanya terdiam, tidak berusaha menghentikan apa yang sedang Aiden lakukan. Aku rasa sesuatu telah terjadi kepada mereka. Melihat bagaimana wajah ummi yang serba salah, membuatku semakin yakin jika Aiden baru saja memutuskan hubungan mereka.
"Aku menyita ini. Asam lambungmu sedang naik," ucap Aiden sembari mengambil Hot Americano milikku.
Azhar langsung menarik lenganku, membawaku duduk ke meja kami sebelumnya. Begitu aku duduk, Azhar berjalan kembali menuju tempat mereka. Dia juga ikut duduk bersama mereka. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Aku tidak menyangka, dari calon adik ipar berubah menjadi calon suami hanya dalam waktu 2 pekan," ucap Ali sambil mengatur minuman dan cake di atas meja.
...-----...