
Sangat mengejutkan bagaimana para petinggi di rumah sakit mengirim dokter-dokter yang kritis ke sebuah seminar di tanggal yang sama dengan rapat penentuan anggaran obat tiap departemen. Aku sudah menduga mereka akan mencoba menutup mulutku begitu aku pindah kembali ke rumah sakit pusat. Tetapi, aku sama sekali tidak mengira mereka akan langsung menunjukan perlawanan.
"Ara, aku seperti pernah melihat apoteker yang mengisi seminar ini," ucap Naira membuatku memalingkan wajah dari handphone di pangkuanku untuk melihat sekilas seseorang yang dia tunjuk.
Wanita paruh baya dengan penampilan sederhana sedang serius mendengarkan materi yang sedang disampaikan pemateri lainnya. Penampilan yang tidak menonjol, membuatnya sulit dikenali jika hanya baru bertemu satu kali. Jika bukan karena aku memiliki ingatan yang bagus, aku tentu tidak akan mengingatnya.
Wanita itu, atau harus aku sebut Apoteker Liyanah, beliau adalah apoteker senior yang sempat bekerja di rumah sakit pusat. Beliau berhenti atau diberhentikan tepat saat angkatanku memulai koas. Alasan kepergian beliau dari rumah sakit pusat ditutupi, tidak ada staf rumah sakit kecuali para petinggi yang tahu dengan pasti alasannya. Banyak rumor yang beredar mengatakan beliau melakukan penggelapan dana tetapi untuk seseorang dengan moralitas tinggi sepertinya tidak mungkin melakukan hal semerendahkan itu, terlebih karena beliau sudah kaya dari lahir.
"Ra?" panggil Naira setelah aku hanya diam menatap Apoteker Liyanah.
"Aku tidak tahu," balasku, tidak ingin membuat dia semakin penasaran.
Jika aku tidak salah melihat dan mengingat dokumen yang abi bawa ke rumah tentang pemecatan Apoteker Liyanah 8 tahun yang lalu, seharusnya beliau memegang kartu penting mengenai keuangan farmasi rumah sakit. Aku tidak menyangka abi menutup-nutupi kebenaran dan terus membiarkan penggelapan uang pengadaan obat terus berlanjut. Satu hal lagi, ayah Apoteker Liyana adalah seorang jaksa dan ibunya adalah seorang dokter, seseorang dengan kekuasaan dan kekayaan dari lahir sangat mudah untuk dididiamkan adalah hal yang mustahil. Sangat menarik.
Kedua mata kami bertemu dengan tidak sengaja. Beliau memberikan sebuah senyuman kepadaku yang aku balas dengan sebuah anggukan. Naira langsung menoleh ke arahku, sepertinya dia masih penasaran dengan Apoteker Liyana.
"Aku ikut penasaran," ucapku sebelum Naira membuka mulutnya.
Aku kembali memfokuskan perhatianku ke handphone di pangkuanku. Dari awal seminar di mulai, fokusku sudah bukan pada isi materi yang disampaikan melainkan pada rapat penentuan anggaran obat tiap departemen. Tidak pernah terpikirkan olehku, kamera-kamera yang dipasang secara diam-diam oleh orang-orangku akan berguna disaat seperti ini.
"Melihat dari jumlah pasien penyakit dalam yang terus meningkat, bukankah wajar jika departemen kami meminta penambahan anggaran? Bukan hanya anggaran pengadaan obat, anggaran alat-alat operasi, kami juga membutuhkannya," ucap Dokter Mecca, Kepala Departemen Penyakit Dalam.
Aku muak mendengar alasan yang sama berulang kali diucapkan oleh departemen penyakit dalam. Pasien yang meningkat dan anggaran yang harus ditingkatkan. Aku juga tahu jika pasien penyakit degeneratif setiap tahunnya meningkat tetapi alasan ini bukanlah alasan yang rasional untuk meminta kenaikan anggaran hingga 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. Hal yang wajar adalah meminta kenaikan anggaran sesuai dengan prediksi kenaikan pasien untuk tahun ini.
Beberapa dokter terlihat saling berbisik, seolah mereka sedang membentuk aliansi. Hal yang menggangguku adalah kepala instalasi farmasi yang memihak departemen spesialis dalam. Aku bisa menebak kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya.
"Jika anggaran departemen penyakit dalam ditingkatkan maka harus ada anggaran dari departemen lain yang dikurangi. Melihat dari data pasien tahun lalu, departemen penyakit jiwa memiliki pasien ketiga terendah. Bagaimana jika memadatkan anggaran untuk departemen penyakit jiwa?"
Sangat tidak rasional bagaimana urutan ketiga dari bawah yang anggarannya harus dikurangi. Pernyataan dan pertanyaan Apoteker Wita diikuti oleh anggukan yang lain. Satu dua dokter mulai menyuarakan pendapatnya, setuju dengan apa yang disampaikan Apoteker Wita. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Dokter Maharani, kepala departemenku, yang hingga sekarang hanya diam.
Aku masih ingat dengan jelas bagaimana staf rumah sakit menganggap Dokter Maharani hanya sebagai boneka. Dokter Maharani selalu menerima semua yang diberikan kepadanya, tidak ada penolakan walaupun apa yang beliau terima adalah hal yang tidak adil. Hingga sekarang aku masih tidak paham alasan kenapa dokter senior lainnya di departemenku masih mempertahankan beliau sebagai pemimpin kami.
"Apa yang Kakak dengar?" pertanyaan Azhar membuatku langsung mengganti layar handphoneku ke aplikasi musik. Aku menunjukan layar handphone-ku ke Azzhar, membuat dia hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan coretan-coretan di bukunya.
Tepat saat aku akan kembali mendengarkan pembicaraan di rapat, aku baru tersadar akan satu hal. Hal yang seharusnya aku sadari dari awal. Bagaimana bisa Naira ikut seminar yang dikhususkan untuk staf medis rumah sakit pusat?
Aku langsung membuka file, mencari kembali daftar mutasi para dokter yang Aisya kirimkan satu pekan yang lalu. Aku terus men-scroll hingga menemukan nama Naira. Aku kecolongan.
"Memang benar jika pasien departemen kami sedikit dibandingkan dengan departemen penyakit dalam, kandungan, ataupun departemen lainnya. Tetapi, departemen kami tahun lalu mendapatkan kenaikan pasien sebanyak 50%. Kenaikan itu membuat pihak rumah sakit merugi karena membiarkan pasien menebus obat di luar dan kemudian departemen kami di salahkan karena hal itu. Sekarang, jika anggaran kami dipangkas, apakah semua yang ada disini bisa menjamin tidak akan menyalahkan departemen kami di rapat akhir tahun?"
Ucapan yang berhasil menghentikan gerakan tanganku. Aku yakin butuh banyak keberanian untuk Dokter Maharani mengatakan hal itu. Tanpa perlu melihat, aku yakin sekarang para petinggi sedang terkejut. Bahkan aku yakin ada yang sudah menunjukkan amarah di wajahnya.
"Bagaimana bisa Anda berbicara hal seperti itu?!"
Satu orang mulai menaikkan nada bicaranya. Aku langsung kembali untuk melihat ekspresi wajah Dokter Maharani. Beliau orang yang sangat mudah takut, saat lawan bicaranya menaikkan nada bicara, beliau akan langsung mengalah karena tidak ingin membuat masalah menjadi lebih panjang. Aku ingin tahu keberanian seperti apa yang akan beliau tunjukan.
"Dari data tahun lalu, pasien dari departemen..." Dokter Maharani terdiam, beliau menatap sekeliling dengan ragu. Akankah beliau maju dan menggunakan data yang aku berikan secara anonim kepadanya? Ataukah beliau menyerah?
"Dari data beberapa departemen tahun lalu, terdapat kelebihan anggaran baik dari pengadaan obat atau dari hal lainnya. Bukankah akan lebih efektif memadatkan anggaran itu agar tidak terjadi kelebihan? Dan, obat-obatan juga masih ada beberapa yang bisa memenuhi kebutuhan selama 2 bulan, dari situ kita bisa memasukkan anggaran 2 bulan itu untuk anggaran yang Dokter Mecca inginkan," lanjut Dokter Maharani dengan hati-hati.
"Apa yang Anda bicarakan? Data darimana itu?" balas Dokter Ahmad, kepala departemen saraf dengan nada penuh interogasi.
"Ini adalah data yang saya dapatkan dari perhitungan jumlah resep tiap departemen dan analisis prediksi untuk tahun ini," balas Dokter Maharani sembari meletakan tumpukkan kertas ke tengah meja.
Seperti zombie yang menemukan makanannya, orang-orang di ruang rapat berebutan mengambil dokumen itu. Sekarang, mereka akan menyerang Dokter Maharani karena mengambil data secara ilegal. Mereka pasti berpikir Dokter Maharani mengakses sistem resep elektronik untuk melihat resep-resep yang mereka tulis. Aku ingin tahu sejauh apa Dokter Maharani bisa bertahan.
"Anda mengakses resep elektronik setiap departemen?" teriak Dokter Mecca, membuat ruangan rapat menjadi sunyi. Hanya melihat dari layar handphone, aku sudah bisa merasakan ketakutan yang Dokter Maharani rasakan.
Salahkah keputusanku memberikan dokumen itu kepada beliau?
"Tidak.." sekali lagi jeda, membuat orang-orang tahu betapa takutnya Dokter Maharani saat ini. Aku terlalu mempercayai kepala departemenku sendiri tanpa melihat betapa penakutnya beliau.
"Tinggal sesi tanya jawab bukan? Aku ke toilet. Wakilkan aku mengisi lembar kuisioner," ucapku kepada Ara, membuat dia kebingungan tetapi langsung mengangguk.
Aku berjalan keluar. Tujuanku memang bukan toilet. Aku harus mencari Aisya. Aku tidak bisa membiarkan peningkatan anggaran terjadi begitu saja.
"Nona?" panggil Aisya begitu aku keluar dari ruangan.
"Dokter Dian, apa dia masih belum bisa masuk ruang rapat?"
"Belum, Nona. Penjagaan di luar ruang rapat sangat ketat. Kami berusaha mencari celah tetapi semua alasan di tolak."
"Dengan alasan?"
"Dokter Dian tidak memiliki kewenangan di ruang rapat. Para penjaga mengatakan hanya mereka yang berwenang yang bisa masuk."
"Tidak ada jabatan maksudnya, bukan?"
"Saya hanya melihat rekam medis pasien saya yang juga kebetulan berobat di departemen lain. Saya hanya mengakses jumlah total pasien yang berobat tiap departemen lalu mengalikannya dengan jumlah maksimal pengobatan setiap pasien hingga mendapatkan data yang sekarang berada di tangan Anda sekalian," ucap Dokter Maharani setelah berbagai macam desakan pertanyaan ditujukan kepadanya, membuatku mengabaikan perkataan yang Aisya berikan. Jika beliau adalah tipikal orang yang bisa berpikir rasional disaat-saat seperti itu, kenapa beliau menahan diri selama ini?
"Nona?" panggil Aisya, memastikan aku mendengarkan apa yang dia ucapkan.
"Sudah selesai," balasku.
Orang-orang mulai keluar dari ruang seminar. Beberapa terburu-buru untuk keluar hotel ini dan beberapa masih mengobrol dengan narasumber. Aku mencoba mencari Naira dan Azhar yang masih belum aku temukan. Aku justru menemukan seseorang yang memang ingin aku temui.
"3 menit lagi datang ke toilet," ucapku kepada Aisya sembari berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam toilet aku menemukan Apoteker Liyanah yang sedang mengambil tisu lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Beliau meninggalkan tas miliknya di luar. Aku rasa beliau terbiasa dengan kehidupan di Jepang hingga tidak takut barangnya akan dicuri. Kuamati tas lusuh miliknya, tas yang tidak menggambarkan kekayaan miliknya. Sebuah gantungan kunci terlihat, aku mencoba mencari tahu bentuk gantungan kunci itu. Abstrak, tidak membentuk apapun, hanya ada sebuah nama di belakang gantungan kunci itu.
Suara pintu terbuka terdengar. Aku langsung berpura-pura merapikan kerudungku. Apoteker Liyanah berdiri di sampingku sembari memberikan senyum.
"Apakah ini jadwal pertama Anda setelah kembali dari Jepang?" tanyaku mencoba membuka percakapan.
"Betul. Rasanya sangat berbeda kembali ke Indonesia. Jika saya tidak salah ingat, kita sempat bertukar pandang di dalam bukan?" balas beliau.
"Benar, Saya cukup tertarik dengan topik yang Anda sampaikan."
"Benarkah? Sepertinya Anda sibuk dengan handphone Anda selama seminar."
Tentu, beliau adalah orang yang jujur dalam mengutarakan apa yang ada dipikirannya. Aku memberikan sebuah senyum sebagai balasan. Kesan pertamaku di mata beliau sudah buruk. Aku tidak bisa melanjutkan lagi.
"Saya memang fokus pada handphone tetapi Saya juga mendengar materi yang Anda sampaikan terutama tentang Rumah Sakit dan Lembaga Riset Khusus Down Syndrome," ucapku membuat beliau kembali menatapku.
"Apa Anda akan menetap kembali di Indonesia?" tanyaku kemudian, ingin mengakhiri percakapan kami.
"Tidak, Saya masih ada banyak urusan di Jepang."
"Semoga Anda segera menyelesaikan urusan Anda dan bisa mewujudkan yang ingin Anda capai di Indonesia. Saya permisi dahulu, teman-teman saya sudah menunggu," ucapku sembari berjalan keluar toilet.
Di luar toilet, Aisya sedang berjalan menuju arahku. Dia sudah menggunakan kacamata khas miliknya, memberitahuku jika dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Tepat saat kami berpapasan, kami saling tatap dan aku menganggukkan kepalaku.
"Ara!!! Disini!!!" teriak Naira begitu melihatku, membuat orang-orang di dekatku langsung memandangku.
"Kenapa lama sekali?" rengeknya sembari menarik tanganku menuju cafe di hotel ini.
"Kamu masih sangat manja dengannya," ucap Ali membuatku langsung tersadar dengan kepindahan Naira.
"Kamu mau kemana?" tanyaku sambil berbalik ke arah Ali, membuat Ali langsung berhenti.
"Mengikuti kalian ke cafe bersama dengan Azhar."
"Ara, aku tahu apa yang ada dipikiranmu tapi itu salah," ucap Naira begitu mulutku hendak mengeluarkan kalimat balasan kepada Ali.
"Oh? Aku seperti pernah melihat laki-laki itu," ucap Ali berusaha mengalihkan perhatianku.
"Kak Ara," panggil Azhar membuatku langsung menatapnya yang sekarang menunjukan ekspresi khawatir.
"Ah!!! Aku ingat. Itu calon saudara iparmu dan sekretarisnya. Dan itu Aiba bersama ummi kalian."
Aku kembali berbalik, membuatku langsung bertatapan dengan Aiden yang sedang menikmati minumannya di cafe. Dia terus menatapku, membuat Naira bergantian melihat ke arahku dan arahnya. Ali dan Azhar juga melakukan hal yang sama tetapi Azhar langsung menyadarkanku.
Aiden memanggil sekretarisnya. Melihat bagaimana sekretarisnya langsung melihat ke arahku, aku bisa menebak apa yang dia inginkan. Aku tidak ingin bertemu dengannya, terlebih dengan adanya Aiba dan ummi.
"Kita pergi ke cafe luar," ucapku langsung menarik tubuh Naira, diikuti langkah bingung milik Ali.
"Nona Ara!!!!"
"Ada yang memanggilmu," ucap Ali dengan tetap mengikutiku yang berjalan semakin cepat.
"Nona Ara, lama tidak berjumpa," ucap sekretaris dengan penuh senyuman.
Bagaimana bisa dia tidak terengah-engah setelah berlari mengejarku?
"Satu pekan, apakah itu waktu yang lama?" balas Azhar membuat Ali dan Naira kebingungan memahami situasi saat ini.
"Ada yang bisa Saya bantu?" tanya Ali membuatku dan Azhar langsung menatap tajam ke arahnya.
"Saya akan sangat senang dan terbantu jika Tuan dan Nona bersedia kembali melanjutkan langkah kaki ke cafe di hotel ini."
Balasan itu membuat Ali menyadari setengah dari permasalahan yang ada. Dia berjalan ke depanku, berhadapan langsung dengan sekretaris Aiden. Perlahan, dia mengulurkan tangannya. Aku tidak percaya dia meminta kartu untuk membayar minuman yang akan kami pesan.
"Nona Aiba dan Ummi Anda juga sudah tahu jika Anda berada di sini," ucap sekretaris sembari memberikan black card ke tangan Ali, membuat Ali sedikit terkejut.
"Ra, aku lelah, mual, dan pusing," ucap Naira membuatku mau tidak harus kembali berjalan ke cafe itu.
...-----...