
Dua hari yang lalu.
Siapa yang akan menyangka seseorang yang sudah bersembunyi selama 2 tahun lamanya ternyata tinggal di sebuah penthouse yang sangat mudah dicari. Bukan hanya mudah dicari tetapi juga berada di lingkungan tempat keluarganya berada. Sekarang aku merasa iba kepada keluarganya yang terus menerus mengutus orang untuk mencari anak kesayangannya ini.
“Apa yang kamu mau dariku?”
Pertanyaan pembuka yang berhasil membuatku mengalihkan perhatian dari pemandangan di luar jendela lantai 20 kepada laki-laki yang sedang menatap tajam kepadaku. Tatapan tajam yang seharusnya tidak dia berikan kepada seseorang yang baru saja menyelamatkan hidupnya dari jurang kepedihan. Aku melupakan fakta penting tentangnya, tidak peduli semenakutkan apapun kepedihan yang akan dia rasakan, dia akan tetap berpegang teguh pada kepercayaan yang sudah hidup bersama dengannya. Satu-satunya cara membuat dia sadar hanyalah memberikan bukti kuat, bukti yang sangat sulit didapatkan dengan kekuasaan apapun.
Aku membuka dokumen di atas meja yang sedari tadi sudah dia tatap dengan penuh kebencian. Melihat sikapnya saat ini, aku yakin dia sudah menyelidiki kebenaran dari dokumen yang aku kirimkan kepadanya lima hari yang lalu. Aku juga sangat yakin, dia sudah mendapatkan kebenaran yang tidak dia inginkan. Aku meletakan foto-foto berisikan seorang wanita dan laki-laki yang keluar masuk hotel, makan malam romantis disebuah restauran, dan juga saat keduanya berkunjung ke dokter kandungan.
“Dia suami saudaramu. Kamu mau menyakiti saudaramu sendiri?”
“Bagaimana denganmu?”
“Apa maksudmu?”
“Wanita yang mengisi seluruh hidupmu memutuskan pertunangan sepihak dan menghilang tanpa jejak ternyata menjalin hubungan dengan suami orang lain. Dan hal yang lebih mengejutkan adalah mereka sudah menjalin hubungan saat laki-laki itu masih menjalin hubungan denganku.”
“…”
“Ah… bukan itu yang lebih mengejutkan untukmu. Ali, wanita itu adalah orang yang membuat keluargamu hampir kehilangan perusahaan.”
“Bohong,” ucapnya dengan nada penuh ketidakpercayaan.
“Semua hal yang wanita itu bocorkan tentang perusahaan keluargamu, kepada siapa informasi itu dibocorkan, berapa banyak yang dia dapatkan. Semuanya ada di dalam dokumen yang aku bawa hari ini.”
Ali hanya diam mematung, membuatku yakin otaknya masih memproses hal yang baru dia dengar untuk kali pertama. Aku mengalihkan tatapanku kembali ke pemandangan gelap penuh cahaya lampu di luar. Kendaraan masih banyak yang lalu lalang, membuatku langsung melihat jam di tanganku yang sekarang menunjukkan pukul 1 pagi. Aku tidak punya banyak waktu lagi karena aku harus terbang kembali ke Indonesia.
“Apa yang kamu mau Ra?”
Pertanyaan yang sudah aku tunggu daritadi. Saat dia menyebut namaku, saat itu juga aku sudah mendapatkan kepercayaan darinya. Untuk saat ini, kepercayaan yang aku dapatkan darinya masih bercampur dengan kebencian.
“Berikan aku semua informasi tentang keluargaku yang keluargamu tahu.”
“Kamu melakukan semua ini..”
“Aku tidak akan melakukan hal bodoh dengan sebutan balas dendam. Aku hanya ingin memiliki kelemahan semua orang yang aku kenal hingga mereka tidak bisa menyakitiku. Aku pergi.”
Aku mengambil tas dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu.”
“…”
“Ra, siapa kamu sebenarnya? Sangat tidak mungkin abimu tidak tahu apa yang kamu lakukan tetapi aku merasa tidak ada satupun yang tahu apa yang sedang kamu lakukan.”
“Aku hanyalah Arasely Salsabila Azhar,” ucapku sembari memberikan sebuah senyum dan berjalan keluar penthouse.
Aku menatap dokumen yang Ali tinggalkan di ruang kerjaku dengan datar. Aku tidak tahu akan secepat ini mendapatkan bayaran dari apa yang aku berikan kepadanya. Apa yang akan dia berikan jika dia tahu aku yang menyelamatkan perusahaan keluarganya? Apakah dokumen ini akan sampai di ruanganku lebih cepat?
“Dokter Ara!”
“Masuk,” balasku sembari memasukkan dokumen ke dalam tas.
Perawat Nisa masuk ke dalam ruangan dengan ragu-ragu. Dia menatapku dengan sangat hati-hati, mengisyaratkan hal yang akan dia ucapkan mungkin cukup menyinggungku. Aku mengangguk, memberikan izin kepadanya untuk mengatakan hal yang dia inginkan tanpa perlu mempedulikanku.
“Tidak bisakah saya ikut dengan Dokter ke rumah sakit pusat?” rengeknya.
Aku tersenyum, membuatnya kebingungan. Setidaknya aku tidak perlu memaksanya untuk ikut pindah denganku. Dia dengan sukarela masuk ke dalam kandang harimau.
“Kamu yakin? Akan banyak drama di rumah sakit itu.”
“Tidak peduli, yang terpenting bisa bersama dengan Dokter. Bersama dengan malaikat penolong saya.”
Malaikat penolong, dua kalimat yang bisa merubah tatapan mata datar milikku berubah menjadi tatapan terkejut. Aku tidak pernah meninggalkan jejak apapun saat menolong seseorang. Aku selalu memastikan berulang kali dan sekretarisku juga selalu memastikan tidak ada satupun jejak yang tertinggal yang bisa membuat orang lain menyadari keberadaanku.
Bagaimana bisa dia tahu?
“Coklat kit-kat dan sapu tangan milik Dokter. Dokter memberikan coklat kit-kat dan sapu tangan kepada saya 4 tahun yang lalu. Saya tidak akan sadar jika hanya dengan coklat, saya baru menyadarinya 6 bulan yang lalu saat melihat sapu tangan milik Dokter.”
“…”
“Dokter tenang saja, saya tidak mengatakan hal ini kepada siapapun.”
“Kamu tidak membenciku?” tanyaku membuatnya terdiam. Dia sangat tahu pasti arti dari pertanyaanku dan karena itu dia hanya bisa menatapku sembari tersenyum sebagai sebuah jawaban.
“Aku akan mengatur semuanya, tunggu surat tugas dari rumah sakit pusat datang," ucapku begitu keheningan mengisi ruangan.
“Baik,” balasnya diikuti senyuman penuh kebahagiaan. Dia menatapku sebentar sebelum meminta izin untuk meninggalkan ruanganku yang lagi-lagi aku balas dengan sebuah anggukan.
Kubuka laci meja kerjaku mencari sapu tangan berjumlah puluhan dengan pola yang sama. Aku harus mengganti semua sapu tangan ini. Aku tidak bisa membiarkan kesalahan yang sama terjadi. Aku membuka e-mail dan langsung mengirimkan perintah kepada sekretarisku untuk membuang semua sapu tangan milikku dan menggantinya dengan sapu tangan biasa tanpa pola apapun. Begitu e-mail terkirim, aku langsung menghapusnya.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Aku masih ingin menenggelamkan diriku di ruangan ini. Aku belum ingin menyetir selama 1 jam untuk sampai ke rumah. Dan aku juga masih belum ingin emosiku kembali menguasai diriku.
“Kak?”
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku terkejut lalu langsung mengambil tas dan berjalan keluar dari ruangan menemui laki-laki kecil yang selalu bisa menghibur kelamnya hatiku.
“Menjemput Kakak.”
“Sendirian?”
Hanya gelengan yang dia berikan. Aku rasa dia tidak ingin menyebutkan siapa yang datang menjemputku bersama dengannya karena itu akan merusak sisa hariku. Dia mengambil tasku dan menggendongnya. Dia satu-satunya orang yang mengekspresikan emosiku ke dunia luar saat aku berusaha menutupi perasaanku sendiri. Dia satu-satunya adik laki-lakiku, Ayaan Muhammad Azhar.
“Aku sudah memutuskan untuk menjadi dokter tetap di rumah sakit,” ucapnya membuatku berhenti di tengah lorong. Kalimat yang dia ucapkan adalah kalimat yang tidak ingin aku dengar. Saat kalimat itu muncul maka saat itu juga dia merelakan impian terbesarnya, impian yang sudah dia pertahankan selama ini. Aku sangat membenci kalimat itu karena kalimat itu muncul untukku.
“Kak, aku melakukannya untuk diriku sendiri.”
“Azhar, kamu baru saja memenangkan perlombaan internasional dengan bakatmu. Fotografer yang kamu kagumi bahkan mengirimu surat ajakan untuk bekerja sama. Impianmu…”
“Impianku adalah melihat Kak Ara bahagia,” potongnya.
“Apa yang kamu lakukan tidak akan membuatku bahagia.”
“Kak, Azhar mohon, biarkan Azhar memutuskan semua ini.”
Punggung yang selama ini aku kira tidak memikul beban apapun sekarang menampakkan begitu banyak beban seiring dengan langkah kakinya. Aku sudah tahu sejak lama jika beban bisnis keluargaku akan diberikan kepadaku tetapi aku baru tahu sekarang jika ada seseorang yang mau berbagi beban ini. Alasan dia mau berbagi beban denganku, aku harap bukan alasan yang sama denganku secara sukarela memikul beban ini.
“Ada perlu apa?” tanya Azhar membuat laki-laki itu cukup kebingungan menatapku.
“Dia pasien Kakak.”
Begitu mendengar ucapanku, Azhar langsung mundur ke belakangku. Laki-laki di depanku sekarang memberikan satu kardus coklat kit-kat. Bodohnya aku saat berpikir tidak ingin berhutang apapun kepadanya justru aku yang memberikan sebuah hutang kepadanya.
“Terima kasih,” ucapku ragu sembari menerima kardus darinya. Orang sepertinya akan terus mengejarku jika aku tidak menerima apa yang dia berikan. Walaupun aku tahu hal seperti ini bisa membuatku menyalahi kode etikku sebagai seorang dokter dan jika ada yang melihatnya, aku bisa langsung dilaporkan.
“Ada lebih banyak kit-kat dibandingkan cadburry, Saya rasa Anda lebih menyukai kit-kat,” balasnya memenuhi rasa ingin tahuku.
“…”
“Saya belum mengenalkan diri saya. Saya Aiden Athhar Hamza, biasanya dipanggil Aiden.”
Sekarang aku tahu dengan pasti alasan dia memberikan satu kardus coklat kepadaku. Dia ingin berkenalan secara resmi dengan mencoba meminimalisir kontak fisik denganku. Bahkan tanpa perlu adanya karduspun aku tidak akan melakukan kontak fisik apapun dengannya. Tanda kusadari sebuah senyum tersungging di pipiku, membuatnya lagi-lagi menatapku dengan tatapan yang sama saat dia mengucapkan ‘mirip dengannya’.
“Arasely Salsabila Azhar.”
“Saya bisa memanggil Anda dengan panggilan apa?”
“Kita tidak akan pernah bertemu kembali. Saya rasa tidak perlu untuk saling mengenal lebih jauh. Saya permisi,” ucapku dan langsung meninggalkan dia masuk ke dalam mobil.
Azhar menatapku dan Aiden bergantian sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Aiden terus menatap ke arah tempatku duduk, membuat Azhar menyenggol lenganku. Aku menatap Azhar, membuatnya memberikan tanda ke arah Aiden yang masih dengan setia menatap ke arahku. Aku benar-benar tidak beruntung dengan urusan sopan santun ini. Perlahan kuturunkan kaca jendela mobil, membuat Aiden menyinggungkan senyumnya. Sebuah senyum yang baru aku lihat.
“Ara,” ucapku membuat senyum di wajahnya bertambah lebar. Orang-orang akan mengira jika dia jatuh cinta pada pandangan pertama denganku tetapi menurutku dia hanya bersyukur menemukan seseorang yang bersedia mendengarkan dan bertukar kisah dengannya. Dia hanya menganggapku sebagai seorang psikiater dan teman baru.
Mobil melaju dan aku menganggukkan kepalaku kepada Aiden. Setidaknya aku harus memberikan tanda dan salam perpisahan kepadanya karena kami tidak akan pernah bertemu lagi. Aku langsung menutup jendela mobil begitu sosok Aiden sudah tidak terlihat di kaca spion.
“Kakak masih suka makan coklat?” tanya Azhar sembari mengambil kardus di pangkuanku.
“Sulit menghilangkan kebiasaan lama.”
“Aku harap Paman Salman tidak akan menceritakan pasien itu kepada abi.” Ucapan tajam Azhar membuatku kembali tersadar akan kehadiran sosok yang tidak aku inginkan. Aku memasang earphone dan mendengarkan murottal. Aku tidak ingin mendengarkan percakapan yang akan terjadi. Hanya akan ada adu argumen.
Paman Salman sudah berada di sisi abi bahkan sebelum kami lahir di dunia ini. Beliau menjadi orang kepercayaan abi dan bisa dikatakan beliau ikut andil dalam mendidik kami. Beliau yang akan menghukum kami menggantikan abi jika kami berbuat kesalahan yang melanggar agama ataupun etika. Hukuman yang cukup membuat kami bisa membenci beliau tetapi tidak ada satupun dari kami yang benar-benar bisa membenci beliau. Di balik tegasnya beliau juga terdapat sisi lembut yang membuat kami merasa disayangi olehnya sebagai seorang anak. Berkat beliau, aku dan Azhar bisa merasakan cinta dari seorang abi yang belum bisa kami dapatkan.
Sejak kejadian lima tahun yang lalu, beliau berhenti mencampuri semua urusanku. Bukan tanpa sebab beliau berhenti mencampuri urusanku, rasa bersalah yang membuat beliau berhenti memberikan perhatiannya kepadaku. Hari saat duniaku runtuh adalah hari dimana beliau mewakili abi menerima lamaran Haaris untuk Kak Lunna. Hari saat air mataku tidak bisa keluar adalah hari dimana beliau yang sebelumnya berjanji akan membuat perhitungan dengan Haaris menjadi hari dimana beliau merangkul Haaris masuk ke dalam keluarga. Tetapi bagiku, apa yang beliau lakukan tidak semenyakitkan yang kedua orang tuaku berikan.
“Kak, sudah sampai,” ucap Azhar pelan sembari membangunkanku dari tidur.
Hal pertama yang aku lakukan hanya membuka kedua mataku lalu diam, tidak mencoba membuka pintu mobil ataupun melakukan hal lainnya. Baik Azhar maupun Paman Salman juga tidak mencoba mengatakan apapun. Kami berdiam diri untuk waktu yang lama di dalam mobil. Hening, hanya suara mesin yang mengisi ruang-ruang mobil.
Kulepas earphone dari telingaku dan langsung membuka pintu mobil. Hal yang aku lakukan membuat Azhar terkejut dan langsung ikut membuka pintu mobil. Aku rasa a
Azhar takut aku tiba-tiba pergi.
Tidak ada yang berubah dari rumah yang sudah aku tinggalkan selama 5 tahun. Hanya bunga-bunga di taman yang berganti. Aku mengamati bunga yang sedang bermekaran dengan serius. Bunga-bunga yang dulu sangat aku cintai dan bunga-bunga yang melambangkan diriku di rumah ini.
“Ummi yang meminta Bunga Lily dan Bunga Mawar Putih ini," ucap Azhar memenuhi rasa ingin tahuku.
Sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Hanya ummi yang bisa melakukan hal ini sebagai bentuk penyesalan atas kepergianku dari rumah. Detik berikutnya aku berjalan menuju pintu rumah tanpa mengatakan apapun kepada Azhar dan Paman Salman, membuat keduanya menerka-nerka apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranku saat ini.
Sebuah senyum penuh kelembutan menyambutku begitu aku menginjakkan kaki ke dalam rumah. Aku langsung salim kepada ummi dan memeluk beliau. Beliau menyentuh pipiku dengan kedua tangannya, berharap aku akan memberikan sebuah senyum dan tatapan penuh kasih. Aku tidak bisa memberikan kedua hal itu, aku hanya menatap beliau dengan datar yang membuat Azhar langsung mengambil alih tempatku. Tatapan ummi masih mengikutiku, membuatku menjadi tidak nyaman.
Suara mobil lain masuk ke area rumah membuat perhatianku langsung tertuju ke arah mobil sedan berwarna putih. Aku berjalan mengambil kardus coklat yang Azhar letakkan di lantai dan langsung berjalan menuju kamarku. Aku belum ingin menemui ‘mereka’.
Tepat di depan pintu kamar, aku masih melihat papan nama milikku yang menggantung. Papan nama berwarna soft pink dengan hiasan awan dan bunga-bunga. Diriku yang dulu sangat ceria dan penuh dengan kelembutan, sangat berbeda dengan diriku saat ini yang dipenuhi dengan warna hitam. Aku mengambil papan nama itu tepat saat sebuah suara yang sudah aku coba lupakan selama 5 tahun kembali muncul.
“Kakak baik-baik saja?” tanya Azhar. Sepertinya dia mengikutiku untuk memastikan jika aku baik-baik saja. Kuhembuskan perlahan nafasku.
“Azhar,” panggilku.
“Ya?”
“Aku tidak baik-baik saja. Aku mau istirahat sebentar.”
Aku memberikan isyarat kepada Azhar agar meletakkan tasku di atas kardus yang sedang kupegang dan langsung masuk ke dalam kamar, tidak membiarkan Azhar masuk. Tenagaku hari ini benar-benar terkuras habis. Aku butuh istirahat untuk fisik dan terutama mentalku.
Tidak butuh waktu lama bagiku memutuskan mandi dan membaca Alquran sembari menunggu datangnya waktu Maghrib.
Bunyi suara alarm menghentikan bacaan Alquranku. Aku mengambil handphone dari dalam tas dan langsung mematikan alarm. Saat aku akan memutuskan untuk melanjutkan bacaanku, dokumen yang Ali berikan langsung mengisi penuh kedua mataku. Membuat tanganku tanpa sadar mengambil dokumen itu dan membukanya. Aku tidak menyangka akan ada banyak informasi yang Ali berikan kepadaku melihat tebalnya dokumen di tanganku. Aku lebih tidak menyangka jika Paman Fatah, yang merupakan sahabat dekat abi, memiliki begitu banyak informasi tentang Keluarga Azhar.
Mataku terpaku pada data hasil tes DNA yang menunjukkan tidak ada hubungan darah. Aku langsung menarik kertas hasil tes DNA itu untuk melihat siapa nama yang tertulis di dalamnya. Tubuhku membatu begitu nama ‘Lalunna Inaaya Azhar’ muncul.
Tok..tok..
“Kak, abi menyuruh Kakak untuk turun salat berjama’ah.”
Aku merapikan kembali dokumen di tanganku dan langsung memasukkannya ke dalam brankas. Dokumen yang Ali berikan kepadaku terlalu berbahaya bahkan untuk Keluarga Azhar. Aku harus menanyakan apakah Ali membaca dokumen yang dia berikan tetapi aku juga takut karena pertanyaanku justru akan membuat Ali penasaran.
“Kak?”
Aku bergegas menuju pintu dan membukanya. Azhar menatapku penuh tanda tanya. Tanpa bertanya apapun, dia langsung meletakkan punggung tangannya ke dahiku.
“Wajah Kakak pucat. Aku akan meminta abi untuk membiarkan Kakak salat di kamar.”
Aku hanya mengangguk dan membiarkan Azhar masuk ke dalam kamarku. Azhar mengambil minyak aromaterapi dari kotak P3K, membuatku menjadi pasiennya secara tidak langsung. Aku menghentikan Azhar begitu dia mencoba memeriksa nadiku.
“Aku hanya kelelahan dan tadi mandi dengan air dingin. Aku akan baik-baik saja. Beritahu abi jika aku akan datang makan malam.”
“Kakak masih berpikir untuk datang makan malam? Dengan semua orang itu?”
“Itu alasan abi memanggilku kembali ke rumah. Abi ingin memperingatkanku, memperingatkan perasaanku.”
“Kak…”
“Cepat atau lambat abi akan mencoba mengumpulkan semuanya kembali,” potongku.
“…”
“Aku bisa melindungi diriku sendiri, Azhar. Aku tidak akan membiarkan diriku mengalami rasa sakit yang sama.”
“Aku harap apa yang Kakak ucapkan adalah sebuah kebenaran karena jika tidak, aku, Azhar akan membuat makan malam hari ini menjadi sebuah bencana.”
...-----...