
Aku menyesal kemarin pulang pukul 10 malam hanya untuk menghindari sosok kakak tingkat Aiba yang berkunjung ke rumah. Sekarang dengan jadwal shift-ku yang pagi, aku masih sangat mengantuk. Aku membutuhkan kafein.
"Untukmu."
Kopi Starbucks menyambutku begitu aku masuk ke ruang kerjaku. Aku perlu memastikan dua kali jika aku tidak salah masuk ruangan. Dan aku memang tidak salah masuk ruangan.
"Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku disini?"
"Bukankah cukup jelas?"
Ali mengernyitkan keningnya, tanda dia tidak mengerti maksud perkataanku. Aku menghembuskan nafas sembari mengambil kopi di tangannya. Seperti biasa, aku membiarkan pintu ruangan terbuka sedikit.
"Kamu menjauhi Naira," ucapku setelah duduk dan meneguk kopi.
"Salah," balasnya dengan nada serius.
"..."
"Naira sedang hamil, aku tidak ingin membebani dia dengan kehadiranku. Dan juga, akan butuh waktu satu jam dari rumahnya ke sini. Suaminya, maksudku adikku, dia tidak selalu bisa mengantarnya."
Aku mengabaikan semua kalimat itu. Aku tahu penyesalan yang dia rasakan saat ini. Wanita yang dulu mengejar-ngejarnya dan berjanji akan selalu berada di sisinya, sekarang justru berada di sisi adiknya. Daripada menyesalinya sekarang, akan lebih baik jika dia fokus pada dirinya sendiri.
"Kamu mengabaikanku?" tanyanya sembari duduk di kursi depanku. Dia mengeluarkan handphone dan menyodorkannya kepadaku. Aku mengambil handphone miliknya dengan enggan.
Sebuah e-mail yang dikirimkan oleh abi kepada Paman Fatah terlihat di layar. Abi berharap bisa melakukan perjodohan alami antara aku dengan Ali. Aku rasa tidak akan ada perjodohan alami begitu Ali tahu tentang e-mail ini.
"Perjodohan alami?" tanyaku pelan.
"Keluarga kita akan berpura-pura berkumpul, meninggalkan kita sendiri, dan membuat kita perlahan menciptakan rasa," balasnya.
"Seperti yang terjadi antara adikmu dengan Naira?"
Pertanyaanku membuat Ali terdiam. Dia menyeruput kembali kopi miliknya. Pertanyaanku adalah fakta yang baru dia tahu. Setidaknya dia harus tahu jika keluarganyalah yang menginginkan Naira menikah dengan adiknya.
"Kamu mau?" tanyanya sembari menyilangkan kakinya, membuatnya tampak arogan.
"Kamu sendiri?" balasku sembari meletakkan kembali handphone-nya ke atas meja.
Diamnya sudah cukup menjadi jawaban untukku.
"Biarkan saja, cepat atau lambat akan hilang dengan sendirinya," ucapku akhirnya menyudahi sesi saling menatap kami.
Aku tidak ingin berpikir macam-macam untuk hal sepele seperti ini. Abi tidak akan bisa memaksaku, bahkan jika abi memaksaku, beliau tetap tidak akan bisa membuatku menikah dengan Ali jika Ali sendiri menolak. Untuk saat ini akan lebih baik berada di sisi yang sama dengan Ali.
"Bagaimana jika aku mengatakan aku lebih memilih Kak Lunna?"
Pertanyaan yang berhasil membuatku menatap tajam wajahnya. Melihat dari penekanan di nadanya, aku rasa hal ini berhubungan dengan Kak Lunna. Memang cukup aneh melihat abi langsung mengusulkan hal penting seperti perjodohan ini yang membutuhkan banyak diskusi tanpa pertemuan secara langsung dan hanya via teks bukannya telepon.
"Ulahnya?"
"Dia juga menyembunyikan Athina, aku tidak bisa melacak keberadaan Athina. Kakakmu, aku rasa dia bukan wanita polos seperti yang kita tahu selama ini."
Aku sudah tahu sejak dahulu jika Kak Lunna bukanlah orang yang polos. Banyak tipu muslihat yang dia buat, baik yang sengaja dia buat ataupun tidak sengaja. Jika aku bukanlah orang yang berhati-hati, aku sudah pasti jatuh ke dalam perangkapnya.
Hal yang membuatku lebih terkejut adalah Ali yang juga mengirimkan seseorang untuk melacak keberadaan Athina. Aku harus lebih berhati-hati tentang hal ini. Salah langkah sedikit saja akan membuatnya tahu tentangku.
"Aku akan mengurusnya," ucapnya kembali diikuti langkah kaki mendekati pintu.
"Ba..ba..bagaimana?" tanyaku dengan gelagapan.
"Seperti yang aku bilang. Aku akan mengatakan lebih memilih Kak Lunna."
"Jika kamu tahu Kak Lunna bukan wanita yang polos, dia sudah langsung tahu alasan kenapa kamu menyebutkan namanya. Hal yang kamu lakukan dengan masuk ke ruang kerjaku saat ini, kamu yakin Kak Lunna tidak tahu?" balasku membuat Ali berpikir ulang.
Ali menghembuskan nafasnya dengan kesal. Dia mengambil handphone miliknya dan jari-jari tangannya sudah bermain di atas layar. Entah apa yang dia lihat, wajahnya langsung berubah dari kesal menjadi normal.
"Aiba, aku hanya perlu mengatakan aku lebih menyukai Aiba," ucapan yang tiba-tiba terlontar dari mulutnya membuatku hampir tersedak.
"Aiba akan menikah, bukan? Kemarin aku ke rumahmu untuk meminta Paman menyetujui mutasiku ke rumah sakit pusat. Aku bertemu laki-laki yang aku rasa akan menjadi saudara iparmu. Abiku tidak akan pernah memaksaku menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Masalah selesai," lanjutnya sembari menaikkan pundaknya.
Aku terdiam menatapnya dengan datar. Detik berikutnya aku mengangguk dan memintanya keluar dari ruanganku. Solusi yang Ali berikan tidak buruk tetapi berbohong juga bukanlah solusi yang baik, terutama jika melibatkan orang lain yang dalam hal ini adalah Aiba. Tapi, aku tidak bisa berbuat banyak untuk saat ini, hanya menyetujui rencananya yang bisa aku lakukan agar dia tidak mencurigaiku.
"Ah... aku akan mengirimkan berkas-berkas lain tentang keluargamu dalam pekan ini," lanjutnya, membiarkan punggungnya perlahan menghilang dari jangkauanku.
Aku benar-benar tidak bisa melibatkan Aiba. Aku takut hanya dengan menyebutkan namanya akan menimbulkan efek domino atau lebih parah menimbulkan butterfly effect yang nantinya tidak akan bisa aku kendalikan. Variabel yang tidak pernah aku pikirkan, aku harus menghilangkannya.
Informasi yang Ali bawa hari ini, aku sudah menduganya akan terjadi. Abi tidak akan membiarkanku tetap lajang, batas maksimal aku bisa tetap lajang adalah saat usiaku menginjak 30 tahun. Aku sudah menyusun rencana untuk 2 tahun ke depan dan aku juga sudah mempertimbangkan untuk menikahi Ali. Tetapi saat ini dengan adanya variabel baru, aku harus merubah rencana awalku untuk menikah dengannya. Melihat bagaimana dia juga menentang hal ini, akan sulit bagi kami untuk hidup bersama.
Kuambil handphone milikku dan langsung menghubungi Aisya, memintanya untuk datang ke ruanganku. Aku harus menyingkirkan variabel ini secepatnya sebelum Ali memberitahukan keluarganya. Aku yakin, Ali akan memberitahu keluarganya hari ini juga.
Tok.. tok..
"Masuk."
"Apakah ini masalah perjodohan dengan Dokter Ali?" tanya Aisya membuatku menutup mulutku kembali.
"Kamu tahu?"
"Saya sudah tahu dari saat e-mail tersebut dikirimkan tetapi karena pernikahan dengan Dokter Ali masuk ke dalam rencana Nona, saya merasa semakin cepat akan lebih baik."
"Aku juga mengira hal itu," balasku pelan, membuat Aisya mengernyitkan keningnya karena tidak mendengar jelas apa yang aku ucapkan.
"Nona ingin membatalkannya? Kenapa?"
"Ali tidak menginginkan perjodohan denganku."
"Nona juga sudah menduga hal itu dan yakin bisa mengubah pendiriannya."
"Dia akan menyeret Aiba sebagai alasan."
"..."
"Hubungan Aiba dengan kakak tingkatnya apakah sudah pasti?"
Aisya hanya menggeleng.
"Tidak menyinggung pernikahan sama sekali?" tanyaku terkejut.
"Tidak, Nona. Yang saya dapatkan hanya obrolan biasa, seperti seorang teman yang bertamu ke rumah teman lainnya."
"Maka ucapan Ali hanya akan menjadi bencana."
"Perlukah saya mengirimkan laporan akuisisi perusahaan dan juga hutang yang sedang ditanggung Keluarga Fatah?"
"Cukup laporan hutang. Abi akan langsung tahu kondisi Keluarga Fatah."
"Baik."
"..."
"Nona, bolehkah saya bertanya satu hal?"
"..."
"Apa menurut Nona, Tuan benar-benar belum tahu mengenai kondisi Keluarga Fatah?"
"Mereka menjual sebagian besar saham mereka ke luar negeri. Kondisi mereka dari luar masih menunjukkan kejayaan. Untuk kita tahu jika perusahaan mereka sedang hancur, itu hal yang sulit dan membutuhkan perjuangan. Abi, beliau bukan tipikal orang yang suka mengamati diam-diam."
"Lalu, dengan memberikan laporan kepada Tuan, bukankah itu bisa membuat Tuan membantu Keluarga Fatah?"
"..."
"Aisya, abi-ku orang yang mudah dibaca sekaligus sulit ditebak. Keputusannya selalu tergantung pada emosinya. Jika bukan karena Paman Salman yang ikut andil dalam urusan perusahaan maka Keluarga Azhar sudah hancur dari puluhan tahun lalu. Bukan abi yang harus kita waspadai melainkan Paman Salman."
"Segera keluarkan Ali dari rencana kita. Saat ini, dia juga bukan pion yang bisa membantu kita. Rasionalitas yang dulu ada padanya, saat ini sedang menghilang."
"Dokter Ara!!! Dokter Ara!!!"
Teriakan seseorang yang sangat aku kenal. Aku memberi tanda dengan kepalaku, meminta Aisya untuk segera keluar ruangan. Tepat saat Aisya membuka pintu, Perawat Nisa langsung masuk ke dalam ruangan.
"Etika?" tanyaku begitu memastikan Aisya sudah pergi.
"Maaf, tapi ini darurat."
"..."
"Apa Dokter juga memiliki gelar spesialis penyakit dalam?" tanyanya penuh semangat.
"Darimana kamu mendengar lelucon itu?"
"Dari perawat yang lain. Sumbernya dari koas yang dibimbing Dokter Dian. Gosip yang beredar mengatakan jika Dokter tergabung dalam tim riset dan kontribusi Dokter sangat besar di dalamnya. Mulai dari diagnosis yang tepat, bisa membujuk pasien untuk ikut dalam penelitian penyakit langka, memberikan banyak dana untuk penelitian, dan banyak lainnya. Yang terpenting, dokter-dokter di luar negeri juga mencoba menghubungi Dokter tetapi selalu Dokter tolak, julukan Dokter adalah malaikat sayap patah. Dokter, apa semua itu benar?" tanyanya terengah-engah dengan mata berbinar.
"Bernafaslah."
"Dokkkkk!!!!"
Aku memberi isyarat dengan kedua mataku, memintanya untuk duduk. Aku takjub dengan skil sosial yang dia miliki. Belum ada satu hari sejak kepindahannya dan dia sudah mendapatkan gosip tentangku. Setidaknya bukan gosip tentang pernikahanku yang gagal.
"Malaikat sayap patah?" tanyaku akhirnya membuatnya kembali bersemangat.
"Dokter menjunjung tinggi sumpah dan etika kedokteran, mementingkan pasien, membuat nyaman pasien, dan mendedikasikan hidup untuk pasien karena itu disebut malaikat. Sayap patah karena terhalang dengan identitas Dokter sebagai psikiater menyebabkan Dokter tidak bisa terbang menjangkau lebih banyak pasien," jawabnya sekali lagi dengan terengah-engah.
"Karangan yang bagus."
"Oh? Jadi itu bohong?" balas Perawat Nisa dengan penuh kekecewaan.
"Mengambil spesialis penyakit dalam dan spesialis jiwa, apa aku sepintar itu?"
Perawat Nisa mengangguk dengan cepat, membuatku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku berdiri dari tempatku duduk untuk mengambil minum. Kuletakkan 1 botol air mineral ke hadapan Perawat Nisa.
"Perawat Nisa, aku bukan orang yang suka menduakan apa yang aku sukai. Saat aku menyukai sesuatu, aku akan mengejarnya bahkan jika aku harus melepaskan sesuatu yang saat ini aku sukai. Untuk menjadi dokter spesialis jiwa, aku merelakan pendidikan spesialis penyakit dalamku."
"Jadi, bukan Dokter?" tanyanya memastikan sekali lagi.
Aku menggeleng sembari menunjukkan wajah serius. Perawat Nisa menghembuskan nafasnya, menunjukkan tanda kecewa. Aku tidak paham, bagaimana hal ini bisa membuatnya kecewa.
"Dokter jangan lupa pukul 9 jadwal kontrol dimulai," ucapnya lesu sebelum meminta izin keluar dari ruangan.
Aku langsung menghubungi Aisya begitu memastikan tidak ada orang di dekat ruangan. Aku meminta Aisya untuk mengirimkan laporan tentang Dian selama beberapa bulan terakhir. Aku tidak terlalu memusingkan jika memang Dian mengkhianatiku karena sudah bisa dipastikan data-data yang dia coba kirimkan ke orang lain tidak akan terkirim. Hanya informasi tentang diriku di masa lalu yang akan orang lain dapatkan. Melihat tidak ada laporan secara langsung tentangnya, membuatku semakin yakin dia tidak bertemu langsung dengan orang yang menginginkan informasiku. Aku hanya membutuhkan bukti dia memang mengkhianatiku untuk melepaskan tanganku darinya.
E-mail dari Aisya masuk. Seperti dugaanku, dia mengirimkan informasi tentangku yang memiliki 2 gelar spesialis. Cukup mengejutkan mengetahui nama penerima dari e-mail yang coba dia kirimkan, ceisyalaiba@gbox.com.
Jam menunjukkan pukul 08.45, masih ada waktu selama 15 menit sebelum jadwal praktekku dimulai. Aku mulai mencari jadwal praktek Dian di komputer. Sama denganku, dia juga akan mulai pukul 9. Aku langsung berjalan cepat keluar ruangan menuju ruangannya.
"Ara? Aku tidak tahu jika kamu kembali," kalimat pembuka yang penuh dengan kepanikan seolah dia tahu tujuan kedatanganku.
"Jika kamu tahu, kamu akan menyingkirkan semua gosip tentangku?"
Begitu ucapan itu keluar dari mulutku, dia langsung meminta koas-koas yang sedang berdiskusi dengannya untuk keluar. Ketika hanya ada kami berdua di ruangan berukuran 4x4 meter ini, dia langsung menutup rapat pintu beserta gorden. Dia mempersilakanku duduk dengan wajah was-was.
"Apa yang Aiba inginkan dariku?"
Pertanyaanku berhasil membuat buku ditangannya jatuh. Bersama dengan jatuhnya buku miliknya, tubuhnya juga ikut jatuh ke lantai. Tubuhnya bergetar tetapi itu tidak membuatku berhenti memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Aku terpaksa. Ara, aku memiliki tanggungan kedua adikku. Aku tidak punya pilihan..."
"Kamu punya pilihan," potongku tegas, membuatnya menatap takut kepadaku.
"Saat kamu memutuskan untuk bekerja denganku, saat itu juga semua tanggunganmu menjadi tanggunganku."
"Aku..."
"Bukankah aku sudah bilang, kamu setia kepadaku aku akan membalasnya beribu kali lipat dan saat kamu mengkhianatiku aku juga akan membalasnya berkali lipat."
"..."
"Beribu kali lipat dengan berkali lipat, bukankah perbedaan diantara keduanya sangat jauh?" tanyaku.
"Ara, aku benar-benar min..."
"Katakan apa yang Aiba inginkan," potongku untuk kesekian kalinya. Aku tidak ingin mendengar kata maaf keluar dari mulutnya. Aku takut, aku akan memaafkannya.
"Aku benar-benar tidak tahu, Ra," balasnya putus asa.
Hening. Hanya suara detak jam yang mengisi ruangan ini. Beberapa orang sudah mulai lalu lalang di lorong, membuatku sangat yakin saat ini Perawat Nisa sedang kebingungan mencariku.
"Ah.. Aiba mengatakan di telepon jika informasi itu untuk Kak Lunna. Dia juga sempat menyinggung tentang persaingan antara kamu dan Kak Lunna. Aku rasa, Kak Lunna juga ingin mendapatkan rumah sakit dan sedang memastikan kamu...."
"Cukup."
Aku tidak ingin dia melanjutkan apa yang ada dipikirannya. Aku ingin menghapus memorinya tentang semua ini. Persaingan antar keluarga yang terlihat harmonis di luar, orang-orang akan menyukai hal ini.
Tok..tok..
"Maaf Dokter Dian, apakah Dokter Ara sedang bersama Dokter?"
Lagi-lagi suara yang aku kenal. Aku beranjak dari tempatku duduk mendekati Dian. Dia masih menatapku penuh ketakutan.
"Teruslah menjadi informan untuknya. Pastikan gosip tentang dua gelar spesialisku hilang hari ini juga," ucapku diikuti anggukan ketakutan darinya.
"Dokter???" panggil Perawat Nisa dengan lebih keras.
Aku berjalan menuju pintu, tidak ingin Perawat Nisa membuat kehebohan. Dian juga sudah berdiri, walaupun tubuhnya masih bergetar takut. Kupegang knop pintu, membuatku teringat akan sesuatu.
"Aku akan keluar dari tim riset. Pendanaan akan tetap aku berikan dengan timeline yang aku tetapkan. Ini akan menjadi teguran pertama, teguran kedua akan menjadi mimpi buruk untukmu."
"Ra," panggilnya pelan.
"..."
"Jika Aiba meneleponku lagi, aku akan memberitahumu."
Tok.. tok..
Aku langsung membuka pintu, membuat Perawat Nisa berteriak terkejut. Aku memberikan tatapan tajam dan anggukan kepadanya, membuat dia menyadari kebenaran dari gosip yang beredar dan juga rasa takut yang Dian rasakan. Tanpa perlu aku peringatkan kembali, dia langsung berjalan pergi menuju ruang praktekku.
"Jangan lakukan itu. Aku membiarkan mereka memilikimu."
"Ra??" panggilnya putus asa.
Aku berjalan meninggalkan Dian yang masih diam membatu. Dia memang tidak tahu apapun tentang rencanaku. Dia hanya tahu tentang dua gelar spesialisku, gelar yang salah satunya ingin aku tutupi. Dia orang yang sangat loyal, bahkan Aisya mengakuinya. Jika dia sampai melakukan hal ini, nominal yang Aiba tawarkan atau ancaman yang dia terima pasti sangat besar. Sebesar apapun loyalitas yang dia miliki, dia tetap mengkhianatiku dan aku takut pengkhianatan kedua akan terjadi jika aku tidak memotong taliku darinya.
Langkah kakiku terhenti tepat saat mataku melihat dua sosok laki-laki yang aku kira tidak akan pernah aku temui lagi, sekarang berdiri di depan ruang praktekku. Perlahan, aku berjalan masuk ke ruang praktekku dengan sesekali memberikan senyum ke pasien-pasien yang sedang menunggu. Termasuk dia, Aiden Athhar Hamza.
...-----...