A untuk Ara

A untuk Ara
Dia


Aiden terus mengamatiku yang sedang menuliskan resep obat tidur untuknya. Dia tidak mencoba menyembunyikan tatapan yang dia berikan kepadaku. Aku yakin, dia ingin aku merasakan tatapan miliknya dan membuka kembali obrolan yang sudah aku akhiri beberapa menit yang lalu.


"Obat bisa langsung diambil dibagian farmasi," ucapku begitu selesai mengetikkan resep ke sistem komputer. Ucapanku berhasil membuat mata Aiden kembali bersinar.


"Anda memiliki waktu luang?"


Pertanyaannya membuatku langsung bertukar pandang dengan Perawat Nisa. Aku hanya tersenyum membalas pertanyaan itu sembari memberikan tanda kepada Perawat Nisa untuk membawa keluar pasien terakhirku ini. Perawat Nisa dengan sigap langsung berdiri dari tempatnya duduk tetapi tubuhnya langsung dihalangi oleh sang sekretaris. Sekretaris yang belum aku ketahui namanya.


"Tidak," jawabku akhirnya membuat Perawat Nisa bisa kembali ke tempat duduknya.


"Kapan Anda memiliki waktu luang?"


"..."


"Saya hanya ingin mengajak makan malam."


"Saya selalu makan malam di rumah," balasku cepat.


"Baiklah, sampai jumpa," balasnya setelah jeda selama 5 detik.


Aiden memberikan satu kotak coklat kit-kat dengan berbagai varian rasa khas Jepang. Aku mengambil kotak itu dan mengembalikannya, membuat suasana di ruangan ini menjadi canggung. Perawat Nisa langsung mengambil alih situasi, menjelaskan hal-hal yang tidak boleh dokter terima dari pasien.


"Saya ambil kembali untuk sekarang, nanti Anda harus menerimanya," balasnya dengan senyum menghias wajahnya.


"Nanti?" tanya Perawat Nisa dengan bingung begitu kedua laki-laki itu keluar ruangan.


Aku mengabaikan pertanyaan itu dan berjalan keluar ruangan. Jam praktekku hari ini sudah selesai dan aku sangat mengantuk. Aku juga harus segera pulang ke rumah karena pesan yang Azhar kirimkan pagi ini, meminta berbicara berdua dengannya.


"Dokter tidak salat dahulu?"


"Menstruasi," balasku singkat lalu melanjutkan langkah kaki menuju ruang kerja untuk mengambil barang-barang.


Aisya membukakan pintu mobil begitu aku sampai di tempat parkir. Aku langsung masuk ke mobil dan merebahkan tubuhku di kursi belakang. Sungguh sangat nyaman setelah semua yang terjadi hari ini.


"Nona," panggil Aisya ragu.


"Cari tahu seperti biasa semua yang aku kirimkan hari ini."


"Baik."


"Dan...," ucapku terhenti.


"Nona?"


"Cari tahu tentang Aiden Athhar Hamza."


"Siapa itu Nona?"


"Pasienku."


Aisya langsung memalingkan wajahnya ke arahku. Ini adalah kali pertama aku meminta informasi tentang pasienku. Selama ini, aku hanya mencari informasi tentang orang-orang yang membahayakanku.


"Jadikan prioritas terakhir," balasku menutup percakapan kami.


Aku menutup kedua mataku sepanjang perjalanan. Aku tidak bisa tidur ketika berada di tempat yang bergerak. Hanya menutup kedua mataku setidaknya bisa membuat tenagaku perlahan kembali.


Perjalanan dari rumah sakit ke rumah hanya membutuhkan waktu selama 10 menit. Waktu yang singkat untukku bisa menikmati kesendirian. Waktu yang singkat pula untukku bisa mengisi ulang tenagaku.


"Nona tidak masuk ke kamar?" tanya Aisya begitu menyadari langkahku menuju bangunan di samping rumah.


Aku hanya melambaikan tangan dan terus berjalan. Saat ini di dalam rumah pasti hanya ada Aiba dan Kak Lunna. Aku tidak ingin menghadapi kedua orang itu bersamaan. Lidah yang tajam dan kemampuan mengendalikan suasana, aku akan dibantai habis-habisan oleh mereka.


Aku langsung merebahkan tubuhku sesampainya di bangunan kecil. Bangunan yang dulu dibangun sebagai tempatku belajar melukis. Bangunan yang juga menjadi saksi jika aku merupakan bagian dari Keluarga Azhar.


Kupejamkan kedua mata beratku. Tidak butuh waktu lama untuk tubuhku kembali rileks. Dan aku tertidur.


Mimpi yang aku kira bisa aku menikmati lebih lama langsung hilang bersama dengan suara bising dari luar. Suara para pegawai membangunkan tidur lelapku. Aku lupa jika bangunan ini bersebelahan dengan ruang dimana para pegawai istirahat. Kulihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 5. Para pegawai pasti sedang beristirahat sebentar sebelum menyiapkan makan malam.


"Tamu Nona Aiba akan datang lagi hari ini?"


Pertanyaan yang langsung membuatku duduk kembali untuk mendengarkan percakapan mereka.


"Ho o, katanya datang untuk makan malam. Padahal kemarin menolak dan membuat Nona Aiba malu."


"Tapi, laki-laki itu agak aneh."


"Maksudmu?"


"Dia kemarin hanya berkunjung selama 30 menit dan obrolannya lebih banyak membahas tentang Nona Ara."


"Hanya perasaanmu saja."


"Sejak saat dia melihat foto keluarga, dia terus-menerus menanyakan Nona Ara. Dia terus mencari topik tentang Nona Ara selama 20 menit. Dari mulai pekerjaannya, sekolahnya, dan yang lebih parah dia juga menanyakan kesukaan Nona Ara."


"Hey, hentikan. Pasti hanya rasa penasaran karena hanya Nona Ara yang tidak ada di rumah kemarin."


"Tapi kemarin juga tidak ada Tuan Haaris."


"Sudahlah. Ayo cepat kembali ke dapur atau kita kena omel."


Obrolan yang menarik. Laki-laki yang seharusnya datang untuk melamar Aiba tiba-tiba menanyakan tentangku. Laki-laki yang bahkan belum pernah bertemu denganku bisa begitu penasaran mengenai kesukaanku. Murni rasa ingin tahu atau dia memiliki niat lain.


Tok..tok


"Masuk."


"Nona."


"Katakan," ucapku begitu Aisya hanya berdiri diam di depan pintu.


"Nona Aiba memberikan 60% kepemilikan saham rumah sakit miliknya kepada Nona Lunna. Hal ini membuat Nona Lunna sekarang memiliki 35% saham total rumah sakit. Hanya membutuhkan 16% lagi baginya untuk bisa membuka rapat umum. Dan pasti, kedua orang tua Nona bisa memberikan 16% itu dengan cepat."


"Apa yang Kak Lunna berikan kepada Aiba?"


"Tidak ada."


Aku menatap tajam Aisya, membuatnya tanpa sadar berjalan mundur hingga menabrak pintu. Kulangkahkan kakiku mendekatinya dan mengambil iPad di tangannya. Semua informasi pertemuan, percakapan, dan foto Aiba dengan Kak Lunna menyambut kedua mataku.


"Informasi," ucapku pelan begitu menemukan sebuah dokumen berada di atas meja tempat keduanya bertemu.


"Maaf?"


"Kakak tingkat Aiba, orang seperti apa dia?"


"Ah... maaf, saya belum membaca informasi yang dikirimkan..."


"Lupakan. Aiba hanya mempedulikan dirinya. Aku juga tidak tertarik untuk menjadi direktur rumah sakit," potongku.


"Tapi jika rumah sakit jatuh ke tangan Nona Lunna, akan sulit untuk mengambilnya."


"Maka jadikan aku pemilik 51% saham."


"Baik, Nona."


Aku membuka pintu dan berjalan keluar, diikuti Aisya yang terus berjalan di belakangku. Matahari sudah hampir tenggelam, membuat pemandangan di taman menjadi semakin indah. Pemandangan yang menenangkan hatiku.


Sekarang pukul 17.30, waktu dimana Azhar seharusnya sudah berada di kamarnya. Aku penasaran dengan topik yang akan dia bicarakan. Aku berharap bukan topik mengenai Kak Lunna ataupun Haaris.


"Nona," panggil Aisya sembari menarik lenganku. Aku menatap bingung ke arahnya. Dia memberikan jawaban lewat arah pandangnya yang langsung aku ikuti.


Aiden Athhar Hamza, laki-laki yang saat awal pertemuan sudah aku putuskan hanya akan menjadi orang asing sekarang berada di halaman rumahku. Dia bahkan mengobrol dengan Azhar dan juga abi. Sekarang aku tahu, topik apa yang ingin Azhar bahas denganku.


"Nona?" panggil Aisya saat aku menghabiskan 1 menitku untuk saling tatap dengan Aiden.


"Kak Ara!!!" panggil Azhar diikuti lambaian tangan canggungnya, membuatku tersadar kembali.


"Jadikan dia prioritas utama untuk saat ini," ucapku yang langsung disambut ketikan jari Aisya.


Aku berjalan mendekati tempat dimana laki-laki yang akan menjadi saudara iparku berdiri. Aku menyesal menganggap dia sebagai angin lalu. Semua ucapannya, tidak seharusnya aku mengabaikan semuanya.


"Dia Ara, kakak Aiba yang kemarin kamu tanyakan," ucap abi membuatku mau tidak mau harus memberikan senyum penuh paksaan kepadanya.


"Apa dia kakak tingkat Aiba?" tanyaku basa-basi.


"Iya, dia kemarin menanyakan banyak hal tentangmu."


"Karena Saya tidak melihat Anda kemarin di rumah ini. Saya penasaran," ucap Aiden dengan nada yang lebih sopan dibandingkan saat dia berada di rumah sakit.


"Anda? Saya? Kalian jangan terlalu formal. Dan kamu, Aiden, Ara ini 1 tahun lebih muda dibandingkan kamu," balas abi dengan nada jenaka yang justru membuat suasana menjadi canggung. Hanya diam dan saling tatap yang kami lakukan.


"Ayo masuk ke dalam. Aiba dan yang lain sudah menunggu," ucap abi sembari menarik lengan Aiden masuk ke rumah.


"Kak," panggil Azhar dengan tangannya mencengkram lenganku.


"Aku hanya tahu dia pasienku."


"..."


"Tentu tidak. Kakak bilang jika dia pasien Kakak, bagaimana bisa aku menyebarkan informasi pasien?"


"Paman Salman?" tanyaku tidak sabar.


"Beliau tidak mengatakan apapun."


"Bagaimana bisa dia berakhir menjadi pasienku?" tanyaku pelan.


"Itu yang ingin Azhar tanyakan kepada Kakak. Apakah sebelumnya dia tahu siapa Kakak atau semua ini hanya kebetulan."


Azhar menarik tubuhku berjalan masuk ke rumah. Aku langsung melihat ke depan dimana abi menatap tajam ke arah kami yang tidak mengikuti beliau. Begitu tatapan abi tidak tertuju ke arah kami, aku mengamati orang-orang yang berada di dalam rumah. Aku bisa melihat mata Aiba yang bersinar begitu melihat Aiden. Siapapun akan langsung tahu siapa Aiden baginya.


"Azhar, jika suasana nanti malam tidak bersahabat, aku atau kamu harus berpura-pura."


Azhar mengangguk dan melepaskan tangannya yang sedari tadi masih menarik tubuhku. Azhar dan aku berdiri di depan pintu masuk sambil mengamati pertunjukan penuh sopan santun ini. Hanya hembusan nafas dan wajah datar yang kami tunjukkan.


Aiden memalingkan wajahnya ke arahku. Dia perlahan berjalan mendekat ke arahku, membuatku dan juga Azhar kebingungan sekaligus cemas. Azhar menyenggol lenganku, mengisyaratkan tatapan tidak bersahabat yang diberikan orang lain.


"Untukmu."


Aiden memberikan kotak kit-kat yang aku tolak di rumah sakit. Kata 'nanti' di kalimatnya saat itu ternyata merujuk pada saat ini. Aku masih mengabaikan kotak yang mengambang di udara.


"Terima kasih," ucap Azhar sembari mengambil kotak kit-kat itu.


"Ah... Kak Aiden terlalu baik memberikan kami berdua buah tangan. Untuk Abi, Ummi, dan juga kakakku yang lain apakah juga coklat?" lanjut Azhar membuat Aiden menyadari kesalahannya yang sebenarnya bukan suatu kesalahan.


"Tentu, ada di dalam mobil. Hanya kotak ini yang bisa aku bawa. Sekretarisku akan mengambilkannya."


"Ara belum bersih-bersih badan dan juga sekarang sudah masuk waktu Maghrib. Ara permisi dulu ke kamar," ucapku mencoba menghentikan suasana canggung dan penuh rasa ingin tahu ini.


"Jangan lupa turun untuk makan malam, Kak," balas Aiba dengan suara lembut yang baru aku dengar dalam lima tahun terakhir.


Aku berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Tenaga yang belum sepenuhnya terisi sekarang sudah habis kembali. Tubuhku dan juga mentalku, aku tidak yakin bisa menyelesaikan hari ini dengan baik.


Aku langsung mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi. Aku tidak bisa mengabaikan makan malam hari ini, abi akan marah karena menganggapku tidak menghormati tamu. Aku juga tidak bisa sengaja datang terlambat ke ruang makan karena hanya akan menambah suasana menjadi canggung.


Hanya butuh 15 menit untukku menyelesaikan semua urusan di kamar mandi. Haruskah aku turun sekarang atau menunggu seseorang mendatangiku. Sepertinya akan lebih baik bagiku turun karena kemauanku.


"Apa Saya membuat Anda takut?"


Suara berat langsung menyambutku begitu aku membuka pintu. Aiden berdiri di depan kamarku dengan sebuah kotak kit-kat di tangannya. Untuk ketiga kalinya, dia memberikan kotak kepadaku.


"Dimana yang lain?" tanyaku masih mengabaikan kotak di tangannya.


"Masih di mushola," balasnya tenang.


Bagaimana bisa dia setenang ini?


"Aku rasa ini bukan hal yang baik untukmu berada di sini," ucapku sambil terus mengamati sekeliling.


"Jadi, Saya boleh menggunakan 'aku' dan 'kamu'?"


Aku terdiam, menyadari kesalahan yang aku buat karena kepanikanku. Hanya hembusan nafas berat yang aku berikan, membuatnya tersenyum lembut. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dariku.


"Nona Ara?" panggil Aisya menyelamatkanku.


Aisya berjalan cepat ke arahku begitu tahu siapa sosok laki-laki yang sedang bersamaku. Dia langsung mengambil kotak kit-kat dari tangan Aiden. Hal itu membuat Aiden cukup terkejut.


"Aku akan memastikan berikutnya kamu yang menerima kotak ini," balas Aiden sembari mengubah tatapan tajam miliknya ke Aisya menjadi lembut saat menatapku.


"Anda adalah tamu Nona Aiba, Saya mohon untuk tetap memperhatikan etika dan juga aturan," ucap Aisya membuat senyum di wajah Aiden hilang.


"Apa dia mewakilimu?" tanyanya dengan tatapan tajam masih dia berikan kepada Aisya.


"..."


Suara orang-orang kembali dari mushola terdengar. Aisya membuka pintu kamarku dan menyembunyikan kotak kit-kat itu. Aku memejamkan kedua mataku sebelum meminta Aiden untuk turun bersamaku.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kak Lunna dengan nada interogasi khas miliknya.


"Saya sedang mengobrol dengan Nona Ara dan Tuan Aiden bertanya dimana kamar mandi," balas Aisya, membuat Kak Lunna tidak percaya dengan alasan klasik seperti ini.


"Hanya aku yang ada di rumah. Dia meminta izin untuk menggunakan kamar mandi..."


"Tadi Saya menerima telepon dari kantor dan kebetulan saya ingin buang air kecil. Saya tidak ingin kembali ke mushola dan ingat jika di rumah masih ada Ara," potong Aiden membuat abi berdeham.


"Ayo makan," perintah abi membuat kami semua berjalan menuju ruang makan.


Azhar terus memberikan tatapan menyelidik kepada Aiden. Baginya saat ini bukan aku yang harus dia khawatirkan melainkan Aiden. Sosok laki-laki yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan dua kakak perempuannya, tentu hal ini akan Aiden sangat mencurigakan dimatanya. Bagiku, Aiden juga sangat mencurigakan.


Suasana makan malam menjadi cukup canggung, walaupun aku sudah menebaknya. Tetapi, aku tidak pernah menebak suasana ini terjadi karenaku. Saat ini, aku merasa seperti seseorang yang memiliki hubungan diam-diam dengan Aiden.


"Oiya, kemarin Kak Haaris juga tidak ada di rumah. Dia Kak Haaris, suami Kak Lunna," ucapan pertama yang membuka makan malam. Memang sudah saatnya kami mengobrol sambil menikmati makanan penutup.


"Ahh, Kak Haaris sebelumnya memiliki hubungan dengan Kak Ara tetapi lebih memilih menikah dengan Kak Lunna," lanjut Aiba berhasil membuat semua perhatian tertuju padanya.


"Kak Aiba," panggil Azhar dengan nada peringatan.


"Yang Aiba katakan benar, bukan begitu Kak Haaris?"


"Iya, aku memang lebih memilih Lunna karena sifatnya yang lebih dewasa dan mandiri."


Apakah sekarang ajang menjelek-jelekkanku?


"Sayang, jangan katakan hal itu. Ara juga dewasa dan mandiri."


"Tidak lebih dari kamu karena itu aku lebih memilih kamu."


Aku ingin pergi sekarang juga. Kulihat abi dan ummi secara bergantian. Tidak ada satupun dari keduanya yang berusaha mengganti topik pembicaraan.


"Benarkah kamu seseorang yang tidak dewasa dan tidak mandiri?" tanya Aiden sembari menatapku.


Aku menarik lengan Azhar yang hendak berdiri. Azhar menatapku bingung. Aku tahu suasana saat ini adalah suasana yang harus aku akhiri tetapi tatapan yang Aiden berikan adalah tatapan seseorang yang sedang memberikan bantuan.


"Ya, lebih dari itu. Aku orang yang suka berbuat onar, kabur dari rumah selama 5 tahun, tidak menghormati kedua orang tua, tidak lembut, dan masih banyak hal buruk lainnya."


"Ara," panggil abi membuatku langsung menatap beliau penuh amarah.


"Seperti dugaanku," balas Aiden membuat kami semua kebingungan.


"Aku pernah melihatmu di Buckingham Palace 5 tahun lalu dengan menggunakan gaun pengantin berwarna putih. Aku berpikir orang macam apa yang menggunakan gaun pengantin di tempat umum dan sekarang pikiranku tentang orang itu tepat seperti yang kamu ucapkan," lanjut Aiden diikuti sebuah senyuman, membuat Aiba meletakkan sendok di tangannya ke atas meja dengan keras.


"Jadi, kalian pernah bertemu?" tanya ummi tertarik.


"Saya melihatnya tetapi dia tidak melihat saya, seperti sekarang."


Jeda obrolan membuat ruangan ini menjadi hening. Kalimat yang baru saja dia ucapkan menimbulkan banyak arti. Untuk orang sepertinya, mengucapkan kalimat itu berarti memiliki makna tersendiri.


"Sekarang dia juga tidak melihat Saya," lanjutnya membuatku akhirnya menatap kedua mata coklat itu. Dia bahkan tidak membiarkan kami menerka maksud kalimatnya dan langsung mengklarifikasi.


"Ara..," panggil abi yang langsung dipotong Azhar.


"Kak Ara."


Kualihkan pandanganku pada Azhar yang mengaduh kesakitan.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku dengan nada pura-pura panik.


"Perutku sangat sakit," balasnya sembari mengaduh kesakitan.


"Abi, Ummi, dan yang lain, Ara izin untuk membantu Azhar."


"Pergilah," ucap abi dengan terpaksa. Mau tidak mau abi harus menghentikan makan malam dan sekarang satu-satunya kesempatan.


Aku memapah tubuh besar Azhar meninggalkan ruang makan. Sekretaris Aiden berusaha membantuku tetapi Azhar langsung menolaknya. Aisya juga menatap khawatir ke arahku, membuatku memberikan sebuah gelengan kepadanya.


"Yang dia inginkan aku."


"Yang dia inginkan Kakak."


Ucapku dan Azhar bersamaan sesampainya di kamar. Aku berjalan mengambil kotak P3K. Aku tidak mau tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar dan curiga karena aku tidak mengobati Azhar.


"Kak," panggil Azhar untuk ketiga kalinya.


"Kak Aiba tidak akan membiarkan hal ini. Kak Aiba pasti akan menggunakan rengekannya kepada abi dan ummi. Dan Kakak tahu sendiri bagaimana abi dan ummi selalu menuruti semua keinginannya. Kakak akan terus dikejar oleh abi saat laki-laki itu mengatakan niat sebenarnya," lanjutnya sembari menarik tubuhku duduk.


Tok..tok..


Ketukan pintu yang berhasil membuat kami berdua terkejut. Azhar memberikan gelengan, memintaku untuk tidak membuka pintu. Aku ingin menuruti keinginannya tetapi bunyi ketukan terus terdengar.


"Nona, Tuan Aiden menitipkan dokumen ini," ucap Aisya begitu pintu terbuka sambil memberikan map tebal berwarna coklat.


...-----...