
Kebencian yang aku kira akan meledak begitu melihat wajahnya, ternyata aku salah, kebencian yang selama ini aku rasakan tidak sebesar yang aku kira. Melihat wajah laki-laki yang hampir menjadi suamiku duduk disamping kakakku sendiri, ternyata tidak terlalu mengguncang batinku. Semakin melihat mereka, membuatku semakin tersadar betapa serasinya mereka. Membuatku semakin bersyukur tidak terlibat apapun dengan mereka selama 5 tahun terakhir.
Wajah yang dahulu berseri-seri, sekarang perlahan menunjukkan goresan-goresan lelah. Wajah yang aku kira akan dipenuhi kebahagiaan abadi setelah pernikahan ternyata tidak menunjukkan emosi apapun. Aku bodoh untuk selalu berpikir hatiku tidak akan pernah melepaskan mereka untuk rasa sakit yang aku rasakan. Hari ini, setelah semua tenagaku terkuras, aku akhirnya menyadari satu hal, membenci mereka adalah satu-satunya alasanku bisa bertahan hingga saat ini dan benci yang aku rasakan kepada mereka membuatku tidak merasakan emosi apapun lagi saat melihat mereka.
“Aiba tidak tahu jika Kak Ara pulang hari ini.” Kalimat pertama yang membuka percakapan di meja makan. Aku membalas pernyataan yang dilontarkan adik perempuanku dengan sebuah anggukan, menciptakan keheningan yang lebih mencekam. Dibandingkan dengan tidak tahu, aku rasa masa bodoh menjadi jawaban dari kalimat yang baru dia ucapkan.
Ceisya Laiba Azhar, satu-satunya adikku yang bisa melakukan apapun yang dia inginkan tanpa peduli dengan orang lain. Saat dimana aku dan Azhar tidak diberikan pilihan akan masa depan kami, Aiba memiliki hak untuk memilih apapun yang dia inginkan. Dia bisa menjadi seorang penulis seperti yang selalu dia impikan tanpa perlu memohon. Dia bisa memilih pendidikannya dan pilihan pendidikannya merupakan pilihan terbaik yang dia pilih, membuatnya bisa melakukan semua yang dia inginkan. Dia satu-satunya anak perempuan di keluarga Azhar yang menggunakan cadar, menempuh pendidikan di Al-Azhar Kairo, dan memahami ajaran Islam lebih baik dibandingkan saudara-saudaranya, membuat abi sangat membanggakannya. Dia adalah satu-satunya harapan abi dan ummi untuk urusan akhirat.
“Kak Ara,” panggilnya sekali lagi, membuat suasana di meja makan kembali berubah menjadi tegang. Di saat seperti ini, mereka membuatku menjadi seorang villain.
Aku merapikan sendok dan garpu di atas piring lalu memusatkan perhatianku kepada Aiba yang sedang ragu. Apapun yang ingin dia katakan, tidak akan berhubungan dengan Haaris maupun Lunna. Dia orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain. Bahkan saat dimana berita pembatalan pernikahanku menyebar, dia menjadi orang terakhir yang tahu dan dia tetap masa bodoh dengan rasa sakit yang aku rasakan.
“Kak Ara tidak akan menikah?” pertanyaannya membuat abi berdeham.
“Kamu mau menikah?” balasku tidak ingin basa-basi.
“…”
“Aku tidak peduli jika kamu mau melangkahiku.”
“Benarkah?” tanyanya dengan nada gembira yang membuat abi dan ummi langsung menatapku penuh rasa bersalah.
“Kamu sudah memiliki calon?” tanya Kak Lunna berusaha menciptakan suasana kekeluargaan di meja makan.
“Kakak tingkatku akan berkunjung ke rumah pekan ini. Dia yang selalu aku ceritakan kepada Ummi,” balasnya dengan antusias.
“Kak Ara benar-benar tidak masalah bukan jika Aiba melangkahi Kakak?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
Sekali lagi, hanya anggukan yang aku berikan. Aku melanjutkan memakan sisa hidangan penutupku. Untuk kedua kalinya, Azhar menginjak lembut kakiku, memberikan tanda untuk mengakhiri makan malam hari ini. Melihat bagaimana seriusnya dia, aku tahu dia hanya tidak ingin ada percakapan lebih jauh yang nantinya menyakitiku.
“Abi, Ummi, Lunna dan Haaris memutuskan untuk melakukan program IVF. Awalnya kami ingin langsung melakukannya di London tetapi Haaris memaksa untuk pulang dahulu meminta restu secara langsung kepada Abi dan Ummi.”
“IVF? Apa itu Kak?” tanya Aiba membuat suasana saat ini terlihat sangat harmonis.
“Ah… In Vitro Fertilization atau bayi tabung.”
“Kapan kamu akan melakukannya, Sayang?” balas ummi.
“Kami sudah mendaftar, tinggal menunggu panggilan. Tanggal 12 kami akan kembali ke London,” jawab Haaris sembari sesekali mencuri pandang ke arahku.
“Pekan depan? Cepat sekali, apa tidak bisa mendaftar di tempat yang dekat Indonesia saja supaya Ummi bisa menemani.”
“Haaris masih harus berada di London sampai 2 tahun ke depan, Ummi. Lunna juga lebih ingin berada di dekat Abi dan Ummi tetapi Lunna tidak bisa meninggalkan Haaris sendirian di London. Dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Lunna tidak ingin menjadi istri yang gagal.”
Percakapan yang ingin aku potong. Aku ingin pergi dari ruang makan secepat mungkin dan menutup telingaku dari percakapan mereka. Hati seseorang benar-benar menakutkan tetapi aku rasa lebih menakutkan Tuhan karena bisa membolak-balikkan hati manusia. Aku masih ingat dengan jelas seperti kejadian itu baru satu hari yang lalu bagaimana ummi menemaniku, memelukku, dan menangis bersamaku tetapi sekarang ummi sudah berada di pihak lain. Aku tidak bisa menyalahkan ummi sepenuhnya, mau bagaimanapun juga ummi milik Kak Lunna.
“Kak Ara bisa menemani Ummi mengunjungi Kak Lunna, bukan?”
Aku kembali tersadar dari pikiranku begitu namaku disebut. Aku menatap tajam Aiba yang langsung menundukkan pandangannya, seperti menyadari pertanyaannya adalah topik yang sensitif. Dengan semua ilmu agama yang dia miliki, aku hanya berharap dia bisa menerapkannya dengan baik saat berhubungan dengan saudaranya. Aku harap dia bisa menjaga lisannya dengan lebih baik agar tidak mengeluarkan bisa yang dapat membunuh orang lain. Aku hanya berharap dia bisa berpikir dahulu sebelum bicara bukannya bicara dahulu baru berpikir.
“Aku tidak masalah tetapi apakah Kak Lunna akan baik-baik saja?” balasku sebelum Azhar menjawab pertanyaan itu.
“Ara,” panggil abi dengan nada tegas miliknya.
“…”
“Tidak mau menjawab panggilan Abi?” sekali lagi suara tegas abi mengisi ruang makan, membuat Aiba ketakutan.
“Apa yang salah dengan kalimat Ara? Ara hanya menjawab pertanyaan yang Aiba berikan. Kenapa Abi hanya menegur Ara? Tidak dengan Aiba?”
“Maafkan Aiba. Aiba tidak bermaksud untuk menanyakan hal sensitif itu. Mulut Aiba bergerak lebih cepat dibandingkan kepala Aiba. Maafkan Aiba, Abi, Kak Ara,” ucap Aiba dengan air mata menetes.
Rengekan yang selalu berhasil membuat dia keluar dari setiap masalah. Rengekan yang selalu membuat orang lain menjadi orang jahatnya. Rengekan yang selalu menjadi tameng untuk setiap ketidaktahuannya. Dan rengekan yang sangat aku benci.
“Ara, kamu tidak seharusnya membuat Aiba menangis. Aiba, tenang saja, pertanyaanmu adalah pertanyaan yang wajar. Wajar bagi seorang anak untuk menemani orang tuanya. Tenang saja, Kakak tidak memiliki perasaan apapun tentang hubungan masa lalu Ara dan Haaris. Semuanya sudah berlalu, sudah 5 tahun yang lalu. Semua orang hidup maju, tidak ada yang hidup dengan terus menerus mengingat masa lalu, bukan begitu Ara?”
Ting..
Azhar memukulkan sendok ke atas meja, membuat semua perhatian terarah kepadanya. Sudah kuduga, dia akan bereaksi seperti ini. Aku menginjak lembut kakinya, membuatnya langsung menatapku. Aku memberikan gelengan kepadanya, memintanya dengan sangat agar tidak mengatakan apapun. Saat mulutnya terbuka maka saat itu juga hukuman akan diberikan kepadanya. Aku tidak ingin dia menanggung hukuman karenaku.
“Tentu, semua orang harus hidup maju,” balasku dengan sebuah senyum lembut, membuat Kak Lunna sedikit menunjukan amarah di matanya.
“Maaf menganggu waktu makan malamnya, ada hal yang harus saya diskusikan dengan Nona Ara.”
Akhirnya penyelamatku datang. Aku menatap Aisya, sekretarisku, dan memberikan tanda kepadanya untuk pergi dahulu meninggalkan ruang makan. Saat memastikan punggungnya sudah menjauh, aku menatap abi, meminta izin kepada beliau untuk meninggalkan makan malam yang sudah hancur ini.
“Apa yang akan kamu bicarakan dengan Aisya?” tanya abi, belum mau melepaskanku pergi.
“Urusan kepindahan Ara ke rumah sakit pusat. Berkas-berkas yang harus diurus.”
“Pergilah.”
Aku langsung berjalan meninggalkan ruang makan, diikuti dengan tatapan cemas milik ummi. Jika saja ummi mau mengeluarkan satu kalimat membelaku, aku pasti tidak akan menjadi seseorang yang segelap ini. Aku hanya membutuhkan orang yang melahirkanku berada di sisiku, menenangkanku, dan memihakku. Hanya Azhar satu-satunya keluargaku yang memihakku dengan suara lantang, sisanya mengikuti arus yang abi buat.
“Nona,” panggil Aisya dengan hati-hati sesampainya kami di taman.
Perlahan aku mulai melemaskan genggaman tanganku. Aku membenci fakta dimana hingga saat ini aku masih menjadi sosok yang belum bisa mengungkapkan emosiku. Aku selalu berdoa agar di masa depan, aku bisa berdiri dengan semua perasaan dan emosi yang menyelimutiku. Aku rasa, masih butuh waktu untuk doaku terkabul.
“Katakan,” ucapku setelah 3 menit berhasil menenangkan diri kembali.
“Keberadaan wanita itu sekarang tidak diketahui.”
“Kak Lunna, kemana saja dia pergi sebelum kembali ke Indonesia?” tanyaku membuat Aisya langsung membuka handphone miliknya dan menghubungi orang yang sudah aku tugaskan untuk selalu mengikuti Kak Lunna.
Langit malam semakin gelap, membuatku ingin menyelami gelapnya dunia ini. Dunia yang selama masa remajaku selalu aku kira hanya sebatas baik dan buruk sekarang berubah menjadi dunia yang penuh dengan tipu muslihat. Tidak, bukan dunia yang berubah tetapi diriku.
Aku memutuskan duduk di kursi taman sembari mengamati Aisya yang masih sibuk dengan handphone-nya. Beberapa detik dia menahan wajah marahnya dan detik berikutnya dia mengeluarkan wajah kesalnya. Dia pasti melupakan hal penting, hal yang seharusnya tidak dia lupakan begitu saja.
“Nona, maafkan saya,” ucapan yang langsung diikuti tundukan kepala.
“Kakak menemuinya?” tanyaku menebak, walaupun aku sudah tahu jawabannya.
“Maafkan saya karena teledor,” balasnya dengan nada takut.
“Berapa usia kehamilan wanita itu?”
“4 pekan.”
“....”
“Nona, ini tidak seperti yang saya kira, bukan?”
“Kakak tidak akan melakukan program IVF itu. Cek kembali tempat dimana mereka akan melakukan program IVF.”
“Baik, Nona.”
“Tunggu,” ucapku pelan, membuat Aisya menghentikan gerakan tangannya mengetik.
Aku melupakan hal penting dan langsung menembak ke inti permasalahan. Aku berdiri dari tempatku duduk dan memastikan tidak ada orang lain selain kami di taman. Aku menatap Aisya yang juga ikut memastikan jika hanya kami berdua yang ada di taman.
“Kak Lunna sudah tahu tentang hubungan Haaris dengan Athina. Ini adalah kehamilan kedua Athina. Setelah ini, tidak, saat program dimulai, saat itu juga Athina akan menghilang.”
“Saya akan memastikan selalu keberadaannya begitu mengetahui lokasi tempat dia berada,
Nona.”
“Tidak, jangan lakukan itu, Athina yang akan datang sendiri ke keluarga ini. Yang perlu kamu lakukan begitu mengetahui lokasinya saat ini adalah mengambil sampel tubuhnya.”
“Maksud Nona?”
“Melihat karakter Kak Lunna, dia akan dengan mudah menangani Athina. Pernikahan siri? Pernikahan kedua? Itu tidak akan menjadi masalah bagi keluarga Azhar selama Kak Lunna memberikan izin, maka semua selesai. Akan menjadi masalah, saat anak yang Kak Lunna lahirkan bukanlah anaknya. Keluarga Azhar bukanlah keluarga yang akan dengan mudah memberikan hartanya kepada mereka yang bukan keturunan.”
“Nona akan menggunakan wanita itu sebagai bidak dalam rencana ini?”
Bidak? Aku hanya memikirkan Athina masuk ke dalam rencanaku tetapi aku tidak pernah ingin membuat dia menjadi bidak di dalam rencanaku. Wanita sepertinya, yang bisa dengan mudah berkhianat, aku tidak bisa membuat lelucon untuk diriku sendiri.
Aku hanya diam sembari kembali duduk. Aisya langsung tahu jawaban dari diamku. Dia tahu jika aku hanya memanfaatkan kondisi saat ini dan tidak ingin mengambil risiko.
“Nona,” panggil Aisya sekali lagi dengan nada penuh kehati-hatian. Melihat bagaimana dia ragu, aku rasa masalah yang akan dia sampaikan adalah masalah yang seharusnya tidak memerlukan persetujuanku tetapi dia tetap harus melaporkannya.
“Paman dari Dokter Ali mengirimkan e-mail ke Pintu Harapan, meminta dana untuk operasi istrinya. Saya takut jika langsung menyetujuinya maka Dokter Ali perlahan akan tahu siapa Anda.”
“Separah apa?”
“Kanker Usus stadium 3 dan kerusakan organ
dalam.”
“Loloskan.”
“Tapi Nona...”
“Putar uangnya sehingga bukan Pintu Harapan yang memberikannya.”
“Baik, Nona.”
“Kak Ara!!!”
Teriakan Azhar membuat kami berdua terkejut. Aisya langsung mencoba pergi tetapi aku tahan, aku tidak ingin membuat Azhar curiga jika aku sedang membicarakan hal yang sangat penting dan rahasia dengan Aisya. Kecurigaan miliknya hanya akan membuatnya mencari tahu lebih dalam tentangku dan juga Aisya.
“Dan, lakukan proses transfer Perawat Nisa, selesaikan dalam pekan ini. Pekan depan dia sudah harus ada di rumah sakit pusat,” ucapku membuat Aisya sempat bingung. Dia masih berada di tahap memahamiku, ada saat dimana nada serius dan tenang milikku yang tiba-tiba membuatnya kebingungan karena merasa apa yang baru saja aku ucapkan bukanlah hal yang bisa membantu rencanaku.
“Apa aku mengganggu kalian?” tanya Azhar dengan canggung, canggung bukan karena mendengar apa yang baru saja aku ucapkan tetapi canggung karena adanya Aisya.
Aisya meminta izin untuk pergi setelah memastikan akan melakukan apa yang baru saja aku ucapkan. Sekilas, aku melihat bagaimana Azhar dan Aisya bertatapan, bisa aku bilang bukan hal yang baik. Tatapan penuh kebencian dan rasa sakit. Aku rasa cerita masa lalu mereka masih tersimpan dengan baik dan rapat di dalam hati mereka.
“Kenapa Kakak masih saja mempercayai dia?” tanya Azhar sembari meletakan jaket ke bahuku.
“Dia satu-satunya orang yang mengutuk Haaris lima tahun yang lalu.”
“Kak...”
“Azhar, dia orang yang Kakak pilih, dia bekerja untuk Kakak. Apa yang terjadi diantara kalian berdua, selesaikanlah tanpa melibatkanku,” potongku.
“Tidak ada yang perlu diselesaikan,” balasnya cepat.
“Ummi dan kedua orang tuanya, hanya itu petunjuk yang bisa aku berikan,” balasku sembari berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Azhar yang terdiam. Saat dimana aku memberikan petunjuk, saat itu juga dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Egonya atau rasa kemanusiaannya yang akan menang, aku tidak tahu. Hanya dia yang tahu.
...-----...