
Sore hari telah tiba, resepsi pernikahan Aji dilanjutkan kembali setelah tadi siang istirahat. Beberapa tamu undangan mulai datang menghadiri pesta pernikahan Aji. Sore ini Intan memakai gaun biru navy yang terlihat berkilau diterpa cahaya lampu. Make-upnya pun bertema arabian sesuai permintaannya. ia semakin terlihat cantik meskipun tidak memakai make-up tebal seperti tadi pagi.
Sambil menunggu Aji yang masih bersiap, Intan melalukan sesi foto seorang diri di photo booth yang sudah di siapkan, ia berpose sesuai arahan sang fotografer.
Setelah melakukan sesi pemotretan seorang diri, kini waktunya naik ke pelaminan karena Aji telah selesai bersiap. Pria itu memakai setelah jas warna senada dengan gaun yang di pakai Intan. Mereka berjalan menuju pelaminan dengan telapak tangan saling menggenggam.
Hari ini senyum keduanya seakan tak ada habisnya. Mereka menatap tamu-tamu yang sudah hadir di sana dengan binar bahagia yang tersorot dari mata. Semua menatap kagum ke arah pengantin yang baru saja naik ke atas pelaminan itu.
Keluarga dari Tangerang melakukan foto bersama untuk yang terakhir kalinya karena setelah ini mereka akan kembali pulang. Mereka tidak bisa tinggal lebih lama lagi di Jombang karena masih banyak urusan yang terbengkalai di Tangerang.
"Komodo ... selamat ya! lu cantik banget sore ini," ujar Kinar setelah mengurai tubuhnya dari Intan.
"lu buruan nyusul gue dong!" kelakar Kinar seraya memberikan isyarat kepada Kinar agar menatap seorang pria yang duduk di depan pelaminan.
"Jangan cari mati lu!" ancam Kinar yang membuat Aji dan Kinar tergelak karena melihat semburat merah di pipi Kinar.
Kinar gelagapan tatkala melihat Farhan naik ke atas pelaminan. Ia meraih tas yang ada di singgasana itu ketika Farhan semakin dekat dengannya. Ia merasa kikuk setelah melihat tatapan Farhan yang aneh.
"Hay calon istri! kenapa buru-buru turun!" sapa Farhan setelah berdiri di hadapan Kinar.
Aji dan Intan saling melempar senyum ketika mendengar ucapan Farhan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di antara dua sejoli itu, yang pasti mereka sangat bahagia jika akhirnya Kinar dan Farhan bisa bersatu.
"Jangan pergi! kita foto bersama dulu, oke!" Intan mencegah Kinar agar tidak turun dari pelaminan, "please!" sorot penuh harap terlihat jelas di mata Intan, hal itu membuat Kinar tidak tega.
Akhirnya, mereka berempat melakukan sesi foto bersama. Entah berapa kali mereka berpose, yang pasti mereka tertawa lepas karena berhasil membuat Kinar tersipu malu.
"Nih gue ada kado buat lo! gue harap lo suka," ucap Kinar setelah mengambil kotak kado dari tasnya.
"Wah!! makasih banget!" ucap Intan dengan binar bahagia yang terlukis di wajahnya.
Tepat saat adzan magrib, sepasang pengantin itu di turunkan dari pelaminan. Mereka harus ganti baju yang lebih simpel agar bisa bergerak bebas. Keluarga besar Pak Gatot akhirnya pamit pulang kepada keluarga besannya itu.
"Tan, Papah pulang ya! jaga dirimu baik-baik," ucap Pak Gatot sebelum keluar dari tenda pernikahan ini.
"pasti, Pah!" ucap Intan dengan diiringi senyum manisnya.
"Ji, Papah titipkan Intan kepadamu!" sebuah pesan dari Pak Gatot untuk Aji.
"Iya Pah, jangan khawatir! sekuat tenaga saya akan menjaga Intan agar tidak terluka," jawab Aji sebelum menjabat tangan Pak Gatot.
Setelah berpamitan, akhirnya mereka semua meninggalkan tenda pernikahan itu. Intan menatap kepergian keluarganya hingga mereka tak terlihat lagi dari pandangannya.
Malam semakin merangkak naik, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan tempat resepsi itu. Banyaknya tamu yang hadir membuat Intan merasa lelah, sejak satu jam yang lalu, ia diantar Aji ke kamar untuk beristirahat karena tamu-tamu pentingnya sudah hadir sejak tadi sore.
Penunjuk waktu yang ada di kamar Aji berada di angka sebelas malam. Namun, Aji tak kunjung masuk ke dalam kamar, hal itu berhasil membuat Intan menjadi resah karena ia tidak bisa tidur jika tidak ada Aji di sampingnya.
"emang belum pulang ya tamunya?" gumam Intan sambil mondar-mandir di sisi ranjang, karena lelah akhirnya ia duduk di atas ranjang yang di penuhi kelopak mawar itu.
Intan mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar itu—kamar yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin yang sesungguhnya. Ia tersenyum melihat semua hiasan yang ada di kamar dengan suasana romantis ini.
"Tan! lu harus siap, Tan!! lakukan kewajibanmu!" gumam Intan sambil meremas ujung piyama yang ia pakai saat ini. Jujur saja saat ini ia begitu gugup, ia resah karena ingin memberikan sesuatu untuk suaminya.
Lima belas menit kemudian, Intan berdiri dari sisi ranjang ketika mendengar pintu kamar terbuka. Ia mengembangkan senyum yang paling manis untuk menyambut kedatangan sang suami. Ia menghampiri Aji yang sedang berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku.
"Selamat datang di kamar pengantin ini, Suamiku!" ucap Intan sambil menatap Aji dengan sorot penuh arti.
Aji mengarahkan kedua tangannya untuk menyentuh rahang Intan. Tanpa ragu ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Intan, cukup lama ia melakukan hal itu, lalu Aji menatap Intan dengan mata teduhnya, ia menyusuri wajah imut itu dengan jari-jarinya, kedua manik hitamnya tak beralih dari mata belo istrinya.
"Ya Allah ... terima kasih karena Engkau telah mengirim seorang bidadari surga untuk menemani hamba berlayar dalam samudera yang deras ini. Hamba menerima semua takdirMu, hamba menerima ketika Engkau menakdirkan hamba berada dalam surga hitam ini." ucap Aji dalam hatinya.
Suasana temaram di kamar itu membuat mereka hanyut dalam kemesraan. Bibir yang saling bertautan mengawali penyatuan yang telah di nanti selama ini.
Intan hanya bisa pasrah atas apa yang dilakukan suaminya saat ini. Matanya terpejam karena tak kuasa untuk menatap mata teduh yang memberinya banyak cinta itu. Kedua tangan Intan akhirnya melingkar di leher Aji, ketika pria itu mulai mengangkat tubuhnya.
Kelopak mawar yang memenuhi ranjang bersprei putih itu harus berantakan ketika Aji mulai merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Tanpa permisi, kedua tangannya mulai bermain-main dengan kancing piyama itu hingga terlepas semua. Tatapan matanya tak lepas dari tato mawar yang ada di permukaan dada Intan, tangan itu pun mulai bermain-main disana.
Intan menutup kelopak matanya tatkala satu persatu kain yang melekat di tubuh masing-masing telah hilang. Ia tidak berani untuk menatap Aji, ia hanya meremas sprei putih itu tatkala Aji melakukan apa yang seharusnya ia dapatkan.
Bulir air mata terus keluar dari mata yang tertutup itu. Intan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan apa yang seharusnya Aji dapatkan malam ini. Mahkota itu telah hilang karena ke-bi-a-da-b-an seorang pria. Air mata itu seakan menjadi sebuah tanda dari rasa sakit yang Intan alami saat ini.
"Suamiku, maafkan aku ... aku tidak bisa memberimu mahkota yang dulu pernah aku jaga, surgamu tak lagi suci seperti dulu. Tapi, percayalah bahwa aku tidak pernah menghianati cintamu walau sedikit saja," batin Intan saat Aji berhasil menerobos pintu goa miliknya.
Kelopak mawar yang ada di ranjang itupun akhirnya berantakan karena guncangan yang terjadi di sana. Kelopak mawar itu menjadi saksi bahwa saat ini Saka Junior sedang on the way.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Maap ni yee, adegan malam pertamanya gak aku jabarin😂 kalau mau yang panas-panas bisa mampir ke karyaku yang lain yak👇👇Tuh ada tiga yang mengandung panas-panas😁