Surga Hitam

Surga Hitam
Happy Anniversary


Alunan lagu-lagu romantis terdengar lirih di kamar bernuansa abu-abu ini. Sang pemilik kamar sedang duduk di depan meja rias, memoles wajahnya dengan sedikit sentuhan make-up.


"Cantik!" Intan memuji dirinya sendiri setelah selesai memakai lipstik merah nyala seperti warna baju dinasnya malam ini—baju pemberian Aji beberapa hari yang lalu.


Intan berdiri dari tempatnya, tak lupa ia meraih kimono untuk menutupi tubuhnya yang bersembunyi di balik kain transparan berenda. Semua persiapan sudah selesai dilakukan, tinggal menunggu kedatangan sang suami yang masih berada di pondok putra.


Penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas malam. Intan sedikit gelisah karena Aji tak kunjung datang ke kamar. Ia meraih ponselnya untuk menghilangkan kegelisahan hati—mencari sesuatu yang bisa membuatnya lebih mahir saat berpacu di atas kuda.


Intan meletakkan ponselnya ketika mendengar suara pintu kamar yang diketuk. Ia berdiri dari ranjang dan bersiap menyambut kehadiran sang suami. Senyum yang sangat indah terukir di wajah manis itu.


"selamat datang, Suamiku ...." sambut Intan ketika pintu kamar terbuka lebar. Senyumnya tak sedikitpun pudar ketika melihat tatapan mata teduh sang suami.


Aji tertegun ketika melihat penampilan Intan yang berbeda malam ini. Baru kali ini Intan memakai lipstik dengan warna yang sangat menantang. Aji mulai berjalan ke tempat Intan berada dengan tatapan mata yang tak lepas dari istri solehotnya itu.


"kenapa lama?" tanya Intan dengan suara yang manja. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Aji.


"ada hal yang harus aku selesaikan sebelum mengurung diri di kamar ini," ucap Aji seraya membenarkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Intan.


"mau buru-buru atau santai?" tanya Intan dengan tatapan genit.


"malam masih panjang, jadi untuk apa buru-buru?" tanya Aji seraya meletakkan kedua tangannya di pinggul Intan, ia tersenyum penuh arti saat kedua manik hitamnya bersirobok dengan Intan.


Sepasang suami istri itu memutuskan untuk ngobrol santai di atas ranjang. Seperti biasa, Aji merebahkan kepalanya di atas paha Intan—merasakan kenyamanan yang diberikan oleh Intan. Tidak ada obrolan serius yang terdengar disana, hanya sekedar bercanda dengan gombalan-gombalan receh yang dilontarkan oleh Aji.


Sekilas Intan menatap jam dinding yang ada di atas pintu kamar. Jarum jam tersebut tepat berada di angka dua belas, tanda pergantian hari sedang berlangsung.


"Tolong minggir sebentar dong, Mas!" ucap Intan dengan kepala yang tertunduk.


Aji mengikuti perintah sang istri, ia duduk bersandar di ranjang seraya mengamati apa saja yang akan dilakukan Intan setelah ini. Aji melihat Intan membuka almari gantungan untuk mengeluarkan sesuatu yang tersimpan di sana.


Aji melebarkan matanya setelah Intan membalikkan tubuh. Istrinya itu membawa sebuah kotak berwarna hitam di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menarik tali kimono yang membalut tubuhnya. Kini, kimono itu tergeletak di atas lantai setelah Intan melepasnya. Ia berjalan ke tempat Aji berada saat ini—ranjang.


"Happy wedding anniversary, Suamiku!" ucap Intan setelah berdiri di sisi ranjang. Ia memberikan kotak kado itu kepada Aji.


Aji menerima kotak kado tersebut, lalu ia berdiri dari tempatnya setelah meletakkan kado pemberian Intan di atas nakas, "Selamat ulang tahun pernikahan yang kelima, Sayang! aku harap cintamu tak akan pernah pudar sampai kapan pun," ucap Aji sebelum mendaratkan kecupan mesra di kening Intan.


Kedua manik hitam itu bersirobok, keduanya mengembangkan senyum yang sangat manis. Jari jemari Aji perlahan menyusuri wajah manis yang ada di hadapannya itu.


"Mas tidak mau melihat kadonya dulu?" tanya Intan setelah merasakan tangan Aji mulai menjalar kemana-mana.


"Tidak! ada hal yang lebih penting untuk dibuka saat ini," ucap Aji seraya mengerlingkan matanya, "aku punya sesuatu untukmu, tapi balikkan tubuhmu sekarang!" perintah Aji sebelum menarik laci nakas yang paling bawah.


Tanpa banyak bicara Intan mengikuti perintah Aji. Sejujurnya saja, ia sangat penasaran apa yang akan dilakukan suaminya setelah ini. Intan menundukkan kepala setelah Aji menyibak rambutnya, Aji sedang memasang kalung emas dengan liontin huruf (I)


"kamu suka?" bisik Aji di telinga Intan, napasnya berhembus mesra di daun telinga berhiaskan anting permata itu.


Intan membalikkan tubuhnya, ia menatap wajah sang suami dengan binar bahagia yang menghiasi wajahnya, sepersekian detik kemudian ia mendaratkan kecupan mesra di bibir Aji.


"Terima kasih, Mas!" ucap Intan dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.


Keheningan terasa di kamar bernuansa abu-abu itu, menemani sepasang suami istri yang sedang berpacu dalam permainan. Tak lama kemudian, suara-suara manja mulai terdengar di sana. Semakin lama permainan semakin seru karena keduanya telah terbakar h-a-s-r-a-t yang memuncak. Malam panjangpun akhirnya di lalui keduanya dengan semangat yang semakin berkobar.


Tok ... tok ... tok ....


Beberapa kali pintu kamar Aji di ketuk dari dari luar, Aji mengerjapkan mata setelah mendengar suara abah Yusuf yang memanggil namanya. Aji segera bangkit dari tempatnya setelah abah Yusuf memanggil namanya lagi.


"Sayang! cepat bangun dan pakailah bajumu!" ucap Aji seraya memakai sarung dan kaos yang berserakan di lantai.


Intan pun membuka kelopak matanya karena merasakan guncangan di lengannya. Ia belum sadar sepenuhnya, rasa kantuk pun masih menguasai jiwanya karena ia dan Aji baru tidur satu jam yang lalu.


"ada apa sih, Mas? ini masih jam tiga pagi loh!" ujar Intan seraya membuka almari untuk mencari daster.


"entahlah! abah udah manggil-manggil dari tadi," ucap Aji seraya berjalan menuju pintu. Ia segera membuka kunci pintu tersebut setelah Intan memakai pakaiannya.


"Bah! ada apa?" tanya Aji ketika melihat abah Yusuf berdiri di depan kamar.


"ummi mu pingsan di kamar mandi! abah tidak kuat mengangkat ummi mu!" ucap abah Yusuf.


Aji berlari begitu saja setelah mendengar kabar tersebut. Rasa kantuk yang sempat menguasai diri kini hilang sudah berganti dengan rasa khawatir. Aji segera menuju kamar mandi yang ada di dekat kamar ummi Sarah.


"astagfirullah!" ucap Aji ketika melihat ummi Sarah tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.


Aji segera mengangkat tubuh ibunya itu, ia membawa ummi Sarah ke dalam kamarnya seraya mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan sang Istri.


"Sayang! tolong ambilkan air hangat!" teriak Aji ketika melihat Intan baru saja turun dari anak tangga terakhir.


Aji membaringkan tubuh ummi Sarah di atas ranjang. Ia mencari minyak kayu putih untuk dibalurkan di telapak kaki dan tangan ummi Sarah. Tak lupa ia mendekatkan botol minyak tersebut di dekat hidung ummi Sarah.


"Bah, ini tadi kenapa ummi bisa pingsan?" tanya Aji tanpa menatap abah Yusuf yang berdiri di sampingnya.


"sejak tadi malam ummi mu sakit kepala, mungkin tensinya naik, Ji!" tutur abah Yusuf.


Ummi Sarah perlahan membuka kelopak matanya setelah Aji mengoles sedikit minyak kayu putih di bawah hidungnya. Beliau menatap Aji dengan mata yang sayu.


"Nanti panggilkan dokter Nanang saja, Ji!" perintah abah Yusuf setelah duduk di sofa.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Maaf ya kemarin gk up🙏 othor gak sempet nulis karena banyak keluarga dirumah🙏


eh btw kalau aku bikin group di Wa, ada yang mau join gk?


_


_


🌷🌷🌷🌷