
Sorot jingga terlukis indah untuk mengantar sang surya kembali ke singgasananya. Senja terlihat begitu indah kala awan putih berubah menjadi jingga karena pantulan sinar sang surya. Tiga hari telah dilalui Intan dengan berbaring di atas bed pasien yang ada di salah satu rumah sakit Jombang.
"bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?" tanya Aji setelah membantu intan duduk di atas bed perawatan.
Intan hanya menganggukkan kepalanya, seperti biasa ... sore hari adalah waktu yang tidak disukai oleh Intan karena rasa mual itu kembali hadir kala sang surya berada di cakrawala barat, "saya ingin pulang sekarang, Mas!" ucapnya dengan suara yang lirih.
Ya, kondisi Intan dinyatakan sembuh oleh dokter penyakit dalam dan dokter kandungan. Tidak ada penyakit serius yang diderita Intan, ia pun sudah melakukan serangkaian pemeriksaan lengkap untuk meyakinkan hati jika kondisinya saat ini murni karena hamil muda.
"aku ambil kursi roda dulu ya," ucap Aji sebelum keluar dari kamar inap sang istri.
Semua administrasi rumah sakit sudah diurus Aji sejak satu jam yang lalu. Namun, saat mereka akan keluar dari ruangan, Intan mendadak mual dan muntah seperti sebelumnya. Oleh karena itu, ia harus menunggu kondisi tubuhnya kembali pulih seperti saat ini.
"Ayo, Sayang!" ucap Aji seraya membantu Intan turun dari bed pasien. Barang--barang mereka sudah siap di dalam mobil sejak beberapa puluh menit yang lalu.
Sebelum meninggalkan gedung VIP ini, tak lupa Aji pamit kepada perawat jaga yang ada di depan. Tak lama setelah itu Aji segera mendorong kursi roda sang istri menuju lobby depan.
"kamu bisa jalan kesana, Sayang?" tanya Aji setelah sampai di lobby rumah sakit. Intan hanya mengangguk pelan setelah melihat arah jari telunjuk sang suami.
Kabar kehamilan Intan telah terdengar di keluarga besar kyai Yusuf. Mereka sangat bahagia karena pada akhirnya apa yang diinginkan sepasang suami istri itu terkabul. Ummi Sarah pun langsung menggelar tasyakuran kemarin malam—sebagai bentuk dari rasa syukurnya karena akhirnya Sang Pencipta mengabulkan doa-doanya.
Dalam hal ini, ada dua orang yang tidak suka setelah mendengar kabar itu. Siapa lagi kalau bukan Firda dan Rahma. Meski telah sah menjadi istri siri Aga, nyatanya Rahma belum bisa melupakan obsesinya. Rahma dan Aga masih tinggal di pesantren secara terpisah, Aga di pondok putra sedangkan Rahma di pondok putri. Satu bulan lagi, mereka akan menggelar pernikahan resmi setelah Aga menyelesaikan hafalannya.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Aji akhirnya sampai di halaman luas rumah orangtuanya. Aji segera turun dari mobil dan membantu istrinya yang terlihat lemas.
"Mas, saya tiba-tiba pengen makan mie ayam tapi gak pakai ayam ya." Suara Intan terdengar lirih.
Aji tertegun setelah mendengar permintaan sang istri, ia sedang berpikir bagaimana mie ayam tanpa ayam seperti permintaan istrinya itu, "sekarang kita turun dulu, nanti selepas sholat magrib kita beli mie ayam, bagaimana?" tanya Aji seraya menatap istrinya.
Intan berpikir sejenak, ia membuang pandangannya ke arah lain, sebenarnya ia tidak mau menunda lagi keinginannya itu tapi mau bagaimana lagi, langitpun mulai petang. Sebuah tanda bahwa waktu menunaikan ibadah tiga rakaat telah tiba. Akhirnya, dengan terpaksa Intan menyetujui saran dari suaminya.
Sepasang suami istri itu mengayun langkah menuju rumah, mereka masuk melalui pintu samping seperti biasanya. Sambutan hangat dirasakan Aji dan Intan setelah langkah mereka sampai di ruang keluarga. Rupanya keluarga besar itu sedang berkumpul disana. Ada Ninis, Nuril, Aslam dan juga Sholeh. Mereka berkumpul bersama keluarga kecil masing-masing.
"Sini, Nak! duduk sini!" ummi Sarah beranjak dari tempat duduknya, beliau menyambut menantu paling muda di keluarganya.
"bagaimana kondisimu? apa masih ada keluhan? lalu bagaimana dengan janinnya? ummi sangat khawatir setelah mendengar kamu mengalami mual muntah setiap sore," ummi Sarah memberondong Intan dengan beberapa pertanyaan. Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajah yang mulai keriput itu.
Intan mengembangkan senyum tipis, ia menatap ibu mertuanya itu dengan perasaan haru. Intan bisa melihat betapa bahagianya ummi Sarah setelah dirinya hami, "Intan baik-baik saja, Mi. Hanya sedikit mual ketika sore," keluh Intan dengan pandangan yang tak lepas dari ummi Sarah.
****
"Ayo, Sayang! katanya pengen makan mie ayam," Aji berdiri dari tepi ranjang setelah teringat permintaan sang istri.
Setelah melaksanakan kewajiban tiga rakaat, Intan minta istirahat di kamar karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas. Mereka berada di dalam kamar hingga waktu isyak telah tiba.
Aji menatap sang istri yang hanya diam dengan bola mata yang berputar ke segala arah. Sepertinya istrinya itu sedang mencari makanan apa yang ia inginkan malam ini.
"Mas, saya tidak pengen mie ayam lagi," gumam Intan seraya menatap Aji.
"terus mau makan apa?" tanya Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
"emmm apa ya?" ucap Intan seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain, "kita ke daerah pasar aja yuk Mas! pasti disana banyak penjual makanan kalau malam begini," ucap Intan dengan senyum yang sangat manis.
"kamu tidak lemas lagi?" Aji memastikan kondisi sang istri terlebih dahulu. Ia pun segera membantu Intan berdiri setelah istrinya itu meyakinkan diri jika kondisinya jauh lebih baik.
Setalah pamit kepada keluarganya, mereka segera pergi menuju pasar yang dimaksud Intan. Pasar itu tak jauh dari tempat tinggal Aji, mungkin sekitar satu sampai dua kilometer saja. Mobil Aji bergerak pelan ketika mereka sudah sampai di pasar, Aji mengelilingi jalan pasar tersebut sampai Intan mengajaknya berhenti di salah satu kedai soto ternama yang ada di pasar.
Aji dan Intan berdiri di dekat gerobak soto tersebut. Mereka harus antri untuk memesan menu yang mereka inginkan. Kedai ini menyediakan dua menu spesial yaitu soto daging madura dan soto ayam lamongan, padahal pemilik kedai ini adalah warga pendatang dari Kudus. Entahlah kenapa bisa dua menu berbeda lokasi itu bisa bersatu di dalam kedai ini. ;-)
"Pak, saya mau soto campur ya," ucap Intan yang berhasil membuat Aji dan pedagang soto tersebut menatap ke arahnya, "jadi, saya mau soto ayam lamongan dicampur soto daging madura," ucap Intan sebelum meninggalkan Aji seorang diri di depan gerobak soto. Intan mencari tempat duduk yang kosong dan nyaman untuknya.
"tolong buatkan saja permintaan istri saya, Pak. Dia sedang hamil muda," ucap Aji seraya menatap pedagang soto tersebut, "Nambah soto daging satu porsi ya, Pak," lanjut Aji sebelum berlalu untuk menyusul istrinya,
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ ada yang pernah makan soto seperti Intan gak nih?
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷