Surga Hitam

Surga Hitam
Pertengkaran suami istri,


Langit semakin gelap kala sang rembulan menyembunyikan diri dibalik awan hitam. Sinarnya redup karena tak bisa untuk menghindari awan gelap yang mendominasi saat ini. Bintang pun enggan menampakkan diri.


Penunjuk waktu berada di angkat sebelas malam. Aji dan Intan baru saja sampai di rumah setelah seharian berada di rumah sakit. Mereka bergantian membersihkan diri di kamar mandi. Intan baru saja keluar dari kamar mandi dan kini Aji yang masuk.


Intan membuka almarinya, ia mencari piyama untuknya dan Aji. Setelah selesai bersiap, ia naik ke atas ranjang. Ia duduk bersandar di headboard ranjang sambil menunggu Aji.


Beberapa menit kemudian, Aji masuk kedalam kamar. Ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di siapkan oleh Intan. Ia tak melepaskan pandangannya dari Intan. Aji terus memperhatikan istrinya yang sedang termenung.


"tidurlah, Sayang. Kamu harus istirahat," ucap Aji setelah memposisikan dirinya di samping Intan.


"kalau Mas ngantuk, Mas duluan saja. Saya masih belum bisa tidur," jawab Intan setelah sekilas menatap Aji.


Aji berpindah posisi. Ia merebahkan kepalanya di atas paha Intan, "Aku benar-benar bingung saat ini," ucap Aji dengan suara yang lirih.


"Tentang apa?" tanya Intan tanpa menatap Aji.


"Kali ini kita harus bicara, Sayang! aku benar-benar pusing karena masalah ini!" keluh Aji dengan helaian napas berat setelahnya.


"Poligami?" tanya Intan lagi.


"Iya! katakan, aku harus bagaimana, Sayang?" tanya Aji setelah mengubah posisinya lagi, kali ini ia duduk di samping Intan.


Kilatan amarah terlihat jelas dari sorot mata Intan. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa suaminya berpikir seperti ini. Rasanya ingin sekali ia meluapkan semua rasa sesak yang ada di dalam hati.


"Mas!! sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan Mas menikah lagi! entah itu dengan Rahma atau gadis lain!" ujar Intan dengan suara yang lantang. Kali ini ia tidak memakai bahasa yang sopan seperti biasanya.


"Mas tidak mencintaiku lagi?" tanya Intan dengan tatapan yang tak lepas dari Aji.


Aji mengernyitkan keningnya ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Intan, "Sayang! apa kamu meragukan cintaku? tentu saja aku sangat mencintaimu!" ujar Aji seraya menggenggam tangan Intan dengan erat.


"Apa Mas bisa mencintai Rahma setelah menikahi dia?" tanya Intan sambil menatap manik hitam Aji.


"Tentu saja tidak! sampai kapanpun aku tidak bisa mencintai wanita lain selain kamu!" jawab Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.


Bulir air mata perlahan membasahi pipi Intan, rasanya ia tidak sanggup lagi menghadapi masalah ini. Dadanya bergemuruh karena rasa kecewa semakin mendera.


"Tolong, dengarkan dulu penjelasanku, Sayang!" ucap Aji dengan sorot mata penuh harap.


"Aku berencana menikahi Rahma sesuai yang di inginkan ummi. Tapi tenanglah! aku tidak akan memberikan cintaku untuk dia apalagi nafkah batin seperti yang kamu dapatkan!" ucap Aji yang berhasil membuat Intan semakin meradang.


"Cukup, Mas!! Jangan bertindak bodoh hanya karena sebuah keinginan!" ujar Intan dengan mata yang membulat sempurna.


"Poligami itu tidak mudah! Mas harus bisa membagi cinta, nafkah lahir dan batin secara adil! Aku tidak mau berbagi suami dengan siapapun apalagi dengan Rahma! tidak akan!" Intan mengeluarkan semua yang ada di hatinya.


"Jangan menambah dosa, Mas! rencana yang Mas susun Itu adalah sebuah kedzoliman kepada seorang istri! aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi!" kilatan amarah semakin terlihat jelas di mata Intan.


"Maaf ... maafkan aku, Sayang!" Aji menundukkan kepalanya di hadapan Intan.


"Aku sadar Mas! aku memang belum bisa memberikan Mas keturunan! tapi bukan berarti aku bisa diperlakukan seperti ini! harusnya Mas tau dan tidak terseret drama yang dimainkan oleh wanita b-r-e-n-g-s-e-k bernama Firda itu!" cecar Intan dengan derai air mata yang turun semakin deras.


Aji menegakkan kepalanya, ia menatap wajah yang dipenuhi air mata itu. Rasa bersalah semakin menyerang hati, pikiran dan jiwanya karena ide kotor yang terlintas di kepala.


"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Aji ketika melihat Intan turun dari ranjang dan berjalan ke dekat meja, dimana ada tas slempangnya disana. Aji mengamati sesuatu yang di ambil Intan dari dalam tas, tapi karena matanya yang minus, ia tidak bisa melihat dengan jelas, barang apa yang diambil Intan dari sana.


"Aku ingin menemui Firda! aku akan memberi dia pelajaran karena sudah merusak kebahagiaanku!" ujar Intan dengan kedua tangan yang mengepal erat.


Aji terhenyak dari tempatnya ketika mendengar ucapan Intan. Ia segera turun dari ranjang ketika melihat Intan keluar dari kamar. Aji berlari mengejar Intan, ia harus mencegah istrinya itu agar tidak melakukan tindakan apapun karena saat ini Intan sudah tidak bisa mengontrol diri. Jiwa anarkisnya kembali muncul seperti dulu.


"Sayang ... Sayang ... Sayang!" Aji terus memanggil Intan yang sudah menuruni tangga dengan langkah yang cepat.


Aji pun mempercepat langkahnya agar bisa menghentikan sang Istri. Ia harus berlari karena Intan sudah berada di depan pintu yang ada di ruang keluarga.


"Stop, Sayang!" Aji menangkap tubuh Intan saat tangannya meraih handel pintu.


"Tolong, jangan lakukan apapun! aku janji tidak akan melakukan hal itu. Maaf, Sayang ... maaf!" ucap Aji dengan suara yang lirih. Ia menelusupkan kepalanya di tengkuk Intan.


"Kendalikan dirimu! aku akan mencari jalan keluar, jadi jangan lakukan apapun yang membuat tanganmu kotor!" Aji mencoba untuk menenangkan hati yang yang sedang terbakar itu.


Intan hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Ia mencoba untuk menetralkan degup jantung yang berselimut amarah itu. Helaian napas berat terdengar disana.


"Lepaskan aku, Mas!! aku ingin sendiri!" ucap Intan dengan suara yang lirih. Air matanya kembali turun membasahi pipi tanpa polesan make up tersebut.


"Berjanjilah kepadaku, jika kamu tidak akan melakukan tindakan apapun termasuk menyakiti Ning Firda!" ucap Aji seraya membalikkan tubuh Intan agar menghadapnya.


Intan hanya diam sambil menatap manik hitam sang suami. Rasanya ia tak sanggup lagi melanjutkan perdebatan ini. Hatinya terlalu sakit karena masalah yang menimpa hari ini. Coba bayangkan wanita mana yang tidak sakit hati jika suaminya mengatakan ingin menikah lagi, meski sudah berjanji tak akan membagi cinta. Ya, mungkin di awal tidak mencintai, tapi seiring berjalannya waktu perasaan cinta itu pasti akan hadir.


"Tolong! biarkan aku malam ini menyendiri dengan caraku! sekarang Mas masuklah ke dalam kamar! sepertinya Mas butuh waktu sendiri untuk menjernihkan isi kepala Mas!" ujar Intan sambil menunjuk arah kamarnya yang ada di lantai dua.


Akhirnya, mau tidak mau Aji mengikuti apa yang diinginkan Intan. Jika memang ini yang bisa membuat istrinya menjadi tenang, maka akan ia lakukan. Aji mulai berjalan menuju kamarnya, sesekali ia membalikkan tubuh untuk melihat Intan yang masih terdiam di depan pintu.


Semua yang Aji lakukan saat ini adalah bentuk dari mengalah. Ia tidak keberatan meskipun Intan bersikap seperti itu kepadanya. Ia sadar bahwa yang dilakukan Intan saat ini adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Pikiran kotor berhasil membuat sang istri murka dan marah besar. Rasa sesal semakin menyerang hati Aji saat ini.


"Aku harus memberi Intan waktu, aku merasa bersalah karena menyakiti hatinya," ucap Aji ketika berada di dalam kamar, "papah ... maafkan saya karena sudah menyakiti Intan," lanjut Aji ketika mengingat pesan yang dulu pernah disampaikan oleh Pak Gatot.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Nih, aku punya rekomendasi novel keren lagi😍mampir yuk♥️