Surga Hitam

Surga Hitam
Kabar membahagiakan,


"Tekanan darah istri anda terlalu rendah pak, jadi tubuhnya lemah dan harus di rawat beberapa hari disini," ucap dokter jaga yang bertugas di IGD.


"lalu bagaimana mualnya, dok?" tanya Aji seraya menatap dokter pria yang duduk di hadapan Aji.


"mualnya bisa terjadi karena asam lambung yang naik, bisa juga karena tensinya rendah atau kemungkinan lainnya istri bapak sedang hamil muda," dokter tersebut menjelaskan diagnosa pertamanya, "nanti kita akan melakukan tes darah lengkap dan USG untuk memastikan kondisi istri bapak, jadi saran saya lebih baik di rawat di sini saja," lanjut dokter tersebut.


Aji akhirnya mengikuti saran dari dokter, ia segera mengurus administrasi rawat inap yang ada di samping IGD. Ia membiarkan istrinya di bilik perawatan seorang diri karena Aji membawa Intan seorang diri ke rumah sakit ini.


Setelah selesai mengurus administrasi, Aji kembali ke tempat Intan terbaring dengan selang infus yang terpasang di punggung tangannya. Wajah manis itu masih terlihat pucat. Intan pun sudah sadar sejak mobil yang di kendarai suaminya sampai di rumah sakit.


"Kamu harus di rawat, Sayang!" ucap Aji seraya menggenggam tangan Intan.


Intan hanya bisa pasrah, karena tubuhnya lemas seperti kehilangan banyak tenaga. Kepalanya masih pusing seperti tadi saat bangun tidur. Beberapa menit kemudian, datanglah seorang perawat membawa keranjang berisi perlengkapan pengambilan sampel darah.


"Permisi, saya petugas dari laboratorium, ingin mengambil sampel darah dulu. Apa benar pasien bernama Intan Rahma Ayunda?" tanya perawat tersebut sebelum melakukan tindakan.


"iya benar, Bu," jawab Aji seraya menggeser tubuhnya—memberikan ruang untuk perawat tersebut.


"Rilex saja ya, Bu ...." ucap perawat tersebut sebelum melakukan tugasnya, "sekarang, telapak tangan Ibu menggenggam ya, saya mau ngambil darahnya dulu," ucap perawat tersebut seraya mencari letak pembuluh darah Intan sebelum jarum itu menancap di kulit Intan.


Tidak sampai satu menit, pengambilan darah Intan telah selesai. Perawat tersebut pamit pergi setelah melakukan tugasnya. Mereka berdua harus menunggu beberapa saat karena kamar yang Aji pesan masih di siapkan.


Detik demi detik terus berlalu, Intan pun sudah di pindah di ruang rawat inap. Salah satu kamar VIP di rumah sakit ini telah di tempati Intan. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, suara ketukan pintu terdengar beberapa kali sebelum seorang perawat masuk.


"Permisi ... saya harus membawa Ibu Intan untuk USG bersama dokter kandungan," ucap perawat jaga seraya membawa kursi roda untuk dipakai Intan.


"boleh saya ikut, Bu?" tanya Aji setelah berdiri dari tempat duduknya.


"tentu boleh, Pak!" ucap perawat tersebut, lalu perawat itu membantu Intan duduk di kursi roda dan mereka bertiga segera keluar dari kamar tersebut.


Ruang USG ada dilantai dasar rumah sakit, mereka harus turun dari lantai tiga menuju lantai satu agar sampai di ruangan yang dipenuhi beberapa peralatan medis. Tidak ada obrolan apapun yang terucap dari bibir ketiga orang tersebut sampai mereka sampai di ruangan USG.


"Selamat pagi ...." sapa dokter wanita berhijab yang duduk di depan alat USG. Beliau adalah dokter kandungan yang akan memeriksa kondisi rahim Intan.


Gel untuk pelumas USG mulai dituangkan di atas perut Intan. Rasa dingin mulai dirasakan Intan tatkala gel itu mulai diratakan dengan alat USG. Dokter tersebut terus menggerakkan alat yang ada digenggamannya memutari perut bawah Intan.


"kapan Moms terakhir menstruasi?" tanya dokter tersebut tanpa melepas pandangannya dari monitor di hadapannya.


"saya lupa, dok! mungkin dua bulan yang lalu karena siklus menstruasi saya tidak lancar," jawab Intan dengan suara yang lirih.


Dokter tersebut hanya tersenyum setelah mendengar ucapan Intan, lalu beliau mengarahkan alatnya di bagian rahim Intan, "nah, Moms dan Daddy bisa lihat bentuk seperti kacang yang sangat kecil itu?" tanya dokter itu seraya menatap Aji dan Intan yang mengangguk pelan.


"Moms dan Daddy tahu itu apa?" tanya dokter tersebut yang mendapat gelengan dari sepasang suami istri itu.


Intan dan Aji tertegun setelah mendengar penjelasan dokter tersebut. Mereka saling pandang dengan binar bahagia yang terlukis jelas di wajah masing-masing. Semua ini rasanya seperti mimpi.


"Ini serius kan, dok?" Aji meyakinkan apa yang baru saja di dengarnya. Berita membahagiakan itu membuat perasaannya bercampur aduk tak karuan.


"Iya Daddy ... kondisi janinnya sehat kok, dia tumbuh dengan baik," ucap dokter itu lagi.


"Tapi dok, istri saya beberapa kali sudah melakukan tes dengan menggunakan tespek di pagi hari, tapi hasilnya negatif terus. Tadi sebelum sholat subuh pun hasilnya negatif, kenapa bisa seperti itu?" tanya Aji seraya menatap dokter tersebut.


"Kemungkinan kadar HCG dalam urine Moms terlalu rendah, jadi tespek tidak bisa mendeteksi kehamilan Mom," dokter kandungan itu pun akhirnya menjelaskan dengan rinci tentang kehamilan yang di alami oleh Intan.


Tak lupa dokter kandungan itu menjelaskan tentang morning sickness yang biasa dialami oleh ibu hamil. Beberapa makanan yang harus dihindari pun dijelaskan secara rinci. Setelah pemeriksaan selesai, Intan kembali ke ruang rawat inap. Binar bahagia terlihat jelas di wajah sepasang suami istri itu. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang melanda pagi ini.


"terima kasih, Bu," ucap Aji setelah perawat jaga tersebut pamit keluar dari ruangan Intan.


Aji menatap wajah sang istri dengan senyum yang mengembang seperti bunga di pagi hari. Tatapan keduanya pun saling bersirobok.


"Sayang, terima kasih," ucap Aji dengan tubuh yang membungkuk agar lebih dekat dengan Intan.


Intan mengangguk pelan lalu ia memejamkan mata saat Aji mendaratkan kecupan mesra di kening itu. Rasa haru menyeruak di hati keduanya hingga air mata bahagia keluar dari pelupuk mata masing-masing.


"aku sangat bahagia, Sayang. Akhirnya Allah memberikan kepercayaan kepada kita dengan menitipkan buah cinta kita di sini," gumam Aji dengan suara yang lirih. Tangan kanannya terulur ke perut Intan. Ia mengusap perut yang masih rata itu dengan penuh kasih dan sayang.


Setelah penantian panjang, akhirnya Allah mengabulkan doa-doa yang diucapkan sepasang suami istri itu. Allah memberikan di waktu yang tepat—setelah cinta mereka diuji karena sebuah masalah dari orang dalam. Keduanya hanyut dalam rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Saka junior benar-benar tumbuh dalam gua garba Intan setelah ikhtiar selama lima tahun.


"Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibrahim: 34)


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Wah harusnya dapat hadiah nih mbak Intan, udah hamil loh😍


_


_


🌷🌷🌷🌷