
Dua minggu kemudian ....
Matahari masih malu menampakkan diri, penunjuk waktu pun masih berada di angka enam pagi. Namun, suara gemericik air sudah terdengar di dalam kamar mandi yang ada di kontrakan kecil di ujung gang.
"Hmm wangi ...." Intan mengendus aroma tubuhnya setelah keluar dari kamar mandi.
Intan sengaja bangun lebih pagi dari biasanya karena hari ini ia akan menghadiri pembukaan cafe yang di kelola oleh Aji dan Farhan. Raut wajah bahagia pun terlukis jelas di wajah imutnya.
Beberapa hari ini hati Intan di penuhi bunga-bunga cinta yang kembali tumbuh setelah beberapa tahun layu. Intan begitu bersemangat menjalani hari-hari nya karena mendapat suntikan semangat dari sang pujaan hati, Ajisaka Pangestu.
"Aku harus pakai baju apa ya? gak mungkin 'kan kalau aku pakai baju terbuka." Intan bermonolog ketika membuka almarinya.
Pagi ini Intan menyesali perbuatannya sendiri, karena tidak ada satupun kerudung di dalam almarinya. Helaian napas berat pun mulai terdengar di kamar itu karena rasa sesal yang ada di dalam hati. Pada akhirnya Intan memilih untuk memakai celana jeans panjang yang di padukan dengan kaos polos dan blazer berwarna merah maroon.
"Nah, kalau begini kan lebih tertutup," gumam Intan setelah melihat penampilannya di cermin yang ada di pintu almari.
Intan terus mengembangkan senyum sambil merias wajahnya dengan make up tipis. Ia benar-benar bahagia karena Aji telah menerima keadaannya saat ini.
"Aku akan belajar menerima keadaanmu karena rasa yang aku miliki tak pernah berubah. Hanya kamu yang ada di hatiku."
Ya, itulah yang pernah di ucapkan Aji kepada Intan saat sedang video call beberapa hari yang lalu. Tentu saja, hal itu berhasil membuat Intan terbang di atas awan bersama semua perasaan yang ia miliki.
"Aku pun menjaga hatiku hanya untuk Gus, hanya ada nama Ajisaka yang terukir di sini," gumam Intan sambil menepuk da-da nya. Ia terus mengembangkan senyumnya seperti remaja yang sedang di mabuk cinta.
"Eh! lu dah gila ya! masih pagi dah senyum-senyum sendiri!" tiba-tiba terdengar suara Kinar di pintu kamar Intan.
Intan memalingkan wajahnya untuk menatap Kinar yang sedang berkacak pinggang di pintu kamarnya, "kalau masuk rumah orang itu ketuk pintu dulu kan bisa!" ujar Intan sambil menatap sinis Kinar.
"Eh Komodo! gue udah ngetuk pintu rumah lu! tapi gak lu bukain! gue terpaksa lewat jendela tau!" sungut Kinar dengan wajah masamnya. Lalu ia berjalan menuju tempat Intan berada.
"Iya deh gue minta maaf!" Intan memasang wajah imutnya di hadapan Kinar.
"Lu ngapain sih ngajakin gue berangkat sepagi ini? jadwal nyanyi kita di cafe tuh masih entar siang!" Kinar menghempaskan diri di atas ranjang Intan.
"Gue mau ngajak lu nyari gratisan." Intan berdiri dari tempatnya lalu ia menghempaskan diri di sisi Kinar, "Mas Ustad hari ini launching cafe baru," ucap Intan tanpa menatap Kinar, ia sibuk memandang plafon kamarnya, di mana ada bayangan wajah Aji yang berhiaskan senyum yang indah.
"What? lo serius?" Kinar terkesiap, ia terduduk sambil menatap Intan.
"Iye! maka dari itu gue nyuruh elu kesini jam tujuh," ucap Intan sambil menatap Kinar sekilas.
"Sekarang ceritain ke gue, gimana lu bisa deket lagi sama Mas Ustad!" Kinar benar-benar penasaran karena ia tidak tau apa-apa. Ternyata Intan sengaja menyembunyikan semua ini darinya.
Kinar duduk menghadap Intan, ia memasang telinga nya agar tidak salah dengar ketika Intan mulai menceritakan bagaimana dirinya bisa dekat lagi dengan pria bernama Aji itu. Kinar ikut bahagia ketika melihat kebahagiaan yang terpancar lewat kedua mata Intan.
"Gue seneng, akhirnya lo bisa bertemu dengan pria idaman lo selama ini, semoga dia jodoh lo, Tan!" Kinar menepuk bahu Intan lalu ia merengkuh tubuh sahabatnya itu sebagai bentuk rasa perduli nya.
Tak terasa jarum jam sudah berada di angka delapan pagi. Mereka berdua akhirnya berangkat ke alamat yang di kirim Aji kemarin malam. Kali ini Kinar membawa mobil sedan Pak Gatot karena jarak dari kontrakan Intan ke tempat Aji lumayan jauh.
Aji mondar-mandir di dekat meja kasir. Ia resah menunggu Intan yang tak kunjung datang. Entah sudah berapa kali ia melirik arloji yang melingkar di tangannya karena resah. Jarum jam di arloji Aji menunjukkan pukul sepuluh pagi. Cafe pun sudah resmi di buka jam sembilan pagi, pemotongan pita di lakukan oleh Aji dan Farhan.
FAST cafe, begitulah papan nama yang bertengger di atas bangunan besar ini. Banyak pengunjung yang sudah datang untuk memburu diskon sebagai promosi di hari pertama pembukaan cafe ini.
"Kamu kemana, Ta?" gumam Aji seraya merogoh ponselnya di saku. Lagi dan lagi nomor Intan tidak bisa di hubungi.
Aji menegakkan kepalanya ketika mendengar suara waiters yang sedang menyambut kedatangan pelanggan cafe. Senyum manis itu pun akhirnya terbit dari bibir Aji ketika melihat siapa yang datang.
"Selamat datang di FAST cafe, Nona," ucap Aji setelah menghampiri Intan dan Kinar di meja yang ada di dekat kasir.
Rona merah terlukis di wajah Intan ketika kedua manik hitamnya bersirobok dengan manik hitam Aji. Intan semakin salah tingkah ketika melihat Aji tersenyum manis dengan pandangan yang tak lepas darinya.
"Ehem!!" Kinar berdehem agar mereka berdua sadar jika masih ada dirinya di sana, "Kacang ... kacang!" seloroh Kinar dengan wajah masam nya.
"Sorry ya," Intan menampilkan wajah imutnya di hadapan Kinar.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Aji setelah mengambil buku pesanan dari meja kasir.
"Menu yang spesial di sini, Gus," ucap Intan sambil menatap Aji.
"Semua menu yang gratis bawah sini dah!" celetuk Kinar tanpa rasa malu sedikitpun.
Aji menuliskan beberapa menu di kertas pesanan sesuai yang di inginkan Kinar dan Intan. Ia sendiri yang melayani kedua gadis itu hingga semua menu tersedia di atas meja.
"Kagak salah ini? kita bakal makan sebanyak ini?" Kinar heran melihat makanan dan minuman yang ada di atas meja.
"Tidak, ini semua untuk kalian berdua. Menu spesial untuk gadis spesial," ucap Aji seraya melirik Intan, "semua ini gratis!" lanjut Aji dengan suara yang lirih dengan pandangan yang beralih kepada Kinar.
Duduk berdekatan dengan Aji, membuat Intan menjadi salah tingkah. Ia tersipu malu karena Aji terus menatap wajahnya, Intan rasanya tidak bisa menelan makanan dengan lancar.
Kinar tidak perduli lagi dengan pasangan malu-malu kucing yang ada di hadapannya. Ia bersikap masa bo-doh ketika melihat wajah Intan terus bersemu merah. Ada sedikit rasa geli yang menggelitik hatinya ketika melihat gaya PDKT Gadis seperti Intan dan pria seperti Aji.
"Mereka berdua seperti ada di jaman siti nurbaya. Masa iya PDKT tapi duduknya agak jauh, gak berani pegang tangan atau pun ngobrol mesra. Hanya saling pandang dan tersenyum aja. Dih! pasangan aneh!" gerutu Kinar dalam hatinya dengan mulut yang sejak tadi tak henti mengunyah makanan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷