Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 6


Adriel berdiri di depan kaca. Melihat pantulan dirinya dari kaca. Kali ini dia memakai pakaian terbaiknya. Kemeja yang beberapa hari lalu sengaja dibelinya di salah satu pusat perbelanjaan. Tak lupa celana yang sudah rapi disetrika. Kali ini penampilan Adriel begitu rapi sekali. Padahal dia hanya akan bertemu dengan Arriel. Namun, sudah serasa bertemu dengan pemilik Syailen Grup.


Parfum mahal yang sengaja disimpannya dan digunakan saat pergi ke acara tertentu pun disemprotkannya ke tubuhnya. Tak mau sampai aroma tubuhnya mengganggu wawancaranya kali ini.


Saat selesai bersiap, dia segera meraih kunci mobil dan tas miliknya yang diletakkannya di atas meja. Hari ini, dia akan wawancara Arriel, dan berharap akan berjalan dengan lancar.


Apartemen yang tidak terlalu jauh membuat perjalanan begitu cepat. Hingga Arriel sampai lebih cepat.


Di depan pintu unit apartemen Arriel, Adriel menekan bel. Kemudian menunggunya. Sayangnya, cukup lama Adriel menekan bel, tidak kunjung pintu dibuka. Hingga terpaksa Adriel menekan bel kembali. Menunggu lagi.


Beberapa saat menunggu, ternyata Adriel benar-benar diuji. Karena ternyata pintu tidak kunjung dibuka. Untuk ketiga kalinya, akhirnya Adriel memutuskan untuk menekan bel kembali. Berharap ketika kalinya ini ada suara pintu yang dibuka.


Di dalam apartemen Arriel begitu kesal sekali. Semalam, dia mengerjakan perhiasan milik pelanggan, dan itu membuatnya harus tidur menjelang pagi. Itu semua karena Mauren yang memberitahu mendadak, dan pagi ini gambar akan diambil oleh Mauran. Jadi dia menebak jika yang menekan bel berkali-kali itu adalah Mauren.


Arriel berdiri tepat di depan pintu. Saat itu juga suara bel kembali terdengar. Arriel semakin kesal, karena temannya itu benar-benar tidak sabaran. Padahal, seharusnya temannya itu bisa langsung masuk ke apartemennya.


Dengan segera Arriel membuka pintu. “Apa kamu tidak bisa bersabar?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Arriel bersamaan dengan pintu yang dibuka.


Adriel yang berada di balik pintu hanya bisa tercengang ketika mendapati pertanyaan seperti itu. Dia sedikit merutuki karena sudah membuat Arriel kesal.


Arriel membulatkan matanya ketika melihat Adriel di depan pintu. Dia pikir yang menekan bel berkali-kali itu adalah Mauren, tetapi ternyata bukan. Dengan segera Arriel menutup pintu apartemennya. Tak mau sampai Adriel melihatnya, apalagi dengan keadaan sedang berantakan sekali.


“Astaga, kenapa aku lupa ada Adriel.” Arriel merutuki kesalahannya. Gara-gara semalam bekerja, dia jadi lupa jika pagi ini Adriel datang.


Adriel yang di depan pintu hanya termangu saja. Dia bingung ketika Arriel membuka pintu, tetapi kemudian masuk kembali. Alhasil, dirinya justru berada luar dan harus menunggu Arriel kembali membuka pintunya.


Saat menunggu, Adriel melihat seorang wanita datang. Dia ingat betul jika itu adalah teman Arriel. Dari arah langkahnya, jelas teman Arriel itu akan ke apartemen Arriel.


“Arriel belum membuka pintu?” Mauren yang melihat Adriel langsung bertanya. Dari kejauhan, dia melihat pria itu berdiri menunggu pintu dibuka.


“Tadi, dibuka, tetapi sekarang ditutup lagi.” Adriel menjelaskan apa adanya.


Mauren menautkan alisnya. Pasti temannya baru bangun. Jadi menutup kembali pintu apartemennya.


“Ayo.” Mauren, menekan kode akses apartemen Arriel. Kemudian mengajak Adriel untuk masuk ke apartemen.


Adriel mengikuti saja ketika Mauren mengajaknya untuk masuk. Dia pikir akan lebih nyaman jika menunggu Arriel di dalam rumah dibanding di luar.


“Duduk saja dulu.” Mauren mempersilakan Adriel untuk duduk di sofa ruang tamu.


Arriel mengangguk dan duduk di sofa. Sambil sesekali melihat ke sekeliling apartemen Arriel.


Mauren memilih meninggalkan Adriel di ruang tamu. Karena dia ingin mencari temannya. Dia ingin tahu kenapa Adriel dibiarkan saja di depan pintu.