Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 42


Arriel dan Adriel berhenti dan duduk di pinggir pantai. Mereka menunggu matahari yang terbenam. Tangan mereka selalu bergandengan. Adriel seolah tak mau melepaskan sama sekali Arriel dari genggamannya. Sama halnya tak mau melepaskan Arriel dari hidupnya.


“Apa kita akan segera diberikan anak?” Arriel memikirkan apakah Tuhan akan segera memberikannya anak. “Usiaku kini sudah tiga puluh lima. Aku takut semakin lama umurku, aku tidak bisa menemani mereka tumbuh besar.”


Adriel mengeratkan genggaman tangannya. Menguatkan sang istri. “Jangan berkata seperti itu. Kamu dan aku, akan menemani anak kita sampai besar.” Senyum manisnya menghiasi wajahnya. “Kita akan berusaha.” Adriel memberikan semangat untuk istrinya.


Arriel segera melingkarkan tangannya di lengan Adriel. Menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Dia merasa senang ketika suaminya selalu memberikannya semangat. Arriel merasa senang ketika menikah dengan orang yang bisa mengerti dirinya.


Adriel membelai lembut rambut sang istri. Dia tentu saja akan berusaha untuk memiliki keturunan. Karena dia ingin memiliki keturunan agar keluarga mereka bahagia.


Saat duduk di pinggir pantai, pandangan mereka tertuju pada lautan di depan mereka. Matahari yang mulai pulang ke peraduannya membuat langit berwarna jingga. Tampak begitu indah sekali. Hingga mata tak jemu melihatnya.


Semilir angin pantai pun menemani sepasang suami istri itu menikmati sore yang indah. Suasana terasa begitu romantis untuk mereka yang sedang menikmati waktu bersama.


Perlahan langit berubah warna. Matahari yang tenggelam, mengantarkan malam menyapa. Bulan mulai menampakkan sinarnya di langit. Menerangi malam indah mereka di pinggir pantai.


Puas melihat matahari yang terbenam, Adriel mengajak sang istri kembali ke hotel. Mereka kembali berjalan sambil menyusuri pantai di malam hari. Deburan ombak sesekali menerpa kaki mereka. Membuat mereka menikmati itu.


Sesampainya di kamar hotel, Adriel bergegas membuka kamar. Mempersilakan Arriel untuk masuk lebih dulu.


Arriel yang masuk seketika dibuat terkejut sekali. Lilin-lilin menghiasi kamar. Menyambut kedatangan mereka. Taburan bunga di lantai pun membuat suasana semakin indah.


“Iya, dibantu petugas hotel.” Adriel tersenyum. Dia sengaja tidak menyalakan lampu. Membiarkan lilin-lilin itu menerangi.


“Ayo.” Adriel mengulurkan tangan. Mengajak sang istri masuk.


Arriel mengangguk. Menerima uluran tangan sang suami. Bunga-bunga dan lilin-lilin membentuk jalanan yang mengarah ke luar. Mereka berdua berjalan di atas bunga itu dan mengikuti ke mana bunga itu bermuara. Sampai akhirnya, bunga itu berhenti di meja makan yang berada di luar kamar. Tepat berada di samping kolam renang.


Arriel kembali menatap sang suami. Memastikan jika sang suamilah yang menyiapkan semua ini.


Senyum Adriel menghiasi wajahnya. Dia memang mempersiapkan semua ini secara khusus untuk sang istri. Dengan bantuan pihak hotel. Dia dapat membuat makan malam romantis ini.


Arriel hanya bisa tersenyum. Sang suami selalu saja bisa membuatnya merasa bahagia.


Adriel segera mengambil bunga yang berada di atas meja. “Untuk orang yang begitu aku cintai.” Dia memberikan sebuket bunga untuk sang istri.


“Terima kasih.” Arriel tersenyum.


Adriel segera menarik kursi dan mempersilakan sang istri untuk duduk.


Arriel sudah bak ratu yang selalu dilayani. Benar-benar membuatnya merasa begitu senang. Dengan segera, dia duduk. Menikmati makan malam romantis yang disiapkan oleh sang suami.