
Malam ini Adriel dan Arriel akan makan malam dengan Dathan, Neta, dan Loveta. Ini kali pertamanya mereka berlima bertemu dalam satu waktu. Adriel sengaja mengundang Dathan dan Neta agar mereka tahu jika kelak dirinya akan ambil bagian mengurus Loveta.
“Mama.” Loveta langsung berlari dan memeluk mamanya ketika melihat sang mama dari kejauhan. Dia tampak begitu senang ketika berada di dekat sang mama.
“Anak Mama.” Arriel mendaratkan kecupan di pipi sang anak.
“Malam, Pak Dathan.” Adriel mengulurkan tangan ketika di depannya berdiri Dathan.
“Malam.” Dathan menerima uluran tangan Adriel-pria yang akan jadi ayah sambung dari anaknya itu.
“Hai, Ta.” Arriel menautkan pipi pada Neta. Neta dengan senang menerimanya.Menautkan pipi pada Arriel juga.
Mereka saling menyapa satu dengan yang lain. Barulah setelah itu mereka menuju meja yang sudah dipesan. Mereka berlima memesan makanan dan menikmati obrolan sambil menunggu makanan tiba.
“Kami sengaja mengundang kalian untuk membicarakan ke depannya tentang kami dan Loveta.” Adriel memulai pembicaraan.
“Aku dan Arriel akan menikah, jadi kelak aku juga akan ikut serta mendidik Loveta. Jadi aku harap kita bisa berdampingan merawat Loveta.” Dia melanjutkan kembali ucapannya.
“Tentu saja. Kamu akan jadi papa Loveta juga. Jadi kamu pasti akan ikut andil dalam hal ini.” Dathan tidak mempermasalahkan akan hal ini. Justru ikut senang. Apalagi Arriel mendapatkan pria baik seperti Adriel.
“Terima kasih.” Adriel senang Dathan menerimanya.
Arriel merasa jika pilihannya pada Adriel tidaklah salah. Karena Adriel bisa turut serta menjaga anaknya. Ini tentu saja adalah poin utama. Karena pernikahannya bukan hanya untuk dirinya sendiri saja.
“Lalu sudah sejauh apa persiapan pernikahan kalian?” Neta begitu penasaran sekali. “Apa ada yang bisa kami bantu?” tanyanya kembali.
“Persiapan sudah sembilan puluh persen.” Arriel menatap Neta. Senyumnya menghiasi wajah wanita tiga puluh lima tahun itu. “Sejauh ini belum. Jika nanti aku butuh bantuan, pasti aku akan menghubungimu.”
Saat di tengah-tengah obrolan tiba-tiba Adriel menghampiri Loveta. Dia berjongkok agar bisa mensejajarkan tubuhnya dengan Loveta.
“Uncle Adriel akan menikah dengan mama. Jadi Uncle akan jadi papa Lolo. Apa Lolo mau menerima?” Adriel sudah seperti melamar Arriel saja. Waktu melamar Arriel, dia belum sempat banyak bicara dengan Loveta. Jadi kali ini digunakan sebaik mungkin untuk bicara.
Loveta tersenyum. “Lolo mau Uncle Adriel jadi papa Lolo. Uncle Adriel baik. Lolo suka.” Loveta membelai wajah Adriel.
“Terima kasih, Sayang.” Adriel begitu senang.
“Nanti Lolo bisa panggil Uncle dengan sebutan papa. Jadi Unlce benar-benar jadi Papa Lolo.” Dia membelai wajah gadis kecil itu.
“Papa Adriel.” Loveta menyebut panggilan itu.
Adriel senang ketika Loveta menerima Adriel. Arriel ikut senang melihat pemandangan itu. Tentu saja itu adalah hal yang diutamakanya. Jika anaknya senang, dia akan tenang menjalani hidup.
“Aku bawa gaun untuk Loveta. Jadi nanti dia bisa memakainya.” Arriel mengeluarkan paper bag yang dibawanya. Memberitahu Neta dengan apa yang dibawanya. Dia kemudian beralih pada anaknya. “Mama bawa gaun cantik untuk Lolo.” Dia memberitahu sang anak.
“Ye … Lolo pasti cantik memakai gaun.” Loveta begitu girang sekali.
Semua tertawa melihat tawa Loveta. Kebahagiaan memang kini sudah tidak hanya dirayakan oleh Adriel dan Arriel saja, tetapi Loveta juga.
Makanan pesanan mereka datang. Mereka pun segera menikmati makanan bersama. Sambil menyelipkan cerita. Arriel menceritakan konsep dari pernikahannya. Adriel juga menceritakan jika dia akan mengundang semua anak panti. Neta yang mendengar akan hal itu pun ikut senang. Dia nanti akan membantu untuk mengatur dan menjaga anak panti. Jadi Adriel dan Arriel tidak perlu khawatir.
Makan malam bersama yang penuh kehangatan akhirnya selesai. Mereka semua berpamitan. Ini menjadi pertemuan keluarga yang berkesan. Kelak akan ada pertemuan-pertemuan lagi lainnya. Yang jelas sampai Loveta dewasa. Karena mereka akan terus menjadi orang-orang yang akan menjaga Loveta sampai besar.